Namanya Dimas. Itu kalau laki-laki. Kalau perempuan, jelas Dimbak. Dia berumur dua puluh tiga tahun dan sedang mencari lokasi bagus untuk video YouTube-nya.
Channel-nya berisi tempat-tempat terbengkalai. Gedung tua, pabrik kosong, rumah sakit yang sudah lama tutup, termasuk poli-polinya. Kalau poligami, sepertinya masih terbuka sampai sekarang, deh!
Kali ini dia mendapat informasi dari sebuah grup Facebook tentang sekolah penerbangan yang ditutup pada 1994. Katanya, dahulu tempat itu digunakan untuk mendidik calon pilot. Bukan tempat belajar menulis, karena ada juga pulpen merek Pilot.
Sekarang, sekolah itu sudah lama ditinggalkan. Hutan dan semak-semak perlahan menelan bangunan, jalan, bahkan landasan pacunya.
Dimas datang bersama temannya, Rio. Mereka memarkir motor cukup jauh dari gerbang karena jalan menuju lokasi sudah rusak parah. Rumput tumbuh setinggi lutut. Ingat, ini lutut, bukan nama orang. Kalau nama orang yang itu Luhut.
“Serius nih mau masuk?” tanya Rio sambil memegang kamera.
“Ya iyalah. Buat apa jauh-jauh ke sini kalau nggak masuk?” jawab Dimas.
Dimas tertawa kecil. Sebenarnya, dia juga agak merinding melihat gerbang besi di hadapan mereka. Gerbang itu sudah berkarat dan sebagian ditumbuhi tanaman liar. Cat yang tersisa sudah mengelupas.
Di bagian atasnya masih terlihat tulisan:
SEKOLAH PENERBANGAN NUSANTARA
Beberapa huruf sudah hilang. Tulisan itu terlihat seperti nama sebuah tempat yang seharusnya sudah dilupakan.
Mereka masuk.
Landasan yang Sudah Lama Ditinggalkan
Landasan pacu terbentang di belakang bangunan utama. Dahulu mungkin permukaannya mulus seperti pipi Syahrini. Sekarang, retakan memenuhi aspal dan rumput tumbuh dari sela-selanya.
Di ujung landasan terdapat bangkai pesawat kecil. Catnya sudah pudar. Salah satu sayapnya miring. Ban pesawat itu kempis dan sebagian sudah tenggelam ke tanah. Jadi, tidak perlu kamu tiup untuk mengisi angin sekarang. Percuma.
“Kenapa pesawatnya ditinggal?” tanya Rio.
Dimas mengangkat bahu. Untung bukan mengangkat babu. Dia lebih sibuk mengatur kamera.
Mereka kemudian masuk ke gedung utama.
Debu tebal menutupi lantai. Jejak kaki mereka langsung terlihat jelas. Ada beberapa ruang kelas. Bangku kayu yang sudah lapuk masih tersusun seperti puluhan tahun lalu. Di depan kelas terdapat papan tulis dengan sisa-sisa tulisan kapur. Rumus-rumus fisika penerbangan masih terlihat samar.
Pada sebuah ruangan terdapat simulator penerbangan tua. Kursinya masih berada di dalam kokpit plastik. Layarnya pecah. Kabel-kabel menggantung dari bagian bawahnya.
“Coba duduk di situ,” kata Rio.
“Buat apa?”
“Konten.”
Ya, alasan paling ampuh untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Dimas duduk di kursi simulator. Debu beterbangan.
“Uhuk!”
“Botak sekalian, Dim,” kata Rio.
“Diam.”
Dimas mengarahkan kamera ke wajahnya.
“Oke, ini gila banget suasananya. Bayangin, dulu di sini murid-murid belajar terbang. Sekarang—”
Dia berhenti.
Ada suara.
Dimas menoleh.
Suara mesin.
Pelan.
Jauh.
Seperti mesin pesawat yang baru dinyalakan.
“Lo dengar nggak?”
Rio diam. “Apa?”
“Suara mesin pesawat.”
Rio mengangkat kepala.
Mereka sama-sama mendengarkan.
Suara itu sudah hilang.
Yang tersisa hanya angin dan suara daun kering yang bergesekan.
“Kayaknya lo kecapekan,” kata Rio.
Dimas tidak menjawab.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Jangan Naik ke Menara
Mereka menemukan kantor kepala sekolah. Di dalamnya terdapat meja tua, lemari arsip, beberapa map berdebu, dan foto-foto hitam putih.
Dimas mengambil salah satu foto. Sekelompok anak muda berdiri memakai seragam pilot. Mereka tersenyum lebar.
Di belakang foto tertulis:
Kelas 1993 — Angkatan Terakhir.
“Angkatan terakhir,” gumam Dimas.
Dia meletakkan foto itu kembali.
Namun ketika hendak berdiri, pandangannya tertuju pada kaca jendela.
Ada tulisan di sana.
Dimas membeku.
Tulisan itu dibuat di atas debu kaca. Seolah-olah seseorang baru saja menuliskannya dengan jari.
JANGAN NAIK KE MENARA!
Dimas menoleh kepada Rio.
“Lo yang nulis?”
Rio menggeleng.
“Gue dari tadi sama lo.”
Tidak ada yang berbicara.
Angin berembus melalui celah jendela.
Tulisan itu tetap berada di sana.
JANGAN NAIK KE MENARA!
“Udah,” kata Rio. “Kita pulang.”
Dimas masih memandangi tulisan tersebut.
Kemudian dia bertanya, “Ada menara di sini?”
Rio menatapnya.
“Dim.”
“Apa?”
“Jangan.”
Namun rasa penasaran Dimas lebih besar daripada rasa takutnya.
Menara Pengawas
Di belakang gedung utama memang terdapat sebuah menara pengawas. Tingginya beberapa lantai. Tangga besinya melingkar ke atas. Karat memenuhi hampir seluruh permukaannya. Kaca-kaca ruang pengawas di puncak sudah pecah.
“Menurut lo kenapa ada yang nulis jangan naik ke menara?” tanya Dimas.
“Karena mungkin ada alasan kenapa kita disuruh jangan naik.”
Dimas melihat jam di HP.
17.00.
Matahari mulai turun.
“Oke. Lima menit lagi kita pulang,” kata Dimas. “Gue mau ambil footage di hanggar.”
Rio menghela napas.
Mereka berjalan menuju hanggar.
Pesawat yang Seharusnya Sudah Berdebu
Hanggar berada di sisi lain kompleks. Pintunya berat dan berkarat. Ketika didorong, terdengar suara panjang.
Kreeeeet.
Di dalamnya gelap.
Dua pesawat tua masih berada di sana. Salah satunya terlihat aneh. Tidak seperti benda yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun.
Badan pesawat itu masih relatif bersih.
Dimas mendekat. Dia menyentuhnya. Dingin. Tidak berdebu.
“Ini aneh,” katanya.
Rio menyorotkan lampu HP. Kemudian terdengar suara itu lagi. Mesin pesawat. Kali ini lebih dekat. Sangat dekat.
Dimas menoleh. Lampu di ujung hanggar tiba-tiba menyala. Sekejap. Lalu mati.
“Rio.”
Tidak ada jawaban. Dimas berbalik. Rio sudah tidak ada.
Rio Menghilang
“Rio?”
Tidak ada jawaban. Dimas mengarahkan senter HP ke seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa.
“Rio, jangan bercanda.”
Hanya gema suaranya sendiri. Dia berlari ke luar dari hanggar. Langit sudah berubah menjadi jingga gelap. Dimas menelepon Rio.
Nada sambung terdengar. Kemudian, dari kejauhan…
Tring… tring…
Dimas berhenti. Nada dering HP Rio. Berasal dari arah menara. Dia berjalan ke sana.
Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Ketika sampai di kaki menara, nada dering berhenti. Dimas mendongak.
Dari balik kaca pecah di puncak menara, ada bayangan seseorang.
“Rio?”
Bayangan itu tidak bergerak. Dimas teringat tulisan di kantor.
JANGAN NAIK KE MENARA!
Tetapi kalau itu benar Rio, dia tidak punya pilihan. Dia mulai menaiki tangga.
Suara dari Atas Menara
Tangga besi berderit setiap kali diinjak. Angin semakin kuat. Setengah perjalanan, Dimas mendengar suara radio.
Kresek… kresek…
Lalu sebuah suara:
“Nusantara Tower, ini Delta Satu. Minta izin mendarat.”
Dimas berhenti. Radio kembali berdesis.
“Ulangi. Minta izin mendarat.”
Dia melanjutkan naik. Sampai di puncak, ruangan pengawas itu kosong. Tidak ada Rio. Hanya radio tua, kabel-kabel, meja dan kursi yang sudah lapuk. Kemudian Dimas melihat sesuatu di lantai.
Jejak kaki basah.
Jejak itu masuk dari jendela. Berjalan ke tengah ruangan. Kemudian berhenti. Tidak ada jejak keluar.
Dimas mundur. Radio menyala lagi.
Kresek…
“Delta Satu. Kondisi darurat.”
Suara itu terdengar seperti rekaman lama.
“Mesin kanan mati.”
Dimas menahan napas.
“Kami akan coba mendarat.”
Kemudian suara itu berubah. Bukan lagi suara pilot. Lebih pelan. Lebih dekat. Seolah-olah seseorang sedang berbisik tepat di telinganya.
“Jangan biarkan mereka pergi.”
Dimas lari.
Kelas 1993
Dia turun secepat mungkin. Begitu sampai di bawah, dia hampir terjatuh. Kemudian dia melihat Rio. Berdiri di dekat menara.
“Rio!”
Tidak ada jawaban. Dimas mendekat. Ada sesuatu yang berbeda pada temannya. Bajunya basah kuyup. Padahal hujan tidak turun. Matanya kosong.
“Rio?”
Perlahan Rio menoleh. Dia tersenyum. Senyumnya terlalu lebar.
“Aku ketemu mereka,” katanya.
Dimas mundur.
“Siapa?”
Rio menunjuk ke arah landasan.
“Mereka nunggu.”
“Siapa?”
“Kelas 93.”
Dimas melihat ke arah yang ditunjuk Rio. Di ujung landasan, muncul cahaya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Semakin banyak. Lampu-lampu kecil seperti lampu pesawat mulai menyala di sepanjang landasan yang kosong.
Kemudian terdengar suara mesin. Kali ini sangat keras. Tetapi tidak ada pesawat.
Hanya kabut yang perlahan muncul dari permukaan tanah. Dari dalam kabut itu, satu per satu bayangan manusia mulai terlihat.
Anak-anak muda. Mereka mengenakan seragam pilot. Mereka berjalan perlahan menuju gedung.
Dimas tidak bisa bergerak. Rio masih tersenyum.
“Mereka mau pulang, Dim.”
Mereka yang Tidak Pernah Pulang
Dimas menarik tangan Rio.
“Kita pergi.”
Rio tidak bergerak. Kemudian tangannya mencengkeram tangan Dimas. Kuat sekali.
Mata Rio berubah. Tatapannya bukan lagi milik Rio. Ada sesuatu yang tua di sana. Sesuatu yang sudah terlalu lama menunggu.
“Kalian datang ke sini,” kata suara dari mulut Rio.
Bukan suara Rio.
“Kalian ganggu tempat kami.”
Dimas mencoba melepaskan tangannya.
“Kami cuma mau pergi.”
“Kami juga mau pergi.”
Kabut semakin tebal. Bayangan para pemuda semakin dekat.
“Kami menunggu sejak 1993.”
Dimas teringat foto di kantor.
Kelas 1993 — Angkatan Terakhir.
Tiba-tiba dia mengerti. Bukan gedung ini yang membuat mereka terperangkap. Bukan pula menara.
Mereka hanya belum pernah mendapatkan akhir. Tidak ada jasad. Tidak ada makam. Tidak ada kepastian bahwa mereka benar-benar sudah pergi.
Mereka masih menunggu seseorang mengatakan bahwa penantian itu selesai. Dimas melepaskan tangan Rio dan berlari menuju gedung utama.
Kalian Boleh Pulang
Dia kembali ke ruang kelas. Papan tulis masih berada di sana. Nama-nama murid kelas 1993 tertulis samar. Sepuluh nama.
Di bawahnya ada sebuah kalimat yang sebelumnya tidak dia lihat. Tulisan kapur itu sangat tipis.
Kami akan pulang kalau ada yang bilang kami boleh berhenti menunggu.
Dimas mengambil kapur. Tangannya gemetar. Dia menulis tepat di bawahnya:
KALIAN SUDAH DITEMUKAN.
Dia berhenti. Kemudian menambahkan:
KALIAN BOLEH PULANG.
Begitu kapur terakhir menyentuh papan…
Semua suara berhenti. Angin. Jangkrik. Suara mesin. Semuanya.
Hening. Kemudian terdengar suara sangat pelan dari luar. Seperti banyak orang mengucapkan sesuatu secara bersamaan.
Dimas berlari keluar. Kabut mulai menghilang. Bayangan para pemuda satu per satu memudar. Tidak ada lagi suara mesin. Tidak ada lagi cahaya.
Sebelum bayangan terakhir menghilang, Dimas melihat seseorang berdiri di ujung landasan. Seorang pemuda berseragam pilot.
Dia mengangkat tangan. Melambaikan tangan. Bukan sebagai ancaman. Tetapi seperti seseorang yang akhirnya bisa pulang.
Terima Kasih
Rio ditemukan Dimas dalam keadaan terduduk di dekat menara. Matanya sudah kembali normal.
“Dim?”
Dimas berlutut di sampingnya.
“Lo nggak apa-apa?”
Rio memegang kepalanya.
“Gue sakit kepala banget.”
Dimas tidak menjawab. Dia hanya menarik Rio berdiri. Mereka berlari menuju motor.
Tidak peduli lagi dengan kamera. Tidak peduli dengan peralatan syuting yang tertinggal. Mereka meninggalkan tempat itu malam itu juga.
Keesokan harinya, Dimas mencari informasi tentang sekolah penerbangan tersebut. Dia menemukan sebuah artikel berita lama.
Tahun 1994. Isinya tentang kecelakaan pesawat latihan pada malam hari. Sebuah pesawat jatuh di kawasan hutan dekat sekolah.
Sepuluh murid dan seorang instruktur berada di dalamnya. Tidak ada jasad yang ditemukan. Sekolah kemudian ditutup.
Dimas membaca artikel itu sampai selesai. Lalu dia menemukan sebuah foto lama. Foto yang sama seperti yang dia lihat di kantor kepala sekolah.
Kelas 1993.
Dimas memperbesar foto tersebut. Dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas. Di belakang para murid, jauh di dekat pintu gedung, ada seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.
Seorang pria berdiri membelakangi kamera. Mengenakan seragam pilot.
Dimas mengenali seragam itu. Dia sama seperti sosok yang terakhir dilihatnya di landasan.
Dimas menutup laptop. Dia tidak pernah kembali ke sekolah itu. Video yang direkamnya juga tidak pernah bisa diputar.
Semua file kosong. Hanya satu rekaman audio yang tersisa. Durasi tiga detik. Dimas memutarnya.
Awalnya hanya suara statis.
Kresek…
Berikutnya terdengar suara pelan. Sangat jauh. Namun jelas.
“Terima kasih.”


