Pernah mengisi bensin di Pertamina? Pasti pernah dong, minimal sekali dalam seumur hidup. Kalau pernah, pasti pernah juga mendengar, “Dimulai dari angka nol, ya!”
Yap, sampai sekarang Pertamina masih menjadi tempat mangkal favorit sambil mengisi bensin. Kalau kata teman saya, Pertamina itu per tahun minyak naik. Benar juga, sih.
Sekarang, memang yang naik bukan harganya, melainkan tingkat kesabaran kita. Betapa tidak, selalu saja mengantri saat mau beli bensin. Dan, sering pula antrian panjang. Kalau begini terus, apa lebih baik kita punya pom bensin sendiri?
Ketika sudah tiba giliran kita untuk mengisi, maka petugas SPBU itu biasa mengatakan seperti dalam awal tulisan ini. Dimulai dari angka nol. Maksudnya, benar-benar dimulai dari titik awal pengisian bensin, apapun rasanya bensin tersebut. Lho, eh?
Tentu saja kamu merasa senang-senang saja waktu bensin sudah diisi sesuai permintaanmu. Mau itu cuma beli sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau malah full tangki sekalian. Atau justru membayarkan semua yang beli bensin di situ. Wuih, Masya Allah.
Meskipun terlihat menyenangkan, dimulai dari angka nol, ternyata ada, lho, yang lebih baik! Lah, kok bisa? Jelas, yang lebih baik itu akan diulas dalam tulisan ini.
Tiga Perangkap Penjara Hati
Kalau mendengar kata “penjara” pasti yang terdiri dari dua kata, yaitu: “pen” dan “jara”. “Pen” artinya “pen”, sedangkan “jara” artinya “jara”.
Tentu ini definisi yang ngawur. Menurut persepsi kita selama ini, penjara adalah sebuah tempat yang cukup mengerikan. Orang ditahan untuk jangka waktu tertentu, baik itu di rutan maupun di lapas.
Meskipun begitu, ternyata masih banyak di antara kita yang justru terperangkap atau terjebak dalam penjara juga, hanya yang dimaksud di sini adalah penjara hati.
Baca Juga: 3 Kepanjangan KDRT yang Dihadapi Pasangan Suami Istri
Sesuai dengan acara Menata Hati Jamil Azzaini atau MHJA Series setiap Sabtu, pada Sabtu kemarin (3/10/2026), dimulai dari 05.30 WIB atau di tempat saya berarti jam 06.30 WITA. Tidak tahu kalau di Mars sana jam berapa juga.
Babe Jamil menyebutkan ada tiga bentuk penjara hati yang cukup banyak membuat orang terperangkap. Pertama adalah aku rugi (loss aversion). Kedua adalah milikku (endowment effect). Dan, yang ketiga adalah kendali (illusion of control). Untuk keempat memang tidak ada, apalagi keenam.
Motivator dan inspirator Sukses Mulia ini mengatakan juga bahwa makin takut kita kehilangan terhadap sesuatu di dunia ini justru makin keras menggenggam hingga sampai pada makin sesak hidup kita sendiri.
Padahal, jika kita menyadari sesuatu, bahwa kita lahir ke dunia ini memang tanpa nama. Tanpa gelar. Tanpa jabatan. Tanpa harta. Bahkan, saya tambahkan, tanpa ijazah juga. Lho, lho, lho!
Tubuh yang selama ini kita bawa ke mana-mana juga sebenarnya bukan milik kita. Kalau sudah saatnya ditinggalkan, ya, harus ditinggalkan.
The Zero Point Sebagai Solusi Agar Tidak Terlalu Terjerat Dunia
Dunia ini memang sudah seperti itu adanya. Kita bisa punya rumah, kendaraan, tabungan, pekerjaan, keluarga, dan lain sebagainya. Namun, pertanyaannya tanpa ada hadiah ini, benarkah semua itu milik kita?
Babe Jamil mengenalkan konsep, yaitu: the zero point. Kita singkat saja zero point. Ini berbeda dengan ksatria bertopeng hitam, berpakaian hitam, dan berkuda hitam itu. Kalau itu namanya Zorro. Tidak diajak masuk di sini, kok.
Zero Point berarti: aku bukan pemilik, aku hanyalah hamba, aku bukan pengendali, dan aku hanya menjalankan amanah.
Meskipun Zero Point ini bisa dipahami sebagai keadaan tidak terlalu terjerat dunia, tetapi sebenarnya Zero Point bukanlah minder. Bukan juga kehilangan harga diri. Bukan pula berhenti bercita-cita.
Baca Juga: 2 Hari Ikut Webinar Pengaturan Rezeki, Ternyata 7 Hal Ini Sering Kita Hadapi dalam Rumah Tangga
Dalam MHJA ini, Babe Jamil menyebutkan, meskipun beliau berusia hampir masuk 60 tahun, tetapi tetap tidak berhenti bercita-cita, lho! Bagaimana dengan kita sendiri? Masa cuma sebatas berhenti di lampu merah? Itupun kalau tidak ada polisi lalu lintas. Walah.
Zero Point mesti dimengerti bahwa menempatkan diri pada posisi yang benar.
Paradoks Angka Nol
![]()

Nah, pada bagian inilah, sudah dicuplik sedikit di awal tulisan, tentang pegawai Pertamina yang mengisi bensin sambil mengucapkan, “Dimulai dari angka nol”.
Ternyata, dalam kehidupan ini, ada yang namanya paradoks angka nol. Misalnya angka 0001. Pada tiga angka nol di depan angka satu itu, ternyata tidak menambah nilai. Tetap itu adalah nilai satu. Ya ‘kan? Atau ada yang berbeda penafsirannya? Bagi yang berbeda, mungkin harus mengulangi di bangku TK, deh.
Sebaliknya, pada angka yang nolnya di belakang, justru ada maknanya, justru nilainya berlipat ganda. Angka nol di belakang Yang Satu, maka itu adalah nilai kehidupan yang sebenarnya.
Contohnya angka 1000. Makin banyak nolnya di belakang satu, makin bagus. Terus, angka satu di situ maksudnya apa? Jawabannya, Yang Satu itu adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Semuanya yang ada di dunia ini adalah nilainya nol. Mungkin baru kita tahu bahwa masalah hidup di dunia rupanya muncul ketika si nol ingin menjadi satu. Jelas ini akan membuat kita lebih capek dan lelah dalam hidup.
Nol-nol dalam hidup misalnya: harta, kendaraan, rumah, tabungan, dan lain sebagainya itu. Kalau semuanya justru dijadikan Tuhan, maka di situlah akar masalahnya.
Di situlah juga awal kegelisahan. Pernah mengalami yang begitu? Dari angka nol ingin menjadi satu, meskipun pakai kalkulator pinjam di kios Mang Ucrit?
Mari Kembali ke Titik Nol
Menjelang penutup pemaparannya, Babe Jamil mengajak semua yang hadir untuk kembali ke titik nol. Namun, nol bukan sembarang nol, karena beliau menyebutkan NOL. Jadi, besar semua hurufnya. Tidak perlu diukur besar kecilnya.
Nolkan Label
N yang pertama dari Nol itu adalah Nolkan Label. Yang kita punya sekarang ini, misalnya: jabatan, gelar, nama besar, semuanya ternyata hanyalah kostum. Kita memakainya hanya ketika bertugas dan semestinya memang melepasnya ketika sudah pulang.
Baca Juga: 3 Keuntungan Bagi Orang yang Meninggalkan Salat
Babe Jamil pernah ditegur oleh anaknya sendiri. Beliau yang merupakan komisaris perusahaan juga diminta untuk menjadi ayah biasa saja saat sudah di rumah.
Walaupun segala jabatan, gelar, dan NAMA BESAR (harus ditulis besar), tetapi diam-diam kostum itu melekat ke kulit hingga lupa wajah sendiri.
Kalau sudah begitu, ketika memasuki pensiun, dicopot jabatannya, atau gagal dalam pekerjaan seperti kehilangan diri.
Babe Jamil menyentuh kita untuk merenung: Tanpa semua kostum ini, siapa aku di hadapan Allah?
Open Kepemilikan
Pada huruf yang kedua dari NOL, Babe Jamil mengatakan bahwa kalau merasa memiliki, maka kita akan menuntut. Namun, bila kita merasa dititipi, maka kita akan merawatnya.
Ingat hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa harta yang dimakan itu akan habis, yang dipakai akan usang, dan yang kekal adalah yang disedekahkan.
Saat di rumah, mari tatap wajah orang-orang yang selama ini kita cintai sambil berbisik, “Kamu adalah titipan Allah, bukan milikku.”
Coba dipraktikkan dan lihat reaksinya. Kalau dia masih bingung, coba suruh baca tulisan ini atau ikut MHJA Series Sabtu depan, ya!
Longgarkan Genggaman
Huruf yang terakhir, yaitu: L, artinya adalah Longgarkan Genggaman. Perumpamaan yang sangat bagus disebutkan oleh Babe Jamil.
Pasti pernah ke pantai ‘kan? Kira-kira pas datang di sana, lautnya sedang dikuras petugas atau tidak? Hem, semoga lautnya masih tetap bersih. Yang jelas, masih tetap asin juga.
Ketika di pantai, pasti ada pasir pantai. Cobalah menggenggam pasir. Pilih pasir yang paling enak. Hah, paling enak?
Saat digengggam begitu, ternyata makin erat digenggam, justru makin banyak yang tumpah. Beda halnya ketika tangan dibuka, maka justru ada yang tertinggal pasirnya.
Ini mengajarkan bahwa isi dunia, misalmya tentang pekerjaan, kita harus tetap 100%, tetapi genggamannya harus tetap nol.
Baca Juga: Ketika Khutbah Jum’at Bahas Keresahan Hidup Seorang Ayah
Contoh dalam sejarah Islam, panglima perang Khalid bin Walid radhiyallahu anhu. Beliau adalah seorang panglima perang yang sangat berhasil, tidak pernah peperangan yang dipimpinnya kalah.
Namun, saat masa pemerintahanny Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, Khalid malah dicopot dan menjadi prajurit biasa.
Khalid justru tetap tenang. Beliau bahkan mengatakan, “Aku berjuang karena Allah, bukan karena Umar.”
Nah, kira-kira, bisakah kita seperti Khalid? Maksudnya tidak harus ikut perang dulu, tetapi saat kehilangan jabatan yang bergengsi. Beliau justru gampang sekali rela ketika jabatannya dilepas, padahal itu sangat mentereng dan luar biasa.
Tantangan 7 Hari ke Depan: Telapak Terbuka

Tidak cuma sekadar teori yang disampaikan Babe Jamil, melainkan juga suatu tantangan selama 7 hari. Yah, daripada menantang kucing berkelahi dengan kita, pastilah itu tidak sebanding, lebih baik menantang diri dengan suatu tantangan.
Setiap malam, buka telapak tangan. Sebutkan satu hal yang dititipkan Allah kepada kita. Lalu ucapkan, “Ya Allah, ini adalah milik-Mu, terima kasih ya Allah sudah memberikannya untukku, bantulah aku menjaganya.”
Tambahan berikutnya, masih dari Babe Jamil, ketika kita di titik nol, tidak ada yang bisa direbut dari kita. Lah, apa yang direbut, lha wong tidak punya apa-apa dan tidak merasa memiliki apa-apa, kok.
Sebagai penutup, Babe Jamil berpesan:
Zero Point: Aku bukanlah siapa-siapa, aku tidak punya apa-apa, tetapi aku punya Allah dan itu cukup.
Bagaimana? Apakah sudah bisa mengamalkan The Zero Point ini? Kembali ke titik nol. Bila masih belum bisa, ibaratnya sebuah kota, ada titik nol kilometer. Begitu pula kendaraan baru, kilometernya masih nol.
Kembali ke titik nol memang tidak mudah, tetapi ini masih lebih baik daripada kembali ke titik minus. Kalau sudah minus, mesti pakai kacamata, tuh!




