Ada sebuah gambar laki-laki dan perempuan menikah. Saat acara resepsi, si membelai, aduh maksudnya, si mempelai perempuan mengatakan kepada seorang tamu, “Cepat nyusul, ya!”
Dari kalimat itu, maksudnya tentu saja agar si pemuda atau tamu tersebut bisa menikah juga di kemudian hari. Namun, ending dari gambar itu malah plot twist. Padahal plot itu ‘kan merek pulpen.
Si laki-laki tamu tadi justru masuk ke kamar pengantin. Pada gambar, pengantin perempuan sudah membuka sebagian pakaian luarnya, tetapi masih menancap antena-antena di atas gelungan rambutnya dan suaminya sudah berada di kasur.
Istri tersebut jelas kaget, lho, kok si laki-laki tamu itu dan mungkin temannya tersebut bisa masuk ke situ? Dari mukanya terlihat bertanya-tanya dan si tamu mukanya terlihat berjawab-jawab.
Apa jawabannya? Ternyata, tamu tadi beralasan sampai masuk ke kamar pengantin begitu, “Lho, tadi katanya suruh nyusul!”
Pernikahan Bukanlah Perlombaan
Apakah setiap kamu menikah pada tanggal 17 atau 18 Agustus? Kan tidak toh? Bila memang tidak di dua tanggal itu, berarti pernikahan itu pada dasarnya memang bukan perlombaan. Soalnya di tanggal itu, biasa ada begitu banyak lomba.
“Cepat menyusul” adalah kalimat yang sebenarnya bernada motivasi. Bermakna dorongan agar orang yang belum menikah bisa menikah juga.
Dipahami dari maknanya, mana mungkin bisa menyusul? Kan tanggalnya sudah duluan. Misalnya, yang bilang “cepat nyusul” itu menikah di tanggal 31 Oktober, masa mau menyusul juga di tanggal 32 Oktober?
Baca Juga: Ketika Khutbah Jum’at Bahas Keresahan Hidup Seorang Ayah
Ada pula cerita, mungkin fiktif, suasana berbeda antara di pernikahan dengan di pemakaman. Seorang kakek mendorong seorang pemuda untuk cepat menyusul seperti kedua mempelai.
Namun, si pemuda tersebut merasa jengkel juga. Menyusul untuk menikah memang tidak mudah. Nah, dibalasnya waktu di acara pemakaman orang lain. Kakek itu datang juga mengantar sampai di kuburan.
Pemuda itu membalas, “Cepat nyusul juga, ya!”
Kalau sudah begitu ‘kan repot. Menyusul sembarang menyusul, masa di pemakaman diminta cepat menyusul juga? Kan kuburannya cuma muat buat satu orang, ya ‘kan?
“Perlombaan” Pernikahan Malah Bisa Jadi Bully
Beberapa lama setelah saya menikah, ternyata muncul sifat membully dalam diri saya. Sasarannya tentu saja teman-teman saya yang belum menikah waktu itu.
Dalam sebuah grup WA, tentunya grup WA itu tidak mungkin ada di Telegram, saya bercanda dengan teman saya yang masih jomblo.
Saya lupa persisnya seperti apa, tetapi malah membuat dia jadi tersinggung. Akhirnya, dia pun ke luar dari grup WA tersebut. Tanpa izin tertulis dari admin grup, maupun dari presiden. Terlebih tidak satu grup WA pula dengan presiden. Entah, presiden yang mana ini?
Ketika itu, saya jadi merasa tidak enak hati juga. Wah, karena ketikan chat saya di grup tersebut, membuat orang jadi sakit hati dan ke luar grup! Saya jadi introspeksi, muhasabah. Namun, yang didapatkan malah muhabasah, apalagi waktu saya mandi. Kan memang basah.
Dari situ, saya belajar bahwa bully itu bisa di mana saja. Terlebih menyangkut status sosial seseorang. Terlebih lagi menyangkut orang yang belum menikah. Istilahnya jomblo. Sebutan itu memang cukup bisa menyakitkan hati.
Membawa predikat “jomblo” memang bisa menimbulkan stres di dalam pikiran. Apalagi pikirannya sampai saat ini memang adanya di dalam otak. Ada pula otak yang tidak ada pikirannya, yaitu: otak-otak yang biasa ada di sajian masakan padang.
Ketika seorang anak muda selalu dibully tentang kejombloannya, kapan menikah, kapan dapat istri, setelah dapat istri, kapan menikah lagi, lho eh, maka hidupnya jadi tidak tenang.
Saat bekerja, pikirannya bisa tentang enaknya punya seorang istri. Bisa dichat mesra secara halal, legal, dan tidak melanggar aturan presiden dan arahan wakil presiden. Ini presiden dan wakil presiden yang mana juga, sih?
Kalau punya istri, dapat diajak jalan-jalan sambil gandeng tangannya di telapaknya. Susah ‘kan kalau menggandeng tangan, tetapi malah di kaki?
Pokoknya, rasanya bahagia, lah, punya istri itu. Namun, satu pertanyaan muncul, terutama bagi laki-laki yang bukan perempuan, apa sih yang dicari dalam sebuah pernikahan itu?
Seorang laki-laki dalam memutuskan diri untuk menikah itu karena faktor apa? Coba, mari kita ulik.
Hal yang Dicari Laki-laki dalam Sebuah Pernikahan

Lebih bagus pakai subjudul baru. Dikasih warna oranye sesuai ciri khas di website ini. Saya juga suka saja kasih warna oranye. Semoga presiden tidak marah dalam urusan ini. Duh, presiden lagi, negara mana, Mas?
Bila ada yang mengatakan bahwa laki-laki menikah itu karena ingin ada yang memasak, benarkah begitu? Kan ada tuh yang mengatakan bahwa istri dianggapnya sebagai tukang masak.
Apalagi laki-laki tersebut memang tidak bisa memasak. Kalau disuruh memasak air saja, bisa gosong kok. Ya, airnya, ya, rumahnya. Waduh!
Saat sudah berhasil mendapatkan istri, apakah semata-mata istrinya itu dijadikan tukang masak? Hem, dari alasan ini, kok rasanya terlalu sederhana, ya? Istri cuma dijadikan tukang masak. Padahal, dia bukan koki, apalagi ikan mas.
Baca Juga: Pillow Talk Bukan Berarti Ngomong Sama Bantal, Melainkan Menghadapi Istri yang Sedang Gatal pada 3 Hal
Sebenarnya, jika hanya untuk mencari tukang masak, tidak harus cari istri, kok. Laki-laki bisa beli makanan di warung. Bahkan, bisa lebih murah dan rasanya pun lebih enak.
Menu makanannya bervariasi dan sangat menarik semua. Malah di warung tegal, ini seakan-akan mengungkap sejarah layar sentuh pada HP.
Si laki-laki itu tinggal sentuh kaca dan menunjuk makanan tertentu, maka makanan itu akan diambil mbak-mbak penjaga. Akhirnya, tersaji dan terhidangkan pula makanan yang dipilihnya. Cocok bukan dengan layar sentuh pada HP?
Kalau laki-laki mencari istri hanya agar rumahnya terasa rapi dan berantakan, ini belum tentu benar juga. Memang, sifat perempuan itu adalah suka kebersihan dan kerapian. Meskipun, ada juga perempuan yang cenderung cuek, bahkan dasternya pun sobek-sobek.
Apakah karena itu, agar kamarnya, rumahnya, halamannya terlihat rapi dan enak dipandang? Ternyata, tidak juga. Laki-laki tetap bisa, kok, hidup dalam keadaan rumah yang berantakan.
Malah, dari yang berantakan itu bisa jadi candaan juga. Seperti ibu saya dulu waktu masuk ke kamar saya dan melihat kamar saya berantakan.
Beliau sampai mengatakan, “Kamar kok kayak kapal pecah!” Tentunya ini dikatakannya dalam bahasa Jawa dan Presiden Putin pun belum tentu mengerti.
Eh, saya pun mengatakan balik dalam hati, “Kan nenek moyangku orang pelaut. Jadi, wajar, dong, kalau kamar berantakan seperti kapal pecah.”
Untunglah, tidak sampai saya katakan begitu. Khawatir dianggap anak durhaka, sementara ada yang lebih baik, yaitu: menjadi anak yang selalu beruntung, namanya anak durhoki.
Lalu Apa yang Dicari Laki-laki dalam Pernikahan Itu?
Kalau memang bukan mencari tukang masak atau tukang bersih-bersih rumah dan itu disebutnya dengan istri, apa sebenarnya yang dicari laki-laki dalam pernikahan?
Ternyata, jawabannya cukup menohok, padahal saya tidak kenal Ahok. Jawaban itu adalah laki-laki dalam pernikahan itu cuma mencari tempat pulang, kok.
Yap, itu dapat menjadi faktor utama saat seorang laki-laki biasa memutuskan untuk menikah dan bisa menjadi hal yang paling dalam dicari dari sebuah pernikahan.
Dia tidak terlalu butuh makanan yang selalu tersaji rapi, indah, dan estetik di atas meja, karena semua itu bisa didapatkan di warung makan maupun restoran.
Dia bisa tetap nyaman di dalam rumah yang berantakan, asalkan barang-barang yang dicari bisa ditemukan dengan cepat. Dunia laki-laki memang lebih cenderung sederhana, walaupun dia tidak selalu bisa makan di restoran Padang “Sederhana” yang harganya tidak sederhana itu.
Laki-laki membutuhkan tempat pulang. Tidak hanya sekadar rumah, tidak hanya sekadar kamar. Tidak hanya sebatas bangunan fisik yang berupa tembok, pintu, jendela, dan atap, tetapi jauh daripada itu.
Istri sebagai tempat pulangnya. Istri sebagai tempat paling ujung dari seluruh kesehariannya. Istri sebagai tempat untuk melepas lelah dan penat setelah sepanjang hari didera debu, panas, macet, dan kesabaran, terlebih saat rombongan presiden lewat dan banyak diklakson itu.
Dari pemahaman sederhana dan simpel ini, laki-laki, terlebih yang sudah jadi ayah, akan merasa semakin muntab bila yang menjadi tempat pulangnya justru menambah beban pikiran.
Dia disambut dengan istri yang super galak, pakaiannya sangat semrawut. bau badan yang campur-campur antara minyak kayu putih, keringat, oli, sabun deterjen, minyak goreng sawit hasil dari perkebunan sawit setelah membakar hutan, dan lain sebagainya.
Terlebih, istri tersebut langsung menagih sesuatu yang tidak selalu didapatkannya di hari itu, yaitu: U, A, N, dan G, dibacanya duit! Apalagi si suami atau si ayah tersebut berprofesi sebagai tukang ojek online. Penghasilan tidak pasti, penumpangnya juga tidak pasti berwujud manusia. Lho?
Jadi, bagi para istri, meskipun memang capek dan lelah juga saat menghadapi anak-anak, tetapi ketika suami pulang, maka mari jadikan betul-betul sebagai tempat pulang.
Mungkin tidak perlu pakai sambutan ala presiden dengan menggelar karpet merah. Masa, mau pinjam karpet merah dulu ke presiden, sih?
Hal yang dibutuhkan suami atau seorang ayah, cukup berusaha dengan memasang senyum yang manis. Raut wajah yang segar. Bahagia menyambut sang kepala keluarga bisa pulang dengan selamat.
Soalnya, seorang ayah memang bertaruh dengan banyak hal yang membahayakan di luar rumah. Betapa banyak kepala keluarga yang meninggal dunia di jalan, Insya Allah mereka mati dalam keadaan syahid, dalam rangka mencari nafkah dan mencari penghasilan halal untuk keluarga tercinta.
Kalau seorang istri tidak bisa menjadi tempat pulang yang baik, ramah, lembut, dan menyenangkan bagi suami atau seorang ayah, lalu laki-laki tersebut mau pulang ke mana lagi? Masa ke janda sebelah kampung? Kan ini jadi masalah lagi, terlebih dalam pertandingan, tidak bisa bisa menang di kategorii janda campuran.
Bila seorang ayah, suami, atau laki-laki yang sudah menjadi suami dan ayah bisa menemukan tempat pulangnya yang damai di rumah, berupa istri yang sholehah, maka akan tenteram hidupnya.
Dia tidak perlu mencari yang lain, meskipun tampak lebih menggiurkan dan mungkin menggairahkan. Karena toh yang lebih menggairahkan itu dalam lingkup yang lebih luas, penduduknya lebih padat, lebih macet jalanannya adalah namanya Gairah Khusus Ibukota.
Namun, jangan juga satu sisi. Apakah istri tersebut merasa bahwa suaminya juga menjadi tempat pulang baginya? Menjadi tempat pulang dari segala problem dalam pikiran dan hati si istri? Kan lebih enak, kalau keduanya sama-sama menemukan tempat pulang yang baik.
Pada akhirnya dan ini menjelang akhir tulisan, bagi seorang laki-laki yang sudah menikah, setelah urusan dunia yang seabrek-abrek ini membuatnya lelah, masih ada satu tempat ketika dia tidak perlu berpura-pura kuat.





Kalau sudah ada contohnya langsung bahwasanya candaan terkait jomblo dan seputaran nya bisa nyinggung pihak lain, mulai sekarang seharusnya hal tersebut tidak lagi dijadikan bahan lelucon ya
Bercanda boleh saja tapi apa bahasannya hanya cuma punya kata jomblo aja? Kalau begitu yg bercanda kurang gaul, kurang peka, kurang update karena bisanya hanya canda seputar dunia jomblo, padahal bahan untuk bercanda itu banyak sekali ..
Lelaki tidak bisa dengan mudah cari istri untuk tempat pulang kalau dianya sendiri belum bisa jadi tempat bersandar si istri. Rumah tangga tidak bisa hanya menguntungkan sebelah pihak. Sendal aja harus kiri kanan alias seimbang kan baru nyaman. Kalau berat sbelah yg nyaman yang kiriii saja, entar yang kanan nangis, mana bisa disebut pasangan?
Kedua belah pihak harus bisa memahami posisinya masing-masing. Tidak ada yang sempurna memang tapi keduanya bisa dikomunikasikan dengan baik. Kalau ada masalah, bicara jangan hanya diam akhirnya salah paham. Nanti ketahuan salah mau minta maaf gengsi lagi…
Setelah sekian lama menikah secucurnya saya juga gak faham kalo ditanya apa yang dicari laki laki dari sebuah pernikahan?
Mungkin setiap orang punya versi jawaban sendiri – sendiri, soalnya nanyanya buka pilihan ganda juga, jadi jawabanya pasti bayak versinya.
Jelas mejadi tempat pulang, kerumah yang disitu ada istri dan sudah dinikahi, kalo belum dinikahi sebutannya jadi bukan tempat pulang tapi, tempat ehm…
Bagi seorang laki-laki, pernikahan dan seorang istri adalah tempat paling nyaman untuk melepas lelah, penat, dan beban pikiran setelah seharian berjuang di luar tapi kadang seharian diluar juga dipake mancing, jadi pulang kalo udah magrib, hahaha peace..
Mas, biasanya kalau baca tulisanmu aku suka ketawa, karena banyak jokes bapack2 😄. Tapi kali ini, aku pengen nangis 😭. Bukan karena tulisannya ga bagus, tapi karena relate dengan cobaan yang aku rasain sekarang ..
Intinya memang suami itu kalau pulang ke rumah memang yang dicarinya keluarga yang udah menunggu dan menyambut dia dengan senyum yaa. Kalau hal2 sepele itu aja ga ada, ga heran kalau dia juga selingkuh di luar … Walaupun cara pelarian begini ga bisa dibenarkan, tapi tetap ada sebab ada akibat.
Btw, aku ada temen yang jomblo juga, dan akhirnya tiap ada reunian, dia salah satu yang malas banget mau datang, hanya karena selalu ditanya kapan nikah. Terkadang apa yang kita maksud sebagai candaan, belum tentu bikin orang tersebut tertawa. Malah tersinggung … Ini reminder juga buatku untuk lebih berhati2 kalau bicara ☺️
Namun terkadang laki laki lupa tempatnya untuk pulang juga butuh dipupuk sejak awal biar menjadi nyaman dan tentram saat berada di dalamnya
Kalau diharapkan damai, maka pupuk pula dengan memberikan kepercayaan dan ketenangan
Jangan berharap mau tempat pulang nyaman kalau tidak pernah memberi ruang untuk itu terus bertumbuh