Salah satu penyebab cerai antara suami dan istri adalah KDRT yang berarti Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Meskipun ada pasangan suami yang menceraikan istrinya juga karena ada kepanjangan KDRT yang lain lagi.
Ternyata, hal itu dialami oleh teman saya sendiri. KDRT yang dimaksud adalah Kurang Dihidangkan, Risikonya Terceraikan.
Maksud lebih jelas dalam KDRT itu adalah istri teman saya ini seorang guru, otomatis bekerja dari pagi hingga siang. Mengajar anak manusia jelas, bukan anak jin yang memang tidak jelas.
Ketika sudah siang bolong seperti itu dan malah tidak muncul sundel bolong, si teman saya mau makan siang, tetapi ternyata tidak ada makanan sama sekali di atas meja.
Dia pun menyalahkan istrinya yang tidak mempersiapkan. Padahal, ‘kan tadi saya jelaskan bahwa istrinya seorang guru, hampir seharian di sekolah. Mana sempat menyiapkan makanan?
Rupanya, si suami tetap tidak terima. Apakah si suami ini tidak terima karena kurirnya belum datang? Oh, ternyata bukan. Si suami tersebut tetap saja marah karena tidak ada makan siang yang semestinya jadi jatahnya.
Sebenarnya, bila begitu kondisinya, bukankah sebenarnya bisa makan di warung toh? Namun, ternyata, dia tidak mau makan di sana. Bukan karena harga makanannya yang lebih mahal daripada di rumah, apalagi kalau beli dengan bangunan warungnya sekalian.
Dia merasa malu kalau sampai makan di warung dan dilihat orang lain atau bahkan si pemilik warung. Malu karena jangan sampai ada anggapan orang lain, orang ini kok makan di sini? Apa tidak disiapkan makan di rumah?
Teman saya itu merasa tidak enak juga saat dilihat pengunjung warung makan, apalagi bila yang punya warung juga mengenalnya.
Untunglah warung itu tidak pasang foto Prabowo dan Gibran. Kalau sampai dipasang, ‘kan dilihat terus juga toh sama mereka? Bisa tambah malu lagi. Seandainya kedua foto itu ada di zaman Harry Potter, pasti ikut tertawa, termasuk Harry Potternya!
Baca Juga: Alasan Paling Masuk Akal untuk Tidak Makan Gula Pasir
Sebenarnya, ini alasan yang remeh, sih. Makan siang tidak dapat dihidangkan dengan baik, malah istrinya yang diceraikan. Alasan apa itu?
Ternyata, dilihat dari perjalanan hidupnya, memang teman saya itu sudah pernah bercerai sebelumnya. Berakhir dengan keretakan rumah tangganya yang tidak bisa disatukan lagi.
Kalau mudah cerai begitu, kok malah jadi kayak kehidupan artis, ya? Padahal teman saya ini kalau memang dianggap artis, dia tidak kenal dengan Raffi Ahmad. Kalau rafia, dia sudah mengenalnya dengan sangat baik!
Bahas Kebalikan dari KDRT

Bila melihat kepanjangannya, KDRT sebagaimana disebutkan kepanjangannya di awal tulisan ini, maka kebalikan dari KDRT adalah tidak melakukan kekerasan tersebut.
Kalau kekerasan, maka lawannya adalah kelembutan. Berarti lawan dari KDRT adalah KDRT juga dong? Namun, dalam tulisan ini, kebalikan dari KDRT adalah betul-betul dibalik singkatannya.
Dari yang tadinya KDRT menjadi TRDK. Pastinya kamu penasaran dong arti dari TRDK ini? Jangankan kamu, saya saja penasaran, kok! Lho?
Setelah saya berpikir dengan otak yang terus loading ini, TRDK ini kepanjangannya adalah Terasa Rindu Dalam Kesepian.
Yang sama dengan KDRT ternyata pada huruf D yang berarti Dalam. Ini seperti bahasa Jawa, kalau seorang anak dipanggil ibunya, maka jawabannya, “Dalam, Bu. Inggih kulo teng mriku.”
Adakah anak sekarang yang masih pakai bahasa Jawa kromo?
Ketika Berpisah untuk Sementara Waktu
Setiap suami istri pastinya tidak akan saling lengket terus-menerus. Meskipun pakai lem Korea dan istrinya juga suka film Korea, apalagi sering baca blognya Mbak Lendy dengan alamat: https://lendyagassi.com, nyatanya ada masa-masa suami istri tidak selalu bersama.
Hal ini wajar dialami, namanya saja orang yang berbeda, bukan satu tubuh, meskipun tetap saling butuh. Contoh sederhananya, suaminya pergi ke luar rumah untuk mencari nafkah. Ini jelas berpisah fisik untuk sementara waktu. Insya Allah akan kembali juga ke rumah.
Kalau mencari nafkahnya cuma dalam area yang dekat, artinya masih di Planet Bumi, tidak sampai menyeberang ke planet lain, maka masih terhitung cukup dekat, sih. Dan, masih terjangkau. Memangnya terjangkau cuma bicara masalah harga?
Namun, bagaimana jika jauhnya antarkota? Bagaimana dengan yang antarnegara? Atau waktunya memang pendek, tetapi jaraknya sedemikian panjang, misalnya seorang suami yang ditugaskan kantornya untuk melakukan perjalanan dinas?
Bagi seorang ASN, melakukan perjalanan dinas termasuk perjalanan biasa. Namanya saja dinas, maka ini tidak terkait dengan kerajaan. Kalau itu namanya dinasti. Lha, terus kenapa, ya?
Baca Juga: Tanggal 1 Masuk Gaji Bagi PNS, Antara Alhamdulillah dan Astaqhfirullah
Perjalanan dinas bagi seorang ASN adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan sebenarnya. Uang transport dibayar oleh negara, dapat uang saku, dapat menginap gratis di hotel berbintang, plus di tempat kegiatan disediakan konsumsi makan dan minum yang enak-enak. Semakin dimakan, semakin kenyang.
Okelah, dia ada kegiatan bersama dengan teman-temannya, mungkin bertemu pula rekan kerjanya yang dahulu pernah bersama. Mungkin satu instansi, mungkin pula lembaga. Kalau Lembang, adanya di Bandung. Hem, sekadar menambah kalimat saja, sih.
Namun, sistem perjalanan dinas ASN itu biasanya terbagi dua, ada fullday, ada juga fullboard. Kalau fullday, maka harus mencari hotel atau penginapan sendiri. Sedangkan untuk fullboard, disediakan oleh penyelenggara kegiatan.
Kalau sistemnya fullboard, bagi staf, golongan III dan IV, satu kamar isinya dua orang. Tentu yang jenis kelaminnya sama, dong. Lebih enak dan nyaman memang fullday, hotel bisa dicari lebih bebas, sesuai dengan minat dan bakat, eh, kesempatan.
Maksud dari Terasa Rindu dalam Kesepian

Sendirian di dalam kamar hotel, ada kalanya muncul rasa bebas. Wah, bisa memanfaatkan kamar hotel ini secara gratis, nih!
Kasur ranjang empuknya bisa dijadikan tempat lompat-lompat seperti anak kecil, apalagi jika ASN tersebut tidak pernah mengalami masa kecil. Malah, masa kecilnya baru muncul sekarang.
Dia bisa membuat kopi atau teh dengan teko air panas yang disediakan di dalam kamar. Dia bisa menonton TV dengan saluran yang bebas.
TV tersebut biasanya layar datar. Tidak pernah, sih, sekarang ada hotel yang menyediakan TV tabung dan layarnya hitam putih lagi.
Orang itu juga bisa mandi tengah malam, tidak khawatir dingin karena ada air panasnya, bahkan ada bathub. Mau semalaman tidak tidur juga tidak masalah. Malah rasanya rugi jika langsung tidur, karena nanti waktu jadi terasa cepat berlalu.
Namun, bagi seorang ayah yang baik, seorang ayah yang jujur, seorang pegawai yang tidak berbuat neko-neko, ada rasa di dalam hatinya, muncul sesuatu yang menggelitik. Ada rasa kesepian ketika di kamar sendiri dan tidak ditemani istri maupun anak-anaknya.
Apalagi dia berada di tempat yang jauh dengan keluarganya. Mungkin dia sedang berada di Jakarta, kamar hotelnya mungkin bukan termasuk berbintang lima, tetapi di luar pemandangannya adalah gedung-gedung pencakar langit, sementara di rumahnya lebih sering kucing-kucing pencakar jok motor.
Dia bisa menikmati makanan yang diantarkan di kamar hotel. Ah, pokoknya serasa jadi orang kaya, lah, bisa tidur dan menginap di hotel seperti itu.
Akan tetapi, lagi-lagi, ada kerinduan terhadap istri dan anak-anaknya. Terlebih dia bisa menaiki pesawat terbang tanpa harus dia terbangkan sendiri. Dia memang tidak pernah menjadi pilot, tetapi pulpen masa kecilnya bermerek Pilot.
Laki-laki itu pun merasa kesepian. Kok rasanya bahagia ini dinikmati sendiri, ya? Kok rasanya kesenangan menginap di kamar hotel ini jadi serasa egois, ya? Sementara istri dan anak-anaknya di sana, masih di rumahnya yang tidak sebagus hotel ini.
Rumahnya tidak sampai bertingkat 30 seperti hotel ini, bahkan ubin rumahnya mungkin juga tidak sampai 30, tetapi 31. Lho, eh?
Andaikan Saja Bisa Mengajak Istri dan Anak-anak

Ya, andaikan saja, ke hotel itu, dalam perjalanan dinas itu, bisa mengikutsertakan istri dan anak-anaknya, alangkah lebih asyiknya. Alangkah lebih syahdunya, meskipun ada orang yang mengertikan syahdu itu kepanjangannya syahyang duit.
Bagi orang-orang yang tinggal di kota besar, Jakarta mungkin dianggap biasa. Melihat gedung-gedung pencakar langit, jalan raya yang sangat mulus melebihi pipi Syahrini, meskipun yang dimaksud Syahrini ini siapa, ya?
Akan tetapi, bagi orang-orang yang berada jauh dengan definisi kota besar, melihat Jakarta pastilah asyik banget. Mungkin wajar dianggap ndeso atau katrok seperti kata Tukul Arwana, tetapi memang begitulah adanya.
Baca Juga: 2 Hari Ikut Webinar Pengaturan Rezeki, Ternyata 7 Hal Ini Sering Kita Hadapi dalam Rumah Tangga
Ada semacam gap atau ketimpangan ekonomi dan fasilitas hidup antara kota besar seperti di Jakarta dengan kota-kota lain, misalnya di Sulawesi Tenggara, Maluku, hingga ke Papua.
Mereka cuma bisa melihat gedung-gedung bertingkat cuma dari YouTube. Mereka cuma bisa melihat tempat-tempat wisata seperti Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol tanpa Si Manis Jembatan Ancol, atau tempat wisata lainnya mungkin hanya dalam mimpi.
Makanya, bagi seorang ASN dengan daerah-daerah pelosok, diperintahkan untuk perjalanan dinas ke Jakarta, wah, pasti senang sekali! Pasti bahagia sekali.
Bahkan, kalau bisa jangan cuma sekali. Kalau sekali lebih dari sekali, maka jadinya sekali-sekali. Kalau tiga kali, berarti sekali-sekali-sekali. Kalau seratus, ah, tulis sendiri, deh.
Namun, ya, itu tadi, kembali ke tadi, naluri atau insting seorang ayah mengajarkan bahwa hidupnya memang bukan untuk dirinya sendiri. Bahkan, lebih banyak memang bukan untuk dirinya sendiri.
Justru Inilah Positifnya
Ketika merasa rindu dalam kesendirian, bahkan sampai membuat BT alias Boring Time, maka justru bisa memunculkan segi positif.
Dia memang rindu pada istri dan anak-anaknya, bahkan ingin segera kembali ke rumahnya. Meskipun dia berada di kota besar, kota dengan segala fasilitas hidup, dia merasa hampa. Dia merasa benar-benar sepi.
Akhirnya, dia jadi tidak berbuat macam-macam. Sebab, pada akhirnya nanti dia akan kembali kepada keluarganya. Dia akan kembali menemui istri dan anak-anaknya.
Kalau dia sampai berbuat macam-macam, maka yang kena adalah istrinya sendiri. Apalagi bila dia sampai menularkan penyakit kepada istrinya.
Entah sampai kapan dia bisa mengumpulkan uang demi membawa istri dan anak-anaknya jalan-jalan ke luar kota hingga ke kota besar macam Jakarta atau yang lainnya.
Saat tabungan terkumpul, justru arahnya adalah untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan sejam-sejam, hingga kebutuhan hidup terasa makin kejam.
Namun, begitulah. Istri dan anak-anak sebenarnya tidak butuh terlalu macam-macam. Cukuplah seorang ayah yang hadir betul-betul dalam kehidupan mereka.
Sebab, apalah gunanya harta yang banyak, jika si ayah tidak pernah muncul. Tidak pernah bisa bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya sendiri.
Makanya, saat si ayah merasa kurang waktunya dengan istri dan anak-anaknya, bahkan pernah kasar kepada mereka, maka di saat perjalanan jauh, dia merasa rindu. Dia merasa sepi. Dia merasa hampa. Judul lagu jaman jadulnya Arie Lasso.
Akhirnya, jadinya malah TRDK. Sampai di sini, TRDK pun berubah menjadi suatu permohonan: Tulisannya Rizky Ditunggu Komentarmu!





Suamiku ASN. Sesekali melakukan perjalanan kerja tapi Alhamdulillah kalaupun harus nginap, dia berusaha bawa aku
Terlebih setelah anak semata wayang mondok, jadi di rumah berdua aja kami seperti pengantin baru, kalau ada pekerjaan, suami selalu berusaha ngajak istri tercantik nya ini. Wkwkwkwkwk…
Suamiku tipe seorang ayah yang baik, yang jujur, seorang pegawai yang tidak berbuat neko-neko, yang selalu memikirkan anak dan istri saat berjauhan.
Walaupun tipe pendiam tapi saya tahu sebenarnya ada rasa di dalam hatinya. Ada rasa kesepian ketika di kamar sendiri dan tidak ditemani istri maupun anak. Makanya berusaha ngajak saya kemanapun pergi.
Alhamdulillah saya juga bukan tipe rewel. Diajak ke gunung, ke pantai, nginap di tenda, sampai nginap di kantor polisi dan emper masjid juga sering…
Pernah karena antara saya dan suami dipisah oleh panitia, dalam suatu acara, suami memilih pulang tak ikut acara sampai selesai. Haha …
Aku harus bagaimana coba menghadapi suami seperti itu?
Berarti suaminya bagus, Mbak. Karena selalu mengajak istrinya ke mana-mana. Soalnya, ada suami yang lebih senang pergi tanpa istrinya, merasa bebas gitu, haha.
Hal ini wajar dialami, namanya saja orang yang berbeda, bukan satu tubuh, meskipun tetap saling butuh. Aku pengen ketawa Mas.. Malah ayahab kalau satu badan, dikira apa dong.. >_<
Suamiku ASN dulu kalau dinas ke luar kota, selalu ngajak misal kalau dapat satu kamar single. Tapi aku justru yang nggak mau. Kayak gimana ya, ngintilin suami kerja gitu. Hehehe… Kayak kurang nyaman aja di aku, "ada perasaan dia kerja lha aku ngapain." Kayak ngerasa nggak adil aja. Malah kasihan suamiku.. 🙁
Tapi kalau misal teman kerjanya juga bawa keluarga, aku masih mau ikut. Tapi selama nggak ada yang bawa, dan cuma dia doang yang bawa, aku lebih sering nolak. Meski gitu pajak istri tetep jalan. Oleh-oleh nggak boleh lupa bawa.. huehehehe.. 😀
Nikah 20 tahun, seingatku bojo nggak pernah blassssss ngajakin aku dines luar 🙂
Sekalinya ikutan acara kantor tuh, pas pelatihan jelang pensiunan, wkwkwkwk
dan memang disuruh ajak istri dan atau anak.
memang tiap rumah tangga beda-beda sih, ya.
kalo aku, terus terang lebih suka pergi dewean atau ama temen2 satu frekuensi.
agak kurang enjoy kalo pergi ama kluarga inti
mbuh, piyeee gitu lah 🙂
Sedih baca cerita pertama. Dari sisi suami: dia lapar tapi gengsi mau makan di warung. Halah, laki kok gengsian? Dari sisi istri: kalau gak sempat masak kan bisa minimal bikin telur dadar atau beli telur asin/ abon yg simple banget. Di sinilah perlu ada komunikasi asertif antara suami dan istri. Apalagi orang kalau lapar itu bisa memicu emosi.
singkatan KDRT versi temennya yang bikin elus dada sampai urusan dinas ASN yang berasa piknik terselubung. Lucu banget pas bagian cerita bapak-bapak yang lagi di hotel mewah tapi malah kepikiran rumah dan kucing di jok motor.
Aniway kalau uang banyak atau fasilitas hotel bintang lima itu bakal percuma kalau nggak ada kehangatan keluarga di rumah. Rasa sepi pas dinas malam itu justru jadi rem batin yang paling ampuh buat ngejaga komitmen sama pasangan.
Kehidupan rumah tangga banyak liku²nya dengan segala perintilan yang menjadi akronim permasalahan.
Tak disangka juga, ternyata ga semulus seperti harapan indah yang kerap dilontarkan tanpa basa-nasi kepada yang belum menikah: “kapan nikah?”
Padahal ternyata ada saja hal-hal yang mungkin dianggap sepele tapi jadi bisa panjang masalahnye.
Bagian ASN yang kesepian di kamar hotel padahal bisa lompat-lompat di kasur itu relate dan lucu sekaligus. Ujungnya manis juga, kerinduan ke istri dan anak jadi pengingat supaya nggak macam-macam di perjalanan.
Bagian pertama suami merasa nggak nyaman karena isteri nggak masak, ternyata banyak kejadian seperti ini di dunia nyata. Perlu ada komunikasi dan saling memahami antarasuami istri. Harusnya si suami ya maklum kalau istri nggak masak, kan istri kerja jadi guru dari pagi.
Di bagian ASN yg merasa kesepian saat dinas luar dan kangen kemuarga, ini adalah contoh suami yg baik dan nggsk neko-neko. Bisa dipercaya dan bertanggung jawab terhadap komitmen berumah tangga. Mungkin termasuk tipe laki2 setia ya.
Suamiku asn yang kadang juga melakukan perjalanan dinas. Biasanya kalau dia diundang jadi narasumber, dan dapat kamar sendiri, pasti dia ngajak aku. Selama tidak membebani panitia dengan ongkos transportasi untuk aku. Biasanya klo diajak gini, dia bawa mobil pribadi. Jadi nggak merugikan pihak yang mengundang.
Ada2 aja nih mas Rizky bikin akronim. Lucu2 lagi singkatannya. Jd bs becermin nih dr kasus mas Rizky.
Btw, kalo pake bahasa kromo inggil, itu dalem mas. Bukan dalam. Wkwk. Beda arti kalo itu. Hehe.
Aku pas balik Jawa ya hrs terbiasa dgn kromo inggil kalo ngobrol dgn org lbh tua. Minimal kromo alus lah. Satu tingkat di bawah kromo inggil. Ya demi menjaga bahasa Jawa tetap lestari mas. Hehe
Btw kasus ASN itu emg bener sih. ASN daerah kalo lagi dinas ke Jkt emg maunya cari hiburan. Mumpung di kota gitu loh. Dibayarin lagi. Kalo ga kuat iman ya pasti “jajan” sana sini. Udh tahu lah ya arahnya. Mana gampang lagi jajannya. Wkwk
Smg aja ga ada lagi kasus KDRT atau apapun yang bikin BT ya mas.
Menarik juga akronim yang baru Saya tahu. Perkara tugas luar ini memang banyak sekali perintilannya. Apalagi tantangannya bukan hanya sebatas kerja di luar kota, tapi juga kesepian jauh dari keluarga yg harus dihadapi.
Sepakat anak dan istri memang perlu sosok ayah yang benar-benar hadir. Bukan hanya ngejor materi tapi secara fisik dan psikologi jauh dari anak dan istri. Tapi bicara tentang dinas luar saya belum pernah ikut kalau paksu TL. Tapi kalau saya yang ada kegiatan di luar paksu pasti ikut lengkap dengan pasukannya, jadi TL malah pindah tempat momong. Jadi tidak sampai merasakan rindu karena terpisah jarak.
Tipe suami yang pertama itu sungguh menyebalkan ya. Apa susahnya tinggal beli makan sampai harus nyalahin istrinya yang juga bekerja karena nggak menyiapkan makan. Padahal memberikan nafkah berupa makanan itu tanggung jawab suami. Harusnya nggak cuma uang.
Kalau kasus yang kedua, ini ujian iman bagi suami juga. Kalau suami baik, pasti malah merindukan keluarga dan ingin segera pulang. Nah kalau suami yang nggak bener, pasti malah jadi kesempatan berbuat buruk. Hidup itu pilihan memang ya.
mantap kali Bang dirimu bikin singkatan buat lawan dari KDRT dan memang pas banget nih kalau pasutri lagi LDR itu memang suka bikin kangen yaa. Jangankan ASN yang dinas, pasutri yang suaminya kadang pergi buat menjemput rizki di luar kota juga pasti merasakan TRDK ini hehe
Ya toh, pokoknya maunya selalu bersama, ‘kan?
Ternyata memang ya pernikahan itu soal berdamai dan kompromi. Jujur suamiku awalnya juga yang tipe makan harus dihidangkan oleh istrinya. Sampe sekarang sih. Sementara aku yang memang kurang semangat memasak di malam hari. Kalau makan siang dan pagi masih bisa. Sementara suamiku memang sering pulang larut malam karena pekerjaannya mulai di sore. Alhasil untuk malam makanannya sudah dingin karena dimasak sebelum saya tidur. Sebelumnya yang begitu bisa buat ribut. Tapi cari jalan tengah dan Win win solution tanpa ngeluh berkepanjangan lebih nyaman buat berdua
MashaAllah..
Huhuhuu..terharruu ada blog akuuh.. Rasanyaa mau nangiiss kalo uda denger keretakan rumah tangga. Semacam trigger karena salah satu keluarga kami ada yang sedang menghadapi masalah pelik seperti ini.
Seandainya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi sebuah keadaan dan mungkin ini yang sulit dalam rumah tangga… yakni saling ngobrol.
Apa maunya sang suami dan apa keinginan istri, kudu sama-sama sepakat. Bukan hanya senang, tapi juga saling menguatkan ketika sedih.
Weleh untung suamiku tipe yang kalau makanan belum terhidang ya masak sendiri atau beli haha. Salah satu keuntungan menikah sama mantan anak kos yang bisa mandiri menyiapkan makanan sendiri =)) 😛
No no yaaa, perjalanan dinas ngajak anak istri, kecuali bayar sendiri kali ya wkwk.
Tapi kalau misalnya penempatan mah angkut aja anak istrinya, karena gimanapun suami butuh dukungan istri begitu pula sebaliknya. Hmmm, tapi ya sebenarnya nggak mutlak karena menyesuaikan kondisi keluarga masing2 sih yaa.
Mas Rizky ini artikelnya lho ada aja akronimnya
Kreatif mas dirimu, menginspirasi ku untuk bisa menulis seperti ini
Btw hadirnya sosok ayah atau ibu tidak hanya hadir fisik tapi juga terlibat ini yang dirindukan anak.
Satu rumah tapi jarang ngobrol ini kan bahaya, walaupun tidak satu rumah entah karena perjalannn dinas atau memang tugasnya beda kota tapi benar-benar terlibat ini juga beda lagi dampaknya.
Intinya di komunikasi menurutku, karena apapun itu akan ada konsekuensi di baliknya
Wah, makasih banyak, Mbak! Bikin aku tambah semangat nulis, hehe…