3 Kepanjangan KDRT yang Dihadapi Pasangan Suami Istri

3 Kepanjangan KDRT yang Dihadapi Pasangan Suami Istri

KDRT menjadi bahasan yang sering muncul dalam pembahasan seputar rumah tangga, seputar kehidupan pasangan suami istri. Namun, rupanya, ada 3 kepanjangan KDRT selain yang sering kamu tahu itu. Apa saja itu?

Sebelum melangkah lebih jauh, apalagi melangkahi orang yang sedang tidur dan sedang sibuk mengorok, KDRT biasanya diartikan sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bila mengacu kepada definisi, bukan Defi Permatasari, ada 4 jenis KDRT.

Hal ini bisa dilihat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
KDRT yang pertama adalah kekerasan fisik. Namanya kekerasan fisik memang beda dengan kekerasan fisika. Kalau yang terakhir ini maksudnya sudah berpikir keras tentang pelajaran fisika, eh, ternyata malah tambah pusing juga.
Kekerasan fisik adalah sebuah tindakan yang menimbulkan rasa sakit, luka, atau sakit berat pada diri korban. Wujudnya bisa memukul, menendang, mencekik, membanting, menjambak rambut, mencubit, maupun menyerang dengan suatu senjata tajam atau sajam maupun senjata tumpul atau sampul. Eh, kok malah jadi sampul, sih?
Jenis KDRT kedua adalah kekerasan psikis. Hal ini berupa penderitaan psikis berat, seperti: ketakutan maupun hilangnya rasa percaya diri melalui hinaan, celaan, ancaman, bahkan sindiran juga bisa termasuk. Sindiran ini masuk dalam kehidupan jomblo juga, lho, karena dia masih belum menikah, belum punya pasangan, masih sindiran saja, nih!
Yang ketiga adalah kekerasan seksual. Misalnya: pemaksaan dalam hubungan seksual di dalam lingkup rumah tangga. Ada pula eksploitasi seksual pada diri pasangan untuk tujuan komersial. Untuk tujuan komersial ini memang sial, sih, apalagi ditambah dengan “komer”.
Dan, yang keempat adalah penelantaran rumah tangga. Suami tidak memberikan nafkah sama sekali kepada istri. Pasangan juga tidak dirawat, tidak dipelihara, dan termasuk dalam hal ini adalah pembatasan akses ekonomi. Jadi, bukan karena ada hubungannya dengan fakultas ekonomi, melainkan tindakan penelantaran Mas Eko terhadap Mbak Nomi. 
Nah, bukan nanah, apakah KDRT itu selalu negatif? Kalau diambil kepanjangannya berupa kekerasan dalam rumah tangga, itu memang sangat-sangat negatif dan sangat tidak bisa dibenarkan dalam kehidupan pasangan suami istri.
Namun, tahukah kamu bahwa keras itu memang kadang diperlukan. Buktinya, sang istri juga butuh “kekerasan” bukan? Kalau tidak keras, tidak bakalan jadi. Contohnya adalah bikin es batu!
Katanya, yang benar itu bukan kerja keras, melainkan keras dulu baru bekerja. Entah apa maksudnya, itu yang bilang adalah teman SMA saya waktu kelas 2, lho! Perempuan lagi. Pintar juga dia, ya? Namanya perempuan, hem, memang lebih pintar daripada yang tidak pintar.
Sementara itu, dalam ranah masyarakat, KDRT justru bisa berguna juga. Hal ini terkait dengan kerja sama yang apik antara perangkat masyarakat di sekitar kita.
KDRT adalah suatu jalinan soliditas dan kolaborasi antara KD yang berarti Kepala Desa atau Kepala Dusun dan aparat paling bawah, yaitu: Ketua RT. Jadi, kalau kepala desa dan ketua RT sudah sinkron, maka itulah yang diharapkan. Itulah KDRT yang anggun.

Bahas 3 Kepanjangan KDRT pada Pasangan Suami Istri

Jika KDRT pada awal tulisan selalu diidentikkan dengan sesuatu yang negatif, maka KDRT di bagian ini malah akan mendobrak itu.
Tidak perlu sampai mendobrak meja, apalagi mejanya pakai “ke” di depannya karena masih bisa dipakai besok. Ada pengertian, kepanjangan, dan penjelasan yang tentang KDRT ini, bahkan 3 jenisnya.

1. Ketika Duit Rasanya Terhimpit

ketika-duit-rasanya-terhimpit-bagi-pasangan-suami-istri (1)

Ya Allah, sekarang banyak pasangan suami istri yang mengeluh tentang kondisi ekonomi. Banyak yang mengatakan bahwa mencari uang sedang susah, jualan susah, banyak yang tidak laku, dan sebagainya, dan sebagainya, sebagainya dan.
Problem ekonomi memang paling banyak dirasakan oleh para suami. Merekalah yang menjadi pihak paling besar untuk tanggung jawab urusan perut pada keluarga.
Meskipun ada juga, sih, pasangan suami istri yang sama-sama bekerja dan sama-sama mendapatkan penghasilan. Namun, belum tentu cukup, apalagi untuk beli kapal pesiar pribadi. Ya ‘kan?
Penghasilan bisa saja tidak banyak berubah. Kalaupun naik, mungkin sedikit sekali. Hanya 0,00007 rupiah, misalnya.
Sementara kebutuhan hidup makin naik. Contohnya beli bensin. Harganya memang tidak berubah, yang berubah adalah tingkat kesabaran kita. Mengantri lama di SPBU belum tentu dapat, apalagi kalau tidak mengantri dan duduk di dalam kamar saja.
Bila duit terasa terhimpit begini, ada berbagai cara yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Mungkin mereka menambah penghasilan sampingan dengan buka jualan di samping rumah. Ya, kalau penghasilan depanan, berarti buka jualan di depan rumah, lah.
Ada pula yang terpaksa berpisah tempat dengan tujuan mencari penghasilan yang lebih baik. Misalnya, sang suami merantau ke tempat yang jauh, mungkin malah nebeng rombongan Kera Sakti yang pergi ke barat.
Atau sebaliknya, istrinya yang merantau sampai ke luar negeri. Jadi TKW mungkin. Itu merupakan pilihan bagi sebagian pasangan suami istri. Berat, tapi apa boleh baut? Ya, bolehlah kalau montir.

2. Kebiasaan Doyan Rahasia Tetangga/Teman

kebiasaan-doyan-rahasia-tetangga-atau-suka-menggosip-bagi-ibu-ibu (1)

Pada KDRT yang kedua ini, memang tidak bisa dimungkiri maupun dimungkanan, bahwa yang lebih banyak memang di pihak istri atau kalangan perempuan.
Sudah dari dulu, kaum perempuan yang paling tertarik dengan gosip. Kata Ustaz Wijayanto yang berdomisili di Jogja itu, perempuan bisa begitu karena mulutnya ada dua. Ah, kalau bahasa ustaz di Indonesia ini memang kadang susah dipahami oleh orang Swedia di sana.
Kebiasaan ingin selalu mengetahui keadaan orang lain, bahkan untuk orang yang lokasinya dekat dengan kita, bisa menjadi sesuatu yang sangat menarik.
Seperti lagu “Bisik-bisik Tetangga”, justru semakin kecil bisikannya, semakin infonya A1. Makin moncong dan miring mulutnya, makin jadi rahasia yang penting.
Saat disebarkan pun selalu mengucapkan dan mengingatkan pendengarnya, “Jangan disebarkan, ya! Ini rahasia kita berdua!”
Namun, apa yang terjadi? Yang terjadi, terjadilah. Yang belum terjadi, belum terjadilah. Rahasia tetangga itu makin menyebar, bahkan mungkin sampai ke pelosok bumi.
Apalagi sekarang sudah ada media sosial dan media chat, isi rahasia tetangga itu terus bocor berulang kali. Bahkan, tukang tambal ban mobil F1 pun akan angkat tangan.
Poin kedua ini juga tidak hanya menyebutkan tentang rahasia tetangga, termasuk juga teman. Sama-sama berawalan huruf “t”, jadi dimasukkan sekalian pada kepanjangan KDRT yang dihadapi suami istri ini.
Kalau untuk urusan teman, biasanya memang di tempat kerja. Ada juga, sih, pasangan suami istri yang berada dalam satu kantor. Ketika ada gosip yang berkembang di kantor tersebut, seringnya memang diomongkan.
Jika sudah begitu, jadinya malah FGD alias Focus Ghibah Discussion. Berita seputar rahasia teman bisa dibawa sampai di rumah.
Awalnya, suaminya kurang tertarik. Dia mungkin sedang membaca koran. Eh, masih adakah yang baca koran sekarang ini? Sambil minum kopi hitam yang warnanya hitam itu, si suami sedang asyik menyimak berita tentang artis Korea. Walah.
Tiba-tiba istrinya datang. Lalu, tiba-tiba lagi, “Eh, Pah, Mama mau cerita, deh!”
Suaminya tahu bahwa istri tercintanya pasti mau menggosip. Makanya, suaminya masih cuek saja. Masih meneruskan membaca koran. Sekarang dia melihat berita tentang artis China. Kalau tadi berkaitan dengan drakor, sekarang berkaitan dengan dracin.
Istrinya pun mulai bercerita, “Eh, Pah, tahu nggak…?”
Nah, bila sudah dimulai dengan kalimat itu, suaminya makin yakin bahwa itu adalah ghibah. Sama dengan yang di sono itu yang memulai dengan “Saya dapat laporan”. Dua-duanya memang ngaco.
Begitu istrinya mulai nyerocos dan melontarkan ghibahnya, suaminya langsung menegur, “Eh, Sayang, kamu tahu tidak? Perilakumu ini sudah disinggung di tulisan Mas Rizky tentang kepanjangan KDRT, lho! Salah satunya, ya, ini Kebiasaan Doyan Rahasia Teman. Ada di poin kedua di web ayahngopi.com.”
“Hah, begitukah, Yah?”
“Iya, makanya itu, Papa diam saja sedari tadi. Menghindari ghibah atau gosip atau apapun itu. Mama nggak malu kalau disinggung di tulisan Mas Rizky itu?”
“Hem, ya jelang dos, eh, jelas dong malu, Pah. Apalagi ditulis oleh Mas Rizky dan kalau sampai disebarkan di grup blogger. Nggak cuma dibaca, malah dikomentari lagi. Lebih malu lagi kita, Pah.”
“Makanya, sekarang sudah nggak usah ghibah lagi, Ma. Masih banyak hal lain yang mesti dibicarakan.”
“Ya, udah, deh, Pah, kita bicarakan yang lain saja.”
“Oke, deh, Sayang.”
Mereka tidak lagi suka ghibah dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

3. Kalau Dicari, Raib Terus

ketika-dicari-raib-terus-ayah-menghilang-dalam-rumah (1)

Bagian terakhir ini kembali lebih fokus ke para ayah. Kok bisa untuk kalangan ayah, bukan untuk ibu? Ya, memang begitulah saya menulisnya.
Kehidupan ayah itu memang unik, sedangkan untuk kehidupan ibu, biasanya berkaitan dengan tunik. Wah, pas kalau mau lebaran tuh!
Ketika dicari, hilang terus, raib terus. Ke mana, sih, seorang ayah ini? Ini yang mencari kalau bukan istrinya, ya, pasti anaknya.
Istrinya mencari untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang seabrek itu. Sedangkan anaknya mencari si ayah pastilah untuk diajak main bareng.
Ada satu kebiasaan yang bisa jadi belum hilang pada diri seorang ayah, yaitu: kebiasaan nongkrong bersama teman-temannya. Mungkin nongkrong di kafe, tempat mancing, meskipun ada pula yang sama-sama nongkrongnya di loket pendaftaran rumah sakit. Maklum, faktor sumur, eh, umur.
Kalau memang kebiasaan nongkrongnya itu belum hilang, bolehlah diganti. Tetap namanya nongkrong, tetapi bersama istri dan anak-anaknya. Jadi, yang tadinya ngopi bersama teman-teman, diganti dengan bersama keluarga.
KDRT yang ketiga ini juga maknanya tidak selalu tempat fisik, tidak selalu ketika seorang ayah berada di luar rumah. Bisa jadi, sang ayah memang di rumah, tetapi sibuk terus dengan HP-nya. Seperti selalu ada hal penting yang ingin terus dilihat.
Padahal, istrinya sudah menunggu suaminya pulang dari tadi. Dia ingin bercerita panjang lebar, bicaranya panjang, telinga suami untuk mendengarkan harus lebar.
Anaknya juga merindukan kapan ayahnya pulang? Eh, ketika yang ditunggu datang juga, rupanya HP yang jadi prioritas utama. Namanya juga HP, kepanjangannya Harus Pertama!

Menghadapi 3 Kepanjangan KDRT dalam Tulisan Ini

menghadapi-kekerasan-dalam-rumah-tangga-bagi-pasangan-suami-istri (1)

KDRT yang bukan dimaknai terus sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga, melainkan dalam 3 jenis sebagaimana diulas sebelumnya, memang bisa menjadi refleksi bagi pasangan suami istri.
Apakah yang saya katakan di atas itu benar pada diri kamu dan pasangan? Ataukah yang saya katakan di atas itu betul? Jadi, pilih yang mana, benar ataukah betul?
Yang jelas, saya pun mengalami KDRT yang diulas di tulisan ini. Makanya, saya juga sekalian bercerita pada kondisi yang dihadapi pasangan suami istri. Saya mengalaminya di poin yang keempat. Halah.
Sampai di sini, mungkin tiga kepanjangan KDRT di atas terdengar lucu. Namun, di baliknya, ada hal yang sebenarnya cukup serius, yaitu: uang memang perlu dibicarakan, kepercayaan harus selalu dijaga, dan kehadiran di rumah tidak cukup dari status sebagai suami atau ayah.

20 Comments

  1. KDRT yang berarti Ketika Duit Rasanya Terhimpit juga yang saya alami
    Hihi…
    Tahu sendiri penghasilan guru paling besar berapa. Apalagi ini masih golongan 3
    Sementara harga sekarang ya ampun pada pindah semua. Terus kami menutupinya mau dari mana?
    Dari tadi? dari pada? Atay dariayam, yg enak itu? eh kari ayam kali…
    Pokoknya KDRT versi duit inilah yg realistis dengan kondisi kami.bukan kdrt versi kedua si tukang gossip apalagi yang ketiga karena Alhamdulillah suami saya versi anak rumah. Kemana² selalu ngabring bersama anak istri (makanya kami disebut keluarga bringka alias bring kaditu bring kadieu selalu bersama)
    Hanya orang Sunda yang tau, maaf kan kalau roaming ya…
    Back to laptop, apapun kondisinya semoga ujian rumah tangga kita ini segera bisa mendapatkan solusinya ya. Ujian ini membawa kita jadi seseorang yang naik derajat dan kemanfaatannya. Aamiin…

  2. Yg kdrt pertama , yg bermakna negatif Krn related Ama kekerasan, Alhamdulillah nya ga ngerasain. Bersyukur suami bukan tipe suka mukul atau menyakiti verbal.

    Kasian kalau udh baca berita ttg suami istri yg mengalami kdrt, bahkan ada juga suami yg disakiti secara fisik kalau istri lebih kuat.

    Untuk 3 definisi lain, sebenarnya ga positif juga sih yaaa, tp sering terjadi 😄😄.

    Yg paliiiiiing sering aku alami, yg Kalau Dicari Raib Terus 🤣. Duuuuh seriiiing banget iniiiii. Giliran ga perlu barang nya, malah ketemu Mulu, kliatan terus, berpapasan selalu. Nanti pas butuh, boro2 ngeliat 😂. Dicari sampe puyeng pun ga nemu2. Ntahlah kenapa bisa begitu 😄

    Kalau 2 jenis lainnya, syukurnya ga ngalamin 😅. Apalagi yg ghibah, aku tinggal di kawasan yg kadang sesama tetangga ga peduli. Terserah mau ngelakuin apa, yg penting jangan nyenggol gw.

    Itu adalah prinsip di lingkungan ini 😂. Aku malah suka. Krn pada dasarnya memang ga tertarik bersosialisasi terlalu dekat dengan orang2 yg ga terlalu kenal.

  3. urusan ekonomi yang pas-pasan juga kerasa banget susahnya belakangan ini. Mau ngeluh juga bingung mau ke siapa, paling banter cuma bisa saling menguatkan antar pasangan sambil tetap cari tambahan rezeki halal.
    Semoga keluarga kita semua selalu rukun, bahagia, dan dijauhkan dari segala macam masalah pelik.

  4. Ini KDRT yang luarrr biasa untuk suami dan isteri ya.
    Ada aja kisahnya sampai perihal berghibah pun masuk hihi dan yang unik itu pula soal lupaan.
    Sebab saya kalau meratiin ayah atau abang² saya, adakalanya mereka juga lupaan semisal mau pergi. Walau sih ga sering-sering dilakukan.

  5. Pelesetan yang sangat relatable buat para suami istri! Memang pasutri pasti mengalami fase-fase KDRT versi pelesetan ini dalam dinamika rumah tangga. Tulisan yang ringan tapi padat makna, cocok banget dibaca sambil ngopi santai. Karena pesannya gampang dicerna tanpa kesan menggurui. Apalagi pas bagian yang dicari tapi raib terus. Wkwkwkwk. Memang kunci hubungan awet itu ada di komunikasi dan saling pengertian ya.

  6. membaca artikel ini saya jadi beberapa kali ketawa sendiri. Awalnya mengira akan membaca pembahasan KDRT yang serius, ternyata malah dibawa ke “Ketika Duit Rasanya Terhimpit”, “Kebiasaan Doyan Rahasia Tetangga”, sampai “Kalau Dicari, Raib Terus”. Kreatif banget kepanjangannya. Tapi setelah ketawa, ada juga bagian yang bikin mikir, terutama soal pasangan yang sama-sama sibuk sampai lupa benar-benar hadir untuk keluarga. Saya rasa ini memang sering terjadi tanpa kita sadari. Kadang bukan karena tidak sayang, tetapi karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Bagian tentang HP yang “Harus Pertama” juga kena banget. Hehe. Tulisan yang ringan dan lucu, tapi ternyata diam-diam mengingatkan bahwa komunikasi, kepercayaan, dan waktu bersama keluarga itu memang perlu dijaga.

  7. KDRT dalam artian sebenernya ini tuh emang sangat negatif dan bikin miris. Apalagi yang pernah jadi korban, kebayang trauma nya.

    KDRT versi artikel ini memang unik ya. Mungkin sebagian orang yang berumah tangga pernah mengalami. Semoga saja pada bisa saling berkomunikasi dengan baik.

  8. KDRT Kalau yang arti sebenarnya memang bahaya. Dan jangan sampai terjadi dalam rumah tangga. Karena tidak hanya kehancuran rumah tangga, tapi juga hukuman pidana sudah menanti. Dan Plesetan KDRT di artikel ini, kayaknya rata-rata mengalami. terutama soal ekonomi. Dan memang sekarang sedang susah. Mau ngapa-ngapa kayaknya hasilnya ga sesuai harapan. akhirnya hanya sekadar bertahan.

  9. Ada2 aja nih kang Rizky bikin akronim. Tp sesuai dgn kondisi kekinian tuh. Haha.

    Aku sepakat sih sama KDRT yg ini tp utk pertama bakalan lbh nendang kalo akronimnya Kurang Duit Rumah Terhimpit. Wkwk. Ini bs jd sumber KDRT loh krn biasanya urusan ekonomi tuh sekali nomor satu pemicu masalah.

    Abis itu baru mslh akan merembet ke masalah lain tuh. Mknya jgn sampe urusan duit ini bermasalah ya. Bisa2 ntr merembet ke KDRT lainnya. Yg berujung ke fisik, psikis, hingga seksual.

  10. wkwkwk ngakak sendiri aku baca kepanjangan kDRT ini trus bisa aja tuh teman SMA-nya bikin analogi, Kak. Bagi seorang wanita pastinya sangat bersyukur kalau dikaruniai pasangan yang nggak pernah KDRT ya begitu juga sebaliknya.

  11. Hmmm sudah terdugaaaa… wkwkkw…seru bacanya… Alhamdulillahnya suamiku tipe yang lembut banget jadi jauh dari kekerasan Aamiin Insya Allah seterusnya.. tapi kalau 3 kepanjangan lain itu sepertinya gak terhindari ya… >.< semoga kita semua mampu melewatinya dengan baik

  12. Di usia 40an ini saya sering mengalami KDRT tipe 3 Kang, Kalau Dicari Raib Terus, terutama perkuncian. Kunci kendaraan bahkan kunci rumah pun tak luput dari keraiban.. hahaha

    Normal sepertinya di usia seperti ini, apalagi bapak-bapak gitu lho. Tapi mudah-mudahan Allah lindungi untuk tidak ada KDRT dalam arti umum, ya dalam setiap keluarga. Karena kalau yang ini sangat berbahaya sih

  13. Saya sepakat dengan statment di akhir paragraf. Kehadiran di rumah tidak cukupo dari status sebagai suami/ ayah. Karena kehadiran emosional seorang ayah di tengah keluarga, memang menjadi fakta yang sering kali terabaikan padahal dampaknya sangat besar bagi keharmonisan keluarga. Jadi bapak harus hadir lahir dan batin, bukan hanya hadir secara fisik tapi batinnya di ruang virtual karena main game. Dengan begitu anak tidak akan kehilangan sosok “hero” di rumah, sehingga anak menjadi lebih mudah dididik dan diarahkan.

  14. Ketika Duit Rasanya Terhimpit hehehe bagus-bagus istilah kepanjangannya. kreatif banget bikin kepanjangan KDRT lainnya selain yang sudah kita kenal sebelumnya. Tapi memang betul yaaa berbagai kepanjangan KDRT nya masuk dan cocok dengan kenyataan kehidupan hehehe. Saya gak maslaah kalau mengalami KDRT yg 3 ini,,,asal jangan arti KDRT sesungguhnya

  15. Nemu aja mas banyak kepanjangan KDRT 😛
    Kalau KDRT nomer satu tu keknya dialami banyak rumah tangga di zaman now tu hehe 😛
    Kalau KDRT kedua keknya suami2 masuk kuping kanan keluar kuping kiri, makanya enaknya bercerita soal rahasia dan gosip2tu ke suami, nggak bakal bocor wkwk 😛
    Eh tapi aku ma suami sukanya ngrasani presiden dan jajarannya, masuk ghibah juga nggak tu =))
    Kalau KDRT ketiga keknya masih relate sama no 1 karena seringnya bukan barang yang hilang, tapi duit wkwk. Di era sekarang duit raib mulu 😛

  16. As always ya, ngikik baca ini masss…
    nomor dua itu cem ibu² kompleks datang ke rumah tetangga. Niat hati kadang bayar arisan ujung²nya KDRT pula.. 😅

    Kayaknya yang nomer tiga tipikal KDRT dibeberapa barang rumah mas. Mulai dari kaos kaki, kunci, sampe kadang peniti pun bisa ter-KDRTkan. Syulit.

    Kalau nomor satu, ahhh… lebih syulit lagi. sambil lihat dompet.. 😅

  17. KDRT punya makna lain ternyata ya hehehhe…

    Kalau masalah ekonomi, akhir-akhir ini memang terasa apa-apa naik. Tapi ya gpp lha… Yang penting tetap dicukupkan oleh Allah.

    Kalau gosip dengan tetangga, sebaiknya dihindari.

    Nah yang terakhir, kalau dicari raib itu relate banget. Terutama untuk ikat rambut dan peniti/bros kalau buat perempuan. Hahaha…

  18. Ternyata kepanjangan KDRT ini macam-macam ya
    Alhamdulillah saya tidak mengalami yang pertama
    Untuk yang kedua, kadang duit terasa terhimpit ya namanya rumah tangga adda aja kalanya mengalaminya yang penting dibicarakan dengan suami dan diskusi cari solusinya
    Kalau ghibah, ampun deh saya wegah, dan saya pun ga suka jadi bahan omongan jadi saya melakukan hal yang sama ke orang lain

  19. Ya ampun, hampir aja tergocek dengan judulnya
    Eh ternyata bacanya bikin ketawa 😅🙈 punten
    Tapi jujurly kami juga sedang mengalami salah satunya, bismillah semoga bisa melewati dengan baik, soalnya dicari solusinya sama sama, dan dilewatin berdua, apalagi in this economy, hehehe

  20. Ternyata KDRT nggak melulu soal kekerasan dalam rumah tangga ya. Sesekali KDRT berarti Kadang Doyan Rahasia Tetangga. bisa kali ya kalau aku menyebutnya sebagai berghibah. Heheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *