Saat Ada Seorang Perempuan Tidak Dikenal yang Mau Meminjam Sepeda Motor Saya

Saat Ada Seorang Perempuan Tidak Dikenal yang Mau Meminjam Sepeda Motor Saya

Meskipun saya tidak suka musik keroncong, tetapi perut saya pada siang ini keroncongan. Itu tandanya minta diisi dengan makanan. Saya memilih untuk makan di luar, cukup di luar rumah, lah, bukan di luar Planet Bumi.

Saya mengendarai sepeda motor dan bingung mau makan di mana dan berupa apa? Istri saya tidak masak, cuma ada nasi putih di rice cooker, entahlah tinggal berapa butir di sana, hitung saja sendiri!

Jalan-jalan sambil berpikir, hingga saya berhenti di sebuah warung makan, dekat BNI. Warung tersebut memang bukanlah punya Bank BNI dan warung itu pula bukanlah pemilik Bank BNI.

Memilih Menu Nasi Goreng

Saya pernah makan di warung tersebut. Ketika itu makan nasi goreng seafood. Harganya 20 ribu rupiah. Cukup murah, lah, daripada saya harus bikin sendiri. Harus angkut padi mulai dari sawah hingga jadi nasi goreng, tentunya akan lebih mahal dan melelahkan.

Melihat menu yang tertempel di dinding, saya langsung melihat harganya. Astaga, harganya tidak sampai 1 miliar, baiklah, saya memutuskan untuk beli.

Warung makan itu tidak ada menu All You Can Eat. Jadi, yang terbiasa mukbang, tidak cocok memang di situ. Kalau mau nyumbang, ya, cocok, apalagi pas ada saya di situ.

Nasi goreng yang saya pilih adalah nasi goreng biasa. Lauknya cuma telur mata sapi, padahal sapi tidak suka nasi goreng.

Ditambah dengan kerupuk dan sepotong timun. Ini jelas tidak ada kaitannya dengan cerita Timun Mas, tapi mas yang sedang mau makan timun.

Aduh, lupa saya foto tadi siang! Mungkin lain kali, ya. Soalnya, tukang foto saya memang tidak saya bawa ke situ. Ya, bagaimana mau dibawa, punya saja tidak!

Dimintai Tolong Seorang Perempuan Tanpa Jilbab

Sebelum saya makan nasi goreng, saya memesan terlebih dahulu. Saya pesan satu saja, karena memang datang sendiri. Tidak mungkin saya pesan untuk satu RT, memangnya satu porsi nasi goreng itu cukup untuk satu RT?

Sambil atau sembari menunggu nasi goreng datang, saya duduk toh di kursi yang telah disediakan. Kursi-kursi yang ada tidak ada nomornya. Jadi, kamu bebas duduk di manapun. Mau bawa kursi sendiri juga boleh.

Biasalah, sebagaimana orang modern pada umumnya, tiap duduk, selalu keluarkan HP. Mulai main-main HP, meskipun tidak jelas mau buka apa, apalagi tidak ada obeng dibawa.

Saya mendownload e-paper Kompas. Yap, saya memang sudah lama berlangganan aplikasi Kompas. Jauh lebih murah dan mudah pakai aplikasi seperti itu. Tidak perlu pakai ongkos kirim seperti koran cetakan, ‘kan koran cetak itu susah dimasukkan ke dalam HP, ya ‘kan?

Saat sedang membaca sebuah berita, saya ditemui oleh seorang perempuan berkacamata. Wajahnya mirip seorang auditor BPK yang sempat saya kenal.

Oh, ya, pas saya datang di warung itu, memang ada dua perempuan yang juga sedang duduk. Mereka tampak baru saja selesai makan dan minum, tetapi tidak mau mencuci piringnya sendiri.

Saya tidak menyangka jika salah seorang dari keduanya mendekati saya dan mengutarakan permintaannya,

“Mas, bisa pinjam motornya sebentar? Saya mau ke toko Idola untuk ambil sesuatu.”

Perlu kamu tahu, toko Idola adalah toko spesialis ATK alias Alat Tulis Kantor. Letaknya dari warung makan itu, ya, sekitar 200 meter, lah. Saya tidak tahu ukuran milimeternya, belum pernah mengukur pakai mistar anak saya soalnya.

Ketika ada permintaan seperti itu, jelas toh saya langsung kaget. Ini ada orang yang tidak dikenal, kok tiba-tiba mau pinjam motor?

Pikiran saya langsung negatif dan memang biasanya pikiran ini memang negatif. Eh, malah buka aib di sini. Saya langsung curiga, jangan-jangan ini pencuri. Kan dari kata “curiga”, curi gak, curi gak? Jangan-jangan curi?

Saya menjawab, “Lho, coba pinjam motornya yang punya warung!”

Saran saya begitu. Rupanya, yang punya warung tidak ada motornya. Entah, motornya memang tidak ada atau sedang dipakai ke luar? Masa punya warung, tapi tidak punya motor? Hem, mending warungnya dijual saja untuk beli motor. Ya ‘kan? Ya toh? Kan toh ya?

Saya akhirnya memilih untuk menolaknya. Bukannya apa-apa, memang saya curiga saja. Apalagi ini orang yang tidak dikenal, bukan orang terkenal, dia tidak dikenal juga sama Presiden Prabowo dan Teddy.

Meskipun daerah Kabupaten Bombana bukanlah kota besar, tetapi waspada dan hati-hati tetap harus diutamakan. Apalagi di situ adalah warung makan, jadi harus diutamakan. Kalau cuma diutamakan, pasti akan seret tenggorokan. Makanya, harus ditambah diutaminum juga.

Saya tahu, penolakan saya ini memang membuat dia kecewa. Apalagi tadi alasannya mau mengambil sesuatu. Dia juga bilang mobilnya ada di toko Idola tersebut. Hem, jadi makin curiga, kenapa mobilnya di sana? Kenapa mobilnya tidak dikasih ke saya saja? Saya ‘kan butuh mobil juga.

Setelah mendapatkan penolakan, keduanya meninggalkan warung makan. Perempuan yang berkacamata itu sesudah membayar, mereka pergi berlalu.

Dia mengatakan mau pinjam motor pak satpam BNI saja. Nah, itu termasuk solusi yang tepat. Meminjam motor aparat keamanan, jelas akan lebih aman. Kalau saya ini ‘kan aparat kenyamanan, aku bisa membuat hatimu jadi nyaman. Halah, gembel, eh, gombal.

Kenapa Bukan Solusi yang Ini?

Sebenarnya saya takut juga dengan perempuan berkacamata dan berambut pendek itu. Jangan sampai dia mengatakan doa-doa jelek sambil menatap sepeda motor saya yang terparkir mesra di depan warung makan.

Bukankah itu bisa termasuk penyakit ‘ain, ya? Namun, saya berusaha untuk mengalihkan pikiran negatif itu. Soalnya, pikiran saya ini masih banyak yang negatif, jadi kalau satu disingkirkan, masih ada stoh lainnya, lah.

Dan, muncullah pikiran negatif yang satu ini. Tiba-tiba entah dari mana, naik apa, bayar berapa, ke luar sebuah pikiran yang sebenarnya menjadi solusi juga.

Kenapa perempuan itu tidak kamu antar? Tidak kamu boncengkan? Kan kesempatan itu memboncengkan perempuan yang bukan istrimu? Kapan lagi coba? 

Nah, iya juga, ya? Solusi ini baru muncul setelah kedua perempuan tadi berlalu. Sebenarnya, yang mau naik motor itu bukan si berkacamata, melainkan yang pakai jilbab satunya. Entah temannya, keluarganya, atau siapa? Yang jelas bukan suaminya.

Saya tidak melihat dengan jelas yang satunya itu, karena agak silau kena terik matahari menjelang jam 12 siang. Tidak melihat dia cantik atau tidak, karena silau itu tadi. Untunglah silau matahari, meskipun saya tidak mendapatkan ucapan dari si pemilik warung, “Silaukan masuk!”

Alhamdulillah, pikiran negatif itu tidak jadi terlaksana. Pikiran itu cuma sebatas godaan setan. Dan, setan yang menggoda saya ini, tidak tahu namanya siapa dan nomor registernya berapa? Yang jelas, tidak terlaksana. Titik.

Dari situ, saya memang harus lebih berhati-hati. Orang yang tidak dikenal, baru lihat saat itu, tetapi sudah mau pinjam motor, harus memang berpikir berkali-kali.

Niatnya memang menolong, tetapi jangan sampai justru membuat kita jadi menyesal. Lebih baik kita mencegah daripada tidak mencegah sama sekali. Sama siapa? Sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *