Kepanjangan dari POLIGAMI yang Bikin Derita Istri

Kepanjangan dari POLIGAMI yang Bikin Derita Istri

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang mantan pejabat daerah. Beliau ini memang bukan sembarang beliau, karena menggunakan jabatannya untuk berbuat sesuatu yang mungkin tidak banyak dilakukan selain beliau, lah yau!

Beliau sering melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Frekuensinya pun bisa dikatakan hampir tiap bulan. Kan tiap bulan itu selalunya kalau bukan 30, berarti 31 hari, ya? Atau ada yang punya kalender Masehi model lain?

Nah, ketika sering berdinas ke Jakarta dari suatu daerah yang tidak bisa disebutkan di sini karena orang Nigeria belum tentu tahu juga, beliau malah melakukan sesuatu yang justru merusak keluarganya sendiri.

Yap, beliau melakukan poligami. Menambah istri lagi. Tanpa seizin istri pertama, tanpa seizin anak-anaknya, bahkan tanpa seizin Presiden Prabowo karena waktu itu presidennya memang bukan Prabowo.

Caranya beliau menikah lagi juga cukup mencengangkan. “Cengang!”

Beliau mengubah status di KTP. Dari yang seharusnya menikah, menjadi duda. Ya, kamu tidak salah dengar, tidak salah baca, semoga juga tidak salah makan. Bukan janda, melainkan statusnya jadi duda.

Entah siapa yang bisa membantunya berbuat begitu. Yang jelas, dari status KTP seperti itu, dia, eh, beliau berhasil menikah lagi. Tambah lagi istrinya.

Sampai sekarang dari hasil pernikahan keduanya itu, sudah ada satu anak lagi. Namun, beliau sudah meninggal dunia sejak lama. Sudah sejak 2011.

Reaksi Keluarganya Waktu Tahu Kepala Keluarganya Berpoligami

Wah, dibaca dari subjudul di atas, jelas geger keluarganya! Muncul gejolak yang luar biasa, melebihi gejolak badai dalam film-film tentang bajak laut. Seharusnya, kalau seseorang disebut bajak laut, bisa dong bajak sawah? Kan sama-sama pakai kata “bajak”.

Istri pertamanya jelas marah besar. Jangan diukur besarnya pakai mistar anak SD, susah memang! Marahnya muncul apalagi ketika istri keduanya itu dibawa ke rumah.

Baca Juga: 3 Hikmah Memiliki Istri yang Suka Mengomel Bagi Seorang Ayah

Bayangkan, dari Jakarta yang megah itu, dibawa ke rumah yang berada di sebuah kabupaten yang jauh sekali isinya dibandingkan Jakarta. Apalagi reaksi anak-anaknya yang ketika itu masih ada yang kecil. Belum kuliah.

Mungkin, dari tekanan keluarga, ditambah dengan keluarga besar, menyebabkan si bapak berpoligami itu mulai sakit-sakitan. Sakitnya justru makin parah ketika masuk rumah sakit.

Batuk-batuk hingga berdarah. Tiap batuk, selalu berdarah. Tiap berdarah, selalu batuk. Tapi kalau perempuan yang haid kok tidak, ya? Kan berdarah juga, tetapi tidak selalu batuk.

Terakhir, si bapak tersebut meninggal dunia sebelum Subuh. Istri keduanya sudah kembali ke Jakarta lagi bersama anaknya.

Dan, yang merawat untuk terakhir kalinya jelas, siapa lagi kalau bukan keluarga istri pertamanya? Melihat kondisi si bapak yang sakit hingga kurus begitu, masa mau disalahkan lagi tentang poligaminya, sih? Iya, nggak sih? Ningsih?

Poligami, Sebuah Kata yang Selalu Menjadi Bahan Cerita

poligami-yang-menjadi-bahan-cerita (1)

Bagi kalangan ayah atau para bapak, jika nongkrong, seringnya ada saja yang menyerempet hingga menjurus ke arah poligami. Entah itu nongkrongnya di angkringan, warung kopi, pinggir jalan, hingga kelompok kajian atau organisasi dakwah di dalam masjid.

Poligami dianggap sebagai sebuah hal yang memang selalu menarik untuk dibahas. Membayangkan bila punya istri lebih dari satu. Bisa lebih memuaskan, karena yang satu saja sudah nikmat, apalagi dua, ya ‘kan?

Hal ini ditambah dengan konten-konten seputar poligami juga. Ada pejabat di pusat yang punya istri lebih dari satu. Ada konten kreator yang kerap membuat drama-drama pendek, ringan, dan jenaka melibatkan dua istrinya.

Candaan ini juga berkaitan dengan agama Islam. Maksudnya, poligami ini memang ada dalam syariat Islam, tetapi dalam praktiknya, belum tentu sesuai.

Ketika ada seorang pelaku dakwah yang berpoligami dan gagal, nah, itu dia, bisa menjadi fitnah bagi kalangan muslimah. Sekelas muslimah bercadar dan berjilbab besar sekalipun, poligami juga berat bagi mereka.

Saya teringat dengan ceramah Ustaz Firanda. Ada dua syariat Islam yang diserang oleh musuh-musuh Islam. Cukup dua saja, tidak perlu semuanya. Soalnya, kalau sudah terserang dua, maka syariat yang lain akan lebih mudah diserang, minimal dipertanyakan sendiri oleh kaum muslimah.

Dua hukum itu adalah hukum waris dan poligami. Waris, yang perempuan dapat 1, laki-laki 2. Ini dirasa tidak adil bagi perempuan. Begitu pula poligami, laki-laki bisa menambah lebih dari satu, sedangkan perempuan tidak.

Sebenarnya, apa sih yang membuat poligami itu jadi dibenci oleh banyak orang, termasuk kaum muslimin, lebih terutama lagi kaum muslimah? Bukankah masih banyak muslimah yang belum menikah, sampai usia agak tua? Bukankah mereka berhak juga untuk dinikahi?

Itu biasanya alasan yang dijadikan dasar mau berpoligami. Namun, dalam tulisan yang entah berapa hurufnya ini, kalau ada waktu tolong dihitung, dong, poligami dilihat justru dari kepanjangannya per huruf.

Saya menemukan kepanjangan dari poligami itu huruf per huruf dan ternyata memang cocok. Relate. Agar lebih jelas, kita ganti ke subjudul yang baru. Kalau sub ayam, itu beda lagi. Beda huruf, harusnya pakai p, bukan b.

Kepanjangan dari POLIGAMI yang Berefek ke Istri

Agar lebih jelas dalam mengartikan kepanjangannya, maka kata poligami harus dibuat besar hurufnya. Ini sesuai dengan panduan bahasa Indonesia. Siapa di sini yang masih ingat nama guru Bahasa Indonesianya waktu di sekolah, termasuk nama kucingnya?

Kata POLIGAMI yang sudah dibesarkan hurufnya ini dapat diartikan: Pokoknya Orang Lihat Itu Gagal Apabila Membohongi Istri. Huruf M dapat diartikan Menyia-nyiakan, Melalaikan, dan kata yang lebih mencakup semuanya adalah Menzalimi. Terserah mau pilih yang mana?

Sebuah konsep atau dalil pernah saya dengar, yaitu: lebih baik minta maaf daripada minta izin. Ini masih berkaitan dengan poligami karena tulisan ini memang tentang poligami.

Minta izin untuk menikah lagi pada istri pertama mungkin sulit luar biasa. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi tangan gajah. Hayo, gajah mana ada tangannya?

Apalagi dalam dunia administrasi negara kita, poligami yang benar itu memang harus ada izin tertulis dari istri pertama.

Seorang mantan kepala KUA pernah mengatakan kepada saya yang kira-kira bunyinya begini, “Kalau mau izinnya lebih cepat lagi, datang ke kantor KUA, suami, istri pertama, dan calon istri kedua. Tanda tangan di situ semuanya.”

Baca Juga: Ketika Roti Mengelus Pandangan Laki-laki Sampai ke Hati

Meskipun syarat izin tertulis ini harus ada, nyatanya banyak yang mendalilkan bahwa tidak butuh izin dari istri pertama sesuai kaidah agama Islam. Yah, sebenarnya, ada benarnya juga. Yah, sebetulnya, ada betulnya juga.

Dalam agama Islam, memang tidak butuh izin dari istri pertama, tetapi ‘kan menikah itu ada dua hukumnya, yaitu: secara agama dan secara negara. Kalau secara agama sah, tetapi secara negara tidak, bisa termasuk nikah siri. Bukannya daripada siri, lebih baik sanan, ‘kan?

Bila seorang suami atau seorang ayah mau berpoligami, tentulah harus ada syarat-syarat tertentu yang berat, bahkan sangat berat. Bila tidak, maka poligami hanya akan menjadi fitnah.

Dan, gagalnya poligami seperti yang saya tuangkan dalam kepanjangan POLIGAMI itu, bila istri malah menjadi korban, maka jelas itu tidak bisa dibenarkan.

Istri pertama yang dibohongi, dizalimi, diperlakukan tidak adil, dan tindakan-tindakan tidak benar lainnya, maka sejatinya itu bukan poligami, melainkan monopoli. Lebih baik main monopoli betulan daripada monopoli yang semacam itu bukan?

Ketika Berada di Rumah Sakit

poli-poli-yang-ada-di-rumah-sakit (1)

Satu sisi, poligami bisa menjadi berkah, bisa mewujudkan keluarga yang lebih bahagia, keluarga yang bisa melahirkan keturunan lebih banyak lagi, sebagaimana harapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbangga dengan banyaknya umat beliau di akhirat nanti.

Akan tetapi, mewujudkan poligami yang berhasil, memang tidak Argentina. Eh, ini malah bahas sepakbola. Maksudnya, poligami yang berhasil itu bisa jadi jarang terjadi. Yang sering terjadi, justru kegagalan poligami dan menimbulkan efek yang tidak baik.

Efek tersebut tidak hanya bagi keluarga yang mengalami, tetapi juga kalangan awam atau masyarakat umum. Terlebih yang gagal berpoligami itu dikenal sebagai seorang ustaz, penggerak dakwah, penceramah, atau malah tokoh masyarakat, meskipun dia punya tokoh sembako maupun tokoh bahan bangunan.

Kalau memang poligami itu berat dan bisa mendatangkan efek buruk apabila tidak dilaksanakan dengan benar, lebih baik jangan dilakukan. Fokus saja pada satu istri. Yang satu saja tidak bakalan habis, masa mau ditambah? Ini bukan mirip kanibal ‘kan? Kanibal itu bukannya sejenis kain lap warna kuning, ya?

Sebagaimana ketika saya ke rumah sakit, saya lihat banyak poli. Ada poli gigi, poli mata, poli jantung, poli syaraf, poli jiwa, tetapi saya tidak menemukan poli gami di situ. Berarti, poligami ini memang bukan sejenis penyakit, begitu kesimpulannya.

Poligami baru menjadi penyakit jika istri dilalaikan, dizalimi, dan lain-lain sebagaimana bagian tulisan di atas. Kalau bisa berhasil, Alhamdulilah, berarti itu bisa menjadi contoh yang baik. Menjadi suri tauladan, terlebih istri kedua juga bernama Suri.

Namun, apabila gagal, jangan sampai ini justru yang merusak citra Islam. Poligami adalah ibadah yang mulia, pahalanya sangat besar, tetapi juga tantangannya tidak kalah besar.

Dan, juga, jangan poligami selalu dijadikan candaan bagi para ayah atau bapak-bapak. Kalau belum bisa melaksanakan, minimal diam saja. Tapi, ya, jangan diam-diam justru menambah juga.

Baca Juga: 3 Jenis Mukbang Bagi Istri, Suami Perlu Tahu

25 Comments

  1. Kembali ke keyakinan dan persepsi masing-masing kalau menurut saya mah
    Karena selain ada banyak yg gagal, ada juga yang berhasil
    Sekian banyak perempuan atau istri yang tidak mau tapi buktinya ada juga yang ridho suaminya dibagi tiga. Iya, tiga…
    Istri pertama, istri kedua dan istri ketiganya akur. Beda sekitar lima tahunan usianya dan anak² mereka juga akur. Habis perkara kan ya kalau realitanya seperti itu?
    Kenapa saya bisa cerita kalau suami dibagi tiga ini ada? Karena emang ada di tempat saya itu kejadiannya. Sekarang malah lagi nyari kandidat batu biar suaminya bisa dibagi empat katanya. Hehe… Takut kurang amalan apa kali ya? Ups! Maaf hanya sedikit kepleset kata sedikit keluar dari kaidah bercanda
    Walaupun saya jelas gak berani bercanda soal poligami yang sangat rentan gesekan seperti ini mah
    Punten ya kalau komen saya kebablasan

    1. Iya, Kak, memang pembahasan poligami ini selalu memunculkan pro dan kontra. Dan, munculnya tulisan ini memang karena poligami sering banget jadi bahan candaan di kalangan bapak-bapak. Tapi, pada dasarnya mereka nggak berani juga, sih, hehe.

  2. Aku ga menentang poligami , asalkan memang bener2 adil. Faktanya banyak yang ngelakuin hanya untuk napsu doang, tp adil nya ntah kemana … Yang parah, udalah duit ngepas, kepikiran pula dia poligami 🤣🤣🤣. Ga sadar diri nya itu yg bikin jijik.

    Baru2 ini ada 1 temenku akan dipoligami. Suaminya sih sangat berkecukupan. Aku yakin bakal adil kalau masalah duit. Cuma yang bikin aku jadi hilang respect dengan suaminya, Kenapaaaa dia kepikiran minta izinnya saat mereka berdua lagi umroh 😭😭. Ga masuk di akal. Ga bisa nunggu sampe balik ke tanah air??

    Umroh itukan pasti momen yang menggembirakan banget. Bayangin aja, temenku yang udah happy luar Biasa karena akhirnya umroh, tau2 kayak terima vonis mati pas suami minta izin untuk poligami.

    Ga bisa khusyuk lagi ibadah. Yg ada dia banyak nangis.

    Tapi kayaknya ga jadi sih. Soalnya banyak prosedur yang hrs dilakukan , dan sepertinya si wanita kedua pun mulai menyerah. Aku tahu, karena temenku nulis semua cerita di blog nya.

    Yang bikin miris, walau kemungkinan besar batal beristri 2, tapi temenku udh terlanjur mati rasa ke suaminya. Ntahlah bakal jadi apa hubungan mereka. Ga bisa aku salahin juga. Mungkin kalau aku di posisinya, mending pisah daripada nerusin hubungan yang udah ga ada kepercayaan di dalam

  3. Wah ternyata Poligami ada kepanjangannya yeay, juga ngga tersedia di rumah sakit mungkin karena belum ada dokter spesialisnya.
    Bener emang poligami selalu jadi pembicaraan yang hangat di tongkrongan bapak – bapak, apalagi ada tuh sekarang ada influencer yang suka pamer 2 istrinya di medsos.
    Saya ngga mau tulis pendapat saya disini ah, soalnya ini pisau dapur kok nempel di leher saya yaaaaa.
    Intinya setuju apa yang di tuliskan diatas, kalo bisa dua kenapa cuma satu, eeehhhh salah kalo bisa adil dan tau ilmunya sah – sah aja, juga yang utama terletak dalam niatnya, kalo niatnya hanya untuk memuaskan nafsu atau sesuai dengan kepajangan Poligami: Pokoknya Orang Lihat Itu Gagal Apabila Membohongi Istri.
    Salam setia satu pasangan aja, hehe

  4. Menarik membaca tulisan ini, apalagi cara penulis mengupas kata POLIGAMI dengan gaya yang santai dan penuh humor. Di balik candaan-candaannya, ada pesan penting bahwa poligami bukan sekadar soal menambah pasangan, tetapi juga soal tanggung jawab dan keadilan agar tidak ada pihak yang menjadi korban. 😄

  5. Poligami ini memang tidak dilarang, dengan catatan harus bisa adil. Nah, manusia jaman now bisa beneran adil itu kayaknya sih sulit yaaa. Pasti akan condong ke salah satunya, apalagi kalau poligami milih Isti kedua yang lebih muda. Sudah ketahuan lah hasilnya. Meskipun memang masih ada juga yang berhasil, mungkin memang sesuai anjuran agama dan lainnya. Allahualam.

  6. Eh aku malah penasaran soal status poligami ini…
    Beraryi menikah poligami itu bisa diakui oleh negara juga ya?? bisa tercatat di KUA asal ada ijin dari istri pertama ato bagaimana??
    Soalnya tadi yang penting suami istri pertama dan kedua mau ttd surat di KUA gt…
    Selama ini aku pikir pernikahan pertama sah di KUA trus pernikahan selanjutnya itu brarti pernikahan siri hihi…mohon pencerahannya hahaha

  7. Topik yang emang selalu menarik sekaligus sensitif untuk dibahas nih mas Rizky wkwk.

    Yang sering terlupakan, di balik istilah, aturan, dan perdebatan soal boleh atau tidak, ada manusia dan perasaan yang ikut terdampak.

    Menurut aku yang belum nikah ini, persoalannya bukan sekadar bagaimana mencari pembenaran, tetapi sejauh mana seseorang benar-benar siap dengan konsekuensi dari keputusan yang diambil.

    Lha pernikahan aja sudah membutuhkan komunikasi, tanggung jawab, dan kesetiaan yang tidak sederhana, apalagi ketika melibatkan lebih banyak pihak.

    Karena itu, tulisan seperti ini menarik untuk jadi bahan refleksi. Jangan sampai sesuatu yang secara teori terlihat mudah justru dalam praktiknya meninggalkan luka yang panjang bagi orang-orang terdekat. Iya nggak?

  8. Tidak butuh izin istri pertama, bener, tapi, kalau kata orang Jawa itu namanya “nggak ilok” alias “tidak fantash” wkwk.
    Problemnya adalah jarang suami2 berpoligami itu menikahi janda usia mbah2, yang ada malah nikahin gadis atau janda kembang =))
    Lagian yaaa bapack2 in this corrupt government era ngapain sih pusing2 nambah istri, mending nambah cuan, nambah harta, properti dll wkwkwk.
    Nah yaaa, kebiasaan kalau sakit2an dan tua renta baliknya ke istri tuwa. Kek udah template-nya begitu yee.
    Dulu punya tetangga yang punya istri muda juga gitu soalnya.
    Untung tu istrinya masih baik. Cuma anak2nya males sih. Yaaa nggak salah anak2nya juga ya hehe.
    Kerap anak2 jadi korban keegoisan para ortu gini, deh.
    ,

  9. Bahasan yang sesuatu nih Kak soal Poligami, ternyata cukup berat juga karena menyakiti istri. Lalu bagaimana dengan Poliandri kak? Kira-kira bakalan seperti apa sudut pandang yang akan dibahas, mengingat pernah nonton drakor yang tokohnya Mishil dia malah punya lebih dari dua suami, berarti siapakah yang akan tersakiti?

    1. Wah, kalau poliandri ini yang repot banget, Mbak! Kalau punya anak, terus itu anaknya siapa? Kan suaminya ada dua nih ceritanya. Kalau poligami, sampai punya anak, jelas anaknya si laki-laki. Itulah bedanya, hehe.

  10. Sering banget emang nemu obrolan bapak-bapak soal beginian pas lagi nongkrong di warung kopi. Pas bagian plesetan singkatan POLIGAMI itu beneran di luar dugaan, tapi pas dipikir-pikir ada benernya juga. Niatnya ibadah, tapi kalau caranya ngibulin istri ya jelas malah bawa malapetaka buat rumah tangga.
    Kasian juga sama istri pertama yang dari awal udah nemenin susah senang, eh malah diputusin sebelah pihak lewat KTP palsu jadi duda. Padahal urusan nikah siri atau nambah diem-diem gitu, mentalnya harus siap, tapi ya mestinya mikirin perasaan yang di rumah dulu. Kalau akhirnya malah bikin sakit-sakitan terus drop kayak cerita di atas, kan yang repot dan nelangsa tetep keluarga juga.

  11. Masyaallah masyaallah bacaan berat untukku pagi ini. Ditambah lagi ada beberapa paragraf kocak yang bikin aku pengen nonjok penulisnya karena iyuh dan ngeselin banget, iya gak sih? Ningsih? Wkwkwkwk…

    Cerita serius di campur sama jokes bapak-bapak ngopi gini tetap aja bikin otak jd mikir pagi2. Yg jelas aku tidak menentang syariat islam yang satu ini. Bagaimana pun ini di ijinkan

  12. Saya sebenarnya nggak terlalu paham dengan poligami di keyakinannya umat muslim. Hanya satu prinsip yang mungkin sama barangkali di pandangan islam bahwa kalau menikah dengan satu istri tidak bisa memberikan kebaikan, kenapa harus menikah dengan dua istri. Jika satu istri saja si suami tidak adil, masak iya mau nambah istri lagi.

    Karena sepertinya ada padanan lain dari poligami juga, namanya poliandri (perempuan punya dua suami). Meski jarang, tapi ada.

    Saya sendiri tidak kebayang kalau punya dua. Satu saja sudah pusing apalagi dua. 🥲

  13. Poligami itu banyak juga kan yang berhasil. Dan memang dibolehkan. Tapi tentunya caranya juga wajib sesuai tuntunan ya. Kalau yang sampe ganti KTP kan jatohnya dimulai dengan penipuan ga sih? Kalau yang dimulai dengan yang kurang baik apa hasilnya akan baik? Wallahualam

  14. Suka dengan akronimnya , kok ya nemu saja. Tapi kembali ke poligami, sebenarnya kalau dikembalikan ke hukum asal kan memang mubah ya (bukan sunah). Tapi tentu harus dilakukan dengan cara yang baik, dan beradab. Salah satunya memberi tahu(izin) istri pertama. Karena menikah tujuannya untuk menyempurnakan ibadah kalau caranya saja sudah kurang baik bagaimana ibadahnya sempurna. Apalagi seperti contoh di atas sampai memalsukan identitas, bisa panjang urusannya. Karena bisa dijerat dengan pidana kurunga. Jadialangkah baiknya sebelum memutuskan menambah jumlah istri tambah dulu ilmunya, biar benar-benar paham tata cara dan adab poligami.

  15. Poligami yang berhasil itu jarang dn memang susah, kebanyakan menyakiti salah satu pihak karena sudah aasyik dengan yang baru beda dengan rasul, beliau berpoligami untuk memberikan contoh tapi poligaminya tidak dengan yang lebih muda, lebih cantik, lebih kaya lho, beda kan dengan yang terjadi saat ini kebanyakan poligami dilakukan hanya untuk menuruti nafsu saja dan mengabaikan hak orang lain
    Dan itu semua butuh ilmu, ga sekedar asal aja, tapi adab dulu baru ilmu, pintar tapi tidak beradab kan ya tidak baik to

  16. Kenapa banyak wanita tidak setuju poligami ya karena tidak yakin suaminya bisa adil. Ibarat istri satu saja belum bisa memberikan nafkah dengan layak, belum bisa memperlakukan dengan sebaik-baiknya seperti dalam hadis nabi, apalagi kalau nambah istri lagi, bisa makin nggak diperhatikan. Begitulah kira-kira ketakutannya.

    Jadinya banyak laki-laki di luar sama memilih berbohong. Nah kalau poligami itu ibadah, sedangkan berbohong itu dosa, memangnya bisa digabungkan? Kan nggak masuk akal.

  17. Aku dari sebelum nikah udah bilang suami tidak mau dimadu.

    Lagian hukum awalnya kan membatasi jumlah istri, bukannya menambah. Dan yang dinikahi ke 2-3-4 itu janda tua, bukan gadis muda kinyis2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *