Pernah dengar istilah “Suami Siaga”? Bagi kita yang lahir di generasi 80-90-an, pastinya akrab dengan istilah ini. Artinya adalah suami yang Siap, Antar, Jaga.
Saya mencoba mencari informasi di Mbah Google tentang Siap, Antar, Jaga ini. Meskipun saya mencarinya di Mbah Google, bagi Mbah Rujito, Ngadimin, hingga Mbah Suraji sama sekali tidak masalah. Ternyata, mereka tidak mempermasalahkan karena toh sudah meninggal dunia juga!
3 Peran Utama Suami Siaga

Seperti artinya, Siap, Antar, Jaga, ini berkaitan dengan suami yang mengalami momen-momen istrinya akan melahirkan. Tidak hanya akan melahirkan, sih, tetapi juga proses selanjutnya, dari persalinan hingga masa nifas.
Mari kita jabarkan satu per satu. Meskipun dijabarkan, tidak harus kita ke Jabar dulu ‘kan?
1. Siap
Kalau dalam upacara bendera ada aba-aba “Siap, Grak!”, tentunya untuk ibu-ibu yang mau melahirkan, tidak ada aba-aba ini bukan? Bidan maupun kepala rumah sakit sekalipun tidak pernah memerintahkan ibu dengan perintah ini.
Kata “siap” dalam bagian ini adalah menyiapkan mental. Termasuk dalam hal ini adalah biaya, dokumen kesehatan, dan ditambah dengan kebutuhan logistik.
Misalnya: kendaraan bermotor dan pendonor darah apabila memang diperlukan. Drakula meskipun hobinya menghisap darah sama sekali tidak diperlukan perannya sebagai donor di sini.Β
Kita bisa perinci lagi dalam siap ini. Tentang mental. Yang bagaimana mental itu harus dipersiapkan? Tentu saja mental jika nantinya akan menjadi orang tua baru. Seorang laki-laki yang sudah beristri, kini siap-siap akan menjadi seorang ayah.
Itulah yang saya alami waktu lahir anak pertama. Perasaan tentu saja deg-degan. Ya, iyalah, itu tandanya saya masih hidup, jantung masih terus deg-degan. Walaupun deg-degan juga bisa berwujud es kelapa muda kalau dalam bahasa Jawa.
Memasuki fase baru dalam kehidupan, yaitu: menjadi seorang ayah itu tadi, membutuhkan persiapan yang berbeda daripada sebelumnya. Sebab, tanggungan sekarang jadi bertambah, nih!
Dari yang hanya istri seorang dan tidak berani ditambah lagi, sekarang malah anggota keluarga berupa anak yang akan bertambah.
Saat istri sudah dalam kondisi hamil tua, si suami pastinya ikut merasakan juga. Si suami khawatir istrinya kenapa-kenapa karena melahirkan ini memang berada di antara hidup dan mati. Antara hidup dan mati, ternyata ada kata “dan”.
Berikutnya, yang harus dipersiapkan adalah biaya. Okelah, pakai BPJS, tetapi tidak cukup hanya itu bukan? Butuh juga biaya untuk membeli peralatan bayi, baju, celana atau popok, peralatan mandi, bedak, dan lain sebagainya.
Ketika anak saya mau lahir, ternyata ada satu jenis barang yang tidak boleh dilupakan, yaitu: sarung. Jangan cuma satu, kalau perlu satu isi pabrik sarung diborong semua. Hem, kalau ini sih kebangetan juga.
Sarung berguna untuk menutupi aurat istri. Pas mau melahirkan, pastinya tubuh bagian bawah dibuka. Dia tidak pakai celana luar atau rok.
Bahkan, celana dalam pun dilepas. Akan sangat susah melahirkan kalau masih pakai baju lengkap, apalagi baju princess seperti Cinderela. Hah, Cinderela, apakah cindenya betul-betul rela?
Oh, ya, satu lagi di pembahasan ini, yaitu: persiapan donor darah, seperti tadi diulas sedikit. Ibu yang mau melahirkan dan setelah melahirkan mungkin mengeluarkan banyak darah. Bila kondisi si ibu bagus, maka tidak butuh pendonor.
Namun, bila tidak, setelah dicek ternyata kekurangan darah, maka pendonor harus segera dicari. Kalau stok darah di rumah sakit atau klinik bersalin tersebut ada, maka itu bagus. Alhamdulillah. Akan tetapi, biasanya yang dibutuhkan adalah darah baru, bukan darah yang telah disimpan.
Jadi, suami harus mempersiapkan betul-betul di fase ini. Jangan nanti anaknya sudah kelas 1 SD, baru dipersiapkan segala peralatan dan tetek bengek mau melahirkan ini. Terlambat sudah kau katakan padaku.
2. Antar
Bagian kedua “antar” ini tidak ada hubungannya dengan nama si pengendali angin, air, dan tanah serta berkepala botak dengan tanda panah ke bawah itu.
Kalau cuma pengendali angin, saya juga bisa. Tinggal matikan kipas angin. Begitu pula pengendali air, tinggal matikan mesin air. Jika pengendali tanah, lebih suka yang lebih ekstrim, sih, yaitu: pengendali nanah!
Istri yang mau melahirkan akan sangat susah untuk berangkat sendiri. Dia memikul beban yang cukup berat, apalagi sudah mulai sakit-sakit di badannya. Bahkan, sudah mulai pendarahan pula.
Oke, di sinilah peran suami untuk mengantarkan istrinya ke rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan lainnya. Tidak harus pinjam mobil presiden terlebih dahulu untuk antar istri. Itu jelas lebih merepotkan. Ngomong-ngomong, mau pinjam mobil presiden siapa, sih?
Ketika istri saya mau melahirkan anak pertama, saya mengantarnya pun pakai sepeda motor, roda dua lagi. Ketika itu tengah malam, sekitar jam 12 lebih. Istri saya sudah mengeluh sakit dan rasanya memang mau dekat melahirkan di waktu itu.
Memang, lebih bagus diantar pakai mobil. Untuk anak kedua dan ketiga, maksudnya istri saya mau melahirkan yang kedua dan ketiga, sudah pakai mobil. Meskipun pinjam mobil kantor dan bukan saya juga yang bikin mobil itu dari A sampai kembali ke A lagi.
Bila kamu merasa istri kamu mau melahirkan, sementara kamu tidak punya mobil sendiri, bisa pinjam mobil tetangga, kok. Selama tetangga baik, maka biasanya hal itu tidak menjadi masalah. Toh, ini ‘kan demi alasan kemanusiaan.
Namun, yang repot nanti kalau mau mengembalikannya, karena suaminya harus berjaga. Mobil yang dipinjam sudah pasti ada di rumah sakit atau tempat melahirkan tersebut.
Oleh karena itu, agar tidak repot, daripada meminjam, lebih baik meminta ke tetangga saja. Kalau tetangga itu baik, maka biasanya hal itu tidak menjadi masalah, yah, sama seperti kalimat di paragraf sebelumnya ini.
Oh, ya, antar di sini bukan hanya saat istri mau melahirkan, lho! Sejak awal kehamilan, suami harus menyempatkan untuk mengantar istri periksa kesehatan.
Cek kesehatan harus dilakukan secara rutin. Kalau Putin, itu presiden Rusia, lah yauw! Rudal negaranya lebih dahsyat daripada bakso rudal langganan kamu itu.
Bila istri sudah memasuki kehamilan di bulan keempat ke atas, biasanya sudah bisa pakai USB. Aduh, maksudnya USG. Bikin bisa diketahui jenis kelamin bayi yang dikandung si istri.
Akan tetapi, tidak USG juga tidak apa-apa, bila alasannya nanti kejutan saja saat melahirkan dan mengetahui jenis kelaminnya.
Hem, sebenarnya USG juga untuk mendeteksi kesehatan si jabang bayi, sih, jadi bukan cuma mau mendeteksi jenis kelamin. Kalau petugas yang mengoperasikan alat USG-nya, sudah tahu jenis kelamin ‘kan?
3. Jaga
Meskipun suami bukan berprofesi sebagai satpam, sekuriti maupun surikiti, tetap tugasnya adalah menjaga istri yang berada dalam fase kehamilan.
Tidak hanya menjaga istri yang hamil itu dalam kondisi baik-baik saja, tetapi juga menjaga saat sedang ada keluhan fisik. Dan, kalau sudah ada keluhan begitu, suaminya yang harus ambil alih pekerjaan rumah.
Istrinya selama ini mungkin hampir semua pekerjaan rumah dikerjakan, kecuali mengepel genteng atau mengelap langit-langit. Namun, ketika hamil dan saat usia kehamilannya makin tua, maka fisiknya berkurang kekuatannya.
Jadi suami memang tidak boleh cuek dalam hal ini. Harus peduli dengan istrinya sendiri, jangan cuma ke istri orang lain, eh, kok melebar begini? Suami membantu istri agar suasana hati perempuan itu bisa lebih tenang dan bebas stres.
Kalau istri dalam keadaan bahagia, tenang, sejuk, dan tidak pernah mengomel lagi, apalagi saat hamil, ‘kan yang senang suaminya juga toh? Satu orang laki-laki senang, maka laki-laki di seluruh dunia akan ikut… Ya, belum tentu juga, sih!
Ketika Ada yang Lebih Baik daripada Menjadi Suami Siaga

Tidak semua suami akan menjadi Suami Siaga. Tidak semuanya bisa memenuhi ketiga-tiganya. Ada suami yang malah takut dan lari menghindar ketika istrinya mau melahirkan. Ternyata, suaminya malah takut darah.
Memang ada lho yang begitu. Suaminya sudah membayangkan yang seram-seram tentang darah. Kan memang darah menjadi sahabat setia persalinan. Bayangan darah yang warna merah, membuat ketakutan suami jadi merekah.
Alhamdulillah, saya berusaha menjadi Suami Siaga. Tiap istri mau melahirkan, saya selalu berusaha temani. Namun, untuk masalah darah ini, memang sempat menimbulkan oleng.
Waktu itu, sudah melahirkan anak kedua. Istri saya minta dibantu ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sambil tangannya diinfus, saya pegangi dia pelan-pelan.
Ketika berdiri dari tempat tidur, ternyata cukup banyak darah ke luar tiba-tiba dari balik sarungnya. Tumpah begitu saja ke lantai rumah sakit yang entah siapa nama tukangnya dan gelar akademisnya itu.
Melihat darah yang tiba-tiba membanjir begitu dan dia sementara mengepel pakai kain sarung lain, ternyata saya langsung oleng di kepala. Ya, iyalah, tidak mungkin oleng di tumit ‘kan? Kalau mau ke luar rumah, jangan lupa tumit, ya! Itu lebih sopan bagi orang rumah.
Saya pun bilang ke istri saya untuk berbaring sebentar di brangkar, masih di ruangan itu. Hanya beberapa menit saya merebahkan diri, tidak sampai beberapa abad, sih. Barulah setelah lebih tenang, saya kembali menjalankan tugas mulia itu.
Bukan berarti saya takut darah, lho! Hanya memang kaget saja melihat darah sebanyak dan sebanjir itu. Bila saya takut darah, sudah sejak lama saya menghindar dari situ. Namun, ternyata tidak ‘kan?
Sampai di sini, tulisan ini membahas tentang Suami Siaga. Katanya, ada yang lebih baik daripada menjadi Suami Siaga? Yap, benar! Ada memang yang lebih baik.
Istilah yang lebih baik daripada menjadi Suami Siaga adalah menjadi Suami Penggalang! Ini mengacu pada istilah di Pramuka. Dari Siaga, naik menjadi Penggalang, dan seterusnya.
Tentang Pramuka ini, sampai sekarang saya masih merasa trauma. Soalnya, waktu kelas 6 SD, panci saya hilang. Dan, itu membekas hingga kini. Entah kenapa saya tidak mau lagi ikut Pramuka dan tidak mau lagi juga jadi kelas 6 SD.
Lha, terus, Suami Penggalang lebih baik daripada Suami Siaga? Ini apa maksudnya, Mas? Maksud di sini Suami Penggalang adalah suami yang mesti menggalang kesabaran, ketekunan, dan kesabaran lagi. Jadi, ada tiga jenis yang digalang, yaitu: kesabaran, ketekunan, dan kesabaran lagi.
Kok bisa menggalang kesabaran? Jelas toh, karena setelah istri hamil hingga melahirkan nanti, kesabaran si suami harus lebih ditingkatkan lagi. Hari-hari atau malam-malamnya sudah tidak lagi sama dibandingkan sebelumnya.
Waktu istirahat malamnya bisa jadi akan terganggu dengan suara bayi yang menangis tiba-tiba. Entah itu karena bayi anaknya sendiri itu haus, lapar, panas, buang air, atau penyebab lainnya.
Istrinya yang sekarang sudah jadi ibu bayi itu memang terbangun. Namun, masa suaminya tidak terbangun juga? Kan bisa membantu mengambilkan air minum bagi istrinya yang sedang menyusui.
Membantu membersihkan kotoran saat bayinya buang air besar. Membantu mengatur kipas angin atau AC agar suhunya pas. Masih banyak bantuan lainnya yang bisa dilakukan oleh suami.
Jadi Suami Penggalang ini memang penting, karena ada suami yang tetap melanjutkan tidur dan menyerahkan urusan malam hari ke istrinya semua. Suami itu beralasan mau kerja besok, jadi harus meneruskan tidur.
Padahal, anaknya bisa lahir karena usaha dari si suami itu juga ‘kan? Makanya itu, perlu adanya kolaborasi dan sinergitas antara suami dan istri.
Satu lagi, Suami Penggalang ini akan lebih lama daripada menjadi Suami Siaga. Sebab, yang tidak kalah pentingnya untuk digalang oleh suami adalah ilmu dari berbagai sumber.
Suami harus lebih menguasai ilmu ekonomi, keuangan, psikologi istri dan anaknya, dan jelas yang lebih utama adalah ilmu agama. Sungguh aneh rasanya jika sebuah keluarga dipimpin oleh kepala atau sosok ayah yang tidak mengerti agama sama sekali.
Kalau demikian keadaannya, bukan lagi jadi Suami Penggalang, melainkan Suami Penggeleng. Maksudnya bikin kita geleng-geleng kepala, menghadapi laki-laki yang seperti itu.





Setuju banget Mas. kalau istri hamil dan melahirkan, suami harus siaga. Kan anak berdua bukan cuma anak ibunya. Tapi kenyataannya di luar sana ada suami jahat yang cuek, bahkan membiarkan istrinya mencari uang sendiri untuk biaya melahirkan.
Suami penggalang, boleh juga. Kalau istri ngantuk pas tengah malam, gantian ganti popok baby juga ya. Jangan lupa istri dikasih hadiah, minimal dipijati karena mengurus baby itu capek.
Ah, ya, ini dipijat-pijat memang dibutuhkan seorang istri yang sudah punya bayi. Meskipun tidak menghilangkan seluruh capek dan pegalnya, paling tidak, yang pindah capek dan pegalnya ke suami, hehe.
Jujur kok saya jadi penasaran ya pengen ketemu Pak Rizky. Dibaca-baca kok gaya nulis dan nge-jokesnya mirip sama Kang Duyeh ya. Apa jangan-jangan ini blognya kang duyeh yang sedang menyamar? hahahaha.
Alhamdulillah, saya udah pernah mengalami masa-masa jadi Suami Siaga mas. malahan pas lahiran anak, saya tuh sebenernya udah siap-siap berangkat ke tempat lain. Eeeeh.. kok ditilik-tilik ketuban istri udah rembes ya. Yowis, mau ndak mau ya hari itu juga jadinya lahiran.
Sekarang saya juga jadi Suami Penggalang mas.
Penggalang Dana Keluarga, hahahaha
Bukan toh, Mas, ini asli saya yang tulis. Blognya Kang Duyeh itu yang mana, ya? Saya belum pernah baca.
Sudahlah mas, akui aja takut Ama darah π. Tapi aku sakit, mas Rizky tetep kuat menemani istri yg melahirkan ππ
Krn suamiku penakut darah juga, tapi dia memilih drpd pingsan dan merepotkan tenaga medis, mending jangan masuk dulu ππ. Aku pun setuju. Kan susah kalau dia pingsan, trus akunya jadi dilupakan dokter dan suster ππ .
Tapi aku dulu lahiran Cesar. Sama aja sih, suami bisa makin ga sadarkan diri kalau melihat perut dibelek dan dijahit ππ.
Intinya mah, aku ga keberatan dia ga menemani di ruangan lahiran, yg penting siapkan semua dana dan perlengkapan bayi π€π. Setidaknya dia juga nemenin pas pemeriksaan selama hamil dan paska lahiran. Itu udh cukup buatku π€.
Maksudnya aku salut . Malah typo jadi sakit π π
Ya, nggak semua takut darah kok, Mbak. Cuma pas itu, wah, rasanya langsung puyeng! Apalagi istriku langsung mengepel di lantai dengan santainya, langsung pandanganku berkunang-kunang, deh, hehe.
Bener juga ya, jadi bapak-bapak itu ternyata butuh mental baja dan kesiapan ekstra, mulai dari urusan biaya sampai belajar tenang waktu lihat situasi darurat di rumah sakit. Istilah suami penggalang yang disebut di akhir tulisan itu pas banget buat gambarin realita pas punya anak kecil.
Capeknya dapet, tapi bahagianya juga luar biasa. Bikin kita sadar kalau kerja sama pasangan itu kunci utama dalam berumah tangga.
Sepertinya artikel ini amat cocok dibaca oleh bapak-bapak maupun calon bapak, agar mereka bisa selalu siap, siaga dan berjaga-jaga meski bukan penjaga gerbang kompleks melainkan penjaga gerbang kehidupan di dalam rumah tangganya.
saya yakin, setiap suami ingin jadi suami siaga. apalagi kalau buah hati sudah lama dinanti. tapi mungkin kadang sikon tak mendukung. Misalnya suami lagi bekerja di lain daerah atau beda kota. Jadi peran keluarga sangat penting dan dibutuhkan. misalnya sudah koordinasi jauh-jauh harim keluarga juga akan bantu soal kendaraan. Dan suami siaga bukan hanya saat istri hamil dan akan melahirkan, tapi setelah melahirkan juga. siaga bantu urus baby hehehe.
aku jadi keingat pas temanku mau melahirkan dan dia maunya suaminya menemani sepanjang proses bersalin tapi suaminya maju mundur… karena takut pingsan di dalam ruangan. Dokternya juga tidak menyarankan kalau suaminya takut darah. Nanti malah jadi tambah repot mengurus suami yang mendadak terkapar di lantai. Artikel ini cucok dibaca buat para suami yang tengah mendampingi istri yang tengah hamil. Semoga naik status jadi suami penggalang dan jangan turun ke penggeleng ya para calon bapack di luar sana.
Keren banget mas Rizky. Jadi suami emang ga gampang loh. Jgn mau enaknya ngehamilin anak orang, bini kita maksudnya. Hehe. Abis itu ditinggalin deh. Wkwk jgn gt ya. Bahkan meski kita takut darah, sebisa mungkin kita menemani istri di ujung kehamilan/kelahiran anak.
Krn blm nikah, aku ga bs komentar ya. Tp sbg anak yg kini merawat ortu, posisiku jg hrs Siap, Antar, Jaga. Bahkan sejak Ramadhan lalu, ortuku yg lagi sakit, ya aku yg hrs Siap, Antar, Jaga. Adikku yg udh nikah duluan, emg hrs sama istrinya.
Ya mau ga mau, siap ga siap, ikhlas ga ikhlas ya hrs siap antar jaga orangtua. Itung2 belajar jd suami siaga ya mas. Ibu aja disayang apalagi istri kita tersayang. Uhuyyy.
Ya ampun nggak nyangka banget dari siaga tiba-tiba ke penggalang. Hihi. Bisa aja nih mas-nya nyambungin ke Pramuka. Tapi memang benar sih selain siaga suami juga harus bisa jadi penggalang termasuk penggalang dana saat istri melahirkan dan membeli perlengkapan bayi dan menyusui.
ini memang sebuah kewajiban menjadi suami siaga, apalagi di saat proses kelahiran buah hati. adanya pendampingan dari suami adalah sebuah kenixcayaan karena memberikan kekuatan dalam menjalani proses persalinan. tapi memang harus berkelanjutan, baik di kala senang atau susah peran suami jelas sangat dibutuhkan.
Saya sepakat dengan semua isi tulisannya, andai semua suami bisa aware begini niscaya kewarasan mahmud akan lebih terjaga, dan sindrom baby blues pun bisa diminimalisir. Meskipun analognya pakai istilah pramuka tapi setelah dipikir-pikir memang ada benarnya ya, selain menjadi suami siaga memang harus menajdi penggalang juga, penggalang kesabaran, penggalang keuangan keluarga, pastinya juga perlu menjadi pengalang suara sumbang dari tetangga karena ini yang rawan dan sering membuat mental ibu-ibu muda down.
Oalah gitu. Ternyata suami penggalang ini tuh lebih better lagi yaaa dari suami siaga. Nah, part darah memang saya dengar banyak tuh yang takut sama darah. Mungkin kaget juga melihat darah tiba-tiba banyak. Beda sama perempuan yang memang ngalami haid, jadi nggak mungkin kaget-kaget amatlah.
Pada akhirnya momen lahiran istri dan setelahnya emang butuh support maksimal dari suaminya. Saling kolaborasi menjaga dan merawat anaknya yang telah lahir ke dunia. Semoga menjadi ortu yang beriman, bertaqwa, dan mendidik dengan tepat.
Kirain suami penggalang,menggalang dana demi istri buat jajan2 wkwkwk π
Alhamdulillah, waktu lahiran dulu juga selalu ditemenin suami. Lha gimana kan bikinnya berdua *eh. Kebetulan keluarga perantau juga, nggak ada siapa2 di mariiihh, jadi mandiri urus2 semuanya berdua =))
Kalau kata suamiku dulu soal darah2 udah nggak kepikiran saking udah capeknya, pokoknya yang penting kelar wkwk. Tapi kalau disuruh mbayangin lagi udah ogah. Dua anak cukup katanya =))
Emang yang dibutuhkan istri tu kenyamanan yaa, bantuan dari suami, sekecil apapun itu π
Jadi suami siaga memang penting sekali. Menurut saya nggak cuma saat hamil dan melahirkan. Sampai kapan pun tetap harus siap, antar, jaga. Nah selain siaga, dilengkapi dengan penggalang juga penting π
Wkwkwk.. ngikik.. semoga suamiku terus siaga ga penggeleng >.< Jadi kepikiran juga kalau dalam rumah tangga bukan cuma soal hadir saat dibutuhkan, tapi bagaimana pasangan benar-benar saling memahami. Best!
Setuju nih aku. Siaga memang perlu sekali. Tapi, proses selanjutnya memang butuh tambahan.
Busui kadang juga sensitif dan perasa banget. Kalau suami kesaabarannya nggak ditingkatkan bisa merasa terabai daan tertindas itu si ibu.
Iya emang ada beberapa ornag yang takut kalau melihat darah. Tidka terkecuali lakiΒ²…kalau sudah begini ya mau gimana lagii..istri harus memaklumi yaaa…ini mah darurat…gak bisa dipaksakan…