Cucu baji. Tahu artinya itu? Kalau tidak tahu, pastilah bayi yang di dalam rahim juga tidak tahu. Itu kebalikan dari dua kata, yaitu: cuci baju. Sengaja dibuat terbalik begitu. Bukankah yang terbalik itu biasanya terbilak?
Berdasarkan kenyataan yang mungkin pahitnya melebihi brotowali, beda dengan walikelas, sebagian dari kita memang bukan orang yang sangat kaya raya.
Kalau kaya luar biasa, setelah pakai baju, kotor, mungkin langsung dibuang. Bajunya banyak banget, kok. Nyatanya, baju kotor, dicuci bukan?
Jika ditanya ke masing-masing keluarga, siapa sih yang biasanya mencuci baju? Kalau pertanyaannya begitu, biasanya dijawab kaum perempuan. Lebih jelas lagi, kaum ibu yang mencuci baju.
Jika kaum ibu, berarti kaum istri. Dan, ini memang realita yang banyak terjadi di keluarga Indonesia. Istri tugasnya mencuci baju, ya, bajunya, suaminya, anak-anaknya. untunglah kucingnya tidak pakai baju, jadi tidak sekalian.
Ketika Mulai Repot
Pada zaman Dinosaurus, pastilah mesin cuci belum ditemukan. Sekarang ini, mesin cuci juga belum ditemukan apabila ada maling yang mencuri mesin tersebut. Hah, maling apaan tuh? Kenapa tidak barang yang lebih kecil? Setrika misalnya.
Meskipun mesin cuci banyak dimiliki oleh keluarga Indonesia dan nyata membantu mencuci baju, tidak selamanya pekerjaan akan lebih mudah dan cepat selesai.
Mesin cuci kan ada dua. Ada yang harus dibilas lagi, ada yang tidak perlu. Sekali pakaian masuk, maka akan menjalani proses hingga kering dan siap dijemur secara otomatis.
Nah, ketika mesin cuci perlu dibilas lagi, perlu dikeluarkan pakaiannya untuk dibersihkan di air lain, maka di situlah kerja masih belum selesai.
Memang tadi memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Menambahkan air secukupnya, jangan cuma setetes, ditambah dengan sabun deterjen, lalu memutar tombol agar kincirnya bisa berputar.
Mesin cuci kerjanya memang begitu. Memutar-mutar pakaian di dalam tabung. Putar ke kanan, putar ke kiri, jadi kayak lagu saja, ya?
Meskipun tadi tugas mencuci biasanya istri, tetapi tidak selalu akan sempat. Apalagi jika istri sedang hamil tua, atau mau melahirkan, atau habis melahirkan, atau sedang menyusui bayi yang baru lahir.
Ketika itulah, dia sudah tersibukkan dengan hal lain. Apalagi misalnya diminta membersihkan kotoran bayi. Ini lebih repot lagi. Harus pakai sikat, tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Waktu lahir anak pertama di Kendari, saya termasuk yang malas mencuci. Saya bawa semua pakaian kotor ke laundry. Rupanya, si tukang laundry yang saat itu kebetulan perempuan, mengecek satu per satu.
Dia menemukan ada popok kain yang kena kotoran anakku. Dia mengangkatnya, cukup dengan melihatnya. Tidak sampai memegang, mencium, atau bahkan menjilatinya, lalu mengatakan, “Wah, tahi ini!”
Akhirnya, popok kain tersebut dikembalikan ke saya untuk dicuci sendiri. Sepertinya, sejak saat itu, saya memutuskan untuk mencuci sendiri baju, hingga pakaian semuanya.
Ternyata Ada Manfaat Positif Suami Mencuci Baju Sendiri, Istri, dan Anak-anak
Hingga sekarang, tiap pagi, saya selalu mencuci. Ini juga pesan dari ibu saya waktu datang di Bombana, jauh-jauh dari kota Jogja, kota kelahiran saya. Ketika saya lahir di kota pelajar tersebut, suasana kota biasa-biasa saja tuh. Tidak ada yang istimewa. Kalah sama martabak yang ada istimewanya.
Pernah satu hari saya tidak mencuci. Rupanya, besoknya menumpuk lebih banyak. Oh, berarti memang harus tiap hari, lebih tepatnya tiap pagi sebelum berangkat kerja. Kan tidak mungkin di tempat kerja, mesin cuci tersebut saya bawa, ya ‘kan?
Anak-anak saya memang belum bisa mencuci baju sendiri. Hem, sebenarnya bisa sih kalau dilatih sejak sekarang. Namun, nantilah, saya latih khusus, terutama yang sulung. Kalau anak kamu sendiri sudah bisa mencuci sendiri?
Ternyata, setelah saya menjalani mencuci sendiri dan mencuci pakaian keluarga, ada banyak manfaat positif yang saya dapatkan. Tentunya, saya tidak tulis sampai 1.000 manfaat positif di sini. Selain terlalu panjang kalau dituliskan semuanya di sini, saya juga tidak tahu sampai 1.000 itu.
Saya tahunya cuma 3 manfaat positif. Kok cuma tiga? Kenapa tidak empat? Yah, seperti salah satu lawakan dari Jogja, kayaknya cerita fiktif, waktu ada tiga anak muda ditilang polisi karena berboncengan tiga. Alasan dari tiga anak muda itu adalah,
“Ya, kalau empat nggak cukup, Pak!”
Dari masalah cenglu alias bonceng telu, bahasa Jawa yang berarti bonceng tiga, sekarang masuk ke manfaat positif suami mencuci baju.
1. Suami Jadi Lebih Bisa Menghargai Pekerjaan Rumah
Pernah ‘kan melihat ada suami atau seorang ayah yang di rumah hampir tidak ada kerjaannya? Bangunnya saja siang. Bahkan, matahari pagi dan ayam jantan pun mungkin geregetan dengan laki-laki itu. Salat Subuh selalu terlewat. Tidak mungkin bukan salat Subuh dijama’ dengan Dzuhur?
Bangun tidur bukannya merapikan kasur, eh, malah main HP. Minta disediakan kopi, gorengan, ditambah dengan dia merokok. Duduk santai di depan rumah, pakai kaos singlet, sarung, melihat janda-janda yang sedang lewat dan menyapanya. Hiii..
Sedangkan istrinya kewalahan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Sejak sebelum Subuh sudah sibuk di dapur dan membersihkan rumah. Setelah itu, dia siap-siap ke kantor atau ke tempat kerjanya. Yap, istrinya yang malah bekerja menghidupi suami dan anak-anaknya.
Kalau ada begitu, bagusnya diapakan suaminya? Ini bukan dalam kondisi suaminya kena PHK, lho! Terlebih suaminya juga tidak bergelar PHD. Suaminya cuma malas saja, maunya santai-santai di rumah, sedangkan istrinya yang disuruh bekerja.
Saya jelas tidak mau jadi suami atau laki-laki yang begitu. Kamu juga ‘kan? Harga diri seorang laki-laki itu memang pada dasarnya harus bekerja. Fisiknya memang lebih kuat daripada perempuan. Kalau ada laki-laki yang fisiknya kalah dibandingkan perempuan, bisa jadi itu adalah boti. Hiii lagi.
Ketika saya mencuci baju sendiri, istri, dan anak-anak, saya merasakan bahwa pekerjaan rumah tangga itu memang banyak dan cukup berat. Tidak bisa dilimpahkan semuanya ke istri, sementara saya cuma ongkang-ongkang kaki. Harus ada rasa saling membantu dan bekerja sama, bukan bekerja beda. Sama ‘kan lawannya beda?
Paling tidak, untuk urusan mencuci, biarlah saya yang menangani. Istri saya yang mengerjakan lainnya. Memasak jelas pekerjaan istri. Saya merasa tidak bisa memasak. Jadi, kalau saya disuruh ikut Master Chef, saya akan memilih menu air matang saja.
2. Mencuci Hati Istri

Pada poin kedua ini, sebagaimana ada di judol, halah salah, judul, maksud dari mencuci hati istri ini adalah meredamkan amarah, kesal, jengkel, capek, maupun perasaan-perasaan negatif lain yang muncul saat melihat wajah suami.
Selama menikah, kan ketemunya itu-itu terus ya ‘kan? Tidak mungkin tiap hari ada orang baru di rumah itu, di keluarga itu. Ini rumah tangga, bukan bandara, meskipun di rumah itu ada juga pesawat. Mainan anaknya.
Kalau istri sudah jengkel, bisa jadi karena suaminya memang tidak bisa diandalkan. Seperti di poin pertama, suaminya tidak ada kerja apa-apa, cuma bisa minum kopi, makan gorengan, ditambah merokok. Untunglah si istri tidak sampai bilang, matilah saja suamiku. Eits, nanti kalau mati dan masuk alam kubur, terus mau merokok di sebelah mana hayo?
Nah, ketika saya melaksanakan di poin kedua ini, saya berusaha untuk membuat istri saya lebih nyaman. Mencuci itu memang bikin capek. Terlebih saya pakai mesin cuci yang biasa saja. Pakaian kotor tidak hanya sekadar dimasukkan di mesin cuci, tetapi juga harus dibilas dua kali, hingga dikeringkan.
Tidak hanya itu, masih juga dengan dijemur di bawah terik matahari. Yap, saya cukup menjemurnya di sini, tidak perlu sampai pergi langsung ke matahari hanya agar pakaian lebih cepat kering. Terus, ketika saya di rumah, juga harus standby, jangan sampai tiba-tiba hujan.
Terus, yang juga penting, saya bisa menyelamatkan uang saya. Okelah, saya sudah memberi nafkah yang saya rasa cukup untuk istri. Bila istri yang mencuci celana saya, lalu dia menemukan uang saya di saku celana tersebut, pasti akan diambilnya.
Kalau kamu sebagai suami, melihat istrimu mengambil uangmu di saku celanamu yang mau dicuci, pasti rasanya tidak enak untuk meminta kembali bukan? Akhirnya kamu mengalah dan membiarkan saja dia mengambilnya. Begitulah seharusnya laki-laki, merasa trenyuh dan ingin selalu berusaha memberi ke istri.
Namun, ketika saya mencuci sendiri, menemukan uang di saku celana, ya, tetap akan jadi milik saya. Masih bisa saya kantongi lagi dan tidak berpindah kepemilikan, apalagi ke orang asing, atau bahkan makhluk asing, alien misalnya.
Uang saya tetap selamat dan bisa saya manfaatkan untuk kebutuhan yang lain atau kebutuhan mendadak. Misalnya, ikut bantu bayar utang negara. Ini ‘kan tujuan yang sangat mulia. Lebih mulia daripada logam, ya ‘kan?
3. Bisa Menjadi Contoh Baik untuk Anak
Kamu pasti tahu bahwa apapun tingkah laku orang tua bisa dicontoh oleh anak. Ada anak yang suka bilang “goblok”, rupanya karena bapaknya juga sering bilang begitu ke ibunya. Atau ada seorang ayah yang merokok, maka anak-anaknya, minimal satu biasanya, akan merokok juga.
Jadi, segala tindak tanduk orang tua itu mestinya dijaga betul-betul di depan anak. Teman saya, saat ingin bertengkar dengan istrinya, menunggu anak-anaknya tidur. Ternyata, dari situ, melahirkan anak-anak yang cinta Al-Qur’an. Yap, hafalan anak-anaknya luar biasa banyak. Masya Allah.
Ini pula yang saya lakukan ketika mencuci baju sendiri, istri, dan anak-anak. Saya berusaha memberikan contoh yang baik kepada anak-anak saya. Ini, lho, sosok ayah yang tugasnya bukan hanya mencari nafkah atau memberi uang, tetapi juga mengurusi pekerjaan rumah tangga.
Penting ditekankan bahwa saya bukan hanya “membantu istri saya” atau “membantu ibunya”, melainkan juga karena rumah yang saya huni sekarang juga dihuni oleh istri dan anak-anak saya. Kalau begitu pemahamannya, kenapa pekerjaan-pekerjaan di dalamnya hanya dianggap harus dikerjakan oleh satu orang saja? Ya toh?
Tidak Perlu Merasa Malu

Sekarang memang eranya media sosial. Apa-apa bisa diunggah di media tersebut. Terus, kalau sekarang ada suami yang mencuci bajunya sendiri, istrinya, dan anak-anaknya, saat difoto untuk ditaruh di medsos, apakah langsung merasa malu?
Ih, laki-laki kok mencuci? Ih, istrinya ke mana, sih? Ih, kok istrinya nggak kerja? Ih, kok istrinya malas? Dan, ih, ih, ih, lainnya. Tidak mau diganti jadi ah atau oh, kah?
Padahal, buat apa sih seorang suami merasa malu? Justru, teladan terbaik, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga mengurus keperluan pribadinya di rumah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,
قِيلَ لِعَائِشَةَ: مَاذَا كَانَ يَعْمَلُ رَسُولُ اللّٰهِ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ، وَيَحْلُبُ شَاتَهُ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ.
“Aisyah pernah ditanya, ‘Apa yang dilakukan Rasulullah di rumahnya?’ Dia menjawab, ‘Beliau adalah seorang manusia seperti manusia lainnya, beliau membersihkan bajunya, memerah kambingnya, dan melayani dirinya sendiri’. (HR. Tirmizi)
Waktu beliau melakukannya, tidak ada tuh kamera. Tidak ada tuh foto dokumentasinya. Namun, sampai sekarang masih bertahan dan akan terus bertahan hingga di akhir zaman ajaran beliau karena ditulis dalam hadits-hadits yang agung.
Beliau yang merupakan pemimpin umat ini, beliau yang disegani oleh para sahabatnya, beliau yang merupakan panglima perang tangguh, ketika di rumah, dilepaskan tuh semuanya. Beliau menjadi suami, selayaknya suami pada umumnya.
Masa kita yang mengaku umatnya, tidak mencontohnya? Tidak meneladaninya? Apakah kita berpikir, ah, cucian ini bawa semua ke laundry, deh! Praktis, tinggal bayar nanti kalau sudah selesai. Baju rapi, harum lagi.
Ya, itu sih sah-sah saja. Boleh juga. Kalau memang kondisinya seperti itu, saking sibuknya, laundry adalah pilihan yang baik juga.
Namun, yang ditekankan di sini adalah peran suami untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Mau seperti apa model mesin cucinya, atau lebih senang pakai manual alias tangan dan kaki sendiri, atau mau dibawa ke laundry, disesuaikan kondisi masing-masing.
Saat suami atau seorang ayah terlibat, maka itu akan menjadi pembelajaran yang bagus, terutama bagi anak-anak. Menjadi seorang laki-laki tidak selalu harus dilayani. Pakaiannya dicucikan semua. Lebih penting daripada itu adalah bisa juga melayani keluarganya.
Suami perlu mengambil bagian dalam kehidupan keluarganya sendiri. Nilai inilah yang dibawa anak-anak hingga nanti mereka dewasa. Itu bagi laki-laki. Kalau perempuan, hingga nanti mereka dewisa. Laki-laki dewa, perempuan dewi.
Sumber Rujukan Hadits:
https://www.qurancordoba.com/artikel/di-rumah-rasulullah-beginilah-aktivitas-sederhana-yang-memancarkan-keteladanan-dari-syamail-muhammadiyah




