Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah salah? Justru, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Bahkan, saking banyaknya kesalahan itu, dia sampai lupa sudah berapa kali pernah dilakukannya.
Dari kecil, kita sebagai manusia memang belajar dari kesalahan demi kesalahan. Misalnya, saat kita belajar berjalan. Tadinya pakai baby walker, eh, pas sudah besar, ada di antara kita yang jadi penggemarnya Alan Walker.
Ketika Sudah Berkeluarga
Dari kecil sudah melakukan kesalahan. Begitu pula ketika remaja. Ada kalanya kita mencintai orang yang salah. Misalnya, bagi kamu yang laki-laki, sempat naksir dengan teman cewek, ternyata dia naksir cowok lain.
Kita pun mungkin jadi patah hati. Jelas tidak mungkin pergi ke tukang las untuk menyambungkan yang patah itu. Yang kita lakukan juga tetap ada kaitannya dengan las, yaitu: minum Lasegar agar tetap segar. Halah.
Semakin dewasa, kalau kita amati dan renungi, kesalahan-kesalahan itu justru makin membuat kita makin dewasa. Berbekal pengalaman yang kita alami sendiri, akan menjadi bekal di kemudian hari.
Memasuki dunia pernikahan, inilah fase yang cukup menggetarkan. Kita akan takjub bahwa selama usia pernikahan selama ini, ternyata tiap hari ada saja kejutannya.
Dan, dunia rumah tangga itu memang unik banget, kok. Tidak hanya istri yang dihadapi, tetapi juga orang tua dan mertua. Nah, mertua inilah sebagai orang tua baru kita. Orang tua istri, tetapi menjadi orang tua kita juga.
Baca Juga: 3 Hikmah Memiliki Istri yang Suka Mengomel Bagi Seorang Ayah
Sebagai hasil dari hubungan rumah tangga, antara suami dan istri, maka lahirlah anak. Mau anak pertama itu laki-laki maupun perempuan, tetaplah disebut sebagai anak sulung.
Meskipun anak bungsu disebut dengan anak terakhir, ada satu pelawak Jogja yang menyebutnya dengan nama Wisnu. Maksudnya adalah dalam bahasa Jawa: wis le nganu. Hem, bisa dipahami?
Kehadiran anak-anak ini bisa melatih kedewasaan kita, utamanya berkaitan dengan tulisan ini. Terutama ketika mereka berbuat salah.
Saat Anak-anak Berbuat Salah

Siapa sih yang lebih tua, apakah anak-anak ataukah orang tuanya? Dilihat dari kebiasaan in this economy, anak-anak memang belum pernah menjadi orang tua, sedangkan orang tua pernah menjadi anak-anak.
Jadi, orang tua pastilah sudah pernah mengalami fase anak-anak hingga tumbuh dewasa seperti sekarang. Namun, keadaan akan berbeda ketika kesalahan diperbuat oleh anak-anak.
Contoh kecilnya, anak-anak yang menghamburkan mainannya di ruang tamu. Padahal, kamu sebagai seorang ayah sudah mewanti-wanti, bahwa mainan harus rapi dan bersih serta berada di dalam kotaknya.
Namun, rupanya, nasihat kamu tidak terlalu mempan, tidak terlalu didengar anak-anak. Ini mirip dengan seorang pemimpin sebuah negara yang tidak mau mendengar rakyatnya juga. Mungkin negara ini ada di Planet Mars sana, ya?
Begitu menemukan anak-anak mengotori ruang tamu dengan mainan, bahkan ditambahi dengan mencorat-coret tembok dengan spidol, kita bisa jadi makin menyalahkan mereka.
Kita mungkin menjadi murka dan memarahi mereka dengan teriakan yang cetar membahana. Mungkin pula ditambah dengan cubitan plus pukulan di badannya.
Anak-anak yang lucu dan menggemaskan itu jadi menangis karena kita. Hal yang mengherankan ketika ada orang tua yang memarahi anaknya sendiri hingga menangis, sambil mencubit dan menyuruh diam.
Coba, bagaimana bisa diam? Anak tersebut mendapatkan rasa sakit karena cubitan ayahnya, oleh karena itu si anak menangis, eh, disuruh diam sementara masih dicubit?
Pokoknya, ketika anak-anak berbuat salah, maka orang tua yang langsung menghukum. Katanya ini sebagai tindakan pendisiplinan. Harus tegas begitu agar anak-anak nanti memahami kerasnya hidup ini. Hey, tidak salah?
Apakah dengan terus memarahi anak-anak, mereka akan menyadari kesalahannya? Mungkin malah belum tentu. Bisa jadi, anak akan makin berontak dan akan berbuat onar yang lainnya. Sementara onar itu adalah sejenis bahan bakar mesin diesel.
Dalam rumah tersebut, kita sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin rumah tangga, begitu tegas, keras, dan lugas dengan perkataan dan perbuatan agar anak-anak bisa menurut serta menjadi lebih baik. Namun, apakah akan berhasil?
Belum tentu, karena kondisi berikutnya ada di subjudul berikutnya juga.
Waktu Seorang Ayah Berbuat Salah
Anak-anak yang menjadi anggota keluarga paling lemah kerap menjadi objek pelampiasan emosi. Bahkan, pernah terjadi dalam sebuah keluarga dan ini kisah nyata, ada seorang ibu yang tertinggal peralatan bayinya, ketika sedang berada di luar kota.
Rupanya, dia malah menyalahkan salah satu anaknya yang sudah masuk fase kuliah. Dianggapnya anak tersebut tidak mau bantu-bantu mempersiapkan peralatan adiknya. Tidak mau cek-cek perlengkapan apa saja yang masih kurang.
Ternyata, ayahnya malah menambahkan. Anak yang dianggap lalai tersebut justru dikatai “goblok”. Ini jelas maknanya beda dengan go blog yang bisa diartikan kasarnya, pergi sana bikin blog.
Jelas, anak tersebut makin tersiksa batinnya. Dia sudah berhasil mewujudkan keinginan orang tuanya untuk masuk kampus negeri ternama di Indonesia ini, eh, malah digoblok-goblokkan oleh ayahnya sendiri.
Mengacu dari situ, si anak bisa saja menyimpan luka pengasuhan dari orang tuanya sampai dewasa. Sang ayah bisa juga tidak pernah merasa bersalah pernah mengatakan anaknya “goblok”, pernah memukul, dan menendang anaknya.
Baca Juga: Resume Webinar MHJA Series: Ketika Zero Point Tercipta, Melepaskan Jadi Lebih Rela
Bagi sang ayah mungkin merasa bahwa itu adalah bagian dari wewenangnya sebagai orang tua, sebagai kepala keluarga, sebagai kepala rumah tangga, bahkan pernah jadi kepala atau ketua RT hingga RW, padahal presiden kita belum pernah jadi ketua RT dan RW. Jadi, lebih hebat si ayah itu bukan?
Memang, ada rasa gengsi bagi seorang ayah untuk meminta maaf kepada anaknya saat berbuat salah. Dianggapnya itu bisa meruntuhkan wibawanya sebagai ayah.
Anggapan lainnya, ketika seorang ayah marah-marah ke anaknya adalah ayah sedang capek. Ayah sedang lelah dari pekerjaan di kantor. Ayah sedang ada masalah di luar dengan rekan-rekan kerjanya.
Apakah Ayah memang harus marah karena anaknya yang salah? Apakah ayah selalu benar dan anak selalu salah? Ayah memang sudah pernah jadi anak-anak, sedangkan anak-anak belum pernah jadi ayah. Namun, apakah ayah secara otomatis memahami perasaan anaknya sendiri?
Gengsi, merasa punya harga diri tinggi, wibawa, kekuasaan, dan ego yang membuat seorang ayah merasa tidak pernah berbuat salah dan merasa selalu benar.
Siapa berani mengatakan ayah itu salah? Istrinya? Oh, mana berani? Anaknya? Juga mana berani? Helmy Yahya dan Alya Rohali? Oh, kalau ini mantan presenter Kuis Siapa Berani.
Justru Jadi Bekas yang Membekas

Saya mengakui pernah berbuat salah kepada anak sulung saya. Waktu itu, sebagaimana biasa, dia berkelahi dengan adiknya, anak kedua saya. Anak saya memang tiga-tiganya laki-laki semua.
Ketika berkelahi begitu, yang kakak menggunakan kekerasan dalam artian secara fisik. Saya khawatir akan melukai adiknya. Saya khawatir akan timbul akibat yang tidak mengenakkan.
Makanya, saya sempat memukulnya. Bukan pukulan yang keras juga, sih, seperti pukulan ekonomi di era pemerintahan sekarang, melainkan hanya sebagai tindakan pencegahan saja agar tidak makin kalap.
Pertengkaran memang berhenti. Namun, yang terasa dalam hati saya malah penyesalan. Saya jadi ikut mengajarkan kekerasan juga ke anak-anak saya. Mungkin dia berbuat begitu, jangan-jangan karena mencontoh saya? Atau malah, dari emosi saya membuat jadi mata rantai yang tidak terputus?
Saya pun mengambil inisiatif. Saya meminta maaf kepada anak sulung saya. Sambil saya peluk, meskipun dia sudah jadi remaja awal, masuk bangku setara SMP.
Balasannya juga cukup mengharukan, dia mengatakan tidak apa-apa saya berbuat begitu. Dalam hati, masa sih tidak apa-apa? Yang jelas, saya merasa bersalah dan bertekad dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi.
Terus, kaitannya dengan judul tulisan ini apa? Tentunya, tidak berkaitan dengan wapres negara ini yang begitulah. Namun, yang ditekankan di sini adalah saat ayah merasa bersalah, maka memang harus mundur.
Bukan mundur jabatannya sebagai kepala keluarga, kepala rumah tangga, pemimpin dalam rumah itu, melainkan yang perlu dimundurkan terlebih dahulu adalah ego, gengsi, persepsi, sok berkuasa penuh, dan merasa punya wibawa yang tidak terbatas.
Menjadi ayah bukan berarti harus selalu dan seterusnya benar. Malah, ketika kita dengan berani mengakui kesalahan, lalu meminta maaf dan berusaha untuk tidak mengulanginya, justru kita sedang mengajarkan sesuatu yang positif dan tidak selalu bisa diajarkan hanya lewat nasihat.





Para suami harus baca artikel ini nih…
Saya kalau suami salah, ya bilang salah. Berani banget pokoknya. Hehe…
Termasuk saat suami berbuat sesuatu yang anehnya kalau diikuti anak, langsung marah
Saya langsung bilang dong, kalau tidak ingin anak berbuat begitu, ya ayahnya jangan memberikan contoh…
Mungkin ayahnya marah, malu atau apalah, tapi setelah saya paksa untuk minta maaf ke anak, walau mungkin berat, akhirnya suami minta maaf juga ke anak.
Haish, kadang jadi orang tua memang belum tentu bisa jadi teladan ya…
Kalo udah gede malah jadi Blogwalker dan namanya ganti jadi Fajar Walker.
Memang betul jika kita salah, kita harus bisa dengan berani menyatakan salah dan meminta maaf, lalu dengan legowo harus mau mundur mundur cantik seperti incess syahrini.
Cuma ada satu hal yang memang mengkhwatirkan dan banyak terjadi:
Perasaan atau merasa tidak bersalah, padahal udah jelas banyak yang protes.
atau memang sadar salah tapi tidak mau kehilangan jabaxxx eh kehilangan wibawanya.
ah jadi kemana – mana nih, pokonya gitu lah, meding ngopi aja