Sejak zaman SD, waktu masih belum tumbuh uban, tetapi sudah sering melangkah di atas ubin, kita sudah dikenalkan dengan yang namanya upacara, lebih lengkapnya adalah upacara bendera.
Biasanya, upacara bendera itu dilakukan setiap hari Senin di waktu pagi, antara jam 7 pagi hingga selesai. Ya, selesainya sekitar 30 menit atau 45 menit, sangat jarang, selesainya di hari besoknya.
Ketika kita upacara tersebut, kita akan menerima vitamin D secara utuh. Vitamin D yang dimaksud ini tidak hanya sekadar vitamin D, temannya vitamin A, B, C, dan K, tetapi juga vitamin D yang berarti Dijemur! Ingat, Dijemur!
Panasnya memang minta ampun, bukan malah minta amplop. Apalagi bila di atas sana, matahari bersinar tanpa hijab, tanpa terhalangi oleh awan. Bahkan yang namanya Setiawan pun tidak mampu menghalangi cahaya matahari itu.
Dan, begitulah realitanya. Dari sejak SD, atau bahkan TK, lanjut ke SMP, SMA, kita menerima upacara bendera dengan tubuh dijemur itu. Malah, saat sudah bekerja, jadi ASN misalnya, tetap juga ada upacara bendera.
Kontroversi Upacara Bendera
Dahulu, sempat ada kontroversi kaitannya dengan upacara bendera ini. Utamanya terkait dengan menghormati bendera. Sang Merah Putih yang pada dasarnya hanya kain berwarna merah dan putih, kok harus dihormati, kok harus mengangkat tangan kanan di samping alis? Mana alisnya habis dicukur dan diganti pensil alis lagi?
Hal itu ekstrimnya dianggap sebagai kesyirikan, artinya disamakan dengan menyembah benda mati. Bukankah bendera yang terbuat dari kain itu memang benda mati?
Namun, pada akhirnya, syubhat itu berakhir dengan sendirinya. Soalnya, memang repot juga. Banyak dari ASN yang juga merupakan aktivis dakwah. Banyak pula dari mereka ustaz dan ustazah, malah banyak yang belum menikah. Lho, status kok diungkap di sini?
Menghormati bendera itu bukan dimaksudnya menyembah, melainkan memang hanya sekadar seremonial atau usaha untuk mengenang jasa pahlawan yang telah berjuang agar negeri ini bisa merdeka.
Bendera Merah Putih tidak hanya kain semata, melainkan simbol perjuangan. Termasuk dalam hal ini adalah simbol perjuangan bagi para penjualnya yang mungkin tahun ini tidak banyak laku.
Bayangkan, jika ASN menerapkan prinsip seperti itu, menghormati bendera sama dengan menyembahnya, maka akan jadi fitnah yang luar biasa. Pekerjaan halalnya bisa terancam, begitu pula kehidupan anak dan istrinya yang belum bisa ditambah lagi itu.
Posisi Istirahat di Tempat dalam Upacara Bendera

Dari awal mulai upacara bendera, sikap yang diminta memang harus sempurna. Badan tegak berdiri, kedua tangan di samping badan. Ini badannya sendiri, lho, bukan badan orang di sebelahnya, apalagi badan jalan maupun badan lembaga pemerintah.
Pandangan juga lurus ke depan, menatap jauh ke depan, tidak membungkuk, menengadah ke atas, ke samping kiri maupun kanan, atau malah pandangannya pindah ke belakang. Hii, ngeri.
Posisi berdiri seperti itu memang membuat pegal dan capek. Apalagi itu tadi, ditambah dengan cahaya matahari yang posisinya juga sempurna di atas langit. Terlebih bagi banyak orang, tidak hanya ASN, tetapi juga para murid, yang bergoyang-goyang sedikit badannya mengusir rasa pegal. “Hus, hus, pergi rasa pegal!”
Namun, ada posisi yang lebih enak sebenarnya. Sedikit sih lebih enak. Namanya adalah posisi istrirahat, aduh salah tulis, istirahat di tempat. Kaki dibuka selebar bahu, kedua tangan ke belakang dan saling mengikat.
Seringnya untuk posisi istirahat di tempat saat upacara bendera adalah ketika mendengarkan amanat dari pembina upacara. Kalau di instansi pemerintah, ya, mendengarkan arahan dari sang kepala dinas.
Saya pernah mendapati ada seorang PNS yang justru mengeluh karena sering ikut apel pagi. Justru dia dan teman-temannya yang ikut apel pagi malah banyak diceramahi seputar kedisiplinan.
Dia merasa heran, seharusnya yang diceramahi kedisiplinan itu yang tidak ikut apel pagi karena merekalah yang tidak disiplin. Eh, malah yang ikut apel disuruh disiplin, lah itu sudah, he! Yah, begitulah, yang ikut apel memang disiplin, sedangkan yang tidak ikut apel itu diselipin, lebih tepatnya diselipin kemalasan.
Kembali ke posisi istirahat di tempat, ini memang dimaknai istirahat yang tetap berdiri. Bukan bawa springbed dari rumah, terus rebahan di tempat upacara bendera itu. Namun, hey, ada satu fenomena yang menarik seputar upacara bendera ini.
Bagi pegawai biasa atau para murid, mereka dijemur di bawah terik matahari. Ya, jelas, tidak mungkin ‘kan dijemur di atas terik matahari? Mereka menerima panas dari sang surya hingga membuat kulit mereka sedikit menghitam. Kalau yang sudah hitam, mungkin jadi tambah lebih gelap.
Akan tetapi, bagi para pejabat penting, mereka malah bisa duduk di bawah tenda yang nyaman. Bahkan, di depannya terhidang makanan dan minuman. Mereka tidak sepenuhnya berdiri terus dalam upacara bendera itu. Fenomena apakah ini? Ada apakah gorengan? Nah, salah tulis lagi ‘kan?
Fenomena itu ‘kan sebenarnya, yah, kurang adil, sih. Namanya upacara bendera, kok satunya dijemur, satunya masuk makanan ke mulut dengan teratur? Bahkan, untuk sekadar minum saja, peserta upacara bendera yang berdiri tidak diperkenankan.
Mereka harus tetap berdiri dari awal sampai selesai. Makanya, tidak jarang di antara mereka ada yang pingsan, ini jelas bukan nama buah. Ada yang masuk UKS dengan alasan sakit, ada yang juga masuk UKS karena sedang sakit yang lain, yaitu: sakit malas ikut upacara.
Jadi, bagaimana dengan upacara bendera yang seperti itu? Sementara yang duduk di tribun tertutup itu masih kuat berdiri sebenarnya. Masih sanggup untuk mengikuti upacara dari awal sampai akhir bukan dalam posisi duduk.
Tapi, yah, begitulah, upacara bendera di negeri ini. Saya tidak tahu bagaimana model upacara bendera di Planet Mars sana. Harusnya, sih, dalam satu lapangan upacara bendera, sama-sama menikmati siraman cahaya matahari, lah.
Atau kalau mau adil, upacara bendera saja di aula atau gedung yang luas. Bisa saja ‘kan? Yang penting itu adalah prosesi upacara benderanya, tempat tidak masalah. Masa, kita mau menyiksa para peserta upacara yang harus terus dijemur? Padahal salah satunya tadi sudah disuruh menjemur pakaian sama istrinya. Ini malah dijemur lagi.
Tentang Posisi Istirahat di Tempat yang Terbaik

Kalau tadi posisi atau sikap istirahat di tempat dalam upacara bendera, harus tetap khidmat, adakah yang lebih baik daripada itu? Ternyata, jawabannya ada. Hal ini sudah dilakukan oleh banyak orang, utamanya orang Islam.
Posisi istirahat di tempat yang terbaik adalah di dalam salat, lebih spesial lagi di dalam salat berjamaah di masjid. Bedanya, kalau di upacara bendera, kedua tangan ke belakang seakan-akan menyembunyikan sesuatu, mungkin malah rokok, sedangkan saat salat, kedua tangan ditaruh di depan, pas di dada dan bersedekap.
Mengapa dalam salat dikatakan istirahat di tempat yang terbaik? Yah, dirasakan saja, salat ini memang pelepas lelah dari segala kesibukan dunia.
Kita sibuk dengan berbagai pekerjaan yang seakan-akan tidak ada habisnya. Meskipun kita mengundang Tanboykun untuk menghabiskan, nyatanya masih belum habis juga, ya ‘kan?
Tidak hanya pekerjaan, tetapi juga urusan rumah tangga. Terutama ini untuk para ayah, yang harus senantiasa memikirkan cara agar asap dapur selalu mengepul. Bukan dapurnya dibakar agar ke luar asap, waduh, kalau itu mah cara ekstrim banget.
Sosok ayah adalah pihak yang sebenarnya paling pusing dengan kondisi ekonomi morat-marit ini. Penghasilan dari pekerjaan menurun, dagangan sepi, ancaman bangkrut, tekanan dari istri, apalagi bila istrinya gemuk banget, tiap malam suaminya ditekan terus tidurnya di kasur.
Seorang ayah harus memikirkan besok istri dan anak-anak bagaimana? Masih bisa makan atau tidak? Kalau masih bisa, makanan apa? Masih adakah uang? Bila memang tidak ada uang tunai, apakah bisa diganti dengan uang lain? Uang monopoli misalnya?
Biasanya atau seringnya, seorang ayah lebih banyak memikirkan masalahnya sendiri. Mau curhat ke istri, nanti malah tanggapannya tidak memuaskan. Justru yang ditakutkan istrinya malah tambah mengomel. Sudah istrinya jarang mengepel, malah sering mengomel. Anaknya comel, istrinya ngomel.
Makanya, banyak ayah yang melarikan pikiran buntunya ke rokok, nongkrong dengan teman-teman sesama ayah, mancing, atau sekadar duduk di depan teras, walaupun dia bukan seorang pejabat teras.
Menghembuskan asap rokok dianggapnya bisa meredakan pikiran yang bergemuruh, melebih gemuruhnya sound horeg yang bikin huwek. Namun, justru, benda itu menabung kegelisahan yang makin menjadi-jadi.
Rokok yang tidak mungkin dicap halal, makanya tidak ada orang yang memulai merokok dengan baca basmallah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Asap rokok dan racun-racun di dalamnya justru menyumbangkan akibat yang besar di kemudian hari.
Lalu, apakah rokok itu masih diperbolehkan? Yap, rokok memang masih diperbolehkan, tetapi diperbolehkan untuk dibuang saja. Laki-laki yang berpikir dengan normal dan sehat tidak harus tergantung dengan rokok, kok, walaupun rokok itu memang seringnya tergantung di mulut.
Lebih baik, daripada sambil merokok, nongkrong tidak jelas, duduk melamun, lebih baik berdiri untuk salat. Saya tidak sedang berceramah sekarang karena saya ini bukanlah ustaz, apalagi ustazah, hanya ingin berbagi saja. Saya bagi cerita dan tulisan, kamu bagi uang, ya!
Coba Rasakan Betul-betul Istirahat di Tempat yang Satu Ini

Meskipun salat itu diawali dengan berdiri, tetapi rasanya jauh berbeda dengan berdirinya saat upacara bendera. Kalau di upacara, panas ngentang-ngentang, begitu kata orang Jawa, sedangkan di dalam salat, berdirinya di dalam masjid yang sejuk karena ada AC.
Saat upacara bendera, dalam hati selalu mengeluh, kapan ini selesai? Kalau dalam apel pagi, itu lagi yang diomongkan? Disiplin-disiplin terus. Tidak ada bahan yang lain apa?
Namun, saat salat, tetap mengeluh, tetapi keluhannya jauh berbeda. Misalnya, Ya Allah, semakin hari berlalu, bukannya pahala yang bertambah, malah dosa-dosa yang bertambah.
Kita boleh kok mengeluh tentang segala keresahan, kesedihan, kegalauan, apapun, kepada Allah melalui salat itu. Lebih bagus lagi jika suara imamnya nyaring, tetapi lembut dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Walaupun surah yang dibaca panjang, tetapi suara imam yang merdu, membuat berdiri tidak terasa lelah, bahkan sangat menikmati.
Makanya, ada begitu banyak orang yang merindukan untuk selalu berkunjung kembali ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Merasakan berdiri di sana sebagai posisi istirahat di tempat yang sangat-sangat lezat.
Beda jika imamnya tidak fasih bacaannya atau malah salah. Saya pernah mendapati imam yang seperti itu. Ketika membaca Al-Fatihah saja, dari yang seharusnya “An’amta ‘alaihim” menjadi “An’amto ‘alaihim”. Dari “ta” menjadi “to”.
Kemudian, yang semestinya “sirotol mustaqim” menjadi “sirotol mustoqim”. Sama, dari “ta” menjadi “to”. Uniknya, sudah tahu bacaannya salah begitu, apalagi di Surah Al-Fatihah, eh, masih jadi imam terus, bahkan imam tetap di masjid yang tidak bisa saya sebutkan di sini karena orang di Uganda sana juga tidak kenal.
Kita bisa melihat sejarah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika beliau menyuruh Bilal untuk mendirikan salat dan mengistirahatkan beliau serta yang lainnya dalam salat tersebut.
Bagi orang yang beriman, salat adalah posisi istirahat di tempat yang jelas terbaik. Bukan hanya badannya yang istirahat di tempat tersebut, tetapi juga pikiran yang lari ke sana ke mari, ditambah dengan berbagai macam overthinking.
Cukuplah kita mengaduhkan semua permasalahan di dunia ini kepada Allah melalui salat. Meskipun setelah salat, masalah tidak langsung selesai, tetapi paling tidak ada kelegaan. Terlebih, ketika salat tadi ada rasa menahan kentut dan buang air, setelah salat, memang lega karena sudah dibuang.




