Mengenal Algoritma Kehidupan dan 2 Kisah Nyata yang Cukup Mengerikan

Mengenal Algoritma Kehidupan dan 2 Kisah Nyata yang Cukup Mengerikan

Biasanya, sore hari memang waktunya sebelum Maghrib. Ini bukan lagi biasanya, memang sudah begitu. Biasanya, saya isi dengan santai-santai saja. Namun, kemarin lewat Zoom Meeting, bahas algoritma kehidupan. Menohok!

Yap, saya tergabung dalam grup Whatsapp Meaningful Ways. Grup ini, Masya Allah, isinya orang-orang yang luar biasa dan rajin sekali belajar dari ilmu-ilmu kehidupan ini.

Dalam grup ini, sering sekali ada webinar melalui media Zoom Meeting. Bisa diikuti dengan gratis, namun untuk paket datanya tidak gratis. Begitu pula WiFi yang dipakai, juga tidak gratis. Kalau mau gratis, mungkin bisa bersurat ke presiden. Eh.

Lembaran-lembaran Kehidupan

Pernah baca buku? Pastinya pernah, dong. Waktu remaja, buku yang sering dibaca tentunya buku pelajaran. Sedangkan setelah berumah tangga, buku yang dibaca, kalau bukan buku nikah, ya, buku tabungan. Yang satunya isinya happy ending, yang satunya mungkin malah sad ending.

Webinar Jum’at kemarin (17/10/2026), dimulai dari jam 17.00 WITA. Berarti, kalau untuk Indonesia barat adalah 16.00 WIB. Sedangkan untuk wilayah Zimbabwe, ya, hitung sendiri.

Pembicara atau narasumbernya adalah Ustaz Oemar Mita, Lc. Beliau ini memang sudah malang melintang di dunia media sosial, meskipun memang bukan berasal dari Malang.

Pada awal pembahasan, beliau langsung mengungkapkan, “Orang beriman itu tidak pernah kehabisasn alasan untuk bersyukur.”

Langsung menohok banget bukan? Apapun kondisi orang beriman, mau itu pas kaya, pas miskin, pas sedang kekurangan, maupun yang lainnya, akan selalu bisa bersyukur dari situ.

Baca Juga: Matinya Kucing Tetangga, Simbol Kucing Tua Penuh Perjuangan

Ustaz juga mengungkapkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memang selalu diciptakan berpasangan. Ada malam, ada siang. Ada matahari, ada bulan. Ada bumi, ada langit. Dan, pastinya ada masalah, pasti ada juga solusinya. Semuanya lengkap berpasangan.

Buat kamu yang saat ini masih jomblo alias merasa belum punya pasangan, tenang saja. Bukan karena kamu tidak laku maupun kurang promosi, melainkan karena belum ketemu jodohnya saja. Tunggulah selama 30 hari, kalau belum datang, tunggulah selama 1 bulan.

Tentang kehidupan ini lagi, Ustaz Oemar Mita menyampaikan bahwa hidup ini memang hanyalah berjalan dari takdir ke takdir, dari peristiwa ke peristiwa.

Beliau mengingatkan bahwa takdir itu selalu membawa kebaikan. Adanya takdir baik dan buruk hanyalah berdasarkan pemahaman kita saja sebagai manusia. Bagi Allah, tidak ada takdir yang tidak sempurna.

Kalau diibaratkan, takdir itu ibarat lembaran-lembaran buku seperti yang saya tulis di awal. Buku yang bagus itu memang seharusnya saling berkaitan.

Misalnya, halaman 1 berkaitan dengan halaman 5, halaman 6 ada kaitannya dengan halaman 15, halaman 20 ada hubungannya dengan halaman 100.

Bila ada satu lembaran atau halaman yang tidak berkaitan sama sekali dengan halaman lain, maka ini yang aneh. Disangkutpautkan dengan hidup, kehidupan di masa lalu berkaitan dengan kejadian di hari ini.

Begitu juga, kejadian hari ini akan selalu ada hubungannya dengan kejadian di masa depan. Inilah yang disebutkan dengan algoritma kehidupan. Ya, itulah namanya, algoritma kehidupan. Memangnya algoritma cuma untuk medsos?

Kisah Nyata Seorang Ulama dan Nelayan Penangkap Ikan

Ketika kamu main medsos, maka yang kamu tonton itu sesuai dengan yang kamu suka. Seperti itulah prinsip algoritma. Jika kamu suka dengan bola, maka konten-konten yang akan muncul juga tentang bola.

Kalau kamu sukanya berita-berita gosip artis, maka seperti itu juga yang selalu datang di layar kamu. Masa kamu suka bolanya, kok yang datang malah berita politik? Meskipun, yah, bola bisa jadi alat politik. Lho, eh!

Ada sebuah kisah nyata yang disampaikan oleh Ustaz Oemar Mita. Malah ada dua kisah nyata ini. Namanya kisah nyata, berbeda dengan kisah dunia maya, apalagi dunianya Mbak Maya. Wah, saya tidak kenal ini!

Kisah pertama, tentang seorang ulama bernama Muhammad bin Sirin rahimahullah. Beliau ini seorang ulama yang memang terkenal dengan keilmuannya.

Meskipun begitu, beliau malah masuk penjara pada umur 60 tahun. Masuk bui saat usia sudah tidak lagi muda. Lho, apa penyebabnya? Rupanya, gara-gara utang yang tidak mampu beliau bayar atau lunasi.

Saat sudah masuk penjara, beliau pun berpikir, merenung, bermuhasabah. Mengingat-ingat masa lalunya. Ternyata, ada satu hal yang mungkin menjadi penyebab beliau masuk penjara sekarang berdasarkan takdir.

Baca Juga: Saat Ada Seorang Perempuan Tidak Dikenal yang Mau Meminjam Sepeda Motor Saya

Beliau ingat 40 tahun usia beliau yang lalu, pernah bertemu dengan seorang pemuda yang berutang. Ketika itu, Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan sesuatu yang sebenarnya kurang cocok diucapkan, yaitu, “Hai, orang yang berutang! Hai, orang yang bangkrut!”

Terasa seperti bully bukan? Nyatanya, kejadian tersebut membuatnya merenung dan berkeyakinan bahwa itulah faktor penyebab masuk penjaranya beliau.

Menghina orang yang berutang dengan mengatakannya bangkrut, ternyata kembali kepada beliau yang tidak bisa bayar utang juga di waktu yang sudah uzur. Bukankah masuk penjara itu sama juga dengan orang yang bangkrut?

Antara Seorang Nelayan dengan Seorang Pejabat

Kejadian lainnya, ini lebih menarik, tentang seorang nelayan yang baru saja mendapatkan ikan. Kisah ini ditulis oleh Imam Adz Dzahabi rahimahullah. Ustaz tidak menyebutkan dalam kitab apa, atau mungkin disebutkan, tetapi saya terlewat.

Nelayan tersebut membawa ikannya ke pantai. Dia bertekad untuk tidak mau menjual ikan itu berapapun harganya. Bisa jadi ikannya memang besar, segar, dan menggiurkan.

Nah, datang seorang pejabat. Jelas bukan pejabat Konoha, karena kejadian ini memang bukan di negara Konoha dan tetangganya, Wakanda.

Pejabat ini melihat ikan nelayan tersebut sangat segar. Dia tertarik untuk membelinya. Namun, nelayan tersebut tetap tidak mau, dia tetap pada pendiriannya untuk tidak menjual ikan itu.

Si pejabat terus mendesak hingga memaksa si nelayan untuk menjual ikannya. Tetap tidak mau juga. Nelayan tersebut tetap bergeming. Akhirnya, mungkin karena emosi, pejabat tersebut memukul si nelayan, lalu merampas ikannya.

Berhasil dirampas, si pejabat membawa ikan itu ke rumahnya. Dia mengatakan kepada keluarganya bahwa malam ini akan makan besar. Keluarganya tentu saja senang, dong, ikannya besar, segar, dan tampak sangat enak dimakan.

Pada malam itu, setelah memakan ikan, si pejabat malah mengeluh sakit pada jempol alias ibu jarinya. Cuma ibu jari, tidak ada ayah jari, ya.

Sakitnya cukup luar biasa karena ada duri ikan tersebut yang menancap. Mau ditarik tidak bisa dan membuat luka yang cukup serius.

Baca Juga: September Datang, Saya Jadi Ingat Ember: 3 Filosofi tentang Hidup

Besoknya, jempol itu tambah bengkak. Rasa sakitnya jelas makin bertambah. Oleh sebab sakit itu, si pejabat pergi ke tabib. Waktu itu, tabib sama dengan dokter. Si pejabat pergi ke sana tidak pakai BPJS, dong!

Sang tabib merasa heran melihat luka pada jempol si pejabat. Dia bertanya, “Ini sudah berapa lama sakitnya?”

Pejabat itu menjawab, “Baru tadi malam.”

“Ah, masa? Sepertinya ini sudah berhari-hari karena saya lihat lukanya sudah seperti ini.”

Si pejabat tetap mengatakan bahwa lukanya itu memang baru tadi malam. Oke, sang tabib melihat luka itu sudah membusuk. Jempol si pejabat sudah tidak bisa lagi tertolong. Makanya, diambil tindakan diamputasi.

Besok-besoknya, lukanya justru makin menjalar. Dari yang hanya jempol, menjadi luka hingga pergelangan tangan. Yap, tangan itu membusuk juga.

Pejabat itu pergi ke tabib yang sama. Melihat luka yang hampir sama dengan jempol yang lalu, tindakan amputasi pun diambil lagi. Terpotonglah satu tangan si pejabat.

Eh, masih tidak berhenti. Luka terus menjalar hingga siku. Diamputasi lagi. Menjalar lagi hingga ke pangkal tangan. Habis satu tangan dari lengan hingga ke jari-jarinya semua.

Ada seorang teman tabib, seingat saya dari perkataan Ustaz Oemar Mita, ulama juga. Dia merasa heran dengan pasien si tabib. “Kok tiap orang itu datang, selalu ada saja bagian tubuhnya yang dipotong?”

Dia pun heran dan menemui si pejabat. Bertanya lebih detail tentang luka itu. Awalnya dari mana dan kenapa. Si pejabat menceritakan dengan lengkap bahwa dia makan ikan hasil dari rampasan seorang nelayan.

Ulama tersebut berpendapat bahwa itulah penyebab utamanya. Dia menyarankan kepada si pejabat untuk menemui si nelayan dan meminta keridaannya. Bila tidak, khawatirnya luka itu makin menjalar dan bisa membunuhnya.

Doa si Nelayan

Saran dari ulama tersebut pun dijalankan oleh si pejabat. Mencari-cari nelayan yang dimaksud, butuh waktu juga, sampai akhirnya ketemu.

Si pejabat menjelaskan bahwa dia pernah bertemu nelayan itu. Namun, si nelayan sudah lupa dengan si pejabat dan kejadian ikannya dirampas.

Pejabat itu terus mengingatkan dan akhirnya membuat nelayan jadi ingat. Akan tetapi, yang diingat oleh nelayan bahwa pejabat yang menemuinya itu bertubuh lengkap, bukan orang yang buntung atau tidak punya tangan seperti sekarang.

Ah, si pejabat pun menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya, gara-gara ikan rampasan itu. Oh, nelayan itu jadi tahu yang sebenarnya. Ternyata begitu toh?

Atas permintaan si pejabat, nelayan itu pun memaafkan dan memberikan keridaannya. Namun, tidak cukup sampai di situ, si pejabat bertanya, apa yang dilakukan si nelayan setelah ikannya dirampas? Apakah dia berdoa kepada Allah?

Nelayan itu menjawab bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Saat pejabat tersebut meninggalkannya setelah merampas ikannya, nelayan itu berdoa yang kira-kira begini,

“Ya, Allah, dia telah mengambil milikku di atas kelemahanku. Maka, tunjukkan kuasa-Mu, ya Allah.”

Rupanya, kuasa Allah itulah yang menjadikan tangan si pejabat habis. Kezalimannya pada orang lemah seperti si nelayan membuat dia kena getahnya. Kena batunya. Kena sialnya. Kena batu yang dicampur getah hingga sial kena kepala. Ibaratnya begitu.

Masih Menempel di Pintu-pintu Langit dan Menunggu Turun

Dari dua peristiwa atau kejadian tersebut, Ustaz Oemar Mita menggambarkan bahwa seperti itulah algoritma kehidupan. Peristiwa atau kejadian di masa lalu yang negatif, balasannya naik ke pintu-pintu langit, menempel di sana, dan menunggu turun untuk mengenai si pelaku.

Ini jelas mengerikan, ya ‘kan? Kita mungkin sudah lupa dengan kejadian buruk yang pernah kita lakukan, tetapi Allah tidak akan pernah lupa. Demikian pula langit selalu mencatat.

Dalam webinar ini ada pula sesi diskusi atau tanya jawab, tetapi saya tidak bisa mengikutinya karena sudah azan Maghrib. Lebih dipentingkan salatnya toh.

Selesai salat, saya ikuti lagi, ternyata sudah habis. Sudah ditutup moderator. Ya, sudah, mau diapakan juga. Masa saya sendiri yang masuk ke link Zoom Meeting tersebut?

Pertemuan itu juga tidak ada rekamannya sepertinya. Namun, Alhamdulillah, saya berhasil mencatatnya dan berpikir, bila pertemuan Zoom saja bisa direkam dengan sempurna, apalagi kejadian di dunia ini, ya?

Tentunya lebih sempurna dan tidak akan terhapus dengan mudah. Hii, ini memang cukup mengerikan. Terus tersimpan dan menunggu untuk turun di waktu yang tepat. Masih berani berbuat yang aneh-aneh?

Baca Juga: Rekaman yang Salah: Terkadang yang Paling Menakutkan adalah Suara di Kepalamu Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *