3 Makna Hidup Bagaikan Tukang Parkir, Cocok untuk Para Ayah

3 Makna Hidup Bagaikan Tukang Parkir, Cocok untuk Para Ayah

Rasa-rasanya, bila orang diberikan dua pilihan, mau cangkul atau peluit, pilih yang mana, ya?

Kalau cangkul itu identik dengan kerja berat, seperti bertani di sawah. Kalau peluit, identik dengan tukang parkir. Kan tidak mungkin ada tukang parkir di sawah toh? Kecuali ada mobil nyungsep ke sawah, barulah muncul tukang parkir!

Menjadi petani di sawah memang lebih berat. Harus mengandalkan fisik yang lebih kuat daripada menjadi tukang parkir.

Bahkan, petani juga sering dijemur di bawah terik sinar matahari. Sinar tersebut memang tidak pernah peduli, meskipun si petani punya anak perempuan bernama Sinar maupun Matahari.

Tukang parkir dirasa lebih enak karena tinggal semprat-semprit saja. Hanya bermodalkan peluit plus mengibaskan tangan membelah angin, kendaraan bermotor pun ke luar dari tempat parkirnya.

Kalau di mall atau tempat perbelanjaan modern, biasanya, tidak ada tukang parkir yang modelnya cuma bawa peluit. Meskipun dia mantan wasit sepakbola yang terbiasa dengan peluit di mulut dan kartu kuning hingga merah, tetap tukang parkir berpeluit tidak selalu dibutuhkan.

Soalnya, sudah ada pintu parkir yang otomatis. Kendaraan bermotor masuk, menekan tombol tertentu, mengambil struk parkir, asal jangan sampai si pengendara langsung jadi stroke pas menerima struk.

Begitu pula ketika ke luar. Struk tersebut diserahkan kepada petugas, lalu membayar biaya parkir. Biasanya, sih, dihitung per jam.

Makin lama kendaraan tinggal, jelas makin mahal. Apalagi kalau sampai bermalam, bersiang, bersore, berpagi. Tambah dobel-dobel, deh.

Kalau memang hitungannya per jam dan tarifnya jelas, maka itu sebenarnya tidak terlalu menjadi majalah, eh, masalah. Kan kita memang masuk ke situ bawa kendaraan bermotor. Jadi, jelas akan terkena biaya parkir.

Yang Paling Menjengkelkan dari Tukang Parkir

hal-yang-paling-menjengkelkan-dari-tukang-parkir (1)

Namun, hal yang sering menjengkelkan dari tukang parkir ini, apalagi bila wajahnya tidak seperti Oppa Korea, adalah tiba-tiba muncul. Apalagi bila di minimarket seperti Indomaret maupun Alfamidi atau Alfamart.

Padahal, sudah jelas-jelas dan nyata, seterang bulan dan martabak enak bahwa parkir di situ memang gratis, khusus pelanggan Indomaret maupun Alfamart atau Alfamidi.

Namun, mungkin karena si tukang parkir pura-pura tidak bisa baca dan ijazah SMA-nya juga tidak tahu di mana, eits, maka nekat saja menerapkan tarif parkir.

Terlebih bila yang diparkiri adalah tempat makan UMKM. Sang pengusaha UMKM membutuhkan modal yang cukup besar untuk membangun usahanya, eh, datang-datang tukang parkir hanya bermodal mulut dan peluit. Coba kalau yang dipunyai cuma peluit, tidak punya mulut, masa mau pakai kuping?

Baca Juga: Bukan Artificial Intelligence, Ini 3 AI yang Paling Berguna untuk Hidupmu

Kalau kata Aa Gym, hidup seperti tukang parkir itu maknanya adalah dia tidak merasa memiliki kendaraan-kendaraan bermotor di bawah parkirannya. Saat para pemilik kendaraan datang, lalu pergi, tukang parkir merelakan juga.

Begitulah hakikat dunia, sepemahaman saya dari ceramah Aa Gym. Ketika tidak merasa memiliki sesuatu di dunia ini, saat yang punya mengambilnya, ya, woles saja toh? Mau woles apa? Bahasa China, Bahasa Jawa, atau Bahasa Inggris? Di Singapura mau? Tapi cuma ada daftar hadir saja, lho! Ijazahnya, yo embuh!

Nah, pada tulisan ini, saya juga mau mengungkapkan tentang hakikat atau makna hidup dari tukang parkir tersebut. Ada 3 makna hidup yang saya temukan kaitannya dengan tukang parkir ini.

Seperti biasa, agar lebih seru, mari kita ganti subjudul dulu, ya! Soalnya subjudul ini memang adanya sekarang, kalau yang lalu-lalu atau sudah terjadi lama namanya subjadul.

3 Makna Hidup Ibarat Tukang Parkir

Pada judul utama di atas, saya pakai kata “bagaikan”. Sedangkan untuk di sini saya pakai “ibarat”. Kenapa berbeda? Sengaja memang. Lho, bukankah berbeda itu sama saja dengan tidak sama? Kalau Asma, itu nama mantan teller Bank Muamalat. Sekadar info saja, sih.

Mari kita mulai untuk yang pertama!

1. Suara Peluit Tukang Parkir Seperti Arahan Hidup

suara-peluit-tukang-parkir-bagaikan-arahan-hidup (1)

Tukang parkir memang akrab sekali dengan peluit. Benda kecil yang bisa mengeluarkan suara nyaring ini juga sering dibawanya.

Bayangkan bila tukang parkir malah bawa terompet, saksofon, flute, klarinet, trombon, atau bahkan harmonika. Meskipun semua bisa mengeluarkan suara karena termasuk alat musik tiup, tetapi cukup peluit yang diandalkan.

Kok tidak mau jadi tukang parkir yang beda daripada biasanya, lain daripada yang lain, jangan pakai peluit begitu, ya?

Peluit digunakan tukang parkir untuk mengarahkan kendaraan bermotor, baik kendaraan yang baru saja ke luar dari tempat parkir, maupun kendaraan-kendaraan lain yang akan mendekati kendaraan tersebut.

Si tukang parkir hanya bisa mengarahkan kendaraan bermotor yang ada di dekatnya. Dia tidak bisa mengarahkan kendaraan bermotor lain, seperti pesawat terbang yang melintas di atas kepalanya atau bahkan drone Rusia yang tiba-tiba muncul di situ, meskipun pipinya jadi kempot tanpa Didi karena kuatnya meniup peluit.

Peluit sebagai alat untuk mengarahkan memang maknanya bahwa hidup ini seharusnya juga diarahkan seperti itu. Ini butuh arahan agar manusia tidak bergerak tanpa arah dan tujuan. Terus, pakai suara apa dong? Paling utama, tentu saja adalah suara azan.

Inilah suara yang mengarahkan setiap muslim dan muslimah untuk salat pada waktunya. Suara azan terbukti mampu mengatur ribuan manusia dalam sekali waktu dan dalam satu tempat yang sama.

Memang, tidak setara antara suara peluit tukang parkir dengan suara panggilan azan yang mulia. Keduanya jelas memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda. Hal yang diambil di sini adalah satu sisi bahwa sebuah suara dapat menjadi penanda agar seseorang melakukan sesuatu.

Saat ada peluit terdengar, maka orang yang berkendara memperhatikan arahan agar kendaraannya tetap bergerak secara aman. Sedangkan, ketika azan berkumandang, nah, seorang muslim perlu memperhatikan kewajiban salat wajibnya.

Nah, pertanyaannya, bagaimana kita sebagai manusia merespons suara pengingat tersebut? Kalau suara peluit tukang parkir bisa direspons dengan begitu mudah, lalu kenapa suara azan malah lebih banyak dicuekin, hayo?

Yang jelas, sekali lagi intinya adalah tidak bisa disamakan suara peluit dengan azan. Sederhananya, hidup ini butuh arahan dan pengingat, dengan konteks dan level yang berbeda toh.

Baca Juga: Matinya Kucing Tetangga, Simbol Kucing Tua Penuh Perjuangan

Coba kita bandingkan dengan suasana di tempat lain di luar Indonesia. Pernah lihat suasana tawaf di Masjidil Haram? Bukankah itu ribuan orang, bahkan bisa sampai jutaan orang dalam satu masjid bukan?

Suasananya bagaimana? Tampak aneka rupa? Tampak tidak teratur? Tampak tidak rapi? Ya, begitulah kalau kita lihat orang tawaf. Mereka memang mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali sesuai dengan syariat Islam.

Namun, lihatlah waktu muazin sudah mengumandangkan azan. Hanya dalam beberapa menit saja, sudah rapi barisan orang-orang yang tadinya tidak rapi saat tawaf itu. Lebih rapi lagi waktu sudah iqamah.

Masya Allah, barisan salat jadi begitu rapi, melingkar teratur mengelilingi Ka’bah. Komando suara berikutnya, setelah azan, iqamah, adalah suara imam. Semuanya mengikuti dengan sangat penuh keteraturan yang super presisi.

Selesai salat, ada salam dari imam, jamaah pun bergegas berdiri dan tawaf lagi. Begitu seterusnya sampai nanti tiba waktu salat berikutnya.

Bagaikan suara peluit yang mengatur kendaraan bermotor, maka hidup ini memang butuh suara-suara pengaturnya. Ada suara azan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah suara hati kamu sendiri.

Hati mampu merasakan yang baik dan buruk, benar dan salah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut:

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa.” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).

Namun, ada juga sih suara yang mengarahkan orang untuk pergi. Suara apalagi selain kentut busuk? Suaranya, baunya, rasanya, nomor levelnya, pencemarannya, menyebabkan orang-orang menghindar sambil tutup hidung. Masker N95 mungkin akan menangis menahan bau kentut yang itu. Punya siapa sih itu?

2. Tukang Parkir Munculnya Tiba-tiba, Seperti Itulah Rezeki Maupun Masalah Hidup

Pada poin kedua ini, saya secara khusus mencermati tentang tukang parkir yang memang tiba-tiba muncul. Ketika siang bolong, munculnya bagaikan pocong di rumah hantu. Kan kalau pocong yang disukai ibu-ibu itu adalah pocongan harga, ya toh?

Saat kita datang ke suatu tempat, kita lihat memang tidak ada tukang parkir sama sekali. Makanya, aman-aman saja kita meletakkan kendaraan di situ.

Eh, ternyata, pas sudah ke luar, kita naik di kendaraan kita, rupanya muncul si tukang parkir itu. Dari mana coba datangnya? Apakah dari dalam tanah? Dari atas langit?

Dari balik pohon seperti di film India itu? Atau dari mana? Apakah dari Ken? Oh, kalau yang ini namanya Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara.

Poin dua ini ada makna positifnya, kaitannya dengan hidup. Segala sesuatu yang terjadi pada hidup kita memang sebagian besar tiba-tiba bukan? Atau malah semuanya?

Kita bisa dapat rezeki nomplok, atau rezeki tiba-tiba yang bentuknya pun macam-macam. Tiba-tiba teman bayar utangnya ke kita, padahal mungkin itu sudah ribuan tahun yang lalu saking lamanya dan kita pun lupa.

Tiba-tiba kita dapat makanan enak dari tetangga yang mungkin belum pernah kita rasakan selama ribuan tahun juga.

Atau kita tiba-tiba dapat pekerjaan setelah mungkin menunggu selama ribuan tahun. Ini kok ribuan tahun semuanya, sih? Memangnya kalau cuma ribuan bakalan cukup? Sekarang ‘kan butuhnya jutaan.

Begitu pula masalah dalam hidup, misalnya: musibah. Adakah yang bisa memprediksi secara cermat datangnya musibah? Susah sekali bukan? Manusia cuma bisa memprediksi, itupun prediksinya belum tentu tepat.

Jadi, segala sesuatu yang tiba-tiba, entah itu rezeki, jodoh, ajal, musibah, masalah hidup, dan lain sebagainya itu, memang sudah seperti itu adanya.

Oleh karena itu, tidak perlu kita merasa overthinking. Memikirkan bagaimana-bagaimananya padahal belum tentu itu yang terjadi. Selama masih ada dalam pikiran kita, belum tentu itu yang akan muncul.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu punya cara yang mengejutkan untuk mengurusi hamba-hamba-Nya. Apalagi bagi orang yang beriman dan bertakwa, rezekinya bisa terus muncul tiba-tiba, baik dari langit, maupun dari bumi.

3. Tukang Parkir Muncul Bukan untuk Semua Orang

Kalau kamu amati, tukang parkir ini hanya untuk orang yang pakai kendaraan bermotor. Ya ‘kan? Orang yang jalan kaki, merangkak, bahkan ngesot padahal bukan suster, tidak akan kena tarif parkir. Termasuk orang yang pakai sepeda, baik itu roda tiga, roda dua, roda satu, maupun tidak ada rodanya, tidak bakal kena juga.

Ini jelas ada maknanya dalam hidup. Bahwa sesuatu keadaan itu memang tidak terjadi pada semua orang. Misalnya kekayaan harta.

Kekayaan yang seperti itu sering dianggap rezeki besar, tetapi tidak dialami oleh semua hamba Allah. Tidak semuanya jadi kaya bukan? Kalau jadi kuya, itu depannya uya.

Ada orang yang cuma dikasih rezeki yang kecil atau biasa-biasa saja. Hartanya juga biasa-biasa saja. Dia tidak termasuk di bawah garis kemiskinan, tetapi pas di garis kemiskinan.

Baca Juga: Jalan Raya adalah Jalan Meraih Kekayaan, Inilah 3 Bentuknya

Pokoknya, begitulah. Orang yang tidak bawa kendaraan bermotor tidak mungkin dong kena tarif parkir, begitu pula orang yang bukan menjadi objek dari ujian besar, juga tidak akan pernah kena.

Setiap orang rezekinya berbeda. Setiap orang ujiannya berbeda. Dan, itu menjadi bukti adilnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang yang diberikan rezeki besar, sekaligus ujian besar, pastilah mampu dalam pandangan Allah.

Kalau Allah saja percaya pada orang tersebut saat diberikan musibah dan ujian besar, masa orang tersebut tidak percaya, sih? Memang, pada awalnya terlihat tidak mampu, terlihat berat sekali, tetapi nyatanya bisa diangkat juga ‘kan?

Seperti kamu yang pergi ke tempat fitness. Tadinya kamu merasa tidak kuat angkat barbel seberat ratusan kilogram. Ternyata, setelah kamu coba, eh, kuat juga.

Bahkan kamu bisa angkat berkali-kali. Luar biasa! Eh, ternyata, selidik punya selidik, ternyata yang kamu angkat barbel ukuran satu kilogram. Hem, pantas kuat.

Perumpamaan Tukang Parkir Jadi Makna Hidup untuk Para Ayah

perumpamaan-tukang-parkir-jadi-makna-hidup-untuk-para-ayah (1)

Oleh karena blog ini lebih banyak membahas kehidupan para ayah, maka artikel ini juga tentang keibuan, eh, keayahan.

Kehadiran tukang parkir yang bisa ditarik maknanya, memang cocok juga bagi kehidupan para ayah. Seperti pada poin pertama, suara peluit tukang parkir bisa bagaikan arahan hidup. Maksudnya, hidup para ayah itu sekarang mau ke mana, sih? Suara mana yang sekarang diikutinya?

Apakah sekadar memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, lalu selesai? Bukankah selesai tidak selesai, harus dikumpulkan? Wah, ini malah nyelonong perintah guru waktu ujian!

Kedua, para ayah juga perlu memahami bahwa hidup ini memang penuh kejutan. Ada kalanya hari ini merasakan penderitaan yang luar biasa. Bisa jadi karena seharian diomeli istri. Padahal salahnya kecil, tetapi bagi istri, apa, sih, yang kecil?

Misalnya, pada hari ini juga kondisi keuangan sedang seret. Malah minus. Sudah pakai kacamata minus, masih ditambah dengan keuangan minus. Apakah uangnya juga harus pakai kacamata?

Dan, yang ketiga, ini yang paling penting disadari. Tidak semua ayah akan diuji dengan ujian yang berat. Tidak semua ayah juga akan dapat rezeki atau dalam hal ini uang yang besar dan banyak.

Sebenarnya, tidak ada ujian yang berat karena semuanya sudah tertakar oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rezeki juga tidak akan tertukar. Semuanya betul-betul presisi dan tepat sekali diatur Allah.

Namun, ya, itu tadi, menulis di sini memang Bambang, maksudnya gampang. Ngomong juga mudah, meskipun yang diomongkan tentang orang-orang tuah. Bukankah mudah itu lawannya tuah?

Meskipun saya dan kamu yang saat ini juga menjadi seorang ayah memang sama-sama belajar. Saya belum tentu lebih baik daripada kamu dan kamu juga belum tentu lebih baik daripada saya. Eh.

Yang jelas, semoga kita yang menjadi para ayah tetap kuat dan terus dikuatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ya! Soalnya, yah, itu tadi, meskipun kita bukan berprofesi sebagai tukang parkir, tetapi paling tidak, kita berusaha untuk parkir kendaraan, rumah, dan segala yang kita miliki di tempat yang terbaik.

Mana lagi tempat terbaik selain di surga Allah? Tidak hanya sekadar parkir di sana, tetapi menetap dan tidak akan pernah ke luar lagi. Mau? Kalau para ayah bertemu dengan istrinya lagi di surga, masih mau ‘kan? Semoga para ayah menganggukkan kepala tanpa harus disuruh oleh istrinya.

Baca Juga: Perayaan Maulid Nabi: Jangan-Jangan Kita Lebih Rajin Merayakan daripada Meneladani

23 Comments

  1. Luar biasa ternyata, Tukang Parkir saja bisa penuh dengan makna, kalu penuh dengan toping itu disbutnya seblak.
    Pantes aja guru saya pernah bilang jika ngaji itu jangan cuma baca al qur’an dan hadist saja, tapi harus bisa ngaji ke apa yang kamu Lihat, dengar dan rasakan (kayak judul lagu)
    Semoga Allah mengabulkan apa yang di semogakan diatas, jadi Ayah memang harus kuat, kalo ngga kuat namanya payah.

  2. Wah, menarik sekali filosofinya
    Mengibaratkan peran ayah dalam keluarga layaknya tukang parkir. Baca ini sambil manggut-manggut, iya ya beneran gini ya. Ayah punya peran penting dalam keluarga

  3. Kan nggak mungkin ada tukang parkir di sawah, kecuali ada mobil nyungsep. Jelas itu kocak banget. Tapi bagian tukang parkir yang tiba-tiba muncul pas kita mau pulang itu relate parah, sekaligus nyambung ke rezeki dan musibah yang juga datangnya tiba-tiba. Gojekannya receh tapi pesannya dapet. Tulisannya renyah dan menghibur.

  4. Namanya ih mam, harus kuat. Sosok ayah itu kan imam dalam keluarga. Kalau dalam kemungkaran, jangan mau nunduk pada siapapun…

    Btw soal tukang parkir, emang seperti kucing-kucingan buat saya tuh. Apalagi kalau pas gak punya uang recehan
    Keki banget pas mau keluar, tiba² priiittt… Wah, kena deh

  5. Datang tiba-tiba dari arah yang tak diduga-duga. Iya sih. Sama kayak rejeki. Tinggal kita sebagai makhluk Tuhan mau berserah dan berusaha saja.

    Ternyata ada saja pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan dari seorang tukang parkir yang kadang nggak kita harapkan itu.

  6. kadang seru juga ya kalau kita perhatiin hal-hal sepele kayak tukang parkir. Profesi yang sering dianggap sebelah mata ini ternyata menyimpan banyak pelajaran hidup, terutama buat kita yang jalanin peran sebagai ayah.
    Intinya, jadi kepala keluarga itu emang penuh kejutan. Yang penting, kita tetap jalanin semuanya dengan ikhlas sambil terus belajar jadi sandaran terbaik buat keluarga tercinta.

  7. Masalahnya, tukang parkir kan ngasih arahan ke pemilik kendaraan sehingga dia bs parkir/jalan di tengah persimpangan padat. Nah kalo diumpamakan dgn kita sbg tukang parkir td, menurutku malah ga pas. Krn kita yg pegang kendali semua hidup kita. Kecuali kalo msh ada ortu kaya yg bs beri duit melimpah. Di situlah arah hidup kita bs lbh tertata.

    Beda dgn kita yg mengatur arah hidup sendiri. Tanpa bantuan peluit dr org2 sekitar. Adanya kita jg ngalor ngidul tanpa tujuan. Bingung menentukan arah. Ujung2nya pinjem duit tetangga atau tukang parkir td.

    Krn setahuku, duit tukang parkir tuh banyak loh. Meski receh yang dilemparkan pengendara, mereka bs ngumpulin bnyk. Di tempat ku, ada tukang parkir pny 2 rumah dan mobil dgn kerjaan hanya jd penata arus di perempatan. Rezeki emg ga ada yg mengira ya dapatnya.

  8. Rejeki memang sesuatu yang tak terkira. Arahnya aja ga diduga juga.
    Btw, maaf sebelumnya, kalau peluit yang digunakan tukang parkir menjadi analogi suara azan untuk mengarahkan orang solat, daku ga setuju, karena di dalam panggilan solat alias panggilan Ilahi itu ada takbir, syahadat, tahlil. Dan ga apple to apple salah satu panggilan Ilahi ini disejajarkan dengan peluit buatan manusia 🙏

    1. Terima kasih atas masukannya. Saya memahami maksud bahwa suara peluit tukang parkir dan suara azan memang tidak sepenuhnya apple to apple karena fungsi dan kedudukan keduanya berbeda.

      Dalam tulisan tersebut, maksud saya bukan menyamakan keduanya secara keseluruhan, melainkan mengambil sisi tertentu, yaitu suara sebagai penanda atau pengarah tindakan.

      Namun, saya setuju bahwa hubungan analoginya perlu diperjelas agar pembaca tidak menangkapnya sebagai penyamaan kedudukan keduanya. Saya akan mempertimbangkan perbaikan pada bagian tersebut. Terima kasih sudah mengingatkan.

  9. Menarik makna terkait tukang parkir di selaras kan dengan kehidupan seorang ayah. Memang manusia harus punya arah dan pengingat yang jelas. Agama jadi pegangan dan pedoman utama.

    Kalau saya sih lebih menangkap, tukang parkir ini dianalogikan sebagai kita yang mendapatkan titipan rezeki (hanya titipan) saat Allah SWT mengambilnya maka kita tidak marah, kecewa dan kesal. Ya, tukang parkir ketitipan mobil atau motor, saat yang punya ambil yaudah dia legowo aja kan namanya juga titipan.

  10. Tulisannya keren, bahkan dari tukang parkir pun kita bisa belajar banyak hal. Belajar sabar, belajar iklas, belajar menganggap bahwa semua yang kita miliki sekadar titipan, jadi ya tidak perlu bersedih jika titipan tersebut diambi pemiliknya.

  11. Saya suka dengan poin kedua yaitu tukang parkir muncul tiba-tiba, ANaloginya pas disematkan degan rezeki yang seringkali datang tiba-tiba. Jadi jangan khawatir dnegan rezeki, dia bisa datang setiap saat di waktu yang tak terduga.

  12. Hmm… seru juga bacanya tukang parkir dan Ayah
    Kalau saya sih POV melihat tukang parkir malah seperti apa saja yang saat ini diberikan Allah kelak akan diambil atau bisa jadi ditinggalkan
    Sama seperti mobil motor yang dititipkan ke tukang parkir, kelak akan diambil pemiliknya dan tukang parkir gak boleh marah, dan tetap melanjutkan pekerjaan
    Kalau dijadikan POV Ayah, saya masih harus baca ulang
    Haha maklum ya sebagai istri kadang melihat suami tuh bukan sebagai tukang parkir tetapi nahkoda kapal yang penuh sesak dengan kebutuhan, keinginan istri dan anak anaknya plus visi misi mau dibawa kemana kapal itu setelah berlayarnya di akhirat

  13. Tukang parkir, khususnya tukang parkir liar, emang ngeselin, tapi ternyata bisa juga nih diambil pelajarannya dari sosok ini hehe.
    Kalau soal analoginya AA Gym dengan sesuatu yang mungkin saat ini kita miliki/ melekat di kita, aku setuju aja, soalnya emang semuanya nih titipan. Kalau tukang parkir tiba2 ngeklaim motorku miliknya ya aku ngamuk sih =))
    Yang soal pembagian rezeki itu aku sebenarnya masih agak kurang nyambung, wkwk lola nih aku mas, belum sarapan =)), tapi memang siiihhh nggak semua manusia dikasi ujian kurang duit, ada juga yang kelebihan duit. Tapi kalau disuruh milih maunya lebih duit aja =))
    Setuju kalau udah dititipin ya parkir di tempat yang baik, jangan malah digandakan dengan korup, judi, dll hehe 😀

  14. Jadi ingat filsafat tukang parkir yakni belajarlah dari tukang parkir walau motornya banyak mereka tidak sombong. Hihi. Tapi jujur aku paling kesal sama tukang parkir yang pas kita datang nggak kelihatan pas mau pulang tahu-tahu dia nongol sama tukang parkir di ATM kayak WTF banget cuma ngambil uang sebentar dimintai parkir

  15. Kadang kita terlalu sibuk mengejar banyak hal demi keluarga sampai lupa bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan atau miliki selamanya. Menjadi ayah memang bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga belajar menjaga kepercayaan, menghargai kebersamaan, dan ikhlas menerima perubahan.

    Paling jengkel sih nomor dua, tukang parkir yang tiba-tiba nongol aja habis dapet duit eh ngilang. 🙁

    Tapi semoga rezeki yang tiba-tiba datang kayak tukang parkir, bikin kita welas asih sama diri sendiri dan tetep bersyukur ya mas. 🙂

  16. Terpantau artikel ini bisa jadi lokasi curhat colongan para Ayah yang bisa diambil hikmahnya juga pembelajaran bagi para istri. Tetap kuat para suami yang kudu seikhlas tukang parkir. Semoga tukang parkirnya yang pada kebeli PCX tiap bulan itu kan ya

  17. Artikelnya unik mas, candaannya itu lucu tapi pesannya dapat, ah jadi speechless saya
    Sehat-sehat ya para ayah yang mengemban tangung jawab yang luar biasa baik anak maupun istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *