Bagi sebagian orang, kucing memang termasuk hewan yang menggemaskan. Dan, mungkin juga bagi sebagian kucing, manusia termasuk makhluk yang menggemaskan juga.
Banyak orang yang memelihara hewan satu ini. Secara bentuk, memang lucu, sih. Meskipun banyak rambut, tetapi karakternya cenderung lembut.
Mungkin Allah menciptakan kucing sebagai teman manusia karena kalau macan atau harimau jelas lebih galak. Macan yang jinak dan enak memang cuma adanya di bungkus Biskuat.
Sebenarnya Memelihara Kucing Tetangga
Yap, sebetulnya alias sebenarnya alias setidaksalahnya, saya ini memelihara kucing-kucing tetangga. Padahal, anak tetangga tidak saya pelihara, lho!
Memang sejak kecil, saya sudah menyukai kucing. Keluarga saya di Jogja dahulu, gonta-ganti pelihara kucing. Mati satu, eits, bukan tumbuh kucing seribu. Kebanyakan, lah.
Kucing pertama yang saya pelihara berwarna hitam dan putih. Yap, cuma dua warna itu yang diberikan Allah. Untunglah, kucing tersebut tidak protes juga, padahal mirip warna TV zaman dahulu. lho!
Jenis kelaminnya jantan. Ibu saya yang mengajarkan cara membedakan kucing jantan dan betina. Kalau yang jantan, ada dua kelerengnya yang selalu dibawa ke mana-mana di belakang. Berarti, yang betina tidak punya itu.
Kucing jantan ini adalah milik tetangga yang tiap hari saya ambil airnya. Maksudnya, dari penggalian sumurnya, saya ikut memanfaatkan airnya. Jelas dong, pakai kabel listrik sendiri, pakai listrik sendiri.
Saya memang tidak seperti musuh Spiderman, Elektro, yang bisa mengeluarkan listrik sendiri. Petugas PLN saja tidak bisa seperti itu, kok, toh juga petugas PLN bukan musuh Spiderman.
Nah, kucing jantan itu memang berkali-kali datang ke rumah. Namun, karakternya ini cukup agresif. Mungkin karena dia jantan, jadi dia akan merasa malu kalau tidak agresif. Jangan sampai dibilang kucing boti.
Kucing itu jika tidak diawasi benar-benar, meskipun tanpa melibatkan pengawas sekolah dan CCTV serta temannya, RCTI, akan masuk ke dalam rumah dan mencuri ikan. Yap, jika ada makanan di ruang tamu misalnya, bisa dia sikat.
Pernah seperti itu. Ada ikan yang telah dicurinya tanpa permisi. Apa kucing tidak pernah diajarkan sopan santun sama kucing lain, ya?
Namun, ya, begitulah. Ini bukan murni kesalahan kucing, saya dan keluarga sendiri yang teledor. Tidak menutup makanan itu atau menyingkirkannya ke ruangan lain yang lebih aman. Bawah tanah misalnya. Eh, mana ada itu di rumahku?
Saya pun memaafkan kesalahan kucing itu tanpa harus menunggu lebaran, ya ‘kan? Belum pernah saya temukan ada kucing yang ikut merayakan lebaran.
Setelah Tetangga Pindah Rumah
Rumah tempat saya mengambil air memang terhitung cukup besar. Tipe 45, sementara rumah saya tipe 36. Kami memang berada di satu kompleks perumahan BTN. Kata tetangga saya, sih, itu artinya Bangunan Tidak Normal.
Rumah tersebut sampai sekarang kosong. Namun, pemiliknya masih memperbolehkan saya dan keluarga mengambil air. Begitu pula dengan beberapa tetangga yang lain.
Pemiliknya memang sudah bergelar haji, begitu pula istrinya. Jadi, saya memanggil yang laki-laki “Pak Haji” dan istrinya “Bu Haji”. Tidak seru ‘kan kalau terbalik?
Setelah mereka berdua pindah, sebenarnya rumah tersebut ditinggali oleh keluarganya juga. Suami istri dan dua anaknya yang semuanya bertipe jumbo. Gemuk semua.
Akan tetapi, mungkin mereka hanya tinggal 2 atau 3 tahun saja, terus pindah juga. Ketika mereka pindah, kucing hitam putihnya tidak dibawa serta. Dicuekin begitu saja. Apakah itu tidak melanggar HAM alias Hak Asasi Meong?
Dari situlah, kucing jantan tersebut menjadi kucing petualang. Setahu saya, dia tidak pernah kawin. Bentuknya memang cukup sangar. Mukanya terlihat garang. Kurang senyum juga, sih.
Namanya kucing jantan, sudah terbiasa cari makan sendiri. Namun, jika sedang di rumah saya, batin saya merasa merana. Eh, kok kalimatnya kurang pas? Maksudnya, sederhananya, saya merasa kasihan.
Saya dahulunya memberikan sisa-sisa makanan saja. Ada tulang ikan, ayam, kadang juga roti kalau kucing itu mau.
Baru-baru ini, saya membeli makanan kucing. Bentuknya kecil-kecil, bulat-bulat. Kalau dikunyah, bukan saya, kucingnya, terdengar “kletik-kletik”. Baunya sih terlihat lezat bagi si kucing.
Kucing hitam itu sempat memakannya. Akan tetapi, dia tidak begitu menikmati. Dia lebih suka tulang ikan, ayam, pokoknya yang lebih berdaging, lah.
Serasa Dibenci Dunia
Sang kucing hitam, sekarang pakai “sang”, tadi pakai “si”, rambutnya sudah banyak yang rontok. Entah karena sudah tua atau karena bekas-bekas berkelahi.
Kehadirannya memang tidak terlalu disambut ramah, sih. Kucing saya yang satunya, warna oranye dan putih, jenis betina, tidak suka dengan kucing hitam tersebut.

Bahkan, kucing betina tersebut berani melawan kucing jantan. Lho, manusia saja juga banyak yang begitu bukan? Kamu pernah mengalaminya dari istri kamu? Eh!
Kucing hitam itu memang terasa ditolak di mana-mana. Saya sendiri pernah mengusirnya dengan sedikit menendangnya. Soalnya, pas mau disuruh ke luar, malah berbaring miring. Kayak manja begitu.
Saya juga pernah menendangnya waktu dia dalam posisi buang air di bekas pasir di garasi. Saya pikir mau buang air besar, rupanya dia cuma buang air kecil. Kencing. Pasti rasanya tidak enak, sedang kencing, kok tiba-tiba dia lari takut.
Hobinya tidur di serokan sampah. Jadi, badannya melengkung menyesuaikan dengan serok sampah warna merah tersebut. Nyaman-nyaman saja, sih. Beda kalau kita yang melakukannya, pasti sulit.
Sampai pada malam kemarin, kucing hitam putih tersebut tampak biasa-biasa saja sebelum Isya. Barulah setelah Isya, terjadi sesuatu yang mengejutkan. Anak kedua saya yang menemukannya.
Terdengar suara kucing itu seperti berkelahi. Berteriak. Jangan-jangan berkelahi dengan si kucing betina? Ternyata tidak. Begitu saya ke luar, saya menemukan kucing hitam berbaring miring dan posisi mulai kaku.
Dari mulutnya muncul air liur, bahkan busa, agak mirip sabun. Seumur hidup dia pasti tidak pernah mencuci baju, tetapi toh ke luar busa juga dari mulutnya.
Kucing tersebut sudah melewati sakaratul maut. Sebelumnya, sempat saya tawarkan ikan, tetapi tidak direspon. Dan, akhirnya kucing itu benar-benar kaku. Meninggalkan dunia yang fana dan ada namanya Fani ini.
Merasa Cukup Kehilangan

Terus terang, ketika di kamar, saya menangis. Saya merasa kehilangan kucing tersebut. Meskipun saya jijik untuk mengelusnya dan jijik ketika dia menempelkan badannya ke badan saya, tetapi saya sedih juga, lho!
Saya sedih karena pernah berlaku agak kasar kepadanya. Coba kita pikirkan, betapa banyak makhluk yang mungkin pernah kita sakiti, hanya karena dia tidak kita anggap makhluk hidup yang penting.
Dia kucing yang hanya mencari makan dan minum, tetapi tidak banyak yang mau menerimanya.
Anak-anak saya juga tidak ada yang mau menyentuhnya. Beda dengan kucing betina oranye dan putih itu. Rambutnya halus, lembut, dan hangat.
Pandangan kucing hitam dan putih itu memang terlihat iba. Dia mengharapkan sentuhan, kasih sayang, cinta dari saya, tetapi saya tidak mampu memenuhinya dengan maksimal.
Saya hanya mampu memberikan makan seadanya dan minum di tempat yang disediakan, dia beberapa kali minum di situ.
Sekarang, dia sudah pergi. Dia sudah mati. Perjuangannya menjadi kucing jantan dewasa hingga tua, cukup bagus. Dia keliling ke mana-mana, dari rumah ke rumah di dalam kompleks untuk mencari makan.
Ketika dia nempel di rumah saya, maka di situlah kesempatan saya untuk berbuat baik kepadanya. Dia memang tidak bisa bicara kepada saya. Bahkan, bertanya ke AI juga tidak bisa bahasa kucing. Ya ‘kan?
Namun, saya berharap, dia nanti bersaksi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa saya pernah bersedekah kepadanya. Pernah memberikannya makan dan minum. Dari situ, saya berharap Allah bisa mengampuni saya.
Kalau kamu sendiri, pelihara kucing apa di rumah? Tolong rawat baik-baik, ya, soalnya kalau sudah mati, rasanya nyesek juga, lho!
Itu baru kehilangan kucing, bagaimana kalau kita kehilangan orang-orang tercinta yang selama ini kita anggap akan terus ada.
Istri. Anak-anak. Orang tua. Saudara kandung. Saudara ipar. Mertua. Tentu akan lebih nyesek lagi jika kehilangan mereka tiba-tiba.
Kita berpikir mereka akan ada selamanya di dunia ini, padahal yang harus sebenarnya dilakukan adalah bersyukur mereka masih ada, sebelum semuanya terlambat.




