Ketika saya masih berada di Kendari dan tinggal bersama om dan bulek saya, saya pernah diwanti-wanti khususnya berkaitan dengan pernikahan. Kata om saya, kalau saya mau menikah, bapak saya mesti jual rumah!
Tentu saja, waktu itu saya terkejut. Untunglah kaget saya tidak sampai lompat ke atap. Sebab, kalau itu saya lakukan, om saya pasti tidak kalah kagetnya pula.
Ternyata, om saya menjelaskan bahwa itu berkaitan dengan tradisi dan budaya pernikahan yang ada di dalam suku Bugis-Makassar. Utamanya memang suku Bugis yang banyak mendiami bumi Sulawesi ini.
Budaya pernikahan tersebut disebut dengan uang panaik. Sebenarnya, yang lebih tepat adalah uang panai, tetapi karena pengucapan suku Bugis sendiri yang khas dan sering saya dengar, maka uang panai jadi uang panaik. Pakai “k”. Kamu suka huruf k? Kalau sampai jawab suka, yang disukainya apanya, sih?
Uang Panaik Biasanya Bernilai Fantastis
Meskipun dalam subjudul di atas saya sebutkan tentang nilai fantastis, tetapi ini tidak ada hubungannya dengan fantastis four, ya! Beda jauh, dan mereka pun pastinya tidak pakai uang panaik ini untuk menikah.
Dalam budaya, tradisi, atau kebiasaan pernikahan suku Bugis di Sulawesi ini, uang panaik jumlahnya cukup lumayan. Lebih tepatnya lumayan menguras kantong, menguras pikiran, menguras tenaga dan waktu, dan jangan lupa menguras bak mandi bila memang sudah kotor, ya!
Bagaimana tidak, uang panaik jarang yang bernilai kecil. Selama saya di Sulawesi ini, tidak pernah saya dengar ada uang panaik cuma seribu rupiah. Itupun pakai uang mainan. Hey, ini mau dapat istri atau malah mau main monopoli?
Uang panaik yang pernah terjadi nilainya memang jutaan. Bukan 1 atau 2 juta, melainkan belasan, puluhan, hingga ratusan juta rupiah. Malah ada yang miliaran. Silakan cari berita sendiri tentang ini.
Kok bisa sih nilainya besar begitu? Ya, soalnya uang panaik ini berkaitan dengan beberapa hal. Pertama, uang panaik sebagai simbol keseriusan, perjuangan, dan tekad yang bulat bukan segitiga, dari seorang laki-laki kepada perempuan yang akan dinikahinya.
Baca Juga: Kebalikan dari KDRT, Tetapi Justru Membuat BT
Uang panaik memang dibayarkan dari pihak laki-laki sebagai bagian dari prosesi pernikahan. Dan, ingat, uang panaik ini berbeda dengan mahar. Dilihat dari tulisannya saja sudah berbeda bukan?
Kalau uang panaik berkaitan dengan acara pernikahan. Dari uang itu bisa dibelikan satu ekor sapi untuk disembelih dan nantinya dihidangkan untuk para tamu pesta pernikahan ataupun walimah.
Dibelikan juga bahan-bahan makanan dan minuman lainnya. Beras, daging ayam, sayur, minyak goreng, dan banyak lagi, intinya untuk menjamu tamu yang datang. Kalau tamu yang tidak hadir dan tidak mengisi absen sidik jari, ini susah mau dikasihnya.
Sedangkan mahar itu adalah pemberian khusus untuk mempelai perempuan. Biasanya ini hanya berupa seperangkat alat sholat. Bentuknya, ya, mukena, jilbab, sajadah, dan tasbih kalau memang perlu.
Bisa juga ditambahkan emas perhiasan, mungkin juga berupa HP, atau sebidang tanah. Jangan tanah yang bidangnya cuma satu genggam, ya!
Disepakati oleh Kedua Keluarga
Saat datang melamar, pihak laki-laki dan pihak perempuan bertemu di rumah. Tentunya, di rumah keluarga perempuan, masa di rumah presiden?
Pertemuan itu selain menyepakati waktu, tempat, dan model pernikahan, juga tidak lupa dibahas tentang uang panaik ini.
Negosiasi penting pun berlangsung. Kadang negosiasinya memang alot. Ternyata, alotnya karena sambil makan daging yang sudah tua umurnya. Meskipun ada bentuk negosiasi lainnya yang lebih alot, rupanya negosiasi tersebut sambil mengunyah sandal jepit.
Dalam tahap negosiasi uang panaik ini memang tidak kalah dengan negosiasi tingkat tinggi antarkepala negara, misalnya negosiasi antara Negara Wakanda dengan Negara Konoha yang tidak akan menghasilkan apa-apa itu.
Ada yang mengkritik saat negosiasi ini, entah bagaimana tanggapan kamu dengan ini, bahwa terlihat seakan-akan menetapkan “harga” seorang perempuan. Tentu, ini bisa menimbulkan perdebatan yang lebih panjang. Apakah perlu panelis debat juga seperti debat capres?
Yap, dalam sebagian praktik yang saya temui atau beberapa keluarga, uang panaik ini memperhitungkan latar belakang si perempuan yang akan menikah.
Dilihat dari tingkat pendidikannya, apakah S1, S2, atau malah S3. Tentunya, ada ijazah SMA-nya juga dong, tidak seperti yang di sana itu.
Pekerjaan juga menjadi pertimbangan dalam penentuan jumlah uang panaik, masih dalam praktik sebagian keluarga. Contohnya, si perempuan ini berprofesi sebagai dokter, maka mungkin akan berbeda kalau si perempuan masih kuliah.
Perempuan yang berprofesi sebagai ASN bisa “dihitung” lebih tinggi lagi. Terlebih bila sudah ASN, dokter lagi. Wah, pokoknya, uang panaik itu dilandasi oleh banyak faktor, deh! Sementara itu, di sawah juga banyak faktor untuk membajak.
Baca Juga: 3 Makna Kentut Bagi Pasangan Suami Istri
Ada hal yang cukup menarik. Ini kata seseorang yang berkecimpung dalam dunia dakwah, bahwa uang panaik demi menikahi perempuan yang sudah menjadi akhwat berjilbab besar, bahkan bercadar, ternyata tidak selalu jadi lebih rendah, lho!
Jumlahnya bisa tetap mencapai 70 juta, 80 juta, atau lebih daripada itu. Padahal, ‘kan anaknya jadi penggiat dakwah. Orang tuanya juga mungkin sudah paham bahwa anaknya dekat dengan ilmu agama Islam.
Namun, ya, begitulah. Uang panaik ini belum tentu yang menentukan adalah orang tuanya sendiri. Bisa jadi kakeknya, pamannya, atau pihak lain dalam keluarga yang punya kekuasaan.
Ada juga sebuah pandangan yang beranggapan bahwa uang panaik yang tinggi karena tergantung kualitas perempuan yang akan dinikahi.
Misalnya akhwat tersebut lulus dari perguruan tinggi Islam, pintar berbahasa Arab, punya hafalan Al-Qur’an, tentu saja juga faktor kecantikan yang hem, ini juga bisa memperbesar uang panaik. Tentu, ini pandangan yang pernah saya dengar dan tidak bisa disamakan ke semua keluarga muslim, lah yauw!
Bila sudah ditetapkan uang panaik yang cukup tinggi, tergantung sekarang si laki-lakinya, nih? Apakah sanggup membayar uang panaik sebesar itu? Ataukah bisa diturunkan oleh pihak keluarga perempuan? Ini tentu butuh pendekatan lagi agar makin dekat, kalau penjauhan, ‘kan jadi makin jauh.
Alasan Uang Panaik Memang Bertambah Naik

In this economy, begitu kata orang-orang bahwa keadaan ekonomi sekarang mungkin tidak sedang baik-baik saja. Berarti, kalau ditanya kabar, maka template “kabar baik-baik saja” mungkin tidak selalu pas dengan kondisi ekonomi sekarang.
Ketika harga-harga kebutuhan pokok naik, wajarkah jika uang panaik bertambah besar juga? Ya, wajar saja, dong. Beras naik, daging naik, sayuran naik, yang tidak naik cuma barang yang turun. Eh, barang apa itu?
Meskipun begitu, sesuai dengan judul artikel ini, apa sih yang membuat uang panaik itu memang akan selalu naik, bahkan bisa jadi setiap tahun?
Rupanya, setelah saya cermati bukan cerhidup, ternyata uang panaik bertambah naik karena istilah itu sendiri. Namanya uang panaik memang akan selalu naik. Bila mau tidak naik, namanya diganti saja jadi uang paturun!
Yap, kalau namanya bukan uang panaik, tapi uang paturun, maka bisa jadi akan turun. Ibaratnya, bila yang diminta setengah juta, maka cukup membayar dengan 500 ribu rupiah saja. Cepat-cepat saja dimanfaatkan, karena biasanya kalau Senin, harga sudah naik. Malah iklan perumahan mewah, nih!
Apakah Menghadapi Uang Panaik Akan Putar Balik?
Bagi sebagian orang berpendapat bahwa uang panaik ini termasuk budaya yang keliru. Mengeluarkan uang sampai puluhan juta rupiah hanya untuk acara semalam, lebih baik digunakan sebagai mahar untuk perempuan.
Kalau berupa mahar, maka suatu saat ketika ekonomi sedang tidak baik-baik saja, mahar bisa dipakai sebagai penyelamat. Entah untuk modal usaha, dijual, atau untuk kebutuhan hidup lainnya.
Namun, bila uang puluhan juta itu berupa uang panaik, memang akan cepat habis karena digunakan untuk pesta pernikahan saja. Terlebih bagi yang suka menambah porsi makanan saat acara berlangsung. Hey, nggak malu apa ambil tambah? Kalau tambah cuci piring, masih okelah.
Bila suatu saat ada seorang laki-laki yang akan melamar gadis Bugis-Makassar dan diminta uang panaik, apakah dia akan tetap maju atau putar balik? Tanpa menunggu aba-aba dari pemimpin upacara, dia balik kanan dan akan melupakan gadis itu?
Jika tetap maju, maka ini berarti betul-betul niat untuk menikahi. Sebab, bisa jadi juga, uang panaik dibuat tinggi demi menolak pinangan laki-laki tersebut. Misalnya, uang panaiknya diminta 1 miliar, mungkin ini mengada-ngada, bikin si laki-laki kepada ayahnya jadi mengadu-adu.
Jelas itu sebuah tantangan bagi seorang laki-laki. Apakah tetap dengan pilihan gadis tersebut ataukah mencari gadis lain? Mencari mungkin yang lebih murah, mudah, dan terjangkau di kantong, entah kantong yang mana? Apakah pilih kantong sebelah kanan atau tirai nomor 1? Eh, malah kuis Super Deal!
Biasanya, tanda proses pernikahan yang berbelit-belit melilit itu adalah indikasi bukan jodohnya. Namun, ini pernah terjadi pada teman saya. Awalnya juga seakan-akan mau dihalangi dengan uang panaik besar, rupanya orang tua si perempuan mulai suka dengan teman saya tersebut.
Makanya, bila suatu saat kamu yang ingin menikahi gadis Bugis dan mendapati uang panaik tinggi, tidak perlu dijelaskan bahwa sebaik-baik perempuan itu adalah yang paling murah dan mudah maharnya. Sebab, ada yang keluarganya belum tentu peduli, terlebih merasa harga diri dan gengsinya yang cukup tinggi.
Tidak perlu berkecil hati, usus, hingga ginjal yang memang sudah kecil, laki-laki lebih menang, kok. Laki-laki memang menang dalam memilih, tetapi perempuan pun menang dalam menolak.
Sampai di sini, uang panaik tetap jadi pembahasan yang menarik. Meskipun sanggup membayar tinggi untuk uang panaik, tetapi bila si perempuan sudah tidak tertarik, akhirnya niat dan kesempatan menikahi pun jadi tidak berkutik.





Jadi bersyukur banget saya dilahirkan di adat yah tidak ada istilah uang panaik. Eh ini bukan mau rasis ya. Setiap keluarga pasti ada musyawarah berapa besar pihak laki mau bantu untuk resepsi di pihak perempuan, hanya mungkin istilahnya aja kalau di luar suku Bugis ada bukan panaik.
Tapi semuanya kembali ke pasangan yang akan menjalankan rumah tangga ya. Calon suami istri pasti memahami bagaimana kemampuan masing-masing.
Betul, Mbak, di daerah lain selalu ada pembicaraan seputar biaya pernikahan ini dan siapa nanti yang mau bayar lebih banyak atau kesepakatan kedua keluarga.
Bajak sawah masa pake faktor, salah
Harusnya pake helikopter.
Baru beberapa detik saja baca tentang uang panaik, saya langsung inget Panadol.
Jangankan ngasih uang ratusan juta buat nikah seperti itu, saya kehilangan uang 5000 aja udah PANAIK banget, langsung cari kemana-mana.
Kalo punya uangnya cuma sejuta setengah bisa nikah full ngga om?
Ya, bisa bajak pakai helikopter kalau sawahnya melayang di udara. Kehilangan uang memang bikin panaik, apalagi bila sebelumnya tidak punya uang, tapi tetap kehilangan juga. Kalau punya uang cuma sejuta setengah tetap bisa menikah, tapi yang berada full di dalam gedung cuma tamu undangannya, sementara yang mempelai laki-laki malah full berdiri di luar gedung.
Kalau di tradisi Banjar dan Bugis uang panai (Jujuran dalam Bahasa Banjar) memang seperti hal yang wajib ya, baik untuk orang awam maupun yang paham agama. Dan biasanya status pendidikan, pekerjaan calon mempelai perempuan juga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan besar kecilnya panai.
Wah, ada tradisi yang sama juga dengan di Banjar, ya!
Budaya yang bisa bikin panas dingin merinding
Aku pernah bertetangga sama orang Bugis. Waktu itu, ada yang menikah. Aku juga mendengar soal uang panai ini. Dan benar saja nominalnya memang bukan kaleng-kaleng. Di tahun 2013 saja sudah ada yang uang panainya 200juta. Hmm…
Waowww, padahal tahun 2013, ya, Mbak? Apalagi sekarang, sudah milyaran. Hem..
Hahaha, judulnya saja sudah bikin ngakak. awkwkkww, Mas Rizky. Ternyata uang panaik bisa naik bukan cuma karena kebutuhan pesta dan harga bahan pokok, tetapi juga karena permainan kata yang jenaka. Di balik humor yang diselipkan, ada persoalan menarik tentang tradisi, gengsi keluarga, dan kesiapan pasangan membangun rumah tangga. Menurut saya, tradisi tetap layak dihargai, tetapi jangan sampai besarnya biaya pernikahan justru menjadi penghalang dua orang yang sudah saling ingin membangun kehidupan bersama. Tulisan yang menghibur sekaligus mengajak merenung panjanggg
Hehe, makasih Mas. Yah, namanya tradisi di Bugis-Makassar begitulah, beda dengan tradisi semacam di Jawa yang mungkin lebih mudah dan murah.
Jadi bikin ngeri ngeri sedep juga mikirin mau berumah tangga euy! membayangkan uang Panai euuuy heheheh
kadang masalah bukan cuma di angka nominalnya aja, tapi soal niat tulus sama kecocokan dari dua belah pihak. Kalau memang jalannya dimudahkan, seberat apa pun tantangannya pasti ketemu solusinya.
Nah, cocok, Om. Bahkan, banyak terjadi, dari yang uang panaiknya tinggi, ternyata tetap dimudahkan juga. Kalau sudah jodoh, memang begitulah jalannya.
eh, sepertinya ada film yang lagi tayang di Neflix yang judulnya uang Panai. Cuma saya masih agak bingung, berarti uang panai ini nanti yg menerima kelg wanita saja? Uang panai ini tidak untuk biaya resepsi? Biaya resepsi beda lagi? Dan uang mahar juga beda lagi. Waw, berat juga ya. Pantesan sampai dibilang, bisa-bisa harus jual rumah. Bagaimana ceritanya kalau sudah jual rumah tau2 wanitanya menolak?
Kalau uang panaik itu memang untuk resepsi pernikahan, Mbak. Beda dengan mahar yang biasanya cuma seperangkat alat sholat dan khusus untuk mempelai perempuan.
Jadi inget cerita orang-orang Arab yang sering pergi ke Puncak, Bogor dan mencari calon istri di sana. Salah satu alasan yang sering mereka lontarkan adalah karena mahar perempuan-perempuan di sana sangat murah dibandingkan perempuan-perempuan Arab yang katanya meminta mahar tinggi sekali.
Setiap wilayah punya kultur berbeda-beda dalam setiap kehidupan, termasuk dalam pernikahan. Dari cerita uang panaik di suku Bugis ini kita belajar betapa beragamnya budaya di negeri kita yang mungkin bagi yang belum paham bisa membuat mengernyitkan dahi dengan kebiasaan ini.
Kebetulan saya kalo weekend kan suka ikutan freelance di event wedding ya mas. Memang kalau Bugis itu, kalau nikah luar biasssaaa mewahnya, hihihi. Selain panaik, saya juga ingat satu prosesi unik dimana semua keluarga berkumpul melingkar, lalu kedua pengantin akan bersimpuh dan menghampiri mereka satu per satu. Sekilas, tidak ada yang aneh. Tapi ketika bersimpuh itu, para keluarga akan memberikan hadiah emas dan berlian, langsung dipasangkan ke pergelangan pengantin saat itu juga. Beuh, saya lihatnya cuma bisa terpana mas.
Wah, wah, wah, kalau yang praktik itu baru saya tahu tuh!
Daku keknya pernah dengar dari tivi dan baca di statusnya blogger siapa gitu soal uang panaik, kalau ga salah ada blogger juga yang dari Sulawesi bahas ini (lupa-lupa ingat, karena udah lama hihi)
Mungkin kalau di daerah lain, ada juga kali ya istilahnya itu uang apa alias sebagai uang untuk persiapan pernikahan.
Terbilang besar juga nominalnya.
Kalau uang panaik nya aja besar, kek apa lagi dah besarnya mahar yang diminta, hemm
Kalau mahar, malah cenderung kecil aja, Mbak. Biasanya berupa seperangkat alat salat atau perhiasan yang nilainya tidak sebesar uang panaik.
Kalau di suku banjar uang panaik itu sebutannya duit jujuran dan pastinya nilainya juga lumayan sih tergantung orang tua si gadis. Dan sebenarnya uang jujuran ini memang digunakan untuk biaya pernikahan ya dan kadang yang bikin sungkan itu jadi ajang pamer gitu siapa yang paling mahal uang jujurannya
Hehe, namanya juga panaik, kalau nggak naik malah jadi bahan pertanyaan, ya! 😁
Tapi di balik candaan itu, ada persoalan menarik tentang tradisi, gengsi keluarga, dan kondisi ekonomi yang terus berubah.
Menurutku, yang perlu dijaga adalah bagaimana tradisi tetap dihormati tanpa membuat pernikahan terasa seperti proyek besar yang harus menguras tabungan bertahun-tahun.
Sebab, pernikahan itu baru awal perjalanan, bukan garis finis setelah berhasil mengumpulkan uang panaik.
Menarik nih kalau tradisi dan realitas ekonomi bisa dibicarakan tanpa saling menghakimi.
Setiap suku bangsa, pasti punya budaya masing-masing ya
Termasuk budaya yang terkait tentang pernikahan, seperti uang panaik ini ya. Konon, makin terpelajar perempuan, uang panaiknya makin tinggi ya
memang buah simalakama yaa kalau masalahnya dengan adat budaya. Kita harus mematuhi budaya setempat tapi kalau tidak punya modal untuk panaik ya rumit juga. Apa bisa yaa dibicarakan atau ada negosiasi tentang uang panaik,,,
Budaya ada karena merupakan produk dari kebiasaan dan juga hal-hal yang dilakukan oleh suatu masyarakat dan apabila memang sudah ditaati ikuti sesuai dengan kemampuan karena pastinya juga ada pemaluman-pemakluman bagi orang-orang yang tidak mampu atau tidak biasa
Ow jadi uang paniak itu untuk acara pernikahannya ya. Semakin besar uang panaiknya, semakin mewah acaranya. Lha sebenernya sama aja nggak sih sama suku-suku lain juga. Kebanyakan juga pihak laki-laki yang menanggung. Bedanya nggak ada istilah panaik aja. Cuma uang pesta. Biasanya juga negosiasi.
Tapi ada juga sih adat yang menganut pembiayaan pernikahan dari keluarga perempuan. Ya emang beda-beda gmn kesepakatan aja ya.
Ya, sebagian besar ditanggung pihak laki-laki, tapi ada juga sih yang patungan, hanya tidak terlihat di luar saja.
Menarik banget sih adat ini. Mungkin mirip dengan uang susu juga ya ini. Jadi buat orang tuanya lalu buat bantu pesta. Walau kalau di kepercayaan agama Islam ga gini ya, tapi biasanya masih akan digunakan terus untuk suku yang memegang kebiasaan dan adat ini
Adek aku in syaa Allah akan mendapat orang Sulawesi niih, ka Rizky.
Doain yaa.. biar dealing panaiknya sesuai dan adek bisa nikah.
Hihii… secara kami, orang Surabaya yaa.. modal nekad, seperti pemimpin kami, Bung Tomo.
Merdeka!
Wah, iya, Mbak, semoga dilancarkan, ya!
Kata suamiku: untung nikah ma orang Jawa jadi nggak pakai uang2 gitu =))
Yaaa kalau orang Jawa mah yang muslim pokoknya sesuai aturan agama aja, yang nggak memberatkan cowok tapi juga yang nggak merendahkan cewek.
Uang panaik ini sebuah tradisi yang aku yakini tujuannya kek gitu, hanya saja sekarang di dunia yang makin meterialistis ini dan tentu angkanya kena inflasi jadi kelihatan fantastis nilainya.
Ditambah kalau ada oknum yang sepertinya memanfaatkan.
Yaaa, kalau sanggup jalanin, kalau nggak terserah, mau usaha atau mundur. Soalnya aku percayanya kalau udah jodoh pasti jalannya mudah. Kalau ribet yawdalah nggak jodoh deh.