Paket Data Internet yang Dikira Habis Saat di Rumah Sakit

Paket Data Internet yang Dikira Habis Saat di Rumah Sakit

Hari Sabtu kemarin, saya mengantar istri dan anak ketiga saya ke rumah sakit Tanduale, Kabupaten Bombana. Kontrol rutin, pemeriksaan gigi istri.

Pemeriksaan rutin itu perlu dilakukan karena istri saya cukup mengalami masalah gigi yang serius, bukan bercanda, apalagi tertawa.

Setelah kelahiran anak ketiga, rupanya dia kurang kalsium. Giginya keropos, bahkan sampai dicabut lima buah. Tentu, tidak sekaligus dicabut lima, dong.

Perawatan yang sekarang diperlukan untuk menuju ke arah pembuatan gigi palsu, tidak ada kaitannya dengan ijazah. Eh.

Jadi, hari Sabtu saya pilih karena pas hari libur kerja. Hari Sabtu juga hari yang baik. Lho, bukankah semua hari itu baik? Yap, Mas Hari memang baik.

Memanfaatkan Paket Data Internet

Ketika pergi ke rumah sakit tersebut, secara otomatis tidak bisa membawa WiFi dari rumah. Atau, dengan kata lain, WiFi dari rumah tidak sampai ke rumah sakit.

Jadi, kalau sudah begitu, yang diperlukan tentu saja paket data internet. Saya memakai by.U dari Telkomsel. Kenapa by.U? Ya, kalau bayi itu pasti bukan termasuk paket data, tetapi baru lahir, lah yauw!

Awalnya, biasa-biasa saja. Scan nomor antrian dan lapor di bagian resepsionis rumah sakit. Seorang perempuan yang memakai jilbab. Tampak sehat. Apa mungkin karena tidak sakit, ya?

Naik ke poli gigi di lantai dua. Menaiki tangga yang sudah ada keterangan naik di sebelah kiri dan turun di sebelah kanan. Yang naik warna biru, yang turun warna merah. Entah, apa maknanya? Dan, entah pula apa makannya?

Namun, yang mengherankan dan tiba-tiba terjadi, saya chat teman saya tidak terkirim. Waduh, ini sinyal bahaya! Ada apakah gorengan, eh, maksudnya, ada apakah gerangan?

Apakah paket data internet saya sudah habis? Perasaan tadi paket datanya masih ada 1,5 giga. Apakah karena ini di sekitar poli gigi jadi berpengaruh ke jumlah giga? Hem, main sambung saja.

Sempat saya berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Maunya sih pinjam otak orang lain juga, tetapi ternyata pakai otak saya sudah cukup.

Secepat itukah hilang 1,5 giga? Padahal, saya cuma menggunakannya untuk chat AI, berdiskusi tentang suatu hal. Hehe, dari chat itu, akhirnya saya membeli domain ayahngopi.com ini, lho!

Ah, daripada pusing, padahal pusing itu biasanya berupa bau di kamar mandi, saya memilih mengajak anak bungsu saya ke musholla rumah sakit. Alhamdulillah, di dalam dingin karena ada AC. Sudah tahu bukan kalau AC bisa bikin dingin?

Bermain-main di situ bersama dia. Merasakan betul-betul kehadirannya, sebelum nanti kehilangan. Entah saya yang hilang duluan, atau dia duluan, waallahu ‘alam.

Saya mengecek HP, masih belum gangguan. Chat WA ke presiden tidak bisa. Ya, tentu saja, sih, kalau presidennya Korea Utara, walah.

Sempat pula singgah di kios dekat parkiran motor. Rencananya mau beli paket data. Rupanya, si penjaga kios yang saya merasa antara kenal dan tidak kenal, justru mengatakan susah sinyal.

Oh, berarti memang sinyal internet sedang ada gangguan. Saya tidak jadi membeli paket data internet. Hanya membelikan jajanan untuk anak saya. Kalau membelikan jajanan untuk si penjaga kios, jelas tidak bisa bukan?

Paket Data Internet Itupun Kembali dengan Selamat Sentosa

Menjelang siang hari yang makin terik dan bisa bikin teriak, paket data internet akhirnya muncul tiba-tiba. Tanpa bilang permisi atau minta maaf, dia kembali ke dalam HP RedMi saya.

Alhamdulillah, komunikasi pun bisa terjalin lagi. Chat dengan teman saya pun bisa jalan lagi. Ini merupakan berita yang sangat bagus. Mungkin perlu diberitakan juga di CNN.

Setelah ada paket data internet itu, saya jadi merasa, betapa bergantungnya saya dengan barang tersebut. Meskipun HP-nya iPhone 25, nyatanya memang belum ada, tetapi tanpa paket data internet, apalah gunanya.

Hidup seribu tahun, kalau tak sembayang, apalah gunanya juga. Ya ‘kan?

Paket data internet sudah menjadi kebutuhan pokok, bahkan sepertinya lebih pokok dan pokoknya harus ada.

Soalnya, barang itu yang dicari pertama kali dan ditinggalkan terakhir kali. Coba kamu lihat keseharianmu. Bangun tidur, pasti mengecek HP bukan? Mau tidur, mengecek HP lagi bukan?

Paket data internet termasuk kebutuhan yang tidak terlalu penting bagi sebagian orang, padahal mereka punya HP juga. Lho, kok bisa?

Ya, jelas, bukan kebutuhan yang penting-penting amat, karena di rumahnya sudah pasang WiFi. Jadi, tidak butuh kartu SIM untuk mengakses data internet. Kalau kartu SIM tidak dipakai, apalagi STNK.

Jadi Merenung dari Paket Data Internet Ini, deh!

Kalau kamu biasa beli paket data internet di mana? Langsung dari HP atau mampir di konter? Mungkin ada yang masih singgah di konter dan setiap hari di konter itu. Rupanya, di rumahnya memang buka usaha konter HP!

Ketika sudah punya paket data internet, bisa dibawa mobile. Hal ini berbeda dengan WiFi yang biasanya lebih menetap, seperti di dalam rumah maupun dalam kantor.

Saat paket data internet itu sudah tertancap di HP, bisa kamu pakai untuk apa saja. Bisa chat WA, Telegram, buka Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, atau bahkan main judol. Lah, masih main itu?

Belinya sekali, tetapi gunanya banyak sekali. Harganya pun bermacam-macam. Tidak bisa disamakan provider satu dengan yang lainnya. Cari saja yang paling murah. Kan kamu biasanya begitu toh?

Jika sekali beli paket data internet, lalu bisa semuanya, coba kita bayangkan dengan paket dalam kehidupan kita. Misalnya kamu sebagai ayah, kepala keluarga, sekaligus sebagai suami dari istri kamu. 

Kamu dapat satu paket keluarga, mungkin istrimu memang baru satu, anakmu baru tujuh. Masih kurang?

Kamu berusaha untuk menjaga paket tersebut, seperti kamu menjaga paket data internet. Kalau bisa, sih, paket data internetmu itu jangan terlalu boros saat kamu di luar rumah. 

Namun, memang yang paling menjengkelkan adalah ketika paket data internet itu hilang sinyal internetnya, seperti yang kualami di rumah sakit di awal tulisan ini. 

Kamu mau buka medsos, eh, terhalang sinyal yang justru membuat sial. Kamu mengecek berkali-kali paket data, malah hilang tanpa menampakkan batang hidung. Memangnya, batang hidung paket data kayak apa?

Rasanya hidup jadi hampa tanpa paket data internet tersebut. Oh, ya, bisa juga ditarik paket data internet di sini adalah WiFi kamu di rumah. Ketika hilang sinyalnya, maka terasa kiamat kecil. Dunia terasa runtuh. 

Lalu, bagaimana dengan paket yang ada dalam hidup kamu? Istri dan anak-anakmu yang jadi satu paket itu. Saat kehilangan mereka, apa yang kamu rasakan? Apakah kehilangannya sama dengan sinyal internet?

Mungkin mereka memang belum betul-betul hilang dari pandanganmu. Tapi, kebersamaan di dalam keluarga, di dalam rumah, terasa hilang karena masing-masing sibuk dengan HP. 

Waktu kamu kecil, kamu berkumpul dengan orang tua kamu menonton TV bersama-sama di ruang tengah. Bahkan, kamu sampai tertidur dan dipindahkan oleh ayah kamu.

Pas kamu bangun, tahu-tahu sudah di kamar. Jelas ini kamar tidur, lah, masa di kamar mandi? Kalau di situ, mah, itu ayah siapa yang angkat kamu, ya?

Ya, itulah yang saya rasakan juga. HP memang menyita banyak waktu kebersamaan. Masing-masing bisa sibuk dengan urusannya sendiri. Komunikasi jadi lebih jarang. 

Kalau sudah begitu, kamu merasa kehilangan? Atau biasa-biasa saja, karena sudah terlalu sering? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Ayah Ngopi