Cerita Versi Lain dari Ipar adalah Maut

Cerita Versi Lain dari Ipar adalah Maut

Pada tahun 2024, sempat booming film berjudul Ipar adalah Maut. Pemerannya adalah Michelle Ziudith, Deva Mahendra, dan Davina Karamoy. Saya sendiri tidak ikut memerankan tokoh di film tersebut.

Meskipun saya tidak ikut jadi pemain, bahkan pemain figuran maupun pigura juga, saya pernah menonton film tersebut di bioskop.

Kalau tidak salah ingat, di sebuah mall di Kendari. Tentu saja saya membayar tiket masuk untuk menonton film itu walaupun pakai mata saya sendiri. Seharusnya ‘kan baru dikenakan biaya kalau pakai matanya orang lain, ya toh?

Ramai Sekali, Studio Bioskop Full

Waktu itu, saya tidak terlalu tahu film ini bercerita tentang apa. Hanya melihat poster filmnya yang terbungkus kotak kaca di luar studio. Rupanya, yang mau menontonnya sangat-sangat ramai. Bagaikan pasar. Eh, di tempat saya, pasarnya tidak ada bioskop.

Ketika film sudah dimulai, betul-betul tidak terlihat ada kursi yang kosong. Tidak terlihat pula ada orang yang dipangku saking penuhnya kursi yang lain. Saya sendiri berada di bagian tengah, deretan kursi saya ke kiri dan kanan, seingat saya, perempuan semua. Alamak.

Ternyata, film ini memang betul-betul seru. Ceritanya asyik, meskipun tentang perselingkuhan antara Mas Aris yang diperankan Deva dengan Rani yang diperankan oleh Davina Karamoy.

Jadi, Ipar adalah Maut ini memang perselingkuhan yang terjadi di dalam rumah. Rani sampai hamil akibat perselingkuhan itu, sedangkan Mas Aris tidak ikut hamil. Tidak adil dong, ya!

Pas adegan hubungan intim antara Mas Aris dan Rani, para penonton berteriak. Untunglah tidak ada yang bawa sound horeg di dalam. Jadi, teriakan mereka masih terkendali, lah. Entahlah, teriakan mereka di dalam kubur nanti bagaimana?

Baca Juga: Ketika Roti Mengelus Pandangan Laki-laki Sampai ke Hati

Sepulang dari menonton film tersebut, tentang perselingkuhan antara seorang suami dengan adik iparnya sendiri, saya punya cerita dengan versi yang berbeda. Cerita versi lain. Bukan kelanjutan film ini, bukan pula cocok dibuat film horor. Bagi saya, lebih penting dapat honor daripada menonton film horor.

Antara Ridwan dan Lisa

Sebut saja yang laki-laki ini bernama Ridwan. Tentu saja nama samaran. Nama tersebut tidak ada di akta kelahirannya sendiri maupun orang lain. Di akta kematiannya juga tidak ada, karena memang orangnya belum mati.

Sedangkan yang perempuan bernama Lisa. Ini juga jelas-jelas nama perempuan. Dalam cerita ini, Lisa adalah adik ipar dari Ridwan. Berarti Ridwan adalah kakak ipar dari Lisa. Mereka memang saling ipar-iparan rupanya.

Ridwan punya istri, sebut juga Ngatinah. Aduh, namanya jadul banget! Diganti saja, lah. Nama istrinya adalah Arni. Yap, ini lebih cocok secara cocoklogi. Tidak terlalu panjang, mudah diingat, dan kesannya memang, apa, ya? Apa dong? Kok malah tanya?

Pada awal menikah, Ridwan mengenal Lisa masih usia sekolah. Masih remaja begitu. Berarti kalau masih gadis, namanya remaji. Sedangkan untuk laki-laki itu disebutnya remaja.

Meskipun Lisa masih usia sekolah, tetapi sudah mulai menampakkan kecantikan yang cukup alami. Dan, yang menarik perhatian Ridwan adalah tubuh Lisa mulai mekar. Mulai montok dan berkembang, begitulah.

Perjalanan Panjang dalam Jangka Tahunan

Lisa yang terus mekar memang makin menggiurkan di mata Ridwan. Terlebih, Ridwan masih tinggal di PMI alias Pondok Mertua Indah, bukan tinggal di PMI tempat darah itu. Masa tiap hari Ridwan mau diambil darahnya?

Hingga tibalah Lisa memasuki bangku kuliah di sebuah kota cukup besar di negeri ini. Namanya sudah kuliah, otomatis butuh biaya yang lebih banyak daripada ketika masuk TK. Oleh karena itu, anak TK tidak mungkin jadi anak kuliahan. Ya ‘kan?

Ternyata, kondisi orang tua Lisa memang kurang memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. Berarti orang tua Lisa adalah mertua Ridwan.

Sang mertua tidak ada pendapatan tetap, tetapi punya pengeluaran tetap alias tetap ada pengeluaran. Paling sering di kamar mandi. Kan namanya pengeluaran juga toh?

Lisa cukup kelimpungan untuk mencari uang kuliahnya. Dia juga belum bekerja, jadi masih murni menjadi mahasiswi. Ketika butuh biaya kuliah, dia mencari cara. Meminta saudara-saudara kandungnya, rupanya terbatas pula.

Mereka memang membantu, tetapi jumlahnya masih kurang. Kuliah itu selalu saja ada pengeluaran tidak terduga. Tidak hanya uang untuk kuliah, Lisa juga butuh uang untuk keperluan sehari-hari. Darimana dia dapat?

Fokus berikutnya adalah menyasar Ridwan. Ketika itu, Ridwan sebagai seorang karyawan punya penghasilan yang sangat lumayan. Ekonominya masih bagus, bahkan sangat bagus. Lisa melihat ini kesempatan untuk minta bantuan.

Memanfaatkan Kesempatan

perselingkuhan-suami-dengan-adik-iparnya (1)

Awalnya, Ridwan memang membantu Lisa beberapa ratus ribu rupiah. Dia memang termasuk laki-laki yang senang membantu, apalagi untuk kerabat, harus dong sebagaimana ajaran agamanya.

Namun, seringnya Lisa meminta untuk dibantu, memunculkan pikiran yang kotor di otak Ridwan. Walaupun di sini dia memakai nama malaikat penjaga surga, tetapi kelakuannya nanti jadi lebih mirip penghuni neraka.

Ridwan makin tergiur dengan tubuh Lisa. Tubuh itu terlihat dari luar begitu padat, sintal, dan seksi. Begitulah. Ini tidak ada hubungannya dengan seksi di panitia, tetapi seksi paninetra Ridwan alias di matanya Ridwan.

Baca Juga: Ketika Khutbah Jum’at Bahas Keresahan Hidup Seorang Ayah

Nah, ketika Lisa mengirim chat Whatsapp ke Ridwan, inilah saatnya bagi laki-laki tersebut. Dia pun mulai melancarkan aksinya.

“Dik, aku mau ngasih, tapi boleh nggak aku lihat payudaramu?”

Begitulah chat Ridwan. Dia terang-terangan mengajukan permintaan nakalnya. Lama tanggapan dari Lisa, hingga muncul jawabannya, “Ya, boleh.”

Wah, betapa senangnya hati Ridwan! Permintaan tulus bin akal bulus ditanggapi baik oleh Lisa. Namun, foto yang dikirim oleh Lisa rupanya foto orang lain. Foto yang entah dicomot darimana, tetapi Ridwan tahu bahwa itu foto orang lain. Hafal juga ini orang!

Pada akhirnya, karena Lisa ketahuan pakai foto orang lain, maka dia pun mulai mengirimkan fotonya sendiri. Ada gambar payudara yang di sebelah kirinya ada tahi lalat kecil. Itu yang dihafal oleh Ridwan.

Terbentuk Simbiosis Mutualisme

Dari foto pertama itu, rupanya hubungan nakal mereka berdua pun berkembang. Tidak hanya foto, malah lanjut hingga ke video.

Ketika itu, Lisa butuh uang yang cukup besar. Mencapai 1,5 juta rupiah lebih. Ridwan berhitung untung dan rugi, kalau dia memberikan uang sebesar itu, sementara yang didapatkan hanya foto, maka rugilah dia.

Dia meminta kepada Lisa untuk mengirimkan juga video. Sama dengan foto, pokoknya tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi.

Video pertama ini masih membuat Lisa malu. Namun, nasi telah menjadi bubur, jadi lebih baik dijadikan bubur ayam, ditambah sayuran hingga kerupuk, sedap deh.

Lisa saat itu memakai masker. Kebetulan memang waktunya di pandemi covid-19. Lisa mengenakan masker warna hitam, lalu mulai membuka pakaiannya satu per satu.

Agar bisa terkirim, tidak lewat Whatsapp, tetapi menggunakan Telegram yang lebih besar kapasitasnya. Setelah video berhasil terkirim, Lisa langsung menghapusnya. Sedangkan Ridwan pun menyimpannya.

Video-video berikutnya bermunculan juga. Ada berbagai gaya yang direquest oleh Ridwan. Dan, justru ketika menjelang tahun baru, termasuk di bulan Ramadan, Lisa yang memintanya. Dia butuh uang, Ridwan butuh video terus.

Ridwan makin senang dengan video-video bugil adik iparnya sendiri. Namun, dalam hatinya, dia juga sebenarnya merasa jijik. Ini ‘kan adik istrinya, bisa dianggap adiknya sendiri, tetapi malah diperlakukan seperti itu.

Ada beberapa video yang setelah ditontonnya, Ridwan langsung menghapusnya karena jijik itu tadi. Sementara uangnya sudah berpindah tangan, tetapi videonya malah dihapus.

Akan tetapi, permintaan terus dilakukan oleh Lisa. Dia masih butuh uang terus sampai lulus kuliah. Orang tuanya masih belum bisa membantu secara maksimal. Begitu pula kakak-kakaknya.

Hingga Lulus Kuliah dan Kejadian Tak Terduga

Selama skripsi, video-video tetap terkirim. Ada adegan Lisa sedang mandi, di rumah kakaknya, juga di rumah orang tuanya. Ada adegan dia sedang menari menikmati musik hingga terlepas semua. Ada adegan dia pakai daster.

Semuanya berujung polos dan terlihat semua. Perjuangan Lisa yang seperti itu membuahkan kelulusan juga. Membuahkan wisuda juga.

Lisa berhasil memakai pakaian toga dan menikmati gelar barunya sebagai seorang sarjana. Namun, sebelum itu, dia ketahuan. Ya, kakak perempuannya telah menemukan video bugilnya yang telah dikirimkan ke Ridwan.

Awalnya, kakak perempuannya jelas marah besar. Bisa-bisanya Lisa melakukan tindakan seperti itu. Lisa jelas dimarahi habis-habisan oleh si kakak.

Akan tetapi, Lisa juga mengemukakan alasannya. Dia butuh uang banyak, sementara tidak banyak yang bisa membantunya. Ridwan bisa membantunya, tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhinya.

Akhirnya, kakak perempuannya mengerti dan meminta Lisa untuk tidak pernah melakukannya lagi. Si kakak juga berpesan, hati-hati dengan video semacam itu, jangan sampai di tangan Ridwan malah tersebar luas. Bisa jadi aib keluarga itu.

Untuk terakhir kalinya, Lisa meminta dengan sangat agar Ridwan mau menghapus video-video bugil tersebut. Namanya laki-laki bermental bejat, Ridwan tidak mau langsung menghapus semuanya. Apalagi sudah mengeluarkan uang cukup banyak dan besar.

Ridwan menghitung-hitung, sudah lebih dari 5 juta rupiah uangnya ke luar untuk membantu Lisa hingga lulus kuliah. Otak kotornya jelas tidak mau rugi. Dia masih simpan video-video Lisa dan menggunakannya untuk kepuasan pribadi.

Istrinya? Hem, tidak tahu-menahu yang begitu. HP suaminya selama ini aman-aman saja karena tidak pernah diperiksa olehnya. Dan, Ridwan juga pandai menyembunyikan. Ada lokasi-lokasi tersembunyi di dalam gawainya.

Sekarang, video-video tersebut sudah terhapus semua. Ya, Ridwan ingin menjalani hidup yang lebih sehat, lebih positif. Namun, ada detik-detik ketika dia kangen menontonnya lagi.

Caranya bagaimana? Sudah tidak ada lagi videonya Lisa. Yah, masih ada di pikirannya Ridwan. Masih bisa dijadikan fantasinya. Begitulah Ridwan, namanya saja yang terdengar mulia, tetapi akhlaknya mulyono. Lho, eh.

Baca Juga: Pillow Talk Bukan Berarti Ngomong Sama Bantal, Melainkan Menghadapi Istri yang Sedang Gatal pada 3 Hal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *