3 Hikmah Memiliki Istri yang Suka Mengomel Bagi Seorang Ayah

3 Hikmah Memiliki Istri yang Suka Mengomel Bagi Seorang Ayah

Jika kamu seorang ayah, berapa tahun usia pernikahanmu? Apakah sudah 10 tahun, 20 tahun, atau 25 tahun Masehi? Terus selama tahun Masehi itu, apakah panggilan istri ke kamu Mas Edi?

Namanya waktu, memang seringnya tidak terasa. Apalagi sekarang, waktu dirasa memang sangatlah cepat. Ini memang menjadi salah satu tanda kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga zaman berdekatan (waktu terasa singkat). Setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam, dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah kurma (sangat cepat).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Bukti Cepatnya Waktu

Tanda yang bisa dilihat dalam waktu yang berjalan sangat cepat ini adalah usia pernikahan itu sendiri. Rasanya, baru kemarin deh bulan madu. Dan, bulan madunya pun tidak jauh-jauh, hanya pada bulan itu membeli madu di toko herbal.

Hal lain yang terlihat adalah cepatnya anak-anak tumbuh. Saya sendiri juga betul-betul merasakannya. Seperti baru beberapa bulan saja, anak pertama saya sudah kelas 2 MTs. Padahal, rasanya seperti baru saja tuntas jadi balita. Itu anak saya, ya, bukan saya.

Begitu juga anak kedua dan ketiga. Yang ketiga ini masih umur 4 tahun. Jadi, masih saya manfaatkan untuk dipeluk-peluk, bahkan dicium. Semua anak saya laki-laki karena saya juga seorang laki-laki. Lah?

Seiring cepatnya waktu tersebut, maka usia kita sebagai orang tua juga makin menua. Yang melankolis itu memang ketika ada yang mengatakan menua bersamamu. Maksudnya, pasangan suami istri yang menua bersama.

Baca Juga: Ternyata, Ada yang Lebih Baik daripada Menjadi Suami Siaga, Ini Ulasannya

Sampai tua sekali, masih terus bersama, hingga satu yang meninggalkan atau sekalian dua-duanya. Saking cintanya selama hidup, bisa saja mereka meninggal dunia bersama. Sehidup semati.

Seperti saklar lampu, sehidup semati dalam satu tombol saja. Bukankah pernikahan itu memang pada awalnya adalah acara yang saklar?

Namun, Bagaimana dengan Istri yang Suka Mengomel?

suami-yang-mempunyai-istri-yang-suka-mengomel (1)

Sudah banyak kajian, taklim, seminar, atau pembahasan umum terkait dengan parenting, utamanya hubungan suami dan istri. Lebih fokus lagi tentang istri yang suka mengomel.

Menghadapi istri yang model begini, memang susah-susah tidak mudah, mudah-mudah siapa bilang mudah. Ada begitu banyak suami yang gagal menghadapi istrinya sendiri yang sering mengomel tersebut.

Bagi suami yang emosian, istri yang sering dan suka mengomel akan dianggap sebagai istri yang suka membangkang, tidak menghormati suami, berani kepada suami, bahkan dicap sebagai istri durhaka.

Kalau dicapnya istri yang durhaka, maka itu biasanya memang bawa sial. Kalau istri yang beruntung itu namanya istri durhoki.

Suami yang emosian, bisa saja melakukan tindakan pembalasan. Seenaknya diomeli istri, suami sudah banting tulang – ayam – demi mencari sesuap atau malah sebutir nasi.

Perjuangannya yang berat dari pagi hingga pagi lagi kadang, malah dipandang sebelah mata dan dicium sebelah hidung oleh istri. Alhasil, suami tersebut jadi sangat marah, murka, hingga trantum, padahal trantum yang artinya transportasi umum ‘kan?

Kekerasan bisa saja dilakukan oleh pihak suami demi membalas omelan istri tersebut. Malah saya pernah menonton video yang sangat-sangat mengerikan. Istrinya sampai dibakar hidup-hidup.

Sambil berlari, suaminya terus mengejar dan menumpahkan bensin ke tubuh istrinya, lalu menyulut api. Kok bisa sekejam itu, ya?

Tentu, istrinya bukan ayam, yang bisa menjadi Ayam Bakar Wong Solo. Pemiliknya bernama Pak Puspo yang kata Kelik Pelipur Lara, pelawak Jogja, Puspo itu kepanjangannya Pusat Poligami. Kan memang istrinya lebih dari satu orang.

Bila istri sampai dibakar, jelas itu kekerasan di atas kekerasan. Kepanasan di atas kepanasan. Sudah termasuk tindakan kriminal di atas kriminal. Ini kalau semuanya di atas, di bawahnya yang mana, ya?

Ada 3 Hikmah Mempunyai Istri yang Suka Mengomel

Sudah berpanjang-panjang kata, ternyata baru masuk di inti pembahasan. Ya, begitulah ciri khas dari tulisan di blog ini. Jangankan ciri khas, baunya pun khas.

Dalam tulisan ini disebutkan ada 3 hikmah bagi seorang ayah dalam menghadapi atau mempunyai istri yang sering sekali mengomel.

Adanya 3 hikmah ini disusun secara baik-baik, tanpa bantuan narasumber, apalagi bukan berasal dari sumber mata air pegunungan, yang ternyata cuma dari sumur bor. Halah. Mari kita masuk ke hikmah yang pertama.

1. Bersyukur Atas Nikmat Pendengaran

bersyukur-atas-nikmat-pendengaran-punya-istri-yang-suka-mengomel (1)

Ini hikmah yang pertama, lagi dan lagi tentang syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat pendengaran, apalagi bagi seorang ayah yang punya istri suka sekali mengomel.

Bayangkan jika si suami tersebut budeg, sia-sialah omelan istri yang sambil berteriak-teriak itu. Atau bahkan lubang telinga suami tersumbat kotoran, maka suara merdu si istri juga tidak bisa merasuk.

Nikmat pendengaran ini memang tidak diberikan kepada semua orang. Ada memang penyandang disabilitas yang mengalami tuna rungu. Nah, kalau seorang suami bukanlah tuna rungu, maka harus banyak-banyak bersyukur.

Baca Juga: Satu Lagi Pejuang Nafkah Keluarga Telah Tutup Usia

Mendengarkan istri yang mengomel, coba diresapi tanpa perlu benar-benar menghadirkan sapi. Sambil tutup mata, asal jangan merem, lho eh, betul-betul dengarkan istri yang mengomel sepenuh jiwa. Kalau perlu di depan papan rumah sakit jiwa agar betul-betul ada tulisan jiwanya.

Kalau suatu saat, bangun dalam kondisi budeg, tentunya dunia ini akan sepi. Dunia ini tidak akan lagi sama. Hari Kamis akan berbeda dengan hari Selasa. Hari Widiarso adalah nama teman kuliah saya. Alamak, tidak nyambungnya!

2. Mengusir Setan dari dalam Rumah

mengusir-setan-dari-dalam-rumah (1)

Tahu ‘kan Ustaz Das’ad Latif? Beliau adalah seorang ustaz atau penceramah terkenal dari Makassar. Sudah termasuk da’i nasional. Tidak banyak da’i yang menembus level nasional, tetapi ‘kan lebih penting bisa menembus hati orang yang nakal.

Nah, dalam salah satu ceramahnya, Ustaz Das’ad bercerita tentang seorang suami yang terus-menerus dimarahi istrinya. Sebagaimana dalam tulisan ini, istrinya sering sekali mengomel. Tiap hari seperti itu.

Sepertinya tulisan ini memang cuma fiktif, tetapi beliau dan para jamaahnya jelas bukan makhluk fiktif. Lanjut cerita, si suami tersebut merasa jengkel juga menghadapi istrinya yang super omel.

Dia pun membuat rencana. Istrinya diajak ke sebuah sumur tua. Tiba-tiba, si istri dimasukkan begitu saja ke sumur tersebut. Ini jelas bukan sumur lubang buaya, karena buaya ‘kan tidak termasuk hewan yang suka mengomel.

Rupanya, ketika si istri berada di dalam sumur tersebut, makin lama, suaminya malah penasaran. Apa yang terjadi dengan istrinya? Selang cukup lama, suaminya menengok.

Ternyata, dia kaget setengah mati. Muncul sesosok jin yang menyeramkan. Si suami jelas kaget, ini siapa? Jin tersebut mengeluh ke suami sambil berkata,

“Selama ini aku hidup tenang di dalam sana. Baru kali ini, ada perempuan cerewetnya minta ampun. Ngomel terus. Siang malam kerjaannya ngomel saja. Aku ke luar saja, nggak tahan berada di dalam!”

Cerita tersebut memang tidak sama persis dengan yang diucapkan oleh Ustaz Das’ad, termasuk kata-katanya, jumlah hurufnya, hingga akses pengucapannya, nomor absennya, dan lain sebagainya.

Namun, intinya, bila ditarik benang merah dari rumah penjahit ke rumah kamu, maka dapat disimpulkan, bisa jadi ada benarnya juga. Bahwa, istri yang cerewet, istri yang sering mengomel, ternyata memang bikin tidak tahan. Jin saja tidak tahan, apalagi manusia.

Terus, apa maknanya dengan poin kedua ini. Kan subjudulnya adalah Mengusir Setan dari Rumah. Ternyata, yang dimaksud di sini adalah tentang kesabaran.

Tadi, dalam cerita tadi, jinnya ke luar tidak tahan mendengar omelan si perempuan atau si istri itu. Rupanya, dia memang belum membaca tulisan saya ini. Coba kalau dibaca dulu sampai akhir, ya, mungkin akan tetap ke luar juga. Ehem.

Mengusir setan dari rumah itu bisa dibuktikan dengan kesabaran yang ada pada diri suami. Sabar adalah sifat yang dibenci setan karena sabar itu memang mendatangkan pahala dari Allah.

Bila suami tidak sabar, terus seperti jin yang ke luar dari sumur itu, meninggalkan istri dan anak-anaknya tanpa ada berita lagi bahkan tidak masuk di TV dalam acara Dunia Dalam Berita, maka ini jelas bukan kesabaran.

Istri yang mengomel memang bisa bikin kuping suami panas. Terlebih bila yang dikatakan itu-itu saja. Tidak ada bahan lain. Kesalahan suami yang ribuan tahun lalu, sebelum Masehi, masih terus diungkit oleh istri.

Ini yang membuat suami jadi tambah jengkel. Dia sudah minta maaf, malah berkali-kali, sudah memberikan hadiah sebagai kompensasi kesalahan tersebut, eh, masih saja diungkit-ungkit oleh si istri.

Dan, di sinilah, di situlah lagi-lagi kesabaran suami. Sabar itu memang identik dengan laki-laki. Buktinya, teman saya namanya Sabarudin, dia memang laki-laki. Jadi, sabar benar-benar cocok untuk laki-laki bukan?

3. Mencegah Suami untuk Berpoligami

Poligami sering menjadi pembicaraan di kalangan bapak-bapak. Ini tidak hanya bapak-bapak dari kalangan awam yang hidupnya memang di bawah awan, tetapi juga dari kalangan aktivis dakwah.

Entah kenapa, poligami ini justru menjadi pembicaraan yang sangat menarik. Membayangkan memiliki lebih dari istri alangkah enaknya. Kalau dirasa bosan dengan istri pertama, masih ada istri kedua, ketiga, hingga keempat.

Namun, realitasnya memang pahit. Banyak poligami yang gagal daripada yang berhasil. Bahkan, realitas di lapangan pula, tidak termasuk lapangan RT, yang kalangan aktivis dakwah juga gagal poligaminya.

Kejadian demi kejadian yang gagal itu malah merusak citra poligami itu sendiri. Poligami itu pun akhirnya jadi fitnah, padahal kita tahu bahwa fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah bukan?

Untuk kalangan muslimah, yang pakai jilbab besar hingga bercadar menjadi antipati dengan poligami. Toh, penyebabnya dari siapa? Masa saya?

Ya, dari itu tadi, praktik poligami yang tidak benar, tidak adil, hingga berujung pada perceraian. Ditambah dengan berita-berita negatif yang disebarkan oleh orang-orang yang memang tidak suka dengan Islam.

Kalau si suami mau berpikir, cerewetnya istrinya, mengomelnya istrinya, lebih sering dia tidak tahan, lebih sering dia tidak sabar menghadapinya, lalu bagaimana bila mau menambah istri lagi? Bagaimana mau poligami kalau satu saja sudah bikin menderita?

Jangan-jangan, ketika menambah istri yang kedua, ketiga, hingga keempat, justru lebih banyak omelannya dibandingkan istri pertama. Atau, kalau dijumlah, keempat istri itu derajatnya melebihi semua omelan makhluk hidup di dunia ini. Walah.

Andaikan ada pembicaraan poligami di antara teman-temannya yang cuma modal omdo itu alias omong doang, maka si suami yang ini dia akan bicara apa adanya. Bahwa poligami itu memang berat. Sangat berat.

Omelan bisa makin meningkat. Risiko terkena penyakit jantung pun jadi makin tinggi. Kan tidak mungkin jantung si suami ditambah dengan jantung pisang? Meskipun, yah, punya pisang sendiri juga.

Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Kata orang yang menjalani rumah tangga, selalu ada riak-riaknya. Rumah tangga bagaikan kapal yang dihuni oleh suami, istri, dan anak-anak. Suami sebagai nakhoda, sedangkan istri sebagai juru kemudi, anak-anak sebagai penumpang, terus saya sebagai apa dong?

Kapal yang terlatih bukan pas duduk diam di pelabuhan. Eh, kapal bisa duduk? Kapal justru akan menemukan kekuatannya ketika menghadapi badai, angin kencang, deburan ombak yang dahsyat, maupun saat oleng hebat.

Sekarang di dunia ini, mana ada rumah tangga yang adem-ayem? Kalau ayem geprek, memang banyak dijual di pinggir jalan.

Salah satu yang membuat rumah tangga tidak terasa adem-ayem itu adalah ketika suami menghadapi istri yang sering mengomel. Bukan karena kesalahan besar suami, misalnya selingkuh, melainkan justru yang kecil-kecil.

Kesalahan seperti terlambat menjemput, tidak mau makan masakan istri dengan alasan sudah kenyang, lama balas chat istri, lama angkat teleponnya, dan kesalahan-kesalahan lain yang sebenarnya tidak terlalu berat, dibandingkan kesalahan presiden mengelola negeri, eh.

Namun, seharusnya bagi suami, itulah seni dalam hidupnya. Itulah seni dalam berumah tangga. Salah sendiri memutuskan untuk menikah. Ibaratnya, kalau memang mencintai bumi, maka harus juga mencintai langitnya dengan aneka macam guntur, petir, dan suara gemuruh badai.

Mari jadikan omelan istri sebagai lagu merdu yang mengiringi keseharian si suami. Ingin omelan itu berubah menjadi suara yang benar-benar merdu? Maka, jadikan merdu juga yang artinya merah duitnya. Siapa lagi kalau bukan duitnya istri?

Baca Juga: Saat Ada Seorang Perempuan Tidak Dikenal yang Mau Meminjam Sepeda Motor Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *