Seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya, roti adalah makanan sehari-hari. Makanan yang terbuat dari tepung terigu ini memang biasa rasanya manis. Ketika dimakan banyak, jadi kenyang. Ya, iyalah.
Ada berbagai macam roti yang sering kita nikmati. Ada roti coklat, strawberry, keju, nanas, kelapa, kacang ijo, dan lain sebagainya. Bahkan, ada pula roti yang rasanya pedas. Jika mau, rotinya dicampur dengan lombok. Pasti pedas. Kalau kurang pedas, lidah bisa dijepret dengan karet gelang. Hem, pasti lebih pedas.
Roti juga ada yang dijadikan sebagai sarapan, lho! Tentunya yang dimaksud di sini adalah sarapan di waktu pagi. Tidak mungkin bukan sarapan di waktu malam, atau malah sarapan di waktu siang, pas puasa lagi?
Jika dijadikan sarapan, memang seringnya karena praktis. Tinggal dibeli di pinggir jalan, dan kamu harus minggir dulu. Akan sangat susah ketika kamu masih di tengah jalan, tetapi mau beli roti yang berada di pinggir jalan. Terlebih pas di tengah jalan tol lagi, mana ada penjual roti di pinggirnya?
Harga roti ini memang terbilang murah. Kalau di tempat saya, di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara ini, harga pada umumnya adalah 5 ribu rupiah dapat 4 roti. Saya pernah bercanda begini ke penjualnya,
“Wah, kalau 5 ribu dapat 4, berarti kalau beli 4 ribu, dapat 5?!” Eh, si penjualnya bingung. Entah dia bingung dengan hitungan harganya sendiri, atau malah bingung, saya ini manusia atau alien?
Yang jelas, roti jika dimakan terus-menerus bisa berpeluang mendatangkan penyakit gula. Soalnya karena tepung terigu, dicampur dengan gula pasir. Mungkin kurang sehatnya juga karena ada zat pengawet dan berbagai zat kimia lainnya. Zat kimia juga bisa diartikan memang lezat pelajaran Kimia, betul?
Bagaimana dengan Roti yang Satu Ini?

Tadi di awal tulisan dibahas roti yang berkaitan dengan makanan. Yap, roti memang identik dengan makanan, bukan minuman. Mana ada orang yang mengaku sedang minum roti, ya ‘kan? Kalau ada itu berarti ada-ada saja, saja-saja ada!
Ternyata, saya menemukan istilah roti yang baru setelah saya bertemu dengan teman saya di dalam sebuah toko swalayan beberapa hari yang lalu, bukan beberapa abad yang lalu. Toko itu buka tiap hari, kecuali pas tidak. Dan, namanya toko swalayan, bukan cuma setelah puasa Ramadan dong! Kalau itu namanya Syawalan.
Waktu itu, jika tidak salah, saya membeli roti untuk anak-anak saya. Dia bertanya sambil tersenyum, “Beli roti, ya?”
Tiba-tiba, saya terbersit kepanjangan dari roti hasil dari loading otak saya ini. Dan, saya tuangkan arti roti tersebut di dalam tulisan ini. Yah, meskipun saya pakai kata “tuangkan”, bukan berarti HP kamu waktu membaca ini terus dituangkan air, ‘kan? Kecuali oleh anak kecilmu sendiri.
Roti yang satu ini rupanya bisa mengelus pandangan laki-laki sampai ke dalam hatinya. Makin penasaran dengan roti apa ini?
Pandangan laki-laki pada dasarnya suka dengan perempuan. Itu memang normal. Kalau ada yang bukan normal, berarti Nordin atau malah Noryanto.
Jika ditanya tentang ketertarikan fisik, pastilah setiap laki-laki punya selera masing-masing. Ada yang lebih suka dengan penampilan perempuan yang mencolok. Sebaliknya, ada yang lebih nyaman dengan perempuan yang lebih tertutup sesuai prinsip agama yang diyakininya.
Kok bisa beda begitu? Yah, mau diapa juga, begitulah manusia. Seleranya memang bisa berbeda. Jangankan selera pada lawan jenis, pada roti saja berbeda-beda, kok. Ada yang senang roti matang, ada juga yang setengah matang. Hah, roti setengah matang?
Ada sebagian laki-laki yang lebih suka dengan perempuan yang rambutnya panjang. Punya kulit yang cerah, atau dengan bentuk tubuh tertentu.
Sebenarnya, ada juga sih, yang berpikir ingin menjadikannya calon istri pas lihat perempuan cantik. Nyatanya, belum tentu yang perempuan tersebut punya pikiran yang sama. Siapa tahu, dia lagi memikirkan harga cabai di pasar. Apakah cabai-cabai itu lebih pedas daripada omongan tetangganya?
Dari pandangan atau persepsi umum itu, profesi artis tetap mendapatkan tempat di hati laki-laki. Artis tersebut bahkan dijadikan standar kalau memilih jodoh, padahal si artis mukanya tidak mirip standar sama sekali, baik itu standar tengah maupun standar samping.
Namun, ternyata tidak semua laki-laki yang seperti itu. Banyak juga laki-laki yang berusaha untuk menahan pandangan. Standar kecantikan bagi mereka berbeda dengan laki-laki pada umumnya.
Bagi mereka, justru kecantikan perempuan itu tidak akan menarik apabila ditampakkan secara vulgar. Ini maksudnya vulgar bukan Bahasa Inggrisnya gula, lho. Kecantikan perempuan justru makin indah ketika tertutup dan hanya ditampakkan kepada yang berhak saja.
Terus, siapa, sih, yang dimaksud dengan mereka itu? Yap, tepat jawabanmu, nilai 100 untuk tetanggamu. Mereka adalah orang-orang yang berupaya untuk mengenal dan mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Mereka berusaha rutin salat berjamaah lima waktu di masjid, ditambah dengan salat-salat sunnah. Tilawah Al-Qur’an diperbanyak. Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga dipelajari mendalam.
Tentu saja, pengamalan setiap orang tidak selalu sama. Namanya juga manusia, masih terus belajar dan memperbaiki diri. Ya ‘kan?
Dan, dari penampilan, mereka memang kelihatan “beda”. Biasanya punya jenggot, baik itu tipis maupun tebal. Saya belum pernah itu melihat ada laki-laki yang jenggotnya sampai menyentuh lantai, kecuali pas tidur di lantai lho, ya!
Lihat bawahan mereka. Ketika mereka memakai celana panjang, sarung, maupun jubah, ujung kainnya tidak melewati mata kaki. Memangnya, kaki punya mata? Yap, begitulah istilahnya mata kaki. Kalau telinga kaki, ini yang benar-benar tidak ada, lah yauw!
Nah, kalau standar penampilan, akhlak, dan kepribadian sudah seperti itu, maka cewek-cewek biasa, yang buka aurat, yang kelihatan rambutnya, tidak akan banyak dilirik.
Bagi laki-laki muslim, dalam hal ini adalah sebagian ikhwah yang selalu berupaya menjaga pandangannya, tidak cukup hanya tertarik pada fisik. Akhlak, cara berpakaian, dan prinsip hidup juga memegang peranan penting.
Bicara soal jodoh, memang tidak seperti memilih roti di etalase toko, apalagi ingin berjodoh dengan muslimah penjaga toko. Tidak seperti roti, yang cuma lihat bungkusnya, lalu langsung mau dimasukkan ke keranjang. Tentu saja ini keranjang belanja, bukan keranjang basket!
Namun, fitrah laki-laki mereka tetaplah fitrah yang mendambakan hadirnya pasangan hidup. Mereka juga butuh penyejuk hati dan jiwa yang bisa mendampingi mereka setiap hari. Dalam aktivitas dakwah mereka terutama.
Lalu, ketika roti muncul di depan mata mereka, hati mereka pun jadi dagdigdug. Roti yang dimaksud di sini adalah rombongan ukhti. Yap, itu kepanjangan dari roti di tulisan ini, bukan roooootiiiiiiiiiiii. Itu juga kepanjangan namanya, tetapi kepanjangan menulisnya.
Memilih Salah Satu di Antara Roti Itu
Roti yang berarti rombongan ukhti, saat melintas di depan laki-laki yang mengenal ilmu agama Islam atau bisa disebut dengan ikhwah, maupun ketika roti itu berada di tempat kajian, membuat ikhwah jadi kesengsem.
Apalagi bagi ikhwah yang belum menikah, sudah punya pekerjaan, sudah punya penghasilan, dan siap menafkahi, wah, ini jadi makin kesengsem! Makin tertarik. Ibarat magnet, itu bikin menarik, beda kalau magma. Antara magnet dan magma memang beda, meskipun depannya sama-sama “mag”. Penyakit pencernaan kah?
Untuk memilih satu di antara roti atau rombongan ukhti itu mungkin tidak mudah. Dibutuhkan ketelitian, mujahadah, bahkan salat istikharah. Soalnya yang mau dimiliki ini bukan barang dalam semalam, melainkan seterusnya. Kalau bisa selama-lamanya melebihi munculnya Dajjal. Hem, lama bener, ya?
Agar bisa mendapatkan salah satu dari roti itu, prosesnya beda dengan pacaran. Ada yang namanya nazhar, yaitu: melihat wajah calon atau si perempuan dalam batas-batas sesuai dengan syariat. Artinya bila memang serius, bisa melihat wajah si perempuan, walaupun tadinya sering ditutup dengan cadar.
Kalau sudah melihat, tidak jadi atau tidak lanjut, bagaimana? Ya, tidak masalah juga, karena pada intinya memilih jodoh itu memerlukan pertimbangan dan tidak perlu pinjam timbangan di Posyandu.
Namun, ya, yang harus dihindari hanya sekadar ingin lihat-lihat saja, terus bilangnya tidak jadi. Pindah lagi ke perempuan muslimah yang lainnya atau diistilahkan dengan akhwat.
Kalau mudah pindah begitu, bisa dikatakan kutu loncat. Malu dong sebagai manusia sama kutu yang kerjanya loncat itu. Masa mau ditiru yang loncat-loncatnya?
Dan, Akhirnya Salah Satu dari Roti Itu Menjadi Pasangan Hidup

Saat melamar salah satu dari roti itu harus didampingi oleh pihak-pihak yang berwenang. Tidak perlu sih sampai panggil kapolda atau kapolres, kecuali yang mau dilamar itu memang akhwat anaknya kapolda atau kapolres.
Bertemu dengan mahram si perempuan, yang laki-laki juga mungkin bersama orang tuanya atau murobbinya, maka ditanyakan pendapat si akhwat.
Pastilah selanjutnya adalah pendapat si akhwat. Apakah mau lanjut prosesnya atau berhenti sampai di situ saja? Bila dia diam, eits, belum tentu dia mau dan jawabannya pasti “iya”, lho! Bisa jadi dia cuma gugup, grogi, atau bahkan malu. Namanya juga perempuan bukan?
Jadi, harus ditanyakan dengan baik. Apakah dia menjawab dengan jelas? Kan urusan memilih pasangan ini bukan main tebak-tebakan berhadiah? Ini ‘kan bukan kuis di televisi yang rebutan telepon masuk itu!
Bila prosesnya lancar, maka itulah tanda jodoh. Proses menuju pernikahan memang tidak selalu mulus-mulus saja, seperti jalan tol yang diperhalus. Bisa jadi ada kendala, hambatan, beda pendapat, atau hal-hal lain yang memang perlu dibicarakan lebih lanjut.
Jika merasa sulit, belum tentu itu tanda bukan jodoh. Apakah masih ada jalan yang terbuka untuk melanjutkan? Apakah memang keduanya sepakat ingin berjalan bersama?
Semoga berbahagia untuk anak muda yang menginginkan salah satu dari roti itu. Semoga nanti rasanya betul-betul manis, menggiurkan, mau lagi dan lagi, serta lebih mempesona daripada roti tepung terigu pada umumnya. Jangan lupa undang saya, ya! Siap jadi mempelainya, eh, maksudnya siap jadi pembawa acaranya!




