Ketika Khutbah Jum’at Bahas Keresahan Hidup Seorang Ayah

Ketika Khutbah Jum’at Bahas Keresahan Hidup Seorang Ayah

Pada Jum’at kemarin, Alhamdulillah, masih dipertemukan Allah dengan salat Jum’at. Sebagaimana syariat, sebelum salat, ada khotbah Jum’at. Dan, yang menjadi khatib adalah teman saya sendiri.

Kita tidak usah sebut namanya di sini, apalagi nama calon anak ketujuhnya. Tidak perlu memang karena anaknya baru dua juga, kok.

Nah, biasanya, penyakit yang sering menghinggapi jamaah adalah mengantuk ketika khutbah Jum’at. Sang khatib jika menyampaikan dengan membosankan, maksudnya gaya bicaranya, memang bisa bikin mengantuk.

Apalagi di tengah cuaca terik, pekerjaan padat dari pagi, membuat tubuh jadi lelah. Hingga rasa kantuk pun terus menusuk.

Saya sendiri pernah tertidur ketika khutbah. Saat mau salat, harus berwudu lagi. Ini main aman namanya, yah, daripada pas salat Jum’at, pikiran malah sibuk bertanya sendiri, “Tadi itu wuduku batal apa tidak, ya?” Masa mau bertanya ke jamaah di sebelah?

Dimulai dengan Keresahan Hidup Seorang Ayah

keresahan-hidup-seorang-ayah (1)

Khatib memulai khotbahnya dengan permasalahan hidup yang ada sekarang. Materinya memang lebih pas untuk kehidupan seorang ayah. Khas laki-laki. Dan, tidak terlihat ada perempuan di situ yang hadir, dalam wujud manusia maupun jin.

Teman saya ini mengungkapkan tentang problematika hidup. Misalnya: keresahan tentang pekerjaan, masa depan, keluarga, dan semua yang serba materi, lah. Kalau materai, beli saja di kantor pos, ya! Jangan bikin sendiri, ribet!

Bahas hal-hal terkait materi, memang relate banget dengan kehidupan seorang ayah, apalagi dalam rumah tangganya. Betapa seorang ayah dihadapkan pada berbagai tuntutan hidup, terutama mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Terlebih pada kondisi ekonomi sekarang yang banyak orang mengatakan morat-marit. Mahasiswi Fakultas Ekonomi saja belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan ini. Kalau permasalahan seputar kosmetik, ya, bisa jadi mereka memang ahlinya.

Itu adalah Ujian Kehidupan

Segala permasalahan kehidupan, terutama yang dihadapi oleh para ayah, sejatinya adalah ujian kehidupan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak pernah diuji?

Bahkan, para nabi pun diuji. Mereka malah menerima ujian yang lebih berat dibandingkan manusia biasa. Jadi, kalau kamu sekarang sering diomeli istri, itu adalah tanda cinta. Maksudnya, istri memang cinta mengomel ke kamu.

Pada intinya, hakikat ujian di dunia ini memang sementara. Betul kata sang khatib, bahwa tidak ada kesedihan, kegalauan, kekecewaan, yang berlangsung selamanya.

Pasti ada saatnya selesai. Pasti ada waktunya berhenti. Pasti ada ujungnya nanti berakhir dan mungkin berganti dengan ujian yang lebih berat. Misalnya, sudah selesai satu kali dalam sehari diomeli istri. Besoknya, malah tiga kali dalam sehari. Kasihan amat, sih.

Motivasi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

motivasi-dari-Allah-untuk-mengatasi-keresahan-hidup-seorang-ayah (1)

Meskipun para ayah menerima atau mendapatkan berbagai ujian dalam hidup, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan motivasi. Memberikan penghibur bagi hamba-hamba-Nya.

Dalam Surah Al-Insyirah, disebutkan di situ, bersama kesulitan ada kemudian. Diulangi lagi sampai dua kali, pada ayat 5 dan 6.

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,

إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Referensi: https://tafsirweb.com/37364-surat-al-insyirah-lengkap.html

Jadi, bukan setelah kesulitan, lalu muncul kemudahan. Namun, bersama kesulitan itu sendiri, terselip kemudahan-kemudahan.

Masya Allah. Betapa Allah betul-betul sayang kepada kita. Ujian bukan untuk menjerumuskan kita. Bukan untuk menghancurkan kita sehancur-hancurnya, melainkan untuk menaikkan derajat kita sendiri.

Coba bayangkan jika kita kelas 1 SD terus. Tidak pernah naik derajat menjadi kelas 2 SD. Pasti akan malu ‘kan? Masa sudah sebesar ini, kelas 1 SD saja tidak lulus-lulus? Masih terus mengulang, mentang-mentang gurunya cantik. Ahai.

Agar bisa naik derajat, agar bisa naik kelas, harus toh menempuh ujian kenaikan kelas. Materinya pun gampang, kok.

Setahu saya, untuk kelas 1 SD tidak ada yang namanya ujian kalkulus, Trigonometri, bahasa Somalia, hingga pelajaran Sejarah yang akan datang. Eh, sejarah yang akan datang? Bagaimana ceritanya itu?

Setelah ujian tersebut kita lewati dan kita menerima raport dari ibu guru yang ternyata masih belum menikah itu, kita pun naik ke kelas 2 SD. Begitu seterusnya hingga SMP, SMA, dan S3 sekarang ini. HP-nya Samsung kah? Kok S3?

Kalau memang segala kesulitan itu bersama kemudahan, maka sebenarnya kita tidak perlu terlalu panik dengan ujian kehidupan ini.

Yah, manusiawi sih, sedih, kecewa, marah, menangis, itu semuanya wajar. Bahkan untuk laki-laki yang sudah menjadi ayah, bisa kok menangis. Memangnya cuma perempuan yang boleh menangis?

Bukankah setiap manusia itu, laki-laki maupun perempuan, diciptakan dilengkapi dengan kelenjar air mata? Kalau laki-laki tidak boleh menangis, terus ketika mau menangis, masa pinjam kelenjar air matanya perempuan?

Jadi, silakan menangis dan sedih menghadapi ujian hidup yang seakan-akan bertubi-tubi ini. Bahkan, justru itu yang disukai Allah. Mengadu kepada-Nya, curhat kepada-Nya, datang dengan hati yang hancur, Allah menerima, kok.

Malah, Allah semakin senang dengan hamba-hamba-Nya yang sering datang. Ketika orang lain meninggalkan kita, apalagi pas kita terpuruk begini, Allah ‘kan tidak pernah meninggalkan kita. Justru kita yang sering meninggalkan Allah.

Ketika manusia mulai meninggalkan kita satu per satu, bahkan seluruh manusia di dunia ini, pintu Allah tidak pernah tertutup, kok. Selalu terbuka untuk kita, kapanpun, di manapun. Terbuka terus 24 jam, meskipun mungkin kita sudah sering pakai jam tangan, tetapi telat masuk kerja terus. Apa diganti saja pasang jam dinding di tangan?

Sebagai Penyemangat untuk Para Ayah

penyemangat-untuk-para-ayah-dalam-mengatasi-keresahan-hidup (1)

Saya sering berpikir begini, seandainya salat Jum’at itu tidak diwajibkan, tentunya ada laki-laki yang tidak salat sama sekali di masjid.

Bahkan, salat Jum’at yang sudah jelas-jelas wajib ini, masih banyak kok yang meninggalkan. Sebagaimana seseorang, waktu di Makassar, di bandara, ada musholla yang cukup besar dan bisa dipakai salat Jum’at, eh, dia santai-santai saja.

Tetap duduk-duduk saja di ruang tunggu. Apakah dia mengira panggilan boarding jauh lebih penting daripada panggilan azan?

Ketika mendengarkan khutbah Jum’at, pada dasarnya memang sebagai penyemangat untuk menjalani hari-hari berikutnya.

Menjalani 6 hari ke depan, dengan berbagai ujian yang tentunya datang silih berganti. Ada juga pelawak yang namanya Silih. Oh, maaf, itu bukan Silih, tapi Sule. Jauh memang. Seperti jauhnya Planet Jupiter dengan Yamaha Jupiter.

Saat duduk mendengarkan khutbah, kita bisa benar-benar bersantai dari hiruk-pikuk dunia. Dalam waktu kurang lebih 30 menit, kita sebagai ayah bisa kok berpikir, selama ini kita ngapain aja, ya? Selama ini, apa yang sudah kita lakukan? Akhirat kita bagaimana? Nasib kita setelah mati nanti seperti apa?

Justru ketika khutbah Jum’at, ada orang yang mengantuk hingga tertidur, ini apakah tidak ada permasalahan hidupnya, ya? Atau justru penyelesaian permasalahannya di luar ada di tidur dalam masjid itu sendiri?

Meskipun khutbah dan salat Jum’at bisa menjadi penyemangat, buktinya masih banyak kok yang tidak mau disemangati. Saat khutbah, mereka masih di luar. Baru masuk ketika iqamat. Malah ada yang telat satu rakaat lagi. Aduh.

Pada khutbah Jum’at kemarin itu, saya sama sekali tidak mengantuk. Padahal, malamnya saya kurang tidur. Ketika kurang tidur begitu, orang lain tidak bisa membantu saya menambahkan tidurnya. Ya ‘kan? Memangnya kamu bisa begitu?

Saya terus berpikir, sampai kapan ya ujian dan permasalahan hidup saya ini selesai seperti kata khatib tersebut? Bagi orang yang meremehkan nasihat agama, mereka sering mengatakan, “Ah, bicara mah gampang!”

Eits, tidak selalu begitu. Apakah bicara selalu gampang? Tidak begitu, Marimar. Buktinya, bayi yang baru lahir, dia sulit ngomong dan bicara dengan jelas seperti kita. Meskipun lahir dari keluarga kaya, nyatanya ‘kan tidak miskin juga.

Sampai di sini, saya harus berterima kasih kepada teman saya yang menjadi khatib tersebut. Dia menyadarkan saya dan mungkin jamaah lainnya, bahwa ujian hidup ini pasti selesai. Pasti berakhir. Percaya saja, deh!

Allah tidak pernah menguji hamba-hamba-Nya melebihi batas kemampuan. Semuanya sudah tertakar, semuanya sudah terukur, apakah kumismu sudah dicukur?

Masih ingat sampai sekarang, entah siapa yang pertama kali mengatakannya,

“Kalau Allah saja percaya kepada kita bahwa kita mampu menjalani ujian ini, masa kita yang tidak percaya?”

Marilah jadi laki-laki atau seorang ayah yang makin kuat dari hari ke hari. Rambut boleh beruban dan itu sama saja dengan rambut yang mulai meninggalkan dunia hitam. Demikian pula jenggot kita yang juga mulai ditumbuhi uban, entah sudah berapa helai sekarang.

Walaupun uban makin banyak, tetapi jadikan hidup kita seperti ubin. Antara uban dan ubin, bukan seperti Upin dan Ipin. Ubin meskipun sering diinjak, tetapi sering juga disapu dan dipel. Jadi cerah kembali, indah kembali.

Begitu juga dengan kita, lho! Kita bisa kok, boleh kok berkali-kali jatuh. Boleh pula kotor oleh berbagai macam kesalahan. Namun, jangan berhenti untuk membersihkan diri dan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ya?

Sudah begitu saja penutupnya, lah. Untuk penutupan tidak perlu menunggu bupati datang, soalnya sering telat, sih. Kalau demikian, namanya bukan bupati, melainkan bupate yang kepanjangannya Bukannya Pasti Telat?

28 Comments

  1. Jangankan di bandara atau tempat umum dengan segala kesibukannya, di kampung saya aja ini, Sidah ada kok laki2 yg santai aja meninggalkan solat Jumat. Padahal dia muslim. Waktu lebaran dia sering ke masjid kok. Lebaran juga foto foto ala ala bersama keluarga besarnya macam open house gitu. Pakaian semuanya mencirikan muslim. Tapi kenapa sikat Jumat lalai?
    Itulah ujiannya buat dia
    Buat saya juga. Mampu gak saya meluruskan kemungkaran seperti itu?
    Berhubung saya lemah iman, jadi saya pilih opsi ketiga, tetap menganggap itu kelalaian walau hanya dalam hati. Saya tidak mampu menegur dengan lisan, bisa bisa dia balik nanya siapa Lo?
    Apalagi dengan tindakan, ntar dibilang hansip bukan malaikat bukan ngapain ngurusin jumatan orang?
    Kalau udah gitu bisa berabe ya
    Makanya saya dengan berat hati melihat kemungkaran itu hanya dengan dalam hati saja. Semoga semuanya mendapatkan hidayah

    1. Berat sekali sebenarnya Mbak kalau laki-laki muslim itu meninggalkan salat Jum’at, apalagi berkali-kali. Itu kalau dihukumi kafir, sudah tingkat senior tuh, hehe.

  2. Tiap baca tulisan mas rizky selalu berasa dapet tausiah looo dapet pengingat gt..dan yang kali ini pengingat bahwa setiap kesulitan ada kemudahan dan ini sudah satu paket..tugas manusia hanya berusaha berdoa serahkan hasilnya pada Allah jangan terlalu banyak mikir yg penting ada di jalan Nya gt ya mas 😉
    Dan bener seorang laki2 juga seperti perempuan mereka juga bisa menangis tapi mungkin kelola emoasinya jauh lenbih baik dari perempauan yang kadang gampang banget meneteskan air mata 🙂

    1. Persepsi di masyarakat, kalau ada laki-laki menangis itu dikatakan cengeng. Beda dengan perempuan yang meskipun sudah dewasa, tetapi masih menangis, malah tidak majalah, eh, masalah.

  3. Jleeeeb, penutupnya pake istilah Bupate 😄. Semoga yang selalu telat jadi sadar diri jangan telat.

    Sukaaaa dengan isi tulisannya mas. Walau bukan kepala keluarga, tapi aku pun meyakini, kesukaran atau ujian dari Allah itu pasti ada akhirnya juga. Kalau Allah kasih kita ujian, artinya Allah tahu kita sanggub. Bukan malah menyerah sampai ada yang bundir. Sedih kalau sudah begitu. 😔

    Terkadang manusia nya saja yang tidak mau meminta bantuan ke Allah. Terlalu sombong, atau tertutup mata hatinya. Padahal kalau dia mau merendah sedikit, tahajud malam, mengadu pada Nya, biasanya adaaa aja jalan kluar dari masalah yang dihadapi. Karena aku sudah mengalami beberapa kali.

    Saat ada masalah berat, yang sepertinya ga ada solusi, tapi ketika sujud malam, selalu ada jalan kluar yang kemudian bisa jadi penyelamat.

    Semoga para suami di luar sana, selalu kuat, sabar menghadapi apapun ☺️. Selalu tahan menghadapi istri yg bawel. Dan semoga selalu bisa membahagiakan istrinya juga, supaya rezekinya sendiri makin luas 😍😉.

  4. Laki-laki juga perlu mendapat pencerahan, dapat kemudahan dari setiap kesulitan alias ujian yang dihadapi. Mereka juga boleh kok untuk menangis. Ga perlu dianggap cengeng. Justru karena dengan menangis, pertanda bahwa tiap-yiap insan punya sisi lemah, perasaan hati yang lurus. Semangat selalu buat kaum adam

  5. Perkara wudu setelah ketiduran ini memang perlu dikasih note si kang. Apalagi memang, wkatu jumat itu entah kenapa angin sepoi selalu berhembus dengan begitu syahdu. Rasanya kok guaaaampang banget ya kita terkulai tidur, walau ngeriyep-ngeriyep, hahaha.

    Apapun itu, semoga kelak ekonomi kita membaik yaaa. Seiring dengan akhlak kita semua yang moga saja makin dibawa ke arah yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

  6. relate parah sama kehidupan bapak-bapak yang sering jalan pakai jurus diam tapi pusing sendiri. Kadang pas dengar khotbah Jumat, niatnya mau nyari ketenangan, eh malah kesindir sama isi ceramahnya. Soal beban hidup jadi kepala keluarga yang makin berat ke sini-sini, rasanya emang nano-nano.
    Allah itu nggak bakal kasih ujian di luar batas kemampuan, rasanya pundak langsung agak enteng. Setidaknya kita diingatkan buat nggak jalan sendirian. Soal nangis juga bener banget, emang kodratnya manusia punya air mata, jadi sesekali capek ya wajar kalau mau tumpah.

  7. kalau orang tertidur pas kotbah jumat, saya masih maklum. mungkin lelah. Nah yang saya jengkel benar kalaua ada yang ngebrol. mana berisik padahal sudah dewasa.
    Lanjut soal keresahaan seorang ayah, pastinya setiap ayah merasakan hal sama. Bagaimana sebagai tulang punggung keluarga. Banyak hal yang dipikirkan. Belum lagi ada masalah di tempat kerja. Tapi Insya Allah jalan Ayah mencari rezeki selalu dimudahkan. pastinya didukung doa kaluarga juga.

  8. Alhamdulillah, Allah membuat ada salat Jumat. Jadi laki-laki bisa ke masjid dan menyimak khutbah walau sebagian pasti ada yang terkantuk-kantuk karena lelah. Selama hidup di dunia, rasanya memang akan selalu bertemu dengan ujian hidup. Katanya ujian ada untuk naik kelas. Entah dari pola pikir, ibadah dan lainnya. Setiap manusia pasti pernah merasa lelah, menyerah, sedih. Semoga saja selalu kembali bangkit sesusah apapun jangan sampai menyerah.

  9. Seneng deh ada khotib yang khotbahnya tuh ga jauh dari masalah hidup sehari-hari. Justru khotbah tuh seharusnya kayak gini. Ngasih wejangan dan motivasi yang ga menggurui.

    Kalo di tempat kosku di Jakarta dulu malah sering ke arah politik. Mana jelekin salah satu pejabat yang sebenarnya lbh bener kerjanya sih. Kalo emg pejabatnya korup dan dia Muslim, wajib diteriakin dah tuh. Mknya kalo khutbah kyk gt tuh, aku lbh suka ngelamun aja drpd sakit hati dengernya.

    Kalo khotbah Jumat spt temennya mas Rizky ini justru menentramkan. Ngasih pelajaran yg emg audiens-nya laki. Cocok. Ga bakalan ngantuk deh kalo dengerin hal relate kyk gini.

    1. Bener, Pak, nggak harus sih khutbah yang berapi-api, jangan sampai malah terbakar nanti. Gaya bicara boleh tegas, tetapi relate dengan kehidupan sehari-hari itu lebih bagus.

  10. selama ini aku dan mungkin beberapa orang diluaran sana akan berpikir “dibalik ujian berat, akan ada kemudahan”, dan membaca ini jadi terbuka lagi pikiranku, bahwa dibalik ujian seseorang adalah ada derajat dikemudian hari, jadi bener juga ya.
    bagaimanapun kita jangan memandang ujian kayak hal yang berat banget, tetep berusaha untuk menyelesaikan ujian itu, meskipun kita merasa berat juga
    aku juga berpikir, seandainya tidak ada sholat jumat kayak gimana ya, karena memang masih banyak yang tidak melaksanakannya.
    apakah masjid akan full tiap jumat, atau gimana

  11. Hidup itu memang pasti ada ujiannya dan di masa itulah keimanan kita diuji. Kadang ada juga yang bilang baru ingat Allah pas lagi susah ya bisa jadi itu cara Allah menegur kita agar selalu ingat padanya

  12. Saya percaya bersama kesulitan ada kemudahan karena sudah berulang kali mengalami sepanjang hidup. Memang ujian tidak ada habisnya, dari kecil sampai besar, tapi buktinya, sampai sekarang saya masih baik-baik saja. Walaupun saat ujian datang rasanya nggak karu-karuan, nangis-nangis juga, nyatanya bisa terlewati dengan baik.

    Mari kita semangat menjalani hidup dan tetap lurus di jalan-Nya. Jangan lupa solat Jumat karena kebetulan ini saya komen sudah hari Jumat hehehhe…

  13. Saya selalu penasaran dengan model khutbah jumah, apakah ada topik khusus seperti pengajian ibu ibu bahas fiqih kewajiban dan hak atau seperti model nasihat ustad hannan yang isinya tentang renungan. ternyata lebih ke konsep renungan ya karena mungkin singkat juga waktunya.

  14. “Bersama kesulitan ada kemudahan” juga dibahas dan dikaitkan dengan ujian untuk naik kelas.. Jadi keinget juga kalau lagi ada masalah, ternyata memang nggak harus selalu panik duluan… karena ujian dan solusi tuh emang sepaket aja datangnya.. dan tergantung reaksi kita juga mungkin ya…
    Oia bagian laki laki juga boleh nangis itu bener sih Mas, manusia ya manusia, mau ayah atau bukan tetap punya rasa capek dan sedih.. kek suami saya nonton film sedih aja saya biarin, paling ceng ceng an dikit >.< astagfirullah maaf Papiiiii

  15. Siapa tu seseorang yang nggak jumatan itu? Prabowo? *eh hahaha
    Khutbah2 Jumat kalau yang lagi ceramah bisa membawakan materinya dengan asyik tu biasanya lebih sampai ya ke otak dan hati hehe.
    Kalau ngobrolin ujian, emang keknya belakangan banyak nih yang membahas soal ini, apalagi di era sekarang yang keknya ekonomi kurang baik2 aja.
    Jumatan tu salah satu waktu me time-nya bapak2 kyknya yaaa, bisa santai sejenak tapi agak lamaan di masjid sambil mencari2 inspirasi hidup.
    BTW kadang tu suka mikir, yang namanya ujian kan nggak cuma yang sulit2 yaa, bahkan yang happy2 pun katanya ujian. Sayangnya kenapa ya yang bagian kena happy-nya ya orang2 itu aja, kek misalnya pejabat2 jahat hiks.
    Mungkin krn keseringan baca2 kisah orang ekonomi lemah dikasi sakit A, B, C huhu.

  16. Alhamdulillah solat jumat yang berkesan ya pak,,,mendapat tausiah ilmu dari khotib dan menyadarkan kita bahwa ujian hhidup itu akan selalu ada. Apalagi laki-laki itu pemimpin jadi harus kuat. Yaa capek, lelah itu wajar boleh istirahat dulu tapi jangan menyerah. Ujian itu tanda cinta Allah pada hambanya

  17. Mendengarkan kajian baik khutbah Jumat atau kajian lain bisa menjadi penyemangat ataupun pengingat diri ini. Saat tertidur mendengarkan khutbah bukan berarti tidak butuh penyemangat bisa jadi dia terlalu lelah dan khutbah seolah menjadi pengantar tidurnya bukan sengaja tidur lho.
    Senangnya bisa mendapatkan hikmah dari khutbah, karena itu bagian dari rejeki. Tidak banyak orang yang beruntung mendapat kesempatan mendengarkan kajian

  18. Jujur saja, awalnya saya ngira juga seperti, jadi bersusah dulu baru ada kemudahan. Tapi ternyata salah. Allah benar-benar sayang kita ya. Kita memang perlu mempersiapkan diri dengan kesulitan, tapi jangan khawatir karena di dalamnya pasti ada kemudahan untuk menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *