September Datang, Saya Jadi Ingat Ember: 3 Filosofi tentang Hidup

September Datang, Saya Jadi Ingat Ember: 3 Filosofi tentang Hidup

Hari ini, tepat tanggal 2 September. Masih tanggal muda, begitu istilah orang yang baru saja gajian. Namun, bisa jadi langsung berubah menjadi tanggal tua kalau istri minta ambil semuanya.

Pada bulan September ini, kita sudah meninggalkan Agustus. Jadi, yang namanya Agus, cukuplah berulang tahun di bulan Agustus, ya. Jangan di bulan September ikut berulang tahun juga.

Kalau dirasakan, waktu terasa sangat cepat berlalu. Tahun 2026 sudah memasuki bulan kesembilan. Sementara ibu hamil sampai melahirkan itu sembilan bulan. Selalunya tidak nyambung, deh.

Bagaimana dengan rencanamu sejak awal tahun?

Sudah melewati separuh tahun, sudah menghasilkan apa saja? Jangan-jangan baru sadar kalau tahun ini tinggal beberapa bulan lagi, tahu-tahu sudah masuk akhir tahun.

Lalu perayaan tahun baru lagi. 2027. Wah, cepat sekali!

Bulan Kemerdekaan

Bulan Agustus yang lalu adalah bulan kemerdekaan. Selama satu bulan, dari tanggal satu hingga tiga puluh satu, masyarakat diminta untuk mengibarkan bendera Merah Putih.

Cukup dikibarkan saja dan tidak perlu setiap saat ditiup supaya berkibar-kibar. Serahkan saja kepada angin yang melambai-lambai.

Kita ini bukan Aang, Avatar pengendali angin. Namun, kitalah sang pengendali kipas angin.

Kalau Agustus disebut sebagai bulan kemerdekaan, sudah merasa merdeka sampai sekarang? Sudah merasa bebas begitu? Atau masih merasa terus terikat?

Terikat pada pekerjaan. Terikat pada tugas yang tidak kunjung selesai. Terikat pada cicilan. Bahkan mungkin terikat pada pernikahan yang sudah tidak lagi terasa membahagiakan.

Mau dilepaskan semuanya terasa berat. Mau dijalani juga berat. Pada akhirnya, kamu sebagai seorang ayah mencoba bersabar dan terus tabah.

Kalau ada yang mengatakan sabar itu ada batasnya, benar juga. Teman saya, Sabarudin, ada batas badannya.

Setelah Agustus, tibalah September. Dan bulan September ini tidak banyak tanggal merahnya. Paling tanggal merahnya, ya, hari Ahad atau Minggu di kalender yang menempel di tembok rumahmu.

Ngomong-ngomong soal kalender, kalender itu termasuk barang belanja yang bisa bertahan cukup lama. Kalau masih bagus, sebenarnya bisa saja dipakai sampai tahun depan.

Toh, angka-angkanya sama. Nama bulannya juga sama. Masih bisa digunakan, ya kan?

Akhiran yang Hampir Sama

september-3-filosofi-ember-tentang-hidup-1

Mungkin tidak banyak yang akan dilakukan pada bulan September ini. Yah, kalau sempat, nanti menonton film G30S PKI di akhir bulan September.

Saya pernah mau menonton film itu sampai selesai. Rupanya sudah keburu mengantuk. Kasihan para pemainnya, tidak saya tonton sampai selesai.

Filmnya berdurasi sekitar empat jam. Capek juga para pemainnya harus menghafal dialog sepanjang itu. Namun, bagi saya tidak masalah, sih. Ya, kan bukan saya yang disuruh menghafalnya. Saya tinggal menonton saja.

Kalau diperhatikan dari akhirannya, September akan disusul Oktober, November, dan Desember. Serba “ber”. Biasanya, yang berakhiran “ber” itu mulai muncul musim hujan.

Akhirnya jadi “ber” betulan. Alias berteduh.

Akan tetapi, sekarang masih musim kemarau. Rasanya memang cukup panjang. Di beberapa daerah bahkan sudah mengalami kekeringan.

Alhamdulillah, air bor di tempat saya masih lancar. Meskipun, yah, kadang keruh. Bagi orang tua, keruh yang menjengkelkan itu memang keruhtan di wajah.

Setelah September, masih ada Oktober, November, hingga Desember. Tapi kita memang belum sampai ke sana. Jadi, tidak perlu overthinking. Masa depan itu adanya di depan, bukan?

Nah, karena September, Oktober, November, dan Desember punya akhiran yang hampir sama, saya kemudian kepikiran satu benda yang juga punya akhiran mirip.

Ember.

Antara September dengan ember, bedanya cuma “sept” saja. Memang agak dipaksakan, semoga tidak sampai lecet. Tapi ‘kan namanya juga penulis.

Kalau tidak bisa menyambungkan dua hal, ya sambungkan saja. Kalau tetap tidak berhasil, berarti Argentina! Kalau bukan FIFA yang untuk sepakbola, berarti ya, untuk kosmetik.

3 Filosofi Ember tentang Hidup

Saya mengambil filosofi hidup yang memang tidak umum. Hidup kok disamakan dengan ember? Namun, marilah saya ajak kamu berpikir sebentar.

Semoga pemikiran saya ini bisa masuk ke dalam logika kamu. Kalau memang tidak bisa masuk, mohon dimasukkan, dong! Soalnya, bisa kedinginan juga kalau terlalu di luar, ya toh?

1. Ember Tidak Harus Selalu Penuh

3-filosofi-tentang-hidup-seperti-ember-1

Sebagaimana fungsi pada umumnya, ember digunakan untuk menampung air. Memang, ada juga yang menggunakannya untuk menampung semen.

Ada yang memakainya untuk mengangkut pakaian basah untuk dijemur. Wah, saya itu!

Ember memang biasanya diletakkan di kamar mandi. Ada sih kamar mandi yang dibuat dengan bak mandi dari semen dan keramik. Memang terlihat estetik, tetapi posisinya kaku dan tetap. Susah dipindah-pindahkan.

Berbeda dengan kamar mandi yang tidak memiliki bak, tetapi menggunakan ember. Seperti kamar mandi saya di rumah.

Meskipun ember tersebut saya gunakan setiap hari dan saya sayang sekali dengan ember itu, tidak mungkin saya membawanya ke hotel tempat saya menginap.

Apalagi kalau memang tidak menginap di hotel. Buat apa dibawa? Ya ‘kan?

Dilihat dari bentuknya, ember memiliki kapasitas. Entahlah berapa giga atau tera kapasitasnya. Namun, intinya, ember punya batas kemampuan untuk menampung sesuatu.

Begitu juga hidup. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menampung lebih banyak daripada kemampuan kita.

Kalau ember diisi terus-menerus sampai penuh, air berikutnya tidak lagi tertampung. Malah tumpah dan terbuang percuma.

Jatuhnya mubazir. Bahkan kalau airnya tumpah di kamar mandi, bisa-bisa kita terpeleset.

Maka, mari kita hubungkan dengan kehidupan kita, terutama kehidupan sebagai ayah. Kita tentu ingin punya uang banyak.

Ingin rumah lebih besar. Ingin pekerjaan yang lebih bagus. Ingin gaji lebih tinggi. Ingin punya kendaraan yang lebih nyaman.

Masalahnya, kita sering melihat kehidupan orang lain. Rumput tetangga dianggap lebih hijau. Padahal rumah tetangga sudah dibeton semua. Mana ada rumputnya?

Ketika terus melihat kehidupan orang lain, kehidupan kita sendiri akhirnya terasa kurang. Padahal, hidup tidak harus selalu diisi sampai penuh seperti ember.

Cukup isi secukupnya. Kadang makna hidup memang sesederhana:

“Segini sudah cukup kok untuk hari ini.”

Besok dipikirkan besok. Lusa dipikirkan lusa. Jangan sampai besok kita sudah memikirkan lusa. Atau malah lusa kita sudah memikirkan dua hari lagi. Eh, bagaimana kalimatnya ini? Aduh.

Sudahlah. Pokoknya, jangan sampai hidup kita habis hanya karena terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

2. Kalau Ember Bocor, Mana Bisa Terisi Banyak?

Masih tentang hubungan September dengan ember. Pada bagian kedua ini, kita bicara soal ember yang bocor. Mau bocornya kecil atau agak besar, air yang ditampung tentu tidak akan bertahan lama.

Ada air masuk. Lalu perlahan-lahan ke luar. Kita merasa airnya kurang. Akhirnya ditambah lagi.

Ke luar lagi. Ditambah lagi. Begitu terus.

Bisa kita tarik ke kehidupan kita, lagi-lagi sebagai ayah dan kepala keluarga. Dengan kerja keras dan luar biasa—malah biasa di luar juga—kita bisa memperoleh penghasilan lebih besar.

Kita bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak. Gaji dan tunjangan lebih besar. Fasilitas lebih lengkap. Posisi jabatan lebih mentereng.

Namun, kalau ternyata hidup kita bocor, meskipun bocornya halus, tetap saja tidak akan pernah terasa penuh. Kebocoran dalam hidup bisa macam-macam.

Boros. Gaya hidup hedonis. Mudah marah untuk sesuatu yang sepele. Padahal Pele adalah mantan pemain sepak bola Brasil.

Bisa juga kecanduan sesuatu yang negatif. Terlalu sibuk mencari pengakuan dari orang lain. Terlalu banyak membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Sampai kebocoran yang paling mengerikan: lupa beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari pagi niatnya mencari rezeki. Namun, dari pagi pula lupa kepada Yang Maha Memberi Rezeki.

Tidak salat Subuh. Tidak bersedekah. Tidak berdzikir. Tapi maunya uang banyak dan bisa kaya raya. Eits. Kaya raya dari singkong, eh, Hongkong?

Pada akhirnya, mungkin persoalan hidup kita bukan selalu karena air yang masuk terlalu sedikit. Bisa jadi, embernya yang perlu diperbaiki.

Sebelum sibuk mencari lebih banyak, coba periksa dulu apa yang selama ini membuat yang sudah kita punya terus-menerus ke luar.

3. Ember Tidak Pernah Terlihat Hebat, Tetapi Selalu Berguna

Dilihat dari harganya, ember masih termasuk barang yang murah. Karena murah, jarang sekali ada di antara kita yang memamerkannya kepada teman.

Misalnya, “Eh, hari ini saya membeli ember baru, lho! Keren deh bentuknya!”

Apanya yang keren? Ember kan bentuknya begitu-begitu saja. Kalau bukan bulat, ya, berarti apa? Ember memang bulat.

Secara fungsi, ember juga bukan barang mewah. Buktinya, tidak ada di antara kita yang memajang ember di ruang tamu. Atau memajang dan memamerkannya di medsos.

Meskipun tidak termasuk barang mewah atau aset bernilai triliunan rupiah, ketika dibutuhkan, ember pasti dicari. Ini membuktikan bahwa nilai sebuah benda tidak selalu terletak pada penampilannya.

Hal yang lebih penting justru manfaatnya. Bandingkan dengan kehidupan seorang ayah. Dia mungkin bekerja setiap hari, banting tulang. Rupanya, pekerjaannya memang tukang jagal sapi, jadi harus banting tulang terus-menerus.

Ayah yang lain setiap pagi mengantar anak ke sekolah. Pada kesempatan lain, memperbaiki sesuatu yang rusak di rumah.

Saat istrinya sibuk, dia mencuci pakaian. Kala malam hari, meteran listrik berbunyi seperti bom waktu. Dia harus membayarnya lagi.

Eh, ketika mau tidur, saking capeknya tidak bisa langsung tidur karena harus mendengarkan curhatan istri yang ternyata bisa sampai satu jam. Akhirnya dari 24 jam, lewat, deh, jadi 25 jam.

Tidak semua yang dilakukan seorang ayah mendapatkan tepuk tangan. Apalagi tepuk kaki.

Namun, semuanya berguna, bukan? Untuk diri sendiri, lebih-lebih untuk keluarga tercinta.

Ayah memang tidak harus selalu terlihat hebat. Tidak harus selalu super. Tidak harus selalu kuat luar biasa setiap hari. Kadang seorang ayah hanya perlu menjadi orang yang bisa diandalkan ketika keluarganya membutuhkan.

Seperti ember. Tidak dipuji. Tidak dipamerkan. Tidak dianggap istimewa. Tetapi ketika dibutuhkan, keberadaannya terasa.

Dan bukankah begitu juga dengan seorang ayah? Mungkin keluarga tidak selalu mengatakan terima kasih, arigato, maupun Ari Lasso. Mungkin anak tidak selalu tahu berapa banyak yang sudah ayah lakukan sampai dengan detik ini.

Mungkin istri juga tidak setiap hari mengatakan bahwa suaminya hebat atau keren, atau paling top, lah, sedunia.

Tetapi selama kita masih bisa menjadi tempat keluarga bergantung ketika mereka membutuhkan, itu pun sudah menjadi sebuah arti.

Mari Lihat Ember di Rumah

3-filosofi-tentang-hidup-seperti-ember-2

Setiap rumah, saya rasa, pastilah ada embernya. Mungkin ember itu digunakan di kamar mandi.

Bisa juga untuk mencuci motor atau mobil. Bisa untuk menyiram tanaman. Bisa untuk mengangkut pakaian. Atau fungsi-fungsi lainnya.

Kecuali mungkin digunakan untuk menjadi helm. Kalau itu sudah lain cerita.

Pada dasarnya, hidup memang seperti ember. Tidak selalu yang kita butuhkan adalah ember yang lebih besar.

Cukuplah ember yang lebih baik. Dan yang paling penting, tidak sampai bocor.

Tidak harus ember yang besar. Sebab kalau embernya terlalu besar, sementara yang kita butuhkan hanya ember kecil, ya, tidak cocok juga.

Begitu pula hidup. Kita tidak harus memiliki kehidupan yang sama besarnya dengan kehidupan orang lain. Kita hanya perlu tahu kapasitas diri kita.

Tahu yang kita butuhkan. Tahu yang perlu diperbaiki. Dan, tahu untuk apa hidup ini, sih?

Jadi, kalau September ini hidupmu ternyata belum seperti yang kamu inginkan, itu tidak apa-apa.

Yuk, periksa saja embermu. Apakah nyatanya memang sudah terlalu penuh? Apakah ada yang bocor?

Atau sebenarnya ember itu sudah cukup baik, tetapi kenyataan pahitnya, kamu terlalu sibuk melihat ember milik orang lain?

Mungkin solusinya bukanlah membeli ember baru. Hanya, cukup dengan belajar menggunakan ember yang sudah kita punya.

Tidak harus ember itu selalu penuh. Jangan kita biarkan diri ini bocor. Dan, jangan sampai malu untuk menjadi sederhana selama kita masih tetap berguna.

Bulan September barulah dimulai. Masih banyak yang perlu kita jalani. Masih ada cukup banyak kesempatan untuk memperbaiki diri.

Jika sesudah kamu membaca tulisan ini, terus mau membeli ember baru, silakan saja. Lumayan bukan? Untuk menyaingi tetangga yang mulutnya juga ember.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *