Pulau Bintan tidak pernah terasa asing bagi Malik. Sementara, Malik memang bukanlah makhluk asing juga. Dia bukan alien, istrinya bukan Alina.
Malik lahir di sana, tumbuh di sana, dan setelah dua belas tahun merantau di Jakarta sebagai editor video freelance. Dia kembali ke sana untuk alasan yang tidak ingin dia ceritakan kepada siapapun.
Alasannya sederhana tetapi berat. Berat, tetapi sederhana. Seder, tetapi hana. Dia tidak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.
Bukan dalam arti filosofis. Bukan pertanyaan eksistensial tentang hakikat realitas. Tapi dalam arti yang sangat konkret dan sangat mengganggu.
Malik, usia tiga puluh enam tahun, bukan lagi balita apalagi bayi dalam rahim neneknya, mulai melihat hal-hal yang tidak ada.
Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya. Dan yang paling mengganggunya, dia mulai menemukan rekaman-rekaman video di hard disknya yang tidak pernah dia buat.
Rekaman-rekaman yang isinya adalah dirinya sendiri.
***
Malik tiba di Bintan pada pertengahan Maret, musim angin yang membuat permukaan laut di Selat Malaka beriak lebih kencang daripada biasanya.
Rumah lama orang tuanya di daerah Tanjung Pinang masih berdiri seperti yang dia ingat, dengan cat birunya yang sudah pudar dan halaman depan yang pohon mangga tuanya semakin besar dari tahun ke tahun.
Orang tuanya sudah pindah ke Batam dua tahun lalu, ikut kakaknya. Rumah itu kosong dan Malik menggunakannya bukan sebagai tempat berlibur. Tapi sebagai tempat bersembunyi.
Dari apa? Apakah aparat keamanan? Ataukah aparat kenyamanan? Hah, aparat kenyamanan?
Dia tidak yakin. Tapi setelah kejadian di Jakarta tiga minggu lalu, dia tahu bahwa dia butuh jauh dari layar-layar monitor dan hard disk-hard disk, serta semua peralatan kerjanya.
Kejadian tiga minggu lalu bermula dari sesuatu yang kecil.
Malik sedang mengerjakan proyek editing untuk kliennya, sebuah video dokumenter pendek tentang kehidupan urban Jakarta.
Dia membuka folder proyeknya dan menemukan file video yang tidak dia ingat memasukkannya ke sana. Nama filenya: malik_03.mp4.
Dia klik untuk membuka.
Dalam video itu, Malik sedang duduk di depan komputernya. Dari sudut yang sama persis dengan posisi di mana kamera webcamnya berada.
Tapi webcamnya tidak menyala. Dia yakin itu. Dia tidak pernah mengaktifkan webcamnya untuk merekam dirinya sendiri.
Di video itu, Malik yang sedang duduk di depan komputer itu tidak bergerak. Hanya duduk diam menghadap monitor selama hampir tiga menit.
Kemudian, sangat pelan, kepalanya berbalik ke arah kamera. Menatap langsung ke lensa.
Dan Malik yang menonton video itu dari monitor yang sama, dari kursi yang sama, di ruangan yang sama, ini juga dibaca kamu orang yang sama, merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan waktu muka di dalam video itu menatap langsung ke arahnya.
Karena ekspresi mukanya di dalam video itu bukan ekspresi yang pernah dia kenal dari wajahnya sendiri di cermin.
Dia menutup file itu. Lalu memeriksa folder proyek lainnya.
Ada dua file lagi. malik_01.mp4 dan malik_02.mp4.
Dia tidak membukanya. Cuma mematikan komputernya, mengemas beberapa baju, dan memesan tiket feri ke Bintan malam itu juga. Kayak nama ikan, ikan feri.
***
Di rumah orang tuanya di Tanjung Pinang, Malik tidak membawa komputernya.
Hanya ponsel. Dan ponsel itu sebisa mungkin tidak dia sentuh kecuali untuk keperluan yang benar-benar perlu. Dia ingin jauh dari layar. Jauh dari file-file video. Jauh dari apapun yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Hari-hari pertama di Bintan terasa seperti pemulihan.
Dia bangun pagi, minum kopi di teras depan sambil melihat jalan desa yang mulai hidup di pagi hari. Berjalan ke pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah.
Masak sendiri dengan resep-resep yang masih dia ingat dari ibunya. Jelas beda dengan resep dari Puskesmas. Tidur siang bukan di waktu malam. Berjalan ke tepi laut sore hari.
Tidak ada layar. Tidak ada rekaman. Tidak ada file video yang tidak dia buat.
Sampai hari kelima.
***
Hari kelima, Malik menemukan ponselnya menyala padahal dia yakin sudah mematikannya sebelum tidur.
Bukan itu yang mengganggunya. Ponsel kadang menyala sendiri karena update otomatis atau notifikasi.
Yang mengganggunya adalah aplikasi kamera di ponselnya yang terbuka sendiri. Dan di galeri foto, ada video baru yang tidak dia rekam.
Malik duduk di tepi tempat tidurnya dan menatap ikon video itu di galeri ponselnya selama hampir lima menit tanpa membukanya.
Iseng dia membukanya. Tampak di video itu, dia sedang tidur.
Diambil dari sudut di atas tempat tidur, seperti dari arah langit-langit. Dirinya yang sedang tidur terlentang, selimut sampai di dada, wajahnya menghadap ke atas. Tidur dengan napas yang teratur dan tenang.
Video itu berdurasi tujuh menit dua puluh detik.
Selama tujuh menit dua puluh detik itu tidak ada yang terjadi kecuali dirinya yang tidur.
Sampai di menit keenam lebih empat puluh detik.
Malik yang tidur di dalam video itu tiba-tiba membuka matanya. Lebar. Sangat lebar. Tanpa transisi dari tidur ke terjaga, langsung saja matanya terbuka sepenuhnya seperti seseorang yang sudah sadar sejak lama dan baru memutuskan untuk membuka mata.
Dia menatap langsung ke kamera. Menatap ke sudut atas di arah langit-langit tempat tidak ada kamera yang seharusnya ada.
Dan tersenyum. Malik menutup video itu. Tentu saja tanpa ada acara penutupan dari bupati.
Dia pergi ke kamar mandi dan berdiri di depan wastafel, membasuh mukanya dengan air dingin. Di cermin di depannya, mukanya terlihat normal. Lelah. Sedikit pucat. Tapi normal.
Tidak tersenyum dengan cara yang salah seperti yang ada di video itu.
Malik tidak bisa tidur malam itu.
***
Keesokan harinya dia menelepon satu-satunya orang yang dia percaya bisa membantu.
Bukan keluarga. Bukan juga teman lama. Bukan pula keluarga lama. Tapi psikiaternya di Jakarta, dr. Nanda, yang sudah dia temui dua kali setahun selama tiga tahun terakhir untuk alasan yang berbeda-beda.
Namun, pada dasarnya sama, kecemasan yang tidak bisa dia kendalikan.
Dr. Nanda mendengarkan cerita Malik dengan sabar melalui video call. Tentang file-file video di komputer. Tentang video baru di ponselnya. Tentang muka di dalam video-video itu yang ekspresinya salah.
“Malik,” kata dr. Nanda setelah Malik selesai bicara, “apakah kamu tidur dengan ponsel di dekat tempat tidurmu?”
“Iya.”
“Dan kamu yakin tidak merekam dirimu sendiri dalam keadaan setengah sadar? Parasomnia bisa membuat seseorang melakukan aktivitas tertentu dalam tidurnya tanpa sadar.”
“Saya yakin, Dok. Sudutnya dari atas. Dari arah langit-langit. Tidak ada kamera di sana.”
Dr. Nanda diam sebentar. “Dan file-file di komputer waktu di Jakarta. Kamu sudah periksa metadata filenya? Tanggal dan waktu pembuatan?”
Malik diam. Dia tidak memeriksa metadata. Dia menutup file-file itu dan langsung pergi.
“Belum.”
“Itu langkah pertama yang perlu dilakukan. Metadata tidak bisa dipalsukan dengan mudah. Kalau tanggal dan waktu pembuatannya sesuai dengan waktu kamu berada di depan komputer, ada kemungkinan kamu merekamnya sendiri tanpa sadar.” Dr. Nanda bicara dengan nada yang tenang dan profesional. “Kecemasan berat bisa menyebabkan disosiasi. Kamu melakukan sesuatu tapi tidak ada memori tentang melakukan hal itu.”
“Dan ekspresi mukanya?”
“Video bisa mendistorsi ekspresi. Pencahayaan. Sudut pengambilan. Resolusi yang tidak cukup tinggi.” Dr. Nanda menatapnya dari layar. “Malik, saya tidak bilang bahwa apa yang kamu alami tidak nyata bagi kamu. Tapi saya juga perlu kamu pertimbangkan penjelasan yang paling sederhana dulu sebelum kita lompat ke kesimpulan lain.”
Malik mengangguk. “Baik, Dok.”
“Satu hal lagi.” Dr. Nanda berhenti sebentu. “Apakah kamu sudah tidur dengan cukup?”
“Tidak.”
“Itu yang paling penting sekarang. Kurang tidur bisa memperparah disosiasi dan bisa membuat persepsi terhadap realitas terdistorsi secara signifikan. Tidur, makan dengan teratur, dan minimalkan waktu sendiri yang terlalu panjang.” Dr. Nanda menatapnya. “Dan kalau ada kejadian lagi, dokumentasikan dengan detail dan hubungi saya langsung.”
Dr. Nanda, mirip nama hewan dari China, putih dan hitam itu.
***
Malik mencoba mengikuti saran dr. Nanda.
Dia mulai menjaga jadwal tidurnya. Makan tiga kali sehari. Ke luar rumah lebih sering, ke warung kopi di ujung jalan, ke pantai, ke pasar.
Berbicara dengan orang-orang di sekitarnya, tetangga-tetangga lama yang masih ingat dirinya waktu kecil.
Selama empat hari berikutnya tidak ada kejadian aneh.
Tidak ada video baru di galeri ponselnya. Tidak ada file yang tidak dia buat. Tidak ada hal-hal yang dia lihat atau dengar yang seharusnya tidak ada.
Malik mulai merasa lebih baik.
Terlalu baik, ternyata, untuk bertahan lama.
***
Bintang tiga terus, kasihan tukang ojek onlinenya, nih!
Hari kesepuluh di Bintan, Malik mendapat pesan dari kliennya di Jakarta yang mengingatkan tentang deadline proyek yang hampir tiba. Dia tidak bisa terus menghindari pekerjaannya. Dia harus mulai bekerja lagi.
Dia membeli laptop bekas di toko elektronik di Tanjung Pinang. Laptop yang bersih, tanpa file-file lama, tanpa riwayat apapun. Mulai dari nol.
Malam itu dia duduk di meja makan rumah orang tuanya dan membuka laptop barunya untuk pertama kalinya.
Layarnya menyala, tentu tidak pakai korek. Desktop bersih, padahal tidak ada cleaning service di situ. Tidak ada file. Tidak ada folder. Tidak ada apapun, kecuali ikon-ikon default sistem operasi yang baru diinstall.
Malik menarik napas lega dan mulai bekerja.
Dua jam kemudian, waktu dia mau menyimpan pekerjaannya, dia membuka folder Documents untuk membuat folder baru.
Folder Documents seharusnya kosong.
Tapi ada satu file di sana.
malik_04.mp4
Malik meletakkan tangannya dari keyboard.
Menatap nama file itu.
Laptop ini baru. Belum pernah dipakai. Dia sendiri yang format dan install sistemnya dari awal tadi siang. Tidak ada cara file itu bisa ada di sana.
Tidak ada cara yang masuk akal.
Jari-jarinya bergerak ke arah trackpad sebelum otaknya sempat memutuskan apakah akan membuka file itu atau tidak.
Double click.
***
Dalam video itu, tidak ada dirinya. Untuk pertama kalinya, video itu bukan tentang dirinya.
Itu rekaman dari sudut yang dia kenal dengan sangat baik. Sudut ruang tamu rumah orang tuanya di Bintan. Dari posisi yang tidak mungkin karena tidak ada kamera di sana. Tapi sudutnya jelas dari dalam ruangan, menghadap ke pintu depan.
Di ruang tamu yang terlihat di dalam video itu, ada seseorang yang duduk di kursi.
Membelakangi kamera. Rambut pendek. Baju yang Malik kenali sebagai baju yang dia pakai dua hari lalu.
Dirinya sendiri, yang duduk di kursi ruang tamu dengan punggung ke arah kamera. Tidak bergerak selama hampir dua menit.
Kemudian sesuatu terjadi yang membuat Malik menarik napasnya terlalu cepat sampai hampir tersedak.
Seseorang lain masuk ke frame dari sisi kanan. Bukan dari pintu. Bukan dari mana-mana yang masuk akal. Hanya tiba-tiba ada di sana.
Dan seseorang itu persis sama dengan Malik yang duduk di kursi. Wajah yang sama. Baju yang sama. Tapi yang satu ini berdiri dan yang satunya duduk.
Yang berdiri berjalan ke arah yang duduk. Dan berdiri tepat di belakangnya.
Kemudian yang berdiri itu mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke kamera.
Ke arah Malik yang menonton. Dan tersenyum dengan senyum yang salah itu lagi.
Malik menutup laptop. Berdiri dari kursinya.
Dan menyadari bahwa kursi di ruang tamu yang ada di dalam video itu adalah kursi yang persis sama yang ada di depannya sekarang. Di ruang tamu yang persis sama. Dengan sudut yang persis sama.
Dia berbalik cepat. Tidak ada siapapun di belakangnya. Ruang tamu kosong.
Hanya suara angin malam yang masuk dari jendela yang sedikit terbuka dan membuat tirai putih bergoyang-goyang pelan. Beda dengan goyangan biduan dangdut plus sound horeg!
***
Malik menelepon dr. Nanda jam sebelas malam. Untunglah dokter tersebut belum tidur. Mungkin sedang nonton drakor, drama langganan mahal yang bikin tekor.
Malik menceritakan video keempat dengan detail yang sangat spesifik, berusaha mempertahankan objektivitasnya seperti yang selalu dia latih, berusaha tidak membiarkan suaranya terdengar sepanik yang dia rasakan.
Dr. Nanda mendengarkan dengan sangat serius kali ini.
“Malik, laptop itu baru?”
“Baru hari ini beli. Saya format sendiri. Saya install sistemnya sendiri. Tidak ada cara file itu bisa ada di sana.”
“Apakah ada koneksi internet waktu kamu pertama kali nyalakan laptop itu?”
Malik berpikir. “Ada. Saya konek ke WiFi rumah untuk download beberapa software yang perlu.”
“Jadi ada kemungkinan file itu didownload secara otomatis dari suatu tempat?”
“Tidak ada cara yang masuk akal untuk itu bisa terjadi tanpa saya tahu, Dok.”
Dr. Nanda diam cukup lama. “Malik, saya ingin kamu lakukan sesuatu sekarang. Sebelum kita bicara lebih jauh.”
“Apa?”
“Buka file itu lagi. Dan kali ini perhatikan metadata video itu. Tanggal pembuatan, durasi, resolusi, dan yang paling penting, coba lihat apakah ada watermark atau tanda apapun yang bisa mengidentifikasi kamera atau perangkat yang digunakan untuk merekam.”
Malik membuka laptopnya lagi. File malik_04.mp4 masih ada di sana.
Dia klik kanan dan pilih Properties.
Metadata filenya kosong. Tidak ada tanggal pembuatan. Tidak ada informasi kamera. Tidak ada apapun kecuali ukuran file dan formatnya.
“Metadatanya kosong, Dok.”
Keheningan di ujung telepon.
“Malik,” kata dr. Nanda akhirnya dengan nada yang berbeda dari semua percakapan mereka sebelumnya. Lebih pelan. Lebih hati-hati. “Saya ingin kamu pergi dari rumah itu malam ini. Menginap di tempat lain. Hotel atau penginapan yang ada orang lain di sekitarnya.”
“Dok—”
“Saya tidak bilang bahwa apa yang terjadi itu supernatural. Saya masih percaya ada penjelasan yang rasional. Tapi sampai kita tahu penjelasannya, saya tidak nyaman kamu sendirian di rumah itu.”
Waduh!
***
Malik check in ke sebuah hotel kecil di pusat kota Tanjung Pinang jam dua belas malam.
Kamarnya kecil tapi cukup, maksudnya Malik bisa cukup masuk di situ. Ada AC yang berisik dan TV yang sinyalnya tidak terlalu bagus. Tapi ada dinding di antara dirinya dan rumah orang tuanya yang kosong itu.
Dia berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit. Tidak tidur. Tidak bisa tidur.
Pikirannya terus berputar pada satu pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Kalau video-video itu bukan dia yang buat, dan bukan ada orang yang diam-diam memasangkan kamera di rumahnya karena beberapa sudut pengambilannya tidak mungkin dilakukan kamera fisik, maka siapa yang membuatnya?
Dan siapa yang ada di dalam video-video itu bersamanya?
Dia menutup matanya.
Dan dalam kegelapan di balik kelopak matanya, dia melihat wajah itu lagi. Wajahnya sendiri. Dengan senyum yang salah.
Malik membuka matanya. Langit-langit hotel. Polos. Putih. Tidak ada apapun di sana.
Dia menghela napas dan memejamkan matanya lagi. Kali ini berhasil tidur.
Matanya berhasil terpejam. Merem. Biasanya, kalau tidur, mata kamu lebih sering terpejam atau lebih seringnya merem?
***
Pagi harinya Malik terbangun dengan ponselnya yang berdering. Dr. Nanda. Malik mengangkat dengan suara yang masih mengantuk. “Dok?”
“Malik.” Suara dr. Nanda terdengar berbeda. “Saya minta maaf menelepon sepagi ini. Tapi semalam setelah kita telepon saya tidak bisa tidur. Saya terus memikirkan sesuatu.”
“Apa?”
“File pertama yang kamu temukan di Jakarta. malik_03.mp4. Kamu bilang ada malik_01 dan malik_02 juga tapi tidak kamu buka.”
“Iya.”
“Dan video di Bintan adalah malik_04.” Dr. Nanda berhenti sebentar. “Malik, urutan itu. Satu sampai empat. Itu bukan urutan yang acak. Itu urutan yang progresif. Setiap video tampaknya menunjukkan sesuatu yang semakin dekat.”
Malik duduk di tempat tidurnya. “Dekat dengan apa?”
“Saya tidak tahu. Tapi pola itu mengkhawatirkan saya.” Dr. Nanda menarik napas. “Apakah ponselmu baik-baik saja pagi ini? Tidak ada file baru?”
Malik membuka galeri ponselnya.
Tidak ada video baru.
“Tidak ada.”
“Bagus. Malik, saya ingin kamu kembali ke Jakarta hari ini. Saya ingin ketemu langsung. Dan saya ingin kamu bawa laptop yang kamu beli kemarin dan tunjukkan kepada seorang teman saya yang ahli di bidang keamanan digital. Kita perlu tahu bagaimana file itu bisa ada di laptop yang baru.”
“Baik, Dok.”
Setelah menutup telepon, Malik bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Di cermin, wajahnya terlihat normal. Lelah karena tidak cukup tidur, tapi normal.
Dia membasuh mukanya dengan air dingin. Mengangkat kepalanya dan melihat ke cermin lagi.
Normal.
Dia menarik napas lega. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas wastafel. Notifikasi dari galeri foto.
Video baru tersimpan. Malik menatap ponselnya. Lanjut menatap cermin di depannya. Menatap ponselnya lagi. Bolak-balik terus, sih?
Dia tidak membuka notifikasi itu.
Dia keluar dari kamar mandi, mengemas barang-barangnya dengan tangan yang bergerak mekanis dan efisien, check out dari hotel, dan pergi ke pelabuhan untuk mengambil tiket feri paling pagi ke Batam untuk kemudian terbang ke Jakarta.
Saat di dalam feri yang melaju di atas Selat Malaka yang beriak, Malik duduk di dek luar dan menatap horizon.
Ponselnya ada di sakunya. Notifikasi itu masih belum dibuka.
Malik tahu bahwa cepat atau lambat dia harus membukanya. Cepat atau lambat dia harus tahu apa yang ada di video kelima itu. Cepat atau lambat dia tidak bisa terus berlari dari apapun yang sedang terjadi.
Tapi untuk sekarang, di atas feri yang membawanya semakin jauh dari Bintan, dia memilih untuk tidak tahu dulu.
Karena ada kalanya tidak tahu terasa lebih aman dari tahu. Meskipun dia juga tahu bahwa perasaan aman itu tidak akan bertahan lama.
Eh, ternyata, di sakunya, ponselnya bergetar lagi. Bukan karena uang recehnya bergetar. Kalau uang receh yang bergetar, biasanya uangnya pengemis dan pengamen, tuh.
Satu notifikasi lagi. Video baru tersimpan.
Beberapa kali datang notifikasi. Ini bukan bertambahnya subscriber YouTube. Masa subscribernya makhluk tak kasat mata?


