Stasiun Tawang Semarang adalah salah satu stasiun kereta paling tua di Indonesia. Mungkin adanya lebih dulu daripada yang belakangan. Ya, iyalah.
Dibangun pada tahun 1914 oleh pemerintah kolonial Belanda, bangunannya masih mempertahankan arsitektur aslinya sampai sekarang.
Atapnya yang tinggi dengan konstruksi baja yang elegan. Lantainya dari ubin hitam putih yang sudah diinjak jutaan kaki selama lebih dari seratus tahun. Bahkan mungkin ada yang kakinya kutu air atau malah korengan.
Jam besar di dinding utama lobi yang masih berdetak dengan presisi yang membuat orang tidak percaya bahwa jam itu sudah setua bangunannya.
Stasiun Tawang adalah tempat yang hidup. Setiap hari ribuan penumpang datang dan pergi, kereta masuk dan keluar.
Suara pengumuman mengalun dari speaker yang dipasang di berbagai sudut. Untunglah, tidak ikut disiarkan juga pidato presiden di situ.
Pada bagian luarnya, kanal Semarang yang bersejarah mengalir pelan seolah menjadi saksi bisu dari semua yang sudah terjadi di kawasan itu selama lebih dari satu abad.
Tapi ada sesuatu yang tidak semua orang tahu tentang Stasiun Tawang.
Terletak di peron paling ujung, peron nomor enam, ada kereta yang tidak ada dalam jadwal resmi. Tidak ada di aplikasi KAI.
Tidak ada di papan pengumuman keberangkatan. Tidak ada tiketnya yang bisa dibeli di loket manapun.
Kereta itu hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.
Dan, tidak semua orang yang naik ke dalamnya kembali ke waktu yang sama dengan waktu yang mereka tinggalkan.
***
Seorang perempuan berjenis kelamin wanita yang bernama Farida Hasanah dengan umur mencapai dua puluh sembilan tahun. Jelas dia bukan lagi balita, kecuali balita yang diartikan bawah lima ratus tahun.
Dia tidak tahu semua itu waktu dia tiba di Stasiun Tawang pada suatu malam di bulan November. Baru saja putus dari pacarnya setelah tiga tahun bersama. Rasakan tuh!
Bukan putus yang dramatis dengan pertengkaran besar dan pecahan piring. Hanya percakapan singkat di kafe yang berakhir dengan dua kata yang terasa lebih berat dari apapun yang pernah dia angkat dalam hidupnya.
“Kita selesai.”
Farida tidak menangis waktu itu. Tidak di kafe. Tidak di jalan pulang. Tidak di dalam taksi online yang membawanya entah ke mana.
Dia memang tidak memasukkan tujuan di aplikasinya. Hanya menekan tombol pesan dan membiarkan supirnya bertanya mau ke mana.
“Stasiun Tawang,” katanya tanpa benar-benar memikirkannya.
Dia tidak punya rencana naik kereta ke mana-mana. Dia hanya butuh tempat untuk duduk yang bukan apartemennya yang sekarang terasa terlalu penuh dengan kenangan tentang seseorang yang baru saja memutuskan untuk tidak ada lagi.
Saat di lobi Stasiun Tawang, dia duduk di bangku panjang dan menatap jam besar di dinding yang jarumnya bergerak dengan tenang.
Jam sembilan malam. Stasiun masih cukup ramai tapi tidak seramai jam-jam sibuk di pagi dan sore hari. Jelaslah. Kalau begitu kok ditulis, lho!
Farida duduk di sana tanpa tujuan selama hampir satu jam. Kemudian dia memperhatikan sesuatu yang aneh.
Pada papan pengumuman keberangkatan yang menampilkan semua jadwal kereta malam itu, di baris yang paling bawah, ada entri yang tidak ada sebelumnya waktu dia pertama kali melihat papan itu.
Kereta Malam — Peron 6 — 22.00 — Tujuan: Tidak Tercantum.
Farida mengedipkan matanya dan melihat lagi. Entri itu masih ada.
Dia menatap jam di dinding. Sembilan lima puluh tiga menit.
***
Farida melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan oleh orang yang sedang dalam kondisi pikiran yang baik.
Dia bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arah peron enam. Bukan karena dia tidak waras atau karena dia pasien RSJ, meskipun yah artinya RSJ kini sesuai keadaan Farida, yaitu: Rasanya Sekarang Jomblo.
Karena malam itu, setelah dua kata yang meruntuhkan tiga tahun hidupnya, dia tidak terlalu peduli ke mana dia pergi.
Ke mana saja sama saja. Bahkan ke tujuan yang tidak tercantum sekalipun.
Peron enam ada di ujung stasiun, agak terpisah dari peron-peron lainnya. Jalannya melewati koridor yang lebih sepi dan lampunya lebih redup dari bagian utama stasiun.
Di beberapa titik lampunya bahkan mati sama sekali dan Farida harus berjalan dalam kegelapan parsial sambil mengandalkan cahaya dari ponselnya. Sama sekali tidak ada cahaya matahari. Ya, jelaslah, ini juga kenapa harus ditulis, sih?
Di peron enam, sebuah kereta sudah menunggu. Itu bukan kereta modern seperti yang biasa Farida naiki. Ini kereta tua, dengan gerbong-gerbong berwarna hijau gelap yang catnya sudah kusam.
Jendela-jendela kecil yang beberapa di antaranya sudah tidak bisa dibuka. Lampu di dalam gerbong yang memancarkan cahaya kuning kecoklatan yang hangat dan sedikit redup.
Tidak ada petugas di peron. Tidak ada kondektur yang berdiri di pintu gerbong, apalagi tukang parkir seperti yang muncul secara gaib di Indomaret itu. Hanya kereta yang diam menunggu dengan pintunya terbuka.
Farida naik ke gerbong pertama yang dia temui.
Saat sudah di dalam, ada beberapa penumpang yang duduk masing-masing di bangku-bangkunya. Tidak ada yang saling bicara.
Tidak ada yang melihat ke arah Farida waktu dia masuk. Mereka semua menatap ke luar jendela atau ke bawah atau ke depan dengan ekspresi yang campuran antara lelah dan pasrah.
Farida memilih bangku di dekat jendela dan duduk.
Tepat jam sepuluh malam, pintu gerbong menutup sendiri dan kereta mulai bergerak.
***
Kereta itu melaju ke luar dari Stasiun Tawang dengan suara yang berbeda dari kereta modern.
Suaranya lebih berat. Lebih mekanis. Lebih seperti sesuatu yang bekerja dengan tenaga yang lebih kasar dan lebih nyata dari motor listrik yang halus dan senyap.
Rel di bawahnya berbunyi dengan ritme yang teratur, klak-klak-klak-klak, seperti metronom raksasa yang mengukur waktu dengan cara yang sangat harfiah. Pernah dengar bunyi begitu?
Farida melihat ke luar jendela.
Pemandangan di luar terlihat normal pada awalnya. Lampu-lampu kota Semarang yang berkedip di kejauhan. Kanal yang gelap memantulkan cahaya bangunan di sekitarnya. Jalan-jalan yang masih ramai dengan kendaraan di jam segitu.
Tapi semakin jauh kereta melaju, semakin tidak biasa pemandangan di luar.
Bangunan-bangunan berubah. Bukan berubah seperti berganti dari satu kawasan ke kawasan lain. Tapi berubah seperti waktu yang mundur.
Gedung-gedung modern yang tadi ada di kejauhan perlahan-lahan menghilang dan digantikan oleh bangunan-bangunan yang lebih rendah, lebih tua, dengan gaya arsitektur yang semakin lama semakin tidak terasa seperti Semarang yang Farida kenal.
Mobil-mobil di jalan berubah menjadi model-model yang lebih tua. Kemudian lebih tua lagi. Kemudian tidak ada mobil sama sekali, hanya becak dan gerobak yang ditarik kuda. Bahkan mungkin kudanya sudah tua, ya? Keriput dan beruban begitu?
Farida menekan wajahnya ke kaca jendela.
“Ini di mana?” bisiknya.
“Semarang,” jawab suara dari sebelahnya.
Farida berpaling. Di bangku sebelahnya sekarang duduk seorang perempuan tua dengan kebaya putih dan kain jarik coklat.
Rambutnya disanggul rapi. Untunglah sanggulnya benar-benar rambut, bukan ban vespa. Wajahnya penuh kerutan tapi matanya tajam dan hidup.
“Tapi bukan Semarang yang kamu kenal,” lanjut perempuan tua itu. “Semarang yang lain.”
“Semarang kapan?” tanya Farida pelan.
Perempuan tua itu melirik ke luar jendela sebentar. “Kalau tidak salah, sekitar tahun 1940-an.”
***
Farida mundur dari jendela dan menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
Otaknya bekerja keras mencari penjelasan yang masuk akal. Mimpikah ini? Halusinasi karena stres? Kalau bukan halusinasi apakah kasarisasi?
Ataukah efek dari malam yang terlalu berat secara emosional?
Tapi bangku kayu di bawahnya terasa sangat nyata. Bau gerbong tua yang campuran antara kayu, logam, dan sesuatu yang tidak bisa dia identifikasi terasa sangat nyata.
Dan perempuan tua di sebelahnya yang menatapnya dengan mata yang terlalu tajam untuk mimpi terasa sangat nyata.
“Siapa Ibu?” tanya Farida.
“Penumpang,” jawab perempuan tua itu simpel. “Seperti kamu.”
“Ibu sudah sering naik kereta ini?”
“Beberapa kali.” Perempuan tua itu meluruskan duduknya. “Kereta ini tidak datang untuk semua orang. Hanya untuk orang-orang tertentu, di waktu-waktu tertentu.”
“Orang-orang seperti apa?”
Perempuan tua itu menatapnya. “Orang-orang yang sedang di titik di mana mereka butuh melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat dari tempat mereka berdiri sekarang.”
Farida diam sebentar. “Dan saya butuh melihat apa?”
Perempuan tua itu tidak menjawab. Hanya mengangguk ke arah jendela.
Di luar, kereta sudah memasuki kawasan yang Farida tidak langsung kenali tapi ada sesuatu yang familiar dari tata letaknya. Jalan-jalan yang membentuk pola tertentu. Kanal yang meliuk di sisi kanan. Dan di kejauhan, menara sebuah bangunan yang Farida kenal tapi tidak seharusnya ada di sini di waktu ini.
Gereja Blenduk.
Ikonik dan tidak berubah, berdiri di sana dengan kubahnya yang bulat persis seperti yang Farida lihat terakhir kali di kawasan Kota Lama Semarang.
***
Kereta berhenti di sebuah stasiun yang Farida tidak kenal.
Bukan Stasiun Tawang yang modern. Ini versi lama dari stasiun yang sama, dengan arsitektur yang sama tapi kondisi yang berbeda. Lebih baru. Lebih bersih. Dan di peron, orang-orang berpakaian dengan cara yang sangat berbeda dari pakaian orang-orang di Semarang yang Farida kenal.
Perempuan tua di sebelahnya berdiri. “Ikut aku.”
“Ke mana?”
“Kamu akan lihat.”
Farida mengikuti perempuan tua itu keluar dari gerbong. Di peron, beberapa penumpang lain juga turun tapi langsung menyebar ke berbagai arah tanpa saling bicara. Di luar stasiun, Semarang tahun 1940-an membentang di depan mereka.
Farida berdiri di depan stasiun dan melihat ke sekelilingnya dengan perasaan yang tidak bisa dia definisikan. Ini bukan mimpi. Ini terlalu detail untuk mimpi. Terlalu penuh dengan hal-hal kecil yang tidak pernah ada di mimpi, suara, bau, tekstur trotoar di bawah sepatunya.
“Ke sana,” kata perempuan tua itu, menunjuk ke arah jalan yang menuju kawasan Kota Lama.
Mereka berjalan. Di sepanjang jalan, orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikan mereka. Toko-toko dengan papan nama dalam bahasa Belanda dan Melayu. Kendaraan-kendaraan tua yang bergerak pelan. Aroma makanan yang berbeda dari aroma makanan Semarang modern tapi pada dasarnya sama, masih rempah-rempah yang sama, masih udara laut yang sama.
Perempuan tua itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana di gang kecil yang tidak jauh dari Gereja Blenduk.
Di depan rumah itu, duduk seorang perempuan muda di kursi rotan, menjahit sesuatu dengan tangan yang terampil dan cepat. Wajahnya tertunduk mengikuti pekerjaannya. Sesekali dia menegakkan punggungnya dan melihat ke jalan, seperti sedang menunggu seseorang.
“Siapa dia?” tanya Farida.
“Namanya Siti,” kata perempuan tua itu. “Kakek buyutku.”
Farida menoleh ke perempuan tua itu. “Kakek buyut Ibu?”
“Nenekku yang paling tua yang aku kenal waktu kecil. Waktu itu dia sudah sangat tua. Tapi di sini, di waktu ini, dia masih muda.” Perempuan tua itu menatap perempuan yang menjahit itu dengan ekspresi yang campuran antara rindu dan sesuatu yang lebih kompleks. “Dia menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.”
“Siapa?”
“Suaminya. Laki-laki yang dia cintai yang pergi dan tidak pernah kembali.” Suara perempuan tua itu datar tapi di bawahnya ada sesuatu yang berat. “Bukan karena tidak mau kembali. Karena tidak bisa.”
Farida menatap Siti yang masih menjahit di kursi rotannya. Perempuan muda yang menunggu. Tangannya bergerak dengan tekun tapi matanya sesekali melirik ke ujung gang dengan harapan yang tidak pernah terpenuhi.
“Kenapa Ibu tunjukkan ini ke saya?” tanya Farida.
Perempuan tua itu menatapnya. “Karena kamu naik ke kereta itu dengan hati yang penuh kepahitan. Merasa duniamu hancur karena seseorang memilih untuk pergi.” Dia mengangguk ke arah Siti. “Dia juga kehilangan seseorang. Tapi dia tidak punya pilihan untuk pahit atau tidak pahit. Karena dia tidak tahu kenapa orang yang dia tunggu tidak kembali.”
Farida tidak menjawab.
“Kamu tahu kenapa,” lanjut perempuan tua itu pelan. “Dan itu sebenarnya lebih ringan dari yang kamu kira.”
***
Mereka kembali ke stasiun waktu langit mulai gelap.
Farida berjalan di samping perempuan tua itu dalam diam. Di kepalanya masih terbayang Siti yang menjahit di kursi rotannya, matanya sesekali melirik ke ujung gang. Sesederhana itu tapi entah kenapa gambaran itu terasa sangat berat di dada.
“Ibu,” kata Farida akhirnya. “Siti itu akhirnya bagaimana?”
Perempuan tua itu berjalan beberapa langkah sebelum menjawab. “Dia menunggu sampai tua. Tidak pernah menikah lagi. Tidak pernah berhenti menunggu.” Dia berhenti sejenak. “Tapi dia juga tidak berhenti hidup. Itu yang paling penting.”
“Maksudnya?”
“Dia tetap menjahit. Tetap memasak. Tetap mengurus saudara-saudaranya yang butuh dia. Tetap bangun setiap pagi dan menjalani harinya.” Perempuan tua itu melanjutkan jalannya. “Menunggu dan hidup adalah dua hal yang berbeda. Dia melakukan keduanya sekaligus. Dan itu bukan sesuatu yang mudah tapi itu yang dia pilih.”
Farida diam sebentar. “Kereta ini membawa semua orang ke masa lalu?”
“Tidak selalu masa lalu. Kadang masa depan. Tergantung apa yang dibutuhkan penumpangnya.” Perempuan tua itu menatapnya. “Kamu dibawa ke masa lalu karena kamu butuh perspektif. Butuh melihat bahwa kehilangan yang kamu rasakan malam ini, seberat apapun rasanya, bukan akhir dari segalanya.”
Di stasiun, kereta sudah menunggu lagi di peron yang sama. Pintunya terbuka.
“Kita naik lagi?” tanya Farida.
“Kamu naik,” kata perempuan tua itu. “Aku turun di sini.”
Farida menoleh ke arahnya. “Ibu tinggal di sini? Di waktu ini?”
Perempuan tua itu tersenyum untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. Senyumnya hangat dan sedikit melankolis. “Aku sudah lama di sini. Aku hanya ikut bersamamu tadi untuk menunjukkan sesuatu.” Dia mengangguk ke arah kereta. “Masuk. Kereta tidak menunggu lama.”
Farida berdiri di depan pintu gerbong. Kemudian berbalik. “Ibu siapa sebenarnya?”
Perempuan tua itu sudah berjalan menjauh. Tapi dia berhenti dan menjawab tanpa menoleh. “Seseorang yang juga pernah naik kereta ini. Waktu yang sangat lama sekali.”
Kemudian dia berjalan lagi dan menghilang di antara orang-orang di peron stasiun Semarang tahun 1940-an.
Farida naik ke kereta.
***
Kereta bergerak.
Kali ini pemandangan di luar jendela bergerak ke arah yang berlawanan. Bukan mundur ke masa lalu tapi maju, melewati dekade-dekade yang berganti dengan cepat di luar kaca jendela seperti slideshow yang dipercepat. Bangunan-bangunan tua berganti dengan bangunan-bangunan yang semakin modern. Kendaraan-kendaraan berevolusi. Jalanan semakin ramai dan semakin terang.
Kemudian semuanya kembali normal.
Semarang malam hari yang Farida kenal. Gedung-gedung modern. Lampu-lampu jalan yang terang. Kendaraan-kendaraan yang familiar.
Kereta berhenti.
Farida melihat ke luar jendela. Peron enam Stasiun Tawang. Jam besar di dinding lobi yang terlihat dari kejauhan menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh menit.
Empat puluh menit.
Dia baru saja pergi ke tahun 1940-an dan kembali dalam empat puluh menit waktu Semarang sekarang.
Farida keluar dari gerbong. Penumpang-penumpang lain yang tadi ada di gerbong sudah tidak ada. Peron enam sepi. Dan waktu dia berjalan kembali ke lobi utama stasiun dan menoleh ke papan pengumuman keberangkatan, entri tentang kereta malam ke tujuan yang tidak tercantum sudah tidak ada lagi.
Seperti tidak pernah ada.
Farida duduk di bangku yang sama dengan sebelumnya di lobi Stasiun Tawang.
Jam di dinding menunjukkan hampir jam sebelas malam. Stasiun sudah lebih sepi dari tadi. Beberapa petugas kebersihan mendorong alat pel mereka di lantai marmer yang mengkilap.
Farida mengeluarkan ponselnya.
Ada beberapa notifikasi yang masuk selama dia di dalam kereta. Pesan dari teman-teman yang mungkin sudah mendengar tentang putusnya dari seseorang di jaringan pertemanan mereka. Farida tidak membuka satupun dari pesan-pesan itu.
Dia membuka aplikasi kereta dan memesan tiket ke Bandung untuk keberangkatan besok pagi. Bukan karena ada urusan di Bandung. Tapi karena ibunya ada di sana. Dan malam ini, setelah semua yang terjadi, dia ingin ada di dekat seseorang yang tidak akan pergi ke mana-mana.
Sambil menunggu konfirmasi tiket, Farida menatap lantai ubin hitam putih di depannya.
Dia memikirkan Siti. Perempuan muda di kursi rotan yang menjahit dengan tekun sambil sesekali melirik ke ujung gang. Yang menunggu tanpa kepastian. Yang tidak tahu kenapa. Yang tidak punya jawaban tapi tetap bangun setiap pagi dan menjalani harinya.
Farida menarik napas panjang.
Malam ini dia kehilangan seseorang. Itu nyata dan itu sakit. Tapi dia tahu kenapa. Dia punya jawaban meskipun jawabannya menyakitkan. Dan dia masih punya waktu, semoga masih banyak waktu, untuk menjalani hari-hari yang akan datang.
Itu lebih dari yang Siti punya.
Ponselnya bergetar. Konfirmasi tiket ke Bandung untuk besok pagi pukul enam.
Farida berdiri dari bangkunya. Dia masih harus cari penginapan untuk malam ini karena terlalu lelah untuk kembali ke apartemennya malam ini. Apartemen yang penuh kenangan yang belum dia siap hadapi sendirian di tengah malam.
Di pintu keluar stasiun, dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
Lobi Stasiun Tawang yang sudah lebih dari seratus tahun. Jam besar di dindingnya yang terus berdetak tanpa henti. Lantai ubin hitam putihnya yang sudah diinjak jutaan kaki dari berbagai zaman.
Tempat ini sudah menyaksikan begitu banyak pertemuan dan perpisahan. Begitu banyak orang yang datang dan pergi. Begitu banyak cerita yang dimulai dan diakhiri di sini.
Dan malam ini, satu cerita lagi berakhir di sini.
Tapi berakhirnya satu cerita, Farida sekarang tahu, bukan berarti selesainya semua cerita.
Masih ada pagi besok. Masih ada kereta ke Bandung jam enam. Masih ada ibunya yang pasti akan menyambut dengan pelukan yang tidak perlu penjelasan apapun.
Farida berjalan keluar dari Stasiun Tawang ke malam Semarang yang masih hidup dan ramai di luar sana.
Di peron enam yang sudah sepi, kereta tua berwarna hijau gelap perlahan-lahan bergerak mundur dan menghilang ke dalam kegelapan di ujung rel.
Menunggu penumpang berikutnya.
Di waktu berikutnya.
— TAMAT —


