3 Makna Sayur Pare atau Paria Bagi Kehidupan Seorang Ayah

3 Makna Sayur Pare atau Paria Bagi Kehidupan Seorang Ayah

Bila saat saya ingin makan, tetapi istri saya belum sempat masak sayur, maka biasanya saya ke warung makan, beli sayur jadi. Dan, sayur yang sering saya pilih adalah sayur pare.

Dalam satu rumah, cuma saya yang suka sayur tersebut. Harganya cukup murah, cuma lima ribu rupiah saja. Tidak saya tawar juga, karena itu sayur, bukan roti tawar.

Kalau istri dan anak-anak saya lebih suka sayur santan. Misalnya: sayur daun singkong, sayur labu, sayur terong, dan kadang sayur bening, seperti sayur sop.

Yah, sesuai selera masing-masing saja. Ini sekali lagi bila istri saya tidak sempat memasak karena mungkin kesibukan. Dia sudah jadi ibuk, makanya bisa jadi sibuk.

Sekilas Tentang Sayur Pare atau Paria

Ketika saya mencari di Google, sayur pare ini punya nama lain, yaitu: sayur paria. Dilihat dari bahasa Latinnya adalah tunggu, saya cetak miring dahulu, Momordica charantia. Nah, sudah, bacanya tidak usah juga sambil kepala miring.

Pare termasuk jenis tumbuhan yang merambat dari suku labu-labuan atau disebut juga dengan, saya cetak miring lagi, Cucurbitaceae. Lah, terus, kok namanya bisa berbeda antara pare dan paria?

Ternyata, kalau nama paria lebih sering digunakan di daerah seperti Sunda, Batak, atau termasuk sebagian wilayah Sumatra dan Melayu.

Sedangkan untuk pare itu lebih umum atau lebih sering dipakai di Jawa Tengah dan sebagian besar wilayah di Indonesia lainnya.

Pada kandungan ibu hamil, eh, maksudnya, pada kandungan gizi pare atau paria ini kaya akan air, serat, vitamin C, vitamin A, dan macam-macam mineral yang penting.

Manfaatnya ternyata cukup banyak dari sayur pare atau paria ini, yaitu: untuk membantu mengontrol kadar gula darah, meningkatkan sistem imun, dan ikut melancarkan pencernaan. Tentunya, ini pencernaan di perut sendiri, dong, masa orang lain?

Makna Sayur Pare atau Paria Bagi Seorang Ayah

3-makna-sayur-pare-atau-paria-bagi-kehidupan-seorang-ayah (1)

Ternyata, setelah saya merenung lebih dalam dan tidak perlu merenung di dalam gua maupun elu, sayur pare atau paria ini ada maknanya pula.

Dan, makna ini cocok sekali untuk kehidupan seorang ayah. Langsung saja, ya, tanpa basa basi, soalnya kalau sudah basa, itu ‘kan harusnya dikeringkan agar tidak basi.

1. Rasanya Pahit, Seperti Itulah Kehidupan Seorang Ayah

Repotnya bagi petani yang menanam pare atau paria ini adalah semua buahnya pahit, tidak ada yang manis, asin, maupun pedas.

Meskipun rasa aslinya memang pahit, tetapi sayur pare ini dapat diramu menjadi sayur yang lezat. Dimasak hingga sedap dan menjadi favorit saya juga.

Baca Juga:ย Posisi Istirahat di Tempat yang Terbaik itu Seperti Apa sih?

Pare yang rasanya pahit memang cocok dengan kehidupan seorang ayah. Bukankah seorang ayah itu terbiasa dengan kehidupan yang pahit ini?

Sebut saja, in this economy. Kemarin, saya mau mengajak teman saya yang punya usaha untuk kerja sama bikin lomba lewat blog saya ini. Eh, dia bilang tidak bisa dengan alasan in this economy.

Katanya, penjualan laptop bekas di tokonya sedang sepi-sepinya. Malah ditambahi dengan “pol” alias memang betul-betul sepi.

Ya, sudah, akhirnya kerja sama itu tidak jadi terjalin. Namun, saya mengambil dari situ, bahwa keadaan ekonomi sekarang memang betul-betul pahit, ya?

Makan sayur pare yang rasanya pahit, tetapi diolah dengan lezat, bisa bermakna bahwa kehidupan ekonomi yang pahit ini, tetap bisa, kok, memunculkan ide usaha.

Misalnya, usaha lewat internet. Kalau memang dirasakan bahwa kondisi ekonomi sedang lemah, maka ubah saja orientasi ke luar negeri.

Buat produk yang berbahasa Inggris misalnya. Kan di luar negeri bisa lebih banyak peluangnya.ย Jadi, yang selama ini terbiasa pakai kunci inggris, sekarang kuncinya di Bahasa Inggris.

2. Buah Paria Sesuai dengan Si Ayah

Istilah paria memang cocoknya untuk laki-laki dan kurang cocok untuk perempuan. Lho, kok bisa? Ya, soalnya ‘kan dari namanya saja, paria, cocoknya ‘kan untuk pria alias laki-laki, ya ‘kan? Paria dan wanita, begitu.

Lebih dalam makna di poin kedua ini adalah sosok laki-laki yang menjadi seorang ayah. Bukankah laki-laki itu menjadi pelindung bagi perempuan maupun yang lebih lemah, misalnya anak-anak?

Kalau di poin pertama tadi, lebih dekat maknanya dengan sosok ayah sebagai pencari nafkah, pencari penghasilan untuk keluarga, sedangkan di poin kedua ini, sosok ayah sebagai pelindung keluarga.

Apakah pelindung dari tindak kejahatan? Oh, ini tugas laki-laki juga. Bahkan, melindungi harta dan keluarga dan misalnya sampai mati gara-gara itu, maka Insya Allah termasuk mati syahid.

Pelindung dari kepanasan dan kedinginan? Oh, ya, ini juga tugas laki-laki yang menjadi seorang ayah. Dia berusaha untuk menyediakan rumah yang nyaman. Tidak perlu mahal, yang penting jangan juga terlalu murah. Rumah yang terlalu murah itu contohnya adalah rumah di permainan monopoli.

Kalau rumah yang terlalu murah, nanti jadinya malah susah dimasuki. Jika sudah masuk, malah susah ke luar. Untuk duduk selonjor saja sulit apalagi mau salto, ditambah kurang isi salto rekening. Paling tidak, yang cukup lega dan bisa bernapas pakai hidung di dalamnya, lah.

Dan, yang paling utama tugas melindungi bagi seorang ayah untuk keluarganya adalah melindungi dari api neraka sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Tahrim. Ini tugas yang sangat-sangat berat, dunia dan akhirat.

Si ayah sendiri belum tentu terhindar dari api neraka, malah diminta untuk melindungi keluarganya juga. Namun, ya, begitulah tugas seorang ayah. Salah sendiri jadi ayah bukan?

3. Dari Kata Pare Menjadi Model Kepemimpinan Ayah

Pada poin pertama, ayah sebagai pencari nafkah. Pada poin kedua, ayah sebagai pelindung. Pada pion, eh, kok malah main catur, pada poin ketiga ini, ayah sebagai kepala keluarga alias pemimpin sesuai nama buah pare.

Lebih tepatnya di sini adalah pare atau parentah. Yah, ada plesetan sedikit, sih, tetapi maknanya hampir sama, yaitu: perintah. Saran saya, kalau main plesetan, jangan pas lantainya dipel, salah-salah malah terpeleset betulan.

Nah, mungkin di kantor, si ayah menjadi pemimpin kantor atau kepala kantor. Meskipun dia seorang pemimpin, tetapi tentu saja ada pemimpin yang lebih tinggi lagi. Yang lebih tinggi itu bisa jadi sering memberi parentah kepada si ayah.

Baca Juga:ย Pillow Talk Bukan Berarti Ngomong Sama Bantal, Melainkan Menghadapi Istri yang Sedang Gatal pada 3 Hal

Sang ayah tersebut berusaha untuk melaksanakan parentah atau perintah dari pimpinannya karena memang itu bagian dari pekerjaannya. Selain itu, agar tidak dipecat juga. Repot ‘kan kalau sampai PHK, apalagi sudah tingkat PHD.

Bila si ayah sudah sampai di rumah, maka berikutnya dia yang menjadi kepala keluarga juga memberikan parentah kepada istri dan anak-anaknya. Misalnya, istrinya disuruh pakai jilbab kalau ke luar rumah. Istrinya disuruh untuk beribadah juga, seperti salat, meskipun tidak ada kewajibannya salat berjamaah di masjid.

Demikian pula anak-anaknya diperintahkan untuk belajar dan mengaji Al-Qur’an. Atau suruhannya untuk salat, diajak sekalian ke masjid agar bisa berjamaah. Apalagi sekarang, rumah mana, sih, yang tidak dekat dengan masjid? Rasanya, masjid justru yang makin dekat lokasinya ke rumah-rumah, deh.

Sejak kecil, anak-anak memang perlu dilatih untuk ke masjid, terutama anak laki-laki. Ini harapannya agar menjadi anak laki-laki yang saleh. Jangan diorientasikan jadi anak-anak laki-laki yang selalu salat di rumah, nantinya jadi laki-laki yang salah.

Pentingnya Makan Sayur

Dalam kebiasaan makan kita, ada yang namanya nasi sebagai karbohidrat. Ada pula lauk sebagai protein. Dan, ada pula sayur yang biasanya mengandung vitamin dan mineral. Bahkan, jangan cuma vitamin, tetapi juga vitaplus, karena min lawannya plus.

Untuk pilihan menu sayur, bisa bermacam-macam. Semuanya disesuaikan dengan selera. Ada yang lebih suka sayur bening, mungkin karena hatinya memang bening. Ada juga yang lebih suka sayur santan, apalagi dia juga peduli dengan kebakaran hutan.

Begitu pula dengan hidup ini. Lengkapnya menu, dari karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dalam satu piring makanan sama saja dengan hidup ini yang juga lengkap.

Ada sukanya, ada dukanya, ada yang bisa membuat menangis, ada pula yang membuat jengkel, dan lain sebagainya. Terlebih bila dibandingkan dengan sayur pare atau paria bagi kehidupan seorang ayah.

Kalau yang rasanya pahit saja bisa dimakan dengan enak, bagi yang menyukainya seperti saya, maka hidup sesusah apapun, tetap ada positifnya. Tetap ada manis-manisnya, meskipun tidak harus langsung menghabiskan Le Minerale satu galon, mentang-mentang ada manis-manisnya juga.

Dan, jangan lupa, mungkin untuk mendapatkan sayur pare atau paria yang benar-benar enak, tidak harus istri yang memasak, tetapi justru didapatkan dengan beli di warung makan.

Begitulah hidup, kalau ingin mendapatkan sesuatu, perlu membeli harganya. Mungkin dengan keringat, air mata, doa, dan perjuangan yang memang pahit dirasakan.

Dan, terlebih bagi seorang ayah, dia sebagai kepala keluarga dan orang tua, maka butuh panduan, butuh ilmu, butuh pengalaman. Oleh karena itu, pare masih tetap berlaku, yang arti tepatnya adalah parental guide. Ini untuk melindungi konsumsi tontonan anak-anak.

Paling utama, pare yang paling utama adalah parental science. Ilmu tentang pengasuhan. Ayah mesti mengerti ilmu yang satu ini, karena tugasnya selain mencari nafkah, juga mencari kehidupan keluarga yang indah melalui ilmu yang lebih berkah.

Baca Juga:ย Bukan Artificial Intelligence, Ini 3 AI yang Paling Berguna untuk Hidupmu

21 Comments

  1. Kata siapa pare tawar, tunggu saya cetak tebal dulu, PAHIT.
    tapi meskipun pahit saya suka sekali makan sayur pare, dimasak apapun, walau cuma di rebus, cukup pake samble, dijamin bisa ngabisin nasi.
    Sampe saya melak sendiri paria depan rumah, mengikuti instruksi presiden untuk melakukan ketahanan pangan.
    Hidup di Indonesia udah pahit seperti ini, lebih baik kita tambah daya pahitnya dengan makan paria, supaya kita lupa sama rasa pahitnya paria

  2. Di Sulawesi Selatan, kami mengenal dengan sebutan “paria”. Suami saya pun sama, suka dengan sayur paria, begitu juga almarhumah ibu mertua saya, suka dengan sayur ini. Selain suami dan sewaktu ibu mertua masih hidup – ibu mertua, tak ada yang suka sayur paria. Saya sesekali saja mau makan asal rasanya tidak begitu pahit. Sayur paria termasuk sayur yang familier buat orang Bugis dan Makassar.

  3. Aku sukaaaaa banget pare ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Yang pahit malah doyannya. Karena ada juga pare yang udah diolah untuk dihilangkan pahitnya kaaaan. Aku ga suka yang begitu. Apalah artinya pare kalau pahit nya ilang ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Itu bukan pare, tapi puree ๐Ÿคญ

    Bersyukur karena dulu mama yang ajarin supaya aku bisa suka dengan sayuran pahit. Mulai dari pare, daun singkong, daun pepaya, direbus, makan dengan sambal terasi. Sedaaaaap nyoooo. Pare yang size kecil aku malah suka jadiin lalapan mas, makan mentah. Asal ada sambal terasi.

    Sayangnya yang doyan cuma aku. Makanya kalau beli pare, aku ga mau banyak. Anak2 dan suami ga suka. Padahal kan ENAAAAK yaaa ๐Ÿ˜๐Ÿ˜.. dan banyak manfaat kalau sayuran pahit ini.

    Dulu mama bujukin aku supaya doyan ini, karena katanya bagus untuk kulit. Bikin awet muda hahahahahaha.

  4. Wah, ada-ada saja cara Mas Rizky mengaitkan sayur pare dengan kehidupan seorang ayah. Dari rasanya yang pahit sampai plesetan kata paria dan parentah, semuanya punya cerita tersendiri. Hmm.. Tapi saya setuju dengan pesan utamanya, menjadi ayah bukan cuma soal mencari nafkah, melainkan juga melindungi dan membimbing keluarga. Perjalanan menjadi ayah memang tidak selalu manis, ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun, dengan bekal ilmu, pengalaman, dan kesabaran, semoga pahitnya kehidupan bisa tetap menghasilkan sesuatu yang baik bagi keluarga.

  5. Pare ditambah ebi, ditumis pake kecap. Kalo senang manis, bs dibanyakin kecapnya. Tp awas darah tinggi yak. Wkwk. Kalo suka yg pahit ya kurangin aja kecapnya.

    Atau pare bs jadi cemilan. Bs digoreng dengan tepung. Ini mahal sekali loh kalo di pasar. Masih bisa ditawar kok meski bukan roti tawar. Wkwk

    Pare ini emang punya rasa pahit yang khas ya mas Rizky. Tapi justru dari situ ada banyak pelajaran hidup yang bisa diambil, ya.

    Kadang kehidupan seorang ayah juga begitu. Ada tanggung jawab dan pengorbanan yang mungkin nggak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi tetap dijalani demi keluarga.

    Menariknya, pare yang pahit pun bisa jadi hidangan favorit kalau tahu cara mengolahnya. Mungkin hidup juga begitu, bukan soal menghilangkan semua kepahitan, melainkan belajar mengolahnya supaya tetap bisa dinikmati. ๐Ÿ˜

  6. Ternyata besar ya makna pare bagi seorang ayah. Dari pahitnya pare, paria, sampai parentah. Masing-masing punya makna yang dalam.

    Soal pare, saya udah familiar sama buah sayur ini dari sejak kecil kala SD. Udah nyicipin pahitnya pare keriting (bukan pare berkulit kinclong dan licin kayak di pasar modern BSD haha). Pahe keriting itu pare dengan level pahit paling top. Makanya pas makan pare kota yang licin dan kinclong mulus itu saya kayak bukan makan pare. Ga ada pahit2nya. Malah saya jadiin lalapan mentah-mentah lho. Apalagi pas kolesterol saya lagi tinggi kayak sekarang, makin lahap saya makan pare mentah, karena khasiatnya bagus buat bantu nurunin kolesterol. Ga nyangka saat kecil udah berani makan pare, ternyata gunanya biar saya kuat nahan pahit pare saat buat bantu redakan kolesterol hehe

  7. baru tahu saya kalau makna sayur pare ternyata dalem banget buat ukuran bapakbapak. Selama ini saya cuma tahu pare itu musuh dalam selimut karena rasanya yang bikin lidah keriting. Tapi pas dibaca, bener juga ya, hidup jadi kepala keluarga itu kadang sepahit pare tapi tetep harus ditelan demi kelangsungan hidup.
    Paling ngakak pas bagian plesetan nama pare jadi parentah sama parental science. Asli, bener banget itu. Jadi ayah emang butuh ilmu parenting tingkat dewa biar gak salah arah. Apalagi pas nyinggung soal kondisi ekonomi sekarang yang lagi “pol” sepinya, bikin ketawa miris sambil ngangguk-ngangguk setuju.

  8. Aduh, saya kurang suka makan pare pak. Apalagi kalo harus belinya ke pare-pare. Ga suka saya, soalnya kejauhan.
    Tapi meski begitu, sesekali saya masih makanin pare kok. Biasanya pare yang ada di siomay. Dan, di siomay aja. Soalnya kalo di si obed sama si odah, nggak enak juga saya nyomotnya.

    Oya, ada catatan penting juga mas. Lalau mau masak pare, itu pastikan stock pare di pasar sudah aman dulu mas.
    Karena kalo nggak, berarti haru pare-order terlebih dahulu.

    Ciaaaaah.. gimana, udah samaan belum jokesnya ๐Ÿ˜€

  9. Pare itu enak lho, bisa diolah macem-macem yang bikin semangat makan. Di rebus, enak rasanya. Dicampur dalam gulai ikan, maknyus. Digoreng dengan ikan teri pun enak, bahkan kolaborasi sama somay pun mantap, walau ujungnya adalah bareng nasi makannya hihi

  10. Luar biasa ternyata arti pare buat para paria. Maknanya dalam dari pencari nafkah, pelindung keluarga, sampai parentah. Ngomongin pare, jadi ingat kalau dulu punya kebon pare yang lumayan selalu berbuah terus. Jenisnya bukan yang pahit. Pare dengan warna hijau lebih tua biasanya lebih pahit. Dulu, saking banyaknya panen pare di rumah, nyaris seluruh tetangga kebagian
    Rasa pare yang katanya pahit jadi nikmat luar biasa karena banyak orang senang ikut merasakan hasil panen pare.

  11. Sepakat tugas ayah ga hanya mencari nafkah tapi juga mengasuh. Ayah sebagai penentu arah keluarga, mau dibawa kemana. Enggak hanya memberi nafkah lahir tapi juga nafkah batin. Sosok yang jadi panutan istri dan anaknya. Dan memang ga gampang, butuh ilmu dan berlatih.
    Btw hidup pahit ala pare tidak hanya dialami ayah lo, tapi in this economy sebagian besar masyarakat Indonesia juga mengalaminya

  12. Ternyata Pare pun memiliki filosofi dan juga Makna yang mendalam buat seorang ayahnya sehingga bisa menjadi inspirasi supaya menjadi Ayah yang lebih baik dalam keluarga walaupun pare itu menurut saya enak tapi ternyata punya kesan yang sangat dalam

  13. Mantep banget artikelnya. Dari sayur pare atau memang dikenal paria di tatar Sunda, punya banyak manfaat bagi kesehatan dan makan sayur itu sangatlah penting melengkapi kebutuhan gizi harian.

    Lebih dalam lagi, paria apabila diterapkan pada pola hidup seorang ayah rupanya sangat dalam dan ngena ya. Ayah seorang pemimpin keluarga, ayah seorang pencari nafkah, pelindung keluarga, dan tentunya harus dan mau belajar terkait cara mengasuh sesuai zaman agar anak-anak bisa terdidik dengan baik (sisi agama dan sosial).

  14. Pare itu meskipun pahit tapi banyak manfaatnya untuk kesehatan. kalau berangkat dari filosofi ini kita bisa kaitkan dnegan kondisi kehidupan juga. Kenyataan sepahit apapun pasti ada hikmahnya, dan bisa kita jadikan bahan renungan sekaligus ambil hikmahnya, supaya yang pahit tetap bisa dinikmati.

  15. Sampai sekarang aku masih nggak bisa makan pare karena pahiiit. Pernah nyoba bikin juga gagal karena rasa pahitnya kuat banget padahal sudah dikasih garam yang banyak. Kalau suami kayaknya doyan aja pare ini tapi karena aku nggak bisa bikin jadinya jarang deh makannya

  16. Sungguhaaann.. aku uda seriiuus bacanyaa..
    MashaAllah… hihihi.. ternyata manfaat pare bagi ayah memang bagaikan rasanya yaa..
    Semoga dengan rasa yang sedaapp ((kalo dibilang pait, nanti jadi anti-)), Ayah bisa semakin kokoh berdiri dan semakin kuat berjuang.

    Kadang iyayaa..
    Kokoh berdiri sambil makan pare aja gak cukup.
    Kudu perbanyak dzikir ketimbang mikirin negara yang subhanallahu…ini.

  17. Aku baca blog ini ya… Jokesnya di luar nurul. Ngenanya pake banget.. Wkwkkw.. ๐Ÿ˜‚

    Tapi emang begitu sih, ayahanda saya saja emang dari kecil suka pare kak, hidupnya juga mirip sama pare. Ujian UAN aja kalah sama ujian bapak. Nggak ada pilihan gandanya juga.. ๐Ÿคฃ

    Makanya saya sudah terbiasa makan pare dari SD dan kalau pintar ngolah, pare itu bisa jadi enak. Gurih pedas.

    Lho, kok jadi bahas makanan ya.

    Ahhh, pokoknya pare itu enak. Dan bunga pare itu juga cakep meski mungil. ๐Ÿคญ

  18. Aku dan suamiku sama2 penggemar pare, jadi lumayan sering bikin. Biasanya kami bikin tumis pare yang pedes dengan cabe rawit yang banyak bener haha ๐Ÿ˜€
    Ngobrolin soal ekonomi yaaa gimana, semua barang harganya naik, tapi pendapatan ya segitu2 aja, naiknya mbuh kapan yak.
    Nggak cuma satu dua yang struggle, kadang ada yang nggak kelihatan karena tidak mengeluh. Pokoknya zaman now mah pegangannya cuma iman aja keknya sama keyakinan kalau pejabat buruk pembuat kebijakan ekonomi kek gini akan segera binasa *aamiinin duluuu.
    Kalau soal sayuran lainnya, aku ma suamiku sama, semua kami makan. Tapi PR banget buat anak2 niiihh, anak zaman now nggak tahu kenapa kok picky yaa. Huhu.

  19. Ga suka pare. Ga tau ada trauma apa. Ya emang tau kalau dimasak ada rasanya dan katanya enak. Tapi zuzur ga berani nyoba juga.. tapi ini bukan cuma soal pare

  20. Kehidupan seorang ayah dikaitkan dengan sayur pare ini relate juga ya heheheh…

    Saya dari kecil kurang suka sayur ini karena pahit. Tapi begitu mertua yang masak dicampur sama udang, buih… Saya doyan dong. Sampai nambah-nambah. Emang jos masakan mertua saya baik papa maupun mama hehehe…

  21. Pembahasan yang menarik, aku kira tadi cuman bahas soal pare aja, ternyata dihubungkan dengan peran seorang ayah baik dalam lingkungan kerjaan atau rumah.
    Ngomongin soal pare, aku tau sayuran ini dari nenek aku, pastinya aku sendiri ga suka :D, karena entah kenapa kalau nenekku yang masak rasanya pahit hahaha.
    terus pernah coba nih di warung, icip icip ceritanya, ternyata malah ga kerasa pahitnya, memang bener nih kalau dari cara pengolahan memang mempengaruhi hasil masakan dari pare, ada yang pahit dan enggak

    ngomongin soal dihubungkan dengan kehidupan seorang ayah, pembahasannya mudah dicerna olehku. Meskipun kehidupan seorang ayah pasti ada “pahit-pahitnya”, tapi sebagai kepala keluarga tetep menjadi guide buat istri dan anak-anaknya dan berusaha memberikan kehidupan yang manis buat keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *