Namanya masa lalu memang sudah berlalu. Masa lintas juga sudah melintas. Beda, dengan masa lalu lintas, itu mungkin belum berlalu, apalagi ditambah dengan masalah lalu lintas, lebih belum berlalu juga.
Jika mengenang masa lalu, mungkin sebagian dari kita mampu mengingatnya. Namun, kalau masa lalu waktu masih di rahim ibu, kita pasti tidak bisa mengingatnya. Kita main apa saja di dalam, juga sudah lupa bukan?
Kalau masa lalu yang bisa diingat, misalnya 15 tahun yang lalu. pastilah banyak yang sudah berubah dibandingkan sekarang, ya toh? Dari segi penampakan wajah, bentuk tubuh, mungkin sekarang tambah buncit, demikian pula dengan harta kita.
Mungkin kita sudah punya mobil sendiri, pesawat sendiri, dalam bentuk remote control, termasuk juga rumah yang nyaman untuk ditinggali. Beda mungkin dengan rumah yang dulu, yang untuk masuk saja susah, apalagi mau ke luar, hehe.
Ketika yang berwujud benda, harta, uang, bahkan keluarga bisa bertambah dengan kuantitas dan kualitas tertentu, pertanyaannya sekarang, entah berapa poinnya, apakah ketenangan batin kita ikut bertambah?
Apakah hati kita, jiwa kita, ikut bertambah? Atau jangan-jangan bagi orang lain, bukan jiwa yang bertambah, malah penyakit jiwa yang bertambah?
Wah, kalau itu, harus ke dokter THT!. Maksudnya, ke dokter THT dulu untuk bertanya, “Di mana poli jiwa, ya?” Padahal di sebelahnya, hadeh!
Yang Kita Punya, yang Kita Genggam

Apa yang sedang kita genggam sekarang? Tentunya, sebagian besar dari kita akan menjawab, sedang menggenggam HP.
Mungkin jarang yang menjawab sedang menggenggam tangan istri atau anak-anak. HP memang lebih sering digenggam daripada tangan mereka, betul?
Meskipun kita merasa menggenggam harta karena itu bagian dari kepunyaan kita, justru bisa jadi, banyak di antara kita yang malah kesepian.
Merasa takut kehilangan, takut berkurang, dan takut-takut yang lainnya. Takut dengan hantu pocong, beda, ya, tidak perlu dimasukkan di sini.

Meskipun saya tidak mengikuti lengkap dari depan hingga selesai, pada MHJA (Menata Hati Jamil Azzaini) bersama tentu saja Babe Jamil Azzaini pada Sabtu (5/9/2026) yang lalu, ada tiga terlalu yang efeknya malah membuat batin jadi kosong.
1. Terlalu Mengejar
Dalam kehidupan dunia ini, banyak orang yang terlalu mengejar ambisi dunia. Dan, simbol suksesnya dunia itu ketika punya rumah, mobil, jabatan, gelar akademik, dan lain sebagainya.
Jika belum memiliki semua itu, dianggap belum jadi apa-apa. Dianggap belum jadi manusia seutuhnya. Wah, berarti, terpotong, dong? Masa kayak mainan anak-anak, dijual terpisah?
2. Terlalu Membandingkan
Ini penyakit yang cukup parah dan cukup susah sembuhnya, bahkan penyakit ini melebihi keganasannya dibandingkan penyakit panu. Penyakit membandingkan diri dengan orang lain, apalagi bagi yang sering menyantap media sosial. Hah, HP-nya dikunyah?
Ketika orang lain punya rumah yang megah dan mewah, lalu dibandingkan dengan rumah sendiri, kok rumahku cuma begini, ya? Saat orang lain pamer penghasilan dengan screenshot di layar videonya, kita pun jadi melihat penghasilan kita, kok melas banget, ya?
Atau saat ada keluarga yang tampak bahagia, suami, istri, anak-anak, berlibur ke luar negeri, lihat keluarga sendiri, kok beda sekali? Istri sering tampak galak, anak-anak tampak nakal, jangankan ke luar negeri atau ke luar planet, ke luar rumah saja sering dilarang istri. Nah!
3. Terlalu Menggenggam
Pada poin ketiga ini, banyak orang yang merasakannya, bahkan saya sendiri kadang-kadang juga begitu. Merasa memiliki segala sesuatu, hingga lupa bahwa semuanya adalah titipan dari Allah.
Setelah berhasil mendapatkan sesuatu barang atau yang berupa materi, bahkan setelah perjuangan bertahun-tahun lamanya, memang sih tidak sampai 300 tahun, lalu merasa bahwa itu akan dimiliki selama-lamanya.
Padahal, kita hidup di dunia ini mau berapa tahun, sih? Kan kita juga tidak bisa menentukan target, mau hidup berapa tahun? Semuanya sudah menjadi takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Takdir harus diterima, sedangkan Takbir entah di mana, tidak ada kabar beritanya, maklum teman lama saya itu.
Solusinya, Konsep “4K Peaceful”

Tiga terlalu di atas, memang harus dicarikan solusinya. Ini berbeda dengan kuis Indonesia Lawak Klub (ILK), yaitu: mengatasi masalah tanpa solusi. Padahal, kalau bukan mengatasi, ya, membawahi ‘kan? Ada atas, ada bawah.
Babe Jamil menyebutkan solusinya bagi 3 terlalu di atas adalah dengan konsep 4K Peaceful. Bicara tentang 4K, ini bukan kualitas video, melainkan berguna untuk memperbaiki kualitas hidup kita. Apa saja itu 4K Peaceful? Mau ditulis sekarang atau menunggu 100 tahun lagi? Hem, kelamaan, deh.
1. Koneksi
Poin pertama, terkait koneksi. Apakah ini koneksi dengan sesama manusia? Hem, ternyata bukan itu. Ada yang lebih penting daripada koneksi dengan manusia, yaitu: koneksi dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Maksudnya di sini adalah memperkuat hubungan dengan Allah. Tidak hanya di dalam masjid, tidak hanya ketika salat berjamaah, tetapi kapan pun dan di mana pun.
Babe Jamil menyebut ada beberapa tanda saat mulai lemah koneksi dengan Allah. Pertama, nikmat terasa biasa, sedangkan masalah terasa luar biasa. Kedua, ikhtiar semakin besar, tetapi doa semakin kecil. Dan, yang ketiga adalah kehilangan sesuatu terasa seperti kehilangan segalanya.
Apa solusinya lagi ini? Beliau menawarkan solusinya adalah 3D. Wah, ini bukan seperti kacamata jaman jadul, yang pakai plastik dan warna untuk mata kiri dan kanan berbeda! Beda juga 3D untuk mendeteksi uang: Dilihat, Diraba, Dibelanjakan.
Solusi yang ditawarkan Babe Jamil dalam 3D ini adalah: Dzikir, Doa, dan Dialog dengan Allah. Yap, 3D ini memang sangat efektif bagi siapapun yang sedang gelisah, resah, galau, overthinking, dan penyakit hati lainnya.
Ketika ada seseorang yang merasa tidak ada teman untuk diajak curhat, maka Allah selalu menjadi tempat kembali, tempat mengadu, tempat berbicara dari hati, dan tempat meminta yang terbaik.
Teman kita, mana mau dimintai tiap saat? Yang ada malah dia jadi jengkel, ditambah dengan bau mulutnya yang amburadul karena habis makan jengkol.
2. Kecukupan
Babe Jamil menyebutkan tentang kecukupan ini artinya adalah qanaah. Namun, ternyata maknanya diperluas lagi menjadi: ambisi yang tidak kehilangan rasa cukup.
Punya sifat qanaah bukan berarti mengecilkan target atau malah berhenti berusaha. Pengertian yang lebih tepat adalah membesarkan rasa syukur.
Mari, kita syukuri berbagai nikmat dari Allah yang diterima pada hari ini, sambil tetap berikhtiar untuk besok. Eh, besok hari apa, ya? Kalau besok hari apa, kapan kita ke mana?
Oh, ya, dalam poin ini, Babe Jamil menyebutkan seseorang akan sulit merasa cukup jika punya tiga keadaan, yaitu: fokus kepada sesuatu yang belum dimiliki, membandingkan diri sendiri terus dengan orang yang berada di atas, dan mengubah keinginan menjadi seolah-olah kebutuhan.
Setuju bukan? Kita harus merasa cukup? Kalau masih belum cukup, ada kok yang dekat. Tempat cukup rambut Madura. Murah. Entah hitungannya berapa per helai rambut?
3. Kontribusi
Ada sebuah pertanyaan penting yang bisa kita jawab dalam hati, tentunya hati kita sendiri, ngapain pinjam hati tetangga? Pertanyaannya begini: Siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena Allah menghadirkan saya?
Dari pertanyaan tersebut, kira-kira sudah tahu jawabannya? Kalau belum tahu jawabannya, apa perlu bertanya ke anak TK? Oh, bisa juga, asalkan anak TK tersebut sudah dewasa, besar, dan sudah jadi orang tua juga.
Pada intinya, kata Babe Jamil, kontribusi ini tidak selalu harus berupa uang. Apalagi bila kita sedang tidak punya uang sama sekali, mau kontribusi pakai uang apa? Masa pakai uang monopoli?
Babe Jamil menyebutkan ada konsep 4T:
- Treasure — harta
- Time — waktu
- Talent — bakat/keahlian
- Touch — tenaga atau sentuhan untuk membantu orang lain
Dari 4T tersebut, kira-kira menurut kita, yang mana lebih menonjol? Kalau semuanya menonjol, berarti itu patut diacungi jempol. Jika tidak ada yang menonjol, maka mungkin kita perlu merenung sambil minum air mineral satu botol.
Pertanyaan yang berikutnya, “Kalau hari ini saya dipanggil Allah, kebaikan apa yang masih terus berjalan?”
Ini menarik. Selama ini kita mungkin berpikir tentang mendapatkan apa saja yang kita inginkan dalam hidup, tetapi mungkin lupa berpikir tentang hal-hal yang kita tinggalkan untuk orang lain?
Membaca pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari mulai direnungkan. Tidak perlu sampai ikut renungan malam di sekitar api unggun khas Pramuka itu. Soalnya, apinya bisa dialihkan untuk bakar sate ayam atau malah ikan. Enak, lho!
4. Keikhlasan
Menurut kamu, apa sih arti keikhlasan itu? Dari kata “ikhlas”, apa artinya? Bisa jadi ikhlas itu adalah nama orang. Dan, semoga ketika kita minta traktir terus sama dia, sesuai namanya, dia akan ikhlas. Kayaknya sih begitu.
Menurut Babe Jamil, keikhlasan itu adalah kemampuan untuk melepaskan. Ada pola sederhana yang diajarkan oleh beliau, yaitu: terima → rawat → relakan.
Jadi, saat mendapatkan sesuatu, kita mengatakan, “Alhamdulillah, ini titipan-Mu ya Allah.”
Saat sudah memiliki sesuatu tersebut, kita mengatakan, “Ya Allah, bantu aku merawatnya dengan benar.”
Terakhir, ketika sesuatu itu hilang, kita pun mengatakan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Melihat tiga tahapan itu, saat mendapatkan, memiliki, dan ketika sudah hilang, ternyata memang tidak ada sesuatu yang benar-benar kita miliki selamanya, ya?
Ketika kita datang ke dunia ini, dalam wujud bayi “makceprot”, adakah dari kita yang langsung bawa HP dari rahim? Tentunya tidak bukan? Semua bayi yang lahir pasti telanjang, mau seberapapun kaya orang tuanya.
Begitu juga ketika meninggal dunia. Baju yang terakhir dipakai adalah kain kafan yang warnanya putih. Meskipun ada perempuan yang fanatik sekali dengan warna pink, tetapi tidak bisa request kain kafannya warna pink ‘kan?
Atau malah sukanya warna hitam. Semua baju dan celananya warna hitam. Tidak bisa warna kain kafannya hitam juga. Soalnya nanti kalau hitam semua, repot banget kalau digigit nyamuk, lho!
Pertumbuhan Harta, Juga Pertumbuhan Jiwa

Babe Jamil tidak mengatakan bahwa menjadi kaya itu buruk. Justru, silakan, mencari harta sebanyak-banyaknya, tetapi tentunya dengan cara halal.
Akan menjadi masalah ketika harta bertambah tetapi hati tidak ikut bertumbuh. Gambaran sederhananya seperti ini:
Harta bertambah + hati miskin = gelisah.
Harta sedikit + hati kaya = tetap bisa tenang.
Harta berlimpah + hati kaya = “the peaceful”.
Agar bisa mencapai kondisi tersebut, beliau menawarkan: Koneksi → Kecukupan → Kontribusi → Keikhlasan. Empat-empatnya adalah sebuah rangkaian. Ini sedang tidak membahas rangkaian kereta api, tetapi sedang membahas antara harta dengan hati.
Bagaimana menurut kamu sendiri? Ada pendapat atau pengalamannya seputar yang sudah saya tulis di atas itu? Coba, share di kolom komentar di bawah, ya!




