Hotel Sultanah berdiri megah di jantung kota Medan, Sumatera Utara. Dokter jantung di sana pastilah tahu itu.
Bangunannya tua, dibangun pada tahun 1930-an oleh pengusaha Belanda yang namanya sudah lama dilupakan sejarah.
Sembilan lantai dengan fasad art deco yang catnya sudah memudar di beberapa bagian, tapi tetap terlihat anggun dari kejauhan. Beda mungkin kalau dilihatnya dari kejauhan sekali, misalnya dari Planet Mars. Eh, Mars atau Mbak, nih?
Lobi utamanya masih mempertahankan lantai marmer hitam putih asli dan lampu gantung kristal besar yang beratnya hampir setengah ton.
Jangan coba untuk diangkat, ukurannya pakai ton, meskipun nama kamu memang Anton.
Para tamu yang menginap di sana biasanya adalah pebisnis dari luar kota, turis yang suka suasana vintage, dan sesekali rombongan keluarga yang ingin merasakan pengalaman menginap di hotel bersejarah.
Tidak banyak yang tahu bahwa Hotel Sultanah tidak punya kamar nomor 13 di lantai manapun.
Bukan karena takhayul semata, atau bahkan takhayul yang kepalanya gundul itu. Tapi karena kejadian di tahun 1987 yang membuat manajemen hotel saat itu memutuskan untuk menutup permanen semua kamar bernomor 13 di setiap lantai.
Ditambah dengan menyegelnya dari dalam, dan tidak pernah membicarakannya lagi kepada siapapun. Kecuali kepada karyawan baru yang perlu tahu, kalau tempe biasanya harga 5 ribu per bungkus.
***
Maya Saragih adalah resepsionis baru di Hotel Sultanah. Dua puluh tiga tahun, lulusan perhotelan dari Politeknik Medan, baru tiga minggu bekerja di sana. Lahir juga dari rahim seorang ibu, ke luar juga dari lubang yang sama, yang ada rambutnya itu.
Malam pertamanya bertugas shift malam, supervisornya, Pak Harun, membawanya berkeliling hotel sebelum meninggalkannya sendirian di meja resepsi. Bukan termasuk resepsi pernikahan, apalagi resepsi yang biasa ada di apotek itu. Palingan parasetamol atau antibiotik lagi.
Di lantai sembilan, di depan pintu yang tidak ada nomor kamarnya, tetapi posisinya jelas ada di antara kamar 912 dan 914, Pak Harun berhenti.
“Ini kamar 913,” katanya pelan. “Kamu tidak akan pernah membuka pintu ini. Tidak ada kunci untuk kamar ini di panel resepsi. Kalau ada tamu yang minta kamar ini, bilang sudah terisi. Kalau ada yang tanya kenapa tidak ada nomornya, bilang renovasi.”
Maya mengangguk. “Kenapa, Pak? Ada apa dengan kamar ini?”
Pak Harun diam sebentar, menatap pintu tua berwarna coklat gelap itu. “Tanya saja sama karyawan lama kalau kamu sudah berani.” Kemudian dia berjalan ke lift tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Maya berdiri sendirian di depan pintu itu selama beberapa detik.
Dari balik pintu, dia mendengar sesuatu. Sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Suara ketukan. Tiga kali. Teratur. Seperti seseorang di dalam kamar yang mengetuk pintu dari dalam.
Maya berjalan cepat ke lift.
***
Shift malam di Hotel Sultanah biasanya tenang.
Tamu-tamu sudah masuk kamar masing-masing. Lobi besar yang ramai di siang hari menjadi sepi dan sunyi, hanya suara AC sentral dan sesekali suara langkah satpam yang sedang ronda. Ini jelas bukan merek motor, lho!
Maya duduk di belakang meja resepsi, mengerjakan laporan yang ditinggalkan temannya yang dari shift sore, sesekali menjawab telepon dari tamu yang minta ini dan itu. Jangan berpikiran aneh-aneh, jangan ikut-ikutan pikiran yang bikin cerita ini, ya!
Jam sebelas malam, seorang tamu datang. Laki-laki, mungkin empat puluhan, berpakaian rapi dengan koper kecil di tangannya.
Wajahnya lelah seperti orang yang baru turun dari penerbangan panjang. Dia bukan pilot, bukan pramugari, dia juga bukan sejenis bagasi. Dia meletakkan kartu identitasnya di meja resepsi.
“Selamat malam. Ada kamar tersedia?” Kamar apa dulu, nih? Kalau kamar mandi, banyak!
“Selamat malam, Pak. Ada.” Maya mulai mengetik di komputernya. “Nama Bapak?”
“Wirawan. Dodi Wirawan.”
Maya memproses check-in dengan cepat dan profesional. Tapi waktu dia sedang mencetak kartu kunci, Pak Dodi bertanya sesuatu yang membuat tangannya berhenti sejenak.
“Mbak, saya minta kamar 913 kalau bisa. Di lantai sembilan.”
Maya mengangkat kepalanya. “Maaf, Pak. Kamar itu sedang dalam renovasi. Saya bisa tawarkan kamar 912 atau 914 yang sama-sama di lantai sembilan dan pemandangannya bagus.”
Pak Dodi mengerutkan dahinya. “Renovasi? Tapi saya sudah pesan kamar itu online tadi siang. Konfirmasinya bilang kamar 913 tersedia.”
Maya mengetik lebih cepat di komputernya, memeriksa sistem reservasi. Aduh, memang benar, ada pemesanan atas nama Dodi Wirawan untuk kamar 913!
Tapi itu tidak mungkin karena kamar itu bahkan tidak ada di sistem. Kamar itu tidak pernah dimasukkan ke dalam sistem reservasi online.
Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah ada sesuatu yang itu berupa sesuatu? Wah, kalimatnya aneh!
“Mohon maaf, Pak, sepertinya ada kesalahan teknis di sistem kami. Izinkan saya hubungi supervisor dulu.”
Maya menelepon Pak Harun. Diangkat setelah lima kali dering.
Pak Harun mendengarkan penjelasan Maya dengan diam, kemudian berkata dengan suara yang terdengar lebih serius dari biasanya, “Jangan berikan kamar itu. Apapun yang ada di sistem, jangan. Berikan kamar lain dan kalau tamu tidak mau, upgrade gratis ke suite. Aku akan ke sana besok pagi dan cek sistemnya.”
Maya menutup telepon dan memberikan penjelasan terbaik yang bisa dia berikan kepada Pak Dodi. Upgrade gratis ke suite lantai tujuh. Pak Dodi tidak terlalu senang tapi akhirnya menerima.
Setelah tamu itu masuk lift, Maya menatap layar komputernya. Reservasi kamar 913 atas nama Dodi Wirawan masih ada di sana.
Dan di bawahnya, ada reservasi lain untuk kamar yang sama. Nama yang berbeda. Tanggal yang berbeda.
Maya menggulir ke atas dan ke bawah. Ada puluhan reservasi untuk kamar 913 di sistem, dari berbagai nama, berbagai tanggal, beberapa bahkan dari tahun-tahun sebelumnya.
Semua dengan status: CHECK IN. Tidak ada satupun dengan status check out. Lho, kenapa bisa begitu? Apakah ada sesuatu yang itu berupa sesuatu? Aduh, diulang lagi di sini! Niat banget mau menambah jumlah kata.
***
Keesokan harinya, Maya datang lebih awal dari jadwal shiftnya. Bahkan ayam hotel yang ditugaskan khusus untuk berkokok, masih belum bangun.
Dia ingin berbicara dengan karyawan lama sebelum Pak Harun datang dan menutup topik ini seperti yang Maya yakin akan dilakukannya.
Saat di kantin karyawan, dia menemukan Mbak Ros, pramusaji berusia empat puluhan yang sudah bekerja di Hotel Sultanah selama dua puluh tahun.
Maya menceritakan apa yang dia temukan di sistem semalam, tentang reservasi-reservasi itu, semua dengan status check in tanpa check out.
Mbak Ros mendengarkan sambil mengaduk kopinya. Wajahnya tidak terkejut.
Hanya lelah, seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan terlalu lelah untuk terus menyimpannya. Kalau Lela, itu nama teman SMA penulis cerita ini. Sekadar info saja, sih.
“Kamu tahu kejadian tahun 1987 yang Pak Harun bilang?” tanya Mbak Ros akhirnya.
“Tidak. Pak Harun tidak cerita detailnya.”
Mbah Ros meletakkan sendoknya. “Tahun 1987, ada tamu yang menginap di kamar 913. Perempuan muda, sendirian, dari Jakarta. Namanya tidak ada yang ingat sekarang. Dia check in malam hari, sama seperti tamu-tamu lain. Tapi pagi harinya waktu housekeeping mau bersihkan kamar, pintunya tidak bisa dibuka dari luar. Dikira tamu masih tidur, jadi housekeeping pergi dulu dan kembali siang.”
Maya mendengarkan dengan seksama.
“Siang harinya pintu masih terkunci. Dipanggil, tidak ada jawaban. Akhirnya manajemen putuskan untuk buka paksa. Dan waktu mereka masuk…” Mbak Ros berhenti sebentar. “Kamarnya kosong. Tidak ada tamu. Tidak ada koper. Tidak ada barang apapun. Seperti tidak pernah ada orang di sana.”
“Tamu itu pergi lewat mana?” Ah, jangan-jangan ke luar lewat kloset?
“Itu yang tidak pernah ketemu jawabannya. Tidak ada yang melihat dia keluar. CCTV waktu itu rusak. Dia hilang begitu saja.” Mbak Ros mengangkat cangkir kopinya. “Tapi itu bukan yang bikin manajemen tutup kamarnya.” Kalau pas CCTV rusak, mungkin bisa diganti RCTI atau Indosiar?
“Lalu apa?”
“Dua minggu setelah itu, ada tamu lain yang minta kamar yang sama. Laki-laki, pebisnis. Sama. Pagi harinya hilang. Pintu terkunci dari dalam, kamar kosong.” Mbak Ros menatap Maya. “Kejadian itu berulang tiga kali dalam dua bulan sebelum manajemen akhirnya tutup kamarnya permanen. Total ada tiga orang yang hilang. Tidak pernah ditemukan sampai sekarang.”
Maya diam sebentar. “Dan reservasi di sistem itu?”
Mbak Ros menggeleng pelan. “Itu yang tidak ada yang bisa jelasin. Sistem reservasi sudah diganti berkali-kali selama puluhan tahun. Tapi nama-nama itu selalu muncul lagi. Seperti hotel ini yang masukin sendiri.”
Makin aneh bukan hotel itu? Kalau jawab “bukan”, ya, tidak apa-apa, sih, terserah! Wuih, marah.
***
Malam kedua shift malam Maya, sesuatu yang tidak dia harapkan terjadi. Jam dua belas lewat, lobi sepi seperti biasa. Maya sedang mengerjakan laporan ketika lift di ujung lobi terbuka.
Dia mengangkat kepalanya karena tidak ada tamu yang dia ekspektasikan turun di jam itu. Tidak ada siapapun yang ke luar dari lift.
Pintu lift terbuka selama beberapa detik kemudian menutup lagi. Maya menganggap itu gangguan teknis dan kembali ke pekerjaannya. Tapi sepuluh menit kemudian, telepon di meja resepsi berdering. Maya mengangkatnya.
“Resepsi Hotel Sultanah, selamat malam.”
Tidak ada suara di ujung sana. Hanya suara statis yang sangat pelan, seperti suara hujan dari kejauhan.
“Halo? Ada yang bisa saya bantu?”
Kemudian, sangat pelan, hampir tidak terdengar, ada suara. Suara perempuan. Berbicara dengan nada yang datar dan kosong seperti orang yang berbicara dalam tidur.
“Tolong check out kan saya. Kamar 913. Saya sudah lama di sini.”
Maya mematung.
“Halo? Siapa ini?”
Tapi sambungan sudah terputus. Maya meletakkan telepon dengan tangan yang gemetar. Dia menatap panel telepon di mejanya.
Setiap panggilan masuk dari kamar-kamar hotel terekam secara otomatis dengan nomor kamarnya. Di layar panel itu, panggilan yang baru masuk tercatat jelas.
Dari ekstensi kamar 913. Wuih! Kok dari sana?
***
Maya melakukan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dia lakukan. Dia mengambil master key dari panel kunci di belakang meja resepsi.
Master key yang seharusnya bisa membuka semua kamar di hotel. Kalau master chef, malah bisa membuka aib seseorang tidak bisa masak.
Pak Harun bilang tidak ada kunci untuk kamar 913, tapi Maya ingat bahwa master key secara teknis seharusnya bisa membuka semua pintu.
Dia masuk ke lift dan menekan tombol lantai sembilan.
Koridor lantai sembilan panjang dan remang. Lampu-lampunya lebih redup dari lantai lain, seperti daya listriknya tidak cukup kuat untuk menerangi semuanya dengan sempurna.
Karpet merah tua di lantai meredam suara langkahnya. Maya berjalan melewati kamar 910, 911, 912. Kemudian berhenti di depan pintu tanpa nomor di antara 912 dan 914.
Dari dekat, pintu itu terlihat lebih tua dari pintu-pintu lain di koridor. Berarti pintunya beruban juga, kan terlihat lebih tua?
Kayunya lebih gelap dan ada retakan-retakan halus di permukaannya. Di bagian bawah pintu, dari celah antara pintu dan lantai, ada sesuatu yang mengalir ke luar sangat pelan.
Kabut tipis berwarna putih keabu-abuan. Maya menelan ludah, apakah tidak ada makanan lain untuk ditelan, selain ludah? Tangannya menggenggam master key. Dia mendekatkan kartu itu ke sensor pintu.
Lampu sensor yang biasanya hijau tidak menyala sama sekali.
Maya mencoba lagi. Tidak ada respon. Pintu itu bahkan tidak mengenali master key. Seperti sistem kuncinya benar-benar terputus dari sistem hotel.
Dia mau mundur dan pergi ketika dari balik pintu itu terdengar suara.
Tiga ketukan. Teratur. Sama persis dengan yang dia dengar malam pertamanya.
Dan kemudian suara yang sama dengan yang di telepon tadi. Perempuan. Datar. Kosong.
“Tolong keluarkan saya.”
***
Maya berlari ke lift. Sedangkan lift tidak ikut berlari juga.
Dia tidak berhenti berlari sampai dia ada di belakang meja resepsi lagi, di bawah cahaya lobi yang terang, dengan meja besar sebagai penghalang antara dirinya dan seluruh hotel yang tiba-tiba terasa sangat asing.
Tangannya gemetar waktu dia menelepon Pak Harun. Yang ditelepon mengangkat di dering pertama, seperti dia sedang menunggu telepon itu.
Maya menceritakan semuanya, telepon dari kamar 913, suara perempuan itu, kabut di bawah pintu, ketukan tiga kali.
Pak Harun diam cukup lama setelah Maya selesai bicara.
“Kamu tidak membuka pintunya?” tanyanya akhirnya.
“Tidak bisa dibuka, Pak. Master key tidak berfungsi.”
“Bagus.” Suaranya terdengar lega. “Dengarkan aku baik-baik, Maya. Apapun yang kamu dengar dari kamar itu malam ini, jangan naik ke lantai sembilan lagi. Duduk di resepsi sampai shift-mu selesai. Kalau telepon dari kamar 913 masuk lagi, jangan angkat.”
“Pak, tapi suara itu bilang minta dikeluarkan. Kalau memang ada orang di dalam—”
“Tidak ada orang di dalam,” potong Pak Harun dengan tegas. “Yang ada di dalam bukan orang. Tidak lagi.”
Maya ingin bertanya lebih banyak tapi Pak Harun sudah menutup telepon.
***
Pak Harun tiba di hotel jam enam pagi, satu jam sebelum shift Maya berakhir.
Dia membawa seorang pria tua yang tidak Maya kenal. Pria itu berusia mungkin tujuh puluhan, berpakaian sederhana, dengan tas kain yang dijinjingnya.
Pak Harun memperkenalkannya hanya sebagai “Pak Guru” tanpa nama lengkap. Wah, Pak Guru? Mengurus MBG juga?
Mereka bertiga naik ke lantai sembilan.
Di depan pintu kamar 913, Pak Guru berdiri diam cukup lama. Matanya tertutup. Tangannya sedikit terangkat di depan pintu, tidak menyentuhnya, hanya merasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Kayak Mama Gufron, nih!
Kemudian dia membuka matanya dan berkata kepada Pak Harun, “Sudah tiga sekarang. Bertambah satu dari tahun lalu.”
Pak Harun menutup matanya sebentar seperti menahan sesuatu. “Bisa dibantu?”
“Bisa. Tapi butuh waktu.” Pak Guru meletakkan tasnya di lantai dan mulai mengeluarkan isinya.
Ada kemenyan. Beberapa helai daun yang Maya tidak kenal namanya. Dan, sebuah buku kecil dengan sampul kulit yang sangat tua. Apakah buku rekening? Atau buku nikah? Entahlah.
Maya berdiri di ujung koridor, tidak berani mendekat, tapi juga tidak bisa pergi.
Pak Guru bekerja selama hampir satu jam penuh di depan pintu kamar 913. Pak Harun berdiri di sampingnya, diam, sesekali membantu memegang sesuatu.
Dari ujung koridor, Maya bisa melihat asap kemenyan mengepul dan mendengar suara Pak Guru yang bergumam dengan ritme yang konstan.
Di pertengahan ritual itu, dari balik pintu kamar 913, terdengar suara.
Kali ini bukan tiga ketukan. Bukan suara perempuan yang meminta tolong.
Tapi suara tangisan. Lebih dari satu suara. Menangis bersama-sama, pelan dan lelah, seperti orang-orang yang sudah sangat lama menunggu dan akhirnya tahu bahwa penantian itu hampir selesai.
Maya menekan punggungnya ke dinding koridor dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri supaya tidak mengeluarkan suara.
***
Pak Guru selesai menjelang jam delapan pagi. Dia berdiri, mengumpulkan perlengkapannya kembali ke dalam tas, dan menarik napas panjang.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dan lelah dari waktu dia datang tadi.
“Sudah,” katanya kepada Pak Harun. “Mereka sudah pergi.”
“Semua tiga?”
“Semua tiga.” Pak Guru menatap pintu kamar 913 sekali lagi. “Mereka tidak jahat. Hanya bingung dan tidak tahu jalan ke luarnya. Sudah terlalu lama di sini.”
Pak Harun mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak Guru.”
Pak Guru berjalan ke arah Maya di ujung koridor. Dia berhenti di depannya dan menatapnya dengan mata yang lelah tapi hangat. “Kamu yang telepon tadi malam?”
“Iya, Pak.”
“Kamu dengarkan suaranya. Itu yang buat mereka bisa minta tolong.” Pak Guru menepuk bahu Maya pelan. Eits, kok kesempatan sentuh-sentuh? Bahaya juga ini Pak Guru.
“Kadang yang dibutuhkan orang yang tersesat bukan jalan keluar yang dibukakan paksa. Tapi ada yang mau mendengarkan dulu.”
Kemudian dia masuk lift dan pergi.
***
Seminggu setelah kejadian itu, manajemen Hotel Sultanah melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya dalam puluhan tahun.
Mereka membuka pintu kamar 913. Bukan untuk dijadikan kamar tamu lagi. Tapi untuk dibersihkan, dicat ulang, dan diubah menjadi ruang penyimpanan linen.
Pintu lamanya diganti dengan pintu baru. Nomornya tetap tidak dipasang. Maya yang membuka pintu itu pertama kali bersama tim housekeeping.
Di dalam, kamarnya kosong dan biasa saja. Tempat tidur lama yang sudah tidak terpakai. Lemari kayu yang pintu engselnya sudah karatan. Jendela dengan tirai yang sudah menguning.
Tidak ada yang aneh. Tapi di dinding samping jendela, di balik tirai yang sudah lama tidak digeser, ada tulisan. Bukan tulisan baru. Sudah lama, catnya sudah memudar dan hampir menyatu dengan warna dinding. Tapi masih bisa dibaca.
Tiga nama. Dengan tanggal di bawah masing-masing nama. Tanggal tertua dari tahun 1987. Di bawah tiga nama itu, dalam tulisan yang berbeda dari yang lain, lebih kecil dan lebih rapi, ada satu kalimat.
Terima kasih sudah mendengarkan.
Maya berdiri di depan tulisan itu cukup lama. Dia menutup tirai kembali, menutup pintu kamar 913 di belakangnya, dan turun ke lobi untuk memulai shiftnya.
Pada panel komputer resepsi, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, daftar reservasi kamar 913 sudah bersih.
Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Tidak ada status check in yang menggantung tanpa check out. Hanya kolom kosong yang akhirnya benar-benar kosong.



mendengarkan dan didengar :’) jadi sedih