Suatu kali, kamu disuruh istri kamu untuk membeli gula pasir. Mau menolak, khawatir kamu diusir dari muka bumi ini sama dia. Mau menerima, sudah mau larut malam. Namun, demi cinta yang membara, kamu pun ambil motor ke kios terdekat, entah berapa sentimeter jaraknya.
Menurut banyak kebutuhan rumah tangga, baik yang rumahnya benar-benar ada tangga ke lantai dua atau tidak, gula pasir merupakan bahan pokok yang harus ada di dapur. Gula pasir memang sering dipakai untuk pemanis minuman.
Bisa jadi itu teh atau kopi yang dihidangkan oleh istri kamu. Teman saya, mengaku untuk kopi harus pakai gula, agar rasanya pas. Jelas akan kurang pas, kalau malah dikasih garam maupun asam, meskipun dia bisa saja mengaku sudah makan asam garam kehidupan.
Gula pasir juga dipakai istri kamu ketika dia membuat makanan atau camilan. Mungkin, saking cintanya dia sama kamu, membuat cemilan setiap pagi. Meningkat dari sekadar cemilan, berlanjut menjadi cepuluh, cebelas, hingga ceratus.
Jika dilihat dari bahannya, gula pasir ini dari tebu atau bit gula. Diprosesnya sampai menjadi kristal putih. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa gula ini sumber energi, tetapi banyak yang tidak sadar, bukan berarti pingsan. Mereka tidak sadar bahwa gula juga tersembunyi dalam banyak makanan dan minuman kemasan.
Setiap kita punya batasan asupan gula harian, tetapi karena ada gula yang tersembunyi di makanan dan minuman kemasan, akhirnya kadar gulanya jadi melonjak. Dan, gula tersembunyi ini lebih lihai daripada anak kamu yang main petak umpet.
Gula Pasir Dikaitkan dengan Manfaatnya Bagi Kesehatan
Meskipun saya bukan orang kesehatan, apalagi orang kesetanan, gula ini dari ilmu kesehatan dapat diubah menjadi glukosa. Gunanya untuk sel-sel tubuh yang akan dipakai beraktivitas.
Misalnya nih, saat kamu merasa lemas, mungkin habis mendengar pidato presiden atau setelah berlari sejauh mungkin dari pidato presiden tersebut, mengonsumsi sedikit asupan gula dapat membantu mengembalikan energi kamu dengan lebih cepat.
Saat kamu makan atau minum, gula dapat memperbaiki rasa. Kalau rasa sudah diperbaiki, maka selera makan akan meningkat. Hal ini terutama bagi anak-anak atau orang yang sedang dalam masa pemulihan.
Walaupun ada efek baiknya bagi kesehatan, tetap harus dalam batas yang aman dan sesuai standar. Eits, tidak perlu ke bengkel motor untuk menyesuaikan dengan standar-standar di sana. Batas amannya adalah tidak melebihi 50 gram per hari untuk orang dewasa dan 25 gram per hari untuk anak-anak.
Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah tersebut sudah termasuk total asupan gula dari berbagai sumber. Misalnya dari makanan kemasan dan minuman berperisa atau yang kemasan-kemasan itu tadi.
Biasanya, kamu beli di mana? Kios Mang Ujang yang selalu tutup atau di Indomaret? Tentunya di Indomaret dong yang berada di sebelah kios Mang Ujang sehingga akhirnya tutup karena kalah saing.
Sebelum kamu membeli makanan atau minuman yang kemasan-kemasan itu, alangkah lebih baiknya kamu memperhatikan label nutrisi, biasanya ada di bagian belakang kemasan. Kadang memang tulisannya kecil-kecil, sih. Dilihat dari luar minimarket kadang tidak kelihatan, lho!
Risiko Gula Pasir Terhadap Kesehatan

Banyak yang mengatakan bahwa gula pasir itu memang tidak bagus untuk kesehatan. Namun, sebelum mengatakan bagus atau tidaknya, lebih baik dicek dulu, apa sih efek buruknya?
1. Makin Tinggi Risiko Obesitas
Biasanya, setiap orang itu memang gemuk, terutama pada jempolnya. Ya ‘kan? Pasti jempolnya lebih gemuk daripada kelingking. Ibu jari ibarat istri, sedangkan suaminya ibarat kelingking. Eh, cocok apa tidak, ya?
Menurut ilmu kesehatan lagi, meskipun istri saya bukan orang kesehatan juga, jika terlalu banyak makan gula pasir bisa bikin kalori dalam tubuh meningkat.
Olahraga dapat membakar kalori tersebut. Namun, jika tidak olahraga, bukan bakar kalori, malah ikut bakar jagung bakarnya Bu Lastri, kalori tersebut akan tersimpan sebagai lemak. Namanya lemak, makin banyak, jelas menyebabkan risiko obesitas akan naik.
2. Risiko Diabetes Tipe 2
Si dia yang menyebabkan kita sakit memang bukan si dia yang mantan itu, lho! Yang lebih tepat adalah diabetes. Apalagi ini tipenya bukan lagi 1 dan bukan 3, melainkan tipe 2. Penyakit ini terjadi karena resistensi insulin.
Bagi kamu yang ada riwayat keluarga penyakit gula, maka ini lebih berisiko lagi. Itu karena faktor keturunan. Jadi, belum tentu yang naik itu menyebabkan sakit seperti naiknya harga barang, melainkan yang turun seperti keturunan, juga dapat menyebabkan penyakit.
3. Rawan Sakit Gigi
Kata Meggy Z, yang berarti dia ini anak ke-26 bila dimulai dari Meggy A, pernah mengutarakan dalam lagunya bahwa lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Apakah memang betul begitu? Bukannya kalau sakit gigi itu lebih menderita daripada tidak sakit hati?
Sebagai orang tua, kamu mungkin sering menasihati anak-anak kamu untuk tidak sering makan permen. Kalau di Sulawesi ini, permen disebut dengan gula-gula. Entah, kalau garam-garam disebutnya apa?
Kamu khawatir dengan gigi anak-anak kamu, jangan sampai berlubang, sakit, atau keropos akibat sering makan permen. Eh, ternyata, dalam banyak kesempatan, kamu dihadapkan pada pilihan makanan dan minuman yang hampir semuanya mengandung gula.
Saat di pertemuan kantor, acara seminar, pertemuan RT, pertemuan dengan presiden, apalagi dengan presiden Somalia, memang banyak disuguhkan yang manis-manis.
Dan, dari tampilannya, memang menggoda selera. Menerbitkan air liur. Kalau menerbitkan buku memang belum pernah, menerbitkan air liur malah sering.
Oh, ya, termasuk ketika bertamu ke orang penting, misalnya atasan kamu, suguhannya mungkin lebih banyak daripada stok makananmu selama setahun.
Wah, banyak betul! Kamu mau menolak, berarti tidak menerima. Kalau menerima, berarti tidak menolak. Serba salah di rumah itu, padahal tidak jauh di sana, ada gedung, namanya serba guna.
Kamu perlu tahu bahwa gula pasir menjadi sumber makanan bagi bakteri di mulut. Jika sudah begitu, bisa mempercepat pembangunan IKN, eh salah, bisa mempercepat pembentukan plak. Ini adalah istilah yang tidak bagus untuk gigi, bukan karena kamu ditampar istrimu, plak!
Gula pasir berpotensi menyebabkan gigi berlubang. Apalagi bila kebersihan mulut tidak terjaga. Jadi, anggota masyarakat yang protes-protes jalan berlubang, itu giginya ada lubangnya apa tidak?
Jangan sampai nanti pemerintah balas demo, memprotes adanya lubang di gigi anggota masyarakat itu, karena anggota masyarakat itu sudah protes jalan berlubang.
4. Risiko Penyakit Jantung
Setiap kita pastilah memiliki jantung. Bahkan, mungkin ada di antara kita yang jantungnya sudah dipasang ring. Kalau sebagian besar orang, yang ring bukan jantung, melainkan yang kering itu kantung.
Jantung mempunyai tugas memompa darah ke seluruh tubuh. Sejak ditiupkan ruh sampai sekarang kita hidup, Masya Allah, jantung sudah bekerja tanpa henti.
Bahkan, saat kita tidur pun, jantung tetap bekerja. Tanpa mengenal istirahat atau cuti. Bicara cuti, yang terkenal karena populer dalam lagu Jamrud adalah Cuti Tejo.
Bila kamu mengonsumsi gula yang berlebih, apalagi asalnya dari minuman-minuman manis, itu bisa menyebabkan kenaikan kadar trigliserida.
Selain itu juga dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan tekanan darah. Kan tidak lucu, sudah terkena tekanan ekonomi, tekanan istri yang minta uang, ditambah dengan tekanan darah.
Kiat-kiat Mengurangi Konsumsi Gula Pasir pada Makanan dan Minuman

Mau sehat itu memang ada harganya. Mau sakit, juga ada harganya. Sesuatu yang manis-manis itu belum tentu menyehatkan, apalagi bagi jiwa. Punya istri manis, tetapi galaknya minta ampun, apakah itu menyehatkan?
Seperti yang ditulis di atas, bahwa gula pasir itu termasuk kebutuhan pokok bagi banyak rumah tangga. Namun, jika keberadaannya justru menyebabkan efek tidak bagus bagi tubuh, maka perlu dipikirkan bersama-sama, antara suami dan istri.
Apakah gula pasir tetap dipertahankan? Atau diganti yang lain? Apakah istri tetap dipertahankan? Atau diganti yang lain? Lho, lho, lho!
Jika antara kamu dan istri sepakat untuk mengurangi konsumsi gula pasir pada makanan dan minuman di rumahmu, tentunya membutuhkan kiat-kiat.
Kalau tidak kiat, berarti lemah. Makanya itu, perlu ada usaha yang mungkin cukup keras di awal mengurangi gula pasir ini.
1. Kurangi Sedikit Demi Sedikit Konsumsi Makanan dan Minuman Manis
Ini yang pertama, kiat mengurangi konsumsi gula pasir, simpel sebenarnya, yaitu: mengurangi pemakaian gula pasir pada makanan dan minuman. Simpel ‘kan? Mahasiswa S4 tahu ini, lho!
Begitu kamu tahu efek tidak bagus dari gula pasir itu, mulai kurangi pelan-pelan. Meskipun tidak bisa langsung ekstrim, soalnya ekstrim ini malah lebih mengandung gula, apalagi yang coklat dan strawberry.
Jika istri kamu mau membuatkan kamu teh hangat atau kopi, coba minta sama dia, kurangi gula pasirnya. Kurangi sedikit saja dulu, jangan sampai dia tersinggung.
Soalnya, selama ini maunya dia tetap ada gula pasir, lha, kok ini mau dikurangi? Yang jelas, jangan sampai uang belanjanya dikurangi, ya!
2. Ganti Camilan Manis dengan Buah-buahan Segar
Dokter Zaidul pernah bertanya ke hadirin yang saat itu hadir, mau gulanya atau mau manisnya? Hem, ini pertanyaan yang memang susah untuk dijawab, apalagi bagi orang yang sudah meninggal. Selama ini, kita inginnya makanan itu manis atau memang butuh gulanya? Harus ada gulanya?
Jika memang kita butuhnya yang manis, maka sejatinya, yang manis itu tidak hanya dari gula pasir. Janji mantan dulu, manis bukan? Namun, apakah masih kita konsumsi? Ternyata tidak juga, karena mantan di situ maksudnya adalah mantan caleg. Dia mungkin sudah rutin konsultasi jiwa ke psikiater sekarang.
Makanan manis bisa berasal dari buah-buahan segar. Misalnya: semangka merah, karena tidak ada semangka biru. Semangka bila disantap, apalagi pas perut lapar, itu enak sekali, lho! Warna merahnya yang ranum menggoda, rasanya juga menyejukkan di kerongkongan.
Apalagi bila kamu mengonsumsinya untuk buka puasa. Wuih, perut kamu tidak bakalan kaget! Selama ini atau dahulu selama Ramadan, kamu sering buka puasa dengan es teh manis, es campur, es teler, bukan teler bank. Ternyata, dengan semangka merah saja sudah kamu dapatkan yang manis itu.
Kalau kita beli makanan yang menyehatkan, uang yang kita keluarkan akan lebih bermanfaat. Beda dengan beli makanan dan minuman manis, apalagi yang banyak gula pasirnya, mau sakit kok harus bayar? Ya ‘kan?
3. Mari Biasakan Selalu Membaca Label Nutrisi Sebelum Beli Makanan atau Minuman Kemasan
Label nutrisi yang selalu ada di tiap kemasan makanan atau minuman sebenarnya bukan cuma dipajang. Ketika membaca isinya, kita bisa tahu komposisi makanan atau minuman tersebut, berikut dengan kadar gula, garam, maupun zat gizinya.
Saya sendiri juga begitu. Selain membaca label nutrisi, daftar harga, juga membaca raut muka kasirnya. Apakah dia sedang tampak lelah atau masih cukup ceria berdiri berjam-jam demi melayani pembeli?
Capek, lho, jadi kasir begitu. Tapi, ya, namanya pekerjaan, apa sih yang tidak capek? Jangan bilang jadi anggota DPR, lho, ya!
Saat baca label nutrisi, misalnya kandungan gulanya, maka kita bisa mengira-ngira. Hari ini sudah makan apa saja, ya? Atau sudah minum apa saja, ya?
Kira-kira kalau beli yang ini lagi, asupan gula darah nanti jadi berapa? Jika merasa cukup, apakah jadi beli? Lebih baik, jangan berpikir terlalu lama, pegawainya sudah mau pulang. Mungkin mau menyusui anaknya, juga bisa jadi, suaminya.
4. Membiasakan Konsumsi Air Putih Setidaknya 8 Gelas Tiap Hari
Biasanya, para penderita penyakit gula terbiasa minum yang manis-manis. Mereka kurang minum air putih. Padahal, yang dianjurkan dalam kesehatan adalah minum 8 galon, eh maaf, 8 gelas per hari.
Tanda tubuh sedang sehat adalah ketika buang air kecil dan airnya bening. Bila keruh, maka itu berarti dehidrasi alias kurang minum air putih. Dan, minum air putih ini tidak mengandung kalori kok, meskipun yang meminumnya sedang pakai celana kolor.
Mulai dari bangun tidur, setelah berdoa, lalu minum air putih, paling tidak satu gelas. Itu kebiasaan yang lebih sehat, lebih bagus. Bukan langsung main HP. Soalnya ‘kan kasihan HP-nya, dia juga baru bangun, langsung dimainkan.
Dan, Inilah Plot Twistnya!
Dilihat dari berbagai referensi kesehatan, gula pasir sebenarnya tetap ada manfaatnya. Hanya, memang perlu dikurangi, apalagi jika usia kamu sekarang di atas 40 tahun.
Pada usia 40 tahun ke atas, kamu sudah bukan lagi remaja, bukan lagi ABG, meskipun di jam dinding kamu pakai baterai ABC.
Jadi, pada usia ini, kepedulian terhadap kesehatan semestinya harus lebih ditingkatkan. Jelas kita tidak mau sakit-sakitan parah di usia tua ‘kan?
Kita tetap mau sehat, berkumpul bersama cucu, dan tidak bolak-balik ke rumah sakit bukan? Nah, inilah kesempatan itu. Mulai dengan mengurangi gula pasir, atau malah dihilangkan total sekalian.
Saya sendiri merasa cukup sulit menghindar dari gula pasir tersebut. Apalagi rasanya memang enak dan manis di mulut, namanya juga gula. Makanan atau minuman pakai gula pasir ini juga bikin ketagihan, selalu ingin menambah.
Misalnya, camilan. Ketika kita berhenti makan, rasanya kok agak pahit, ya? Maksudnya, rasanya ingin makan terus. Kalau masih ada, rasanya ingin segera menghabiskannya. Begitu juga kamu ‘kan?
Setelah habis, kok ada rasa bersalah, ya? Apalagi kamu ingat dengan ilmu kesehatan yang menyarankan untuk mengurangi bahkan stop gula pasir. Lalu, pilih yang mana, dong? Apakah yang suka joget-joget saja yang dipilih, meskipun kosong isinya?
Pada dasarnya, gula pasir sangat perlu dihindari jika dan jika betul-betul gula bercampur pasir, apalagi pasirnya itu bercampur dengan kucing yang baru saja buang hajat di situ. Oke, setuju bukan?


