3 Alasan Seorang Ayah Harus Lebih Banyak Meluangkan Waktu untuk Anak yang Masih Kecil

3 Alasan Seorang Ayah Harus Lebih Banyak Meluangkan Waktu untuk Anak yang Masih Kecil

Selama saya di Sulawesi Tenggara ini, ada beberapa istilah untuk menyebut anak. Ada yang mengatakan anggota, ada pula yang mengatakan ekor, ada pula yang mengatakan anak buah. Anak, tinggal ditambahi buah.

Punya anak memang bisa menjadi suatu kebanggaan bagi pasangan suami istri. Punya anak juga menjadi bukti yang jelas tentang cinta dan hubungan dari suami dan istri tersebut.

Bagi laki-laki, memiliki anak menandakan bahwa alat yang selama ini dibawanya ke mana-mana itu memang tidak sebatas untuk fungsi irigasi, tetapi juga untuk reproduksi.

Meskipun ada kata “produksi”, jangan ditambahkan menjadi “rekonsumsi” dan “redistribusi”, ya? Mentang-mentang pernah ikut pelajaran Ekonomi waktu di SMA. Alhamdulillah, kita ada ijazahnya, ya, tidak seperti si itu.

Bila memiliki anak dianggap kebanggaan, apakah makin banyak yang dipunyai, akan makin bangga? Ya, bisa iya, bisa juga tidak. Anak banyak bila baik-baik semua, tentu ini baik. Anak banyak bila jelek-jelek semua, tentu ini jelek.

Saat Memiliki Anak yang Masih Kecil

Bagi orang tua muda, yang usia keduanya belum mencapai 500 tahun, biasanya masih memiliki anak kecil. Mungkin usianya masih bawah lima tahun atau balita. Ini berbeda dengan nama panggilan seorang perempuan, kalau itu disebutnya Mbak Lita. Coba, apa hubungannya?

Kata para orang tua, terutama para ayah, memiliki anak yang masih kecil memang ada suka dan tidak sukanya. Sukanya jelas karena masih lucu, meskipun para pejabat di negeri ini jauh lebih lucu lagi. Lho, eits!

Anak yang masih kecil sangat bisa diajak bermain oleh ayahnya. Mungkin main kuda-kudaan, main bola, main petak umpet, main sepeda bersama, dan permainan lainnya.

Memang ada spesialisasi-spesialisasi permainan sesuai jenis kelamin anak. Bagi anak laki-laki, cenderung permainan mobil-mobilan, robot-robotan, bola, maupun permainan lain yang lebih mengandalkan fisik.

Kalau bagi perempuan, lebih senang main boneka, masak-masakan, rumah-rumahan, maupun mainan tata rias. Ini sesuai dengan kodrat jenis kelamin anak, meskipun ada pula anak perempuan yang lebih senang main kelereng, sesuai kerabat saya di Kendari waktu masih kecilnya.

Terus, tidak sukanya apa? Sebenarnya, tidak suka ini cuma sementara, sih. Anak yang masih kecil akan bikin rumah jadi berantakan. Dinding rumah penuh coretan, barang-barang rumah bisa rusak, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang ayah, kamu mungkin merasa marah, jengkel, sebal, tetapi mau diapakan anak kamu itu? Memang ada seorang ayah yang jengkel betul dengan anak kecilnya yang selalu dianggapnya tukang bikin berantakan.

Oleh karena saking jengkelnya, padahal tidak sedang makan jengkol, dia pun memarahi si anak dengan sangat kasar. Bahkan bisa jadi sampai memukulnya.

Namun, apakah yang didapatkan keesokan harinya? Justru yang didapatkan adalah pelukan manja dari si anak. Coba, sekarang yang terlihat kekanak-kanakan itu si ayah, si anak, atau malah taman? Maksudnya taman kanak-kanak?

Jadi, ya, sebetulnya bagi seorang ayah, ketika punya anak kecil, nikmati saja, kok. Untunglah, anak tersebut tidak seperti di film Kera Sakti yang bisa berubah jadi kera raksasa. Masa, kita mau panggil Ultraman? Padahal dia belum tentu rutin minum susu Ultra.

Alasan Seorang Ayah Mesti Meluangkan Waktu untuk Anaknya yang Masih Kecil

ayah-meluangkan-waktu-untuk-anaknya-yang-masih-kecil-1 (1)

Dalam sebuah keluarga atau rumah tangga, figur seorang ayah adalah sosok pencari nafkah. Dia bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Makanya, banyak sekali ayah yang bekerja di luar rumah. Rumahnya sendiri tidak dibawa seperti kura-kura maupun keong. Dan, rumahnya juga tidak bisa mengecil seperti di film Ant Man.

Sebagai sosok pencari nafkah, hal yang biasanya dikorbankan adalah waktu kebersamaan dengan anaknya yang masih kecil atau si kecil. Bisa jadi, ayah tersebut berangkat kerja ketika si kecil masih tidur dan pulang saat si kecil sudah tidur juga.

Atau, bisa juga, si ayah tersebut bekerja di luar kota atau daerah hingga berhari-hari atau berbulan-bulan. Misalnya: menjadi sopir bus antarkota maupun antarprovinsi. Kalau bus antarplanet, sepertinya memang belum ada, deh!

Dalam kondisi berjauhan tersebut, apa yang bisa dilakukan oleh seorang ayah? Mungkin dengan video call. Mungkin dengan telepon. Mungkin juga dengan komunikasi lain bila si ayah memang tidak punya HP, tetapi punya pager. Wah, zaman ijazah SMA gaib begini masih pakai pager?!

Cara apapun yang dipilih, intinya seorang ayah tetap harus meluangkan waktu untuk anaknya yang masih kecil. Namun, apa alasannya, sih? Kenapa harus seperti itu? Saya merangkumnya menjadi 3 alasan.

Tidak usah tanya, kenapa kok 3? Yang jelas, angka 3 itu termasuk angka cantik. Terlebih bila seorang ayah punya 3 istri yang semuanya cantik, maka angka 3 termasuk angka cantik. Iya ‘kan? Iyain aja, deh.

1. Masa Kecil Anak Memang Singkat

Pernah merasa tidak, bahwa masa kecil anak-anak itu memang singkat? Biasanya, ditandai dengan kata “tahu-tahu”. Bukan karena tahu itu lebih baik daripada tempe, karena ada kata “pengetahuan”, tetapi tidak ada “pengetempean”.

Yap, dalam percakapan sehari-hari, sering kita dengar seperti ini, “Eh, anakmu tahu-tahu sudah SD, ya? Ini yang besar tahu-tahu sudah SMA aja, sih?”

Ada juga yang mengatakan “tahu-tahu” ketika seorang anak akan menyelenggarakan pesta pernikahannya. Tahu-tahu sudah sebesar itu, tahu-tahu sudah mau menjadi keluarga baru.

Ini memang disadari oleh banyak orang tua, termasuk para ayah. Saya sendiri pun merasa begitu. Anak pertama saya tahu-tahu sudah kelas 2 MTs. Padahal, sepertinya baru beberapa bulan yang lalu masih SD.

Begitu pula anak saya yang kedua dan ketiga. Yang paling kecil masih umur 4 tahun, tetapi juga saya rasa waktu berjalan sangat cepat.

Kalau anak sudah mulai besar dan menjadi remaja, maka tidak ada ceritanya kembali menjadi balita, kecuali balita yang diganti kepanjangannya menjadi bawah lima ratus tahun. Kalau ini, sih, saya juga termasuk balita, termasuk presiden kita. Ups.

Oleh karena masa anak-anak ini sangatlah singkat dan berjalan sangat cepat, maka seorang ayah mesti benar-benar memanfaatkannya.

Okelah, dia sibuk kerja, sibuk mencari uang di luar rumah, tetapi masa tidak ada waktu sama sekali menemani si kecil? Masa 1 detik tidak ada juga? Padahal di jantungnya masih ada detak. Antara detik dan detak, ternyata ada yang lebih terkenal lagi bagi generasi 80-an, yaitu: Datuk. Lengkapnya Datuk Maringgih.

Saat seorang ayah menyadari bahwa waktu berjalan sangat cepat, maka jangan disia-siakan. Si kecil perlu ditemani, diajak mengobrol, didengarkan cerita-ceritanya, maupun dibacakan cerita.

Suatu saat, ketika dia tumbuh besar dan bukan lagi anak kecil, seorang ayah akan merindukan momen-momen indah itu. Kalau di Jogja itu, kata ibu saya, momen artinya razia polisi lalu lintas. Kalau di Jakarta, momen itu nama pelawak yang dulunya bilang “Spontan, uhuy!”

2. Masa Kecil Anak Memang Cuma Terjadi Satu Kali

Tadi, sudah saya sebutkan bahwa masa kecil anak memang tidak akan pernah kembali. Waktu akan berjalan terus, tidak akan pernah berhenti apalagi mundur.

Kaitannya dengan mundur ini adalah hitungan angka. Dari 1, 2, 3, 4, 5, ternyata setelahnya bukan 6, melainkan R! Ya, kamu pasti tahu yang ini, lah.

Kalau dicermati dengan sangat cermat tanpa harus ikut cerdas cermat lalu mengatakan, “Di era dijilat ini, saya ulangi, di era dijilat ini”, masa kecil anak betul-betul cuma satu kali.

Bahkan, seandainya kita sebagai ayah ini masuk surga nanti, aamiin, tetap anak kita tidak akan menjadi anak kecil lagi. Penduduk surga berusia 33 tahun, tidak ada balita, bayi, remaja, maupun orang tua alias jompo, jomblo pun tidak.

Berarti, masa kecil anak terjadinya memang cuma di bumi ini. Masa tidak mau dimanfaatkan dengan baik? Masa mau dilepaskan begitu saja? Masa terlalu sibuk mengejar dunia, justru dunia kita sendiri, yaitu: anak kita, malah terlupakan sendiri?

Anak-anak kita mulai tumbuh besar dan makin lepas ketergantungannya dengan kita. Mereka mulai tidak lagi mencari kita di waktu malam sambil mengatakan ingin pipis dengan mata setengah terbuka.

Mereka juga tidak lagi minta digendong untuk melihat sesuatu yang lebih tinggi. Mereka juga mulai sibuk dengan teman-temannya.

Baju-baju kecil mereka jelas sudah tidak lagi muat dipakai mereka, makanya itu, jangan kamu pakai juga. Lebih tambah tidak muat.

3. Memperbaiki Kekurangan Pengasuhan di Masa Lalu

Saya tidak bilang setiap pengasuhan orang tua kita pasti jelek, lho, ya! Pasti ada sisi baiknya juga, meskipun memang tidak sempurna 100%, apalagi lebih.

Meskipun demikian, saya dan kamu bisa menjadi seperti ini juga karena didikan orang tua bukan? Kita bisa sekuat ini menghadapi in this economy juga karena pengasuhan di masa lalu, di masa kecil kita.

Nah, ketika kita teringat dengan masa lalu alias masa kecil tersebut, maka yang kurang kita perbaiki dan kita tambahkan di masa sekarang, pas kita jadi orang tua.

Kalau yang lalu, orang tua kita pernah marah-marah ke kita sambil bicara kasar, sekarang kita tidak begitu ke anak-anak kita, apalagi ketika anak-anak kita masih kecil.

Kalau yang lalu, sempat orang tua kita memukul kita dengan ikat pinggang misalnya, maka sekarang kita kalau marah jangan sampai seperti itu, terlebih kita memang tidak punya ikat pinggang. Masa mau memukul pakai pinggang saja tanpa ikat?

Kalau yang lalu, orang tua kita sangat sibuk hingga tidak sempat menemani kita, maka sekarang kita yang menemani anak-anak kita.

Intinya, luka pengasuhan masa lalu jangan dijadikan luka pengasuhan masa depan juga untuk anak-anak kita. Masa tidak bisa dihentikan di tangan kita, sih? Masa mau terus saja, padahal sudah ada lampu merah? Nanti dimarahi patung, eh, polisi lalu lintas, lho!

Tidak Berharap Apa-apa, Selain Pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Apakah di antara kamu ketika memberikan uang ke anak-anak yang masih kecil berharap suatu saat nanti dia akan membalas dengan memberikan kamu uang juga?

Saya kok tidak sampai berharap seperti itu, ya! Ketika anak-anak saya meminta uang ke saya untuk membeli jajan misalnya, saya biasanya langsung memberi, meskipun diverifikasi ijazah, eh, maksudnya diverifikasi dulu mau jajan apa?

Pada dasarnya, banyak dari ayah begitu, punya uang, ketika diberikan ke anak, loyal saja begitu, apalagi sudah minum loyal jelly juga.

Naluri mereka sebagai orang tua merasa senang saja memberikan uang, apalagi ketika anak-anak mereka masih kecil, tertawa, tersenyum, dan bilang, “Makasih, Ayah!” Wah, itu rasanya nyes sekali! Ya ‘kan?

Kita sebagai ayah yang tugasnya mencari nafkah, meskipun capek luar biasa, apalagi memang biasa di luar, merasa lelahnya hilang waktu pulang disambut anak-anak yang masih kecil. Mereka begitu rindu kita ternyata.

Padahal, mungkin kita sedang dimarahi bos, dimarahi kepala bagian, ditambah ditatap lagi oleh fotonya wakil presiden yang tidak ada ijazah SMA-nya itu, bikin batin kita tambah menggerutu.

Selama di perjalanan pulang, pikiran dan hati kita masih merasa panas. Namun, ketika di dalam rumah, kok semua perasaan gundah gulana itu hilang, ya? Terlebih sudah bertemu si kecil, dia memeluk kita dengan sangat menggemaskan, bahkan cium pipi.

Dan, menghadapi anak-anak yang seperti itu, meskipun kita bukanlah orang kaya di negeri ini, bukan termasuk taipan, melainkan justru banyak tai ayam tetangga di teras depan, toh kita cuma berharap yang paling utama.

Apalagi kalau bukan berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa anak-anak kita yang masih kecil ini nantinya akan menjadi anak-anak yang saleh.

Anak-anak yang akan mendoakan kita ketika sudah meninggal dunia. Anak-anak yang akan menjadi amal jariyah bagi kita selamanya. Anak-anak yang menjadi pembela umat, pembela agama, pembela keluarga.

Tentunya, yang paling utama adalah mengucapkan, “Aamiin, ya rabbal ‘alamin”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *