Perayaan Maulid Nabi: Jangan-Jangan Kita Lebih Rajin Merayakan daripada Meneladani

Perayaan Maulid Nabi: Jangan-Jangan Kita Lebih Rajin Merayakan daripada Meneladani

Kemarin, Senin (31/8/2026), di tempat saya, di Masjid Raya Nurul Iman, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, berlangsung perayaan maulid. Suasana malam kemarin sangat ramai.

Banyak orang hadir di masjid terbesar di Bombana tersebut. Bupati dan wakil bupati juga menyempatkan diri hadir. Begitu pula tokoh masyarakat dan kalangan pejabat.

Merayakan Kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Perayaan maulid adalah perayaan kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam suasana maulid tersebut, masjid yang biasanya hanya beberapa gelintir orang salat berjamaah, kini berubah luar biasa.

Orang-orang yang selama ini jarang sekali salat di masjid, menjadi muncul. Saya memang senang bisa melihat masjid jadi ramai lagi.

Namun, saya bertanya ke dalam diri, entah ini poinnya berapa, kok bisa, ya, masjid bisa seramai ini saat maulid, tetapi cukup sepi sunyi saat salat berjamaah?

Ketika kita merayakan maulid, tahukah kamu tanggal persisnya kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Kalau di kalender, memang 12 Rabiul Awal, tetapi benarkah itu, Syawal? Oh, Syawal itu teman saya.

Padahal, jika dilihat di dalam sejarah, tanpa harus datang ke rumah guru sejarah sambil bawa martabak, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu lahir di Tahun Gajah.

Istilah tersebut mengacu kepada serangan tentara gajah pimpinan Abrahah yang akan memindahkan Ka’bah. Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghancurkan pasukan tersebut.

Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Fil, dikisahkan bahwa burung-burung berbondong-bondong melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.

Ketika Tahun Gajah tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lahir. Namun, tanggal dan bulannya tidak bisa dipastikan secara resmi. Kalau harinya, sih, Senin, tetapi Senin tanggal berapa? Bulan apa?

Sedangkan, 12 Rabiul Awal kita kenal merupakan pendapat yang populer dan umum tentang tanggal kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun, rupanya, tanggal tersebut bukan sesuatu yang disepakati ulama secara mutlak. Ternyata, ada beberapa pendapat lain dari para ulama dan ahli sejarah tentang tanggal tersebut.

Bahkan, yang mungkin bisa mengagetkan kamu, 12 Rabiul Awal ini merupakan tanggal yang populer disebut sebagai hari wafat beliau.

Nah, bila tanggal kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri masih diperselisihkan, ada yang lebih penting untuk kita renungkan. Bukan sekadar tanggalnya, melainkan apa yang kita lakukan setelah memperingatinya?

Sampai di sini, daripada kita sibuk memastikan tanggal mana yang paling benar dan tepat, mungkin lebih bagusnya, sebuah pertanyaan untuk saya dan kamu:

Apakah ajaran beliau sudah benar-benar hidup di dalam hati kita? 

Senang Mendengar Kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Tapi Bagaimana dengan Sunnahnya?

perayaan-maulid-nabi-2

Ketika menghadiri perayaan maulid, biasanya ada ustaz atau penceramahnya. Biasanya sosoknya laki-laki yang sudah malang-melintang di dunia penceramahan, tidak harus juga dari Malang, kok! Apalagi suka melintang juga.

Coba kamu sebagai seorang ayah dan kemarin sudah ikut perayaan maulid itu, ketika mendengar kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lembut, santun, dan penyayang kepada anak, apakah kita bisa seperti itu?

Jangan-jangan kita sudah ikut banyak sekali perayaan maulid, tetapi tidak ada yang membekas, selain, yah, konsumsinya yang memang enak-enak itu.

Jangan sampai kita masih kasar dengan anak, padahal kasar ‘kan tempat jual beli, ya ‘kan? Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa membantu keluarganya, apakah kita sudah mau nimbrung dalam pekerjaan rumah?

Beliau juga selalu menjaga ucapan. Bahkan, ucapan beliau memang tidak sembarangan, karena berasal dari wahyu Allah. Coba tengok, bagaimana ucapan kita, kata-kata kita ketika sedang marah, dengan istri atau anak?

Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu sangat pemaaf. Nah, ini yang mungkin berat bagi kita, ada orang yang berbuat salah ke kita, sudahkah kita maafkan? Jangan sampai malah seperti kaum perempuan, tiada maaf bagimu!

Kalau ikut banyak perayaan maulid nabi, mendengar ceramah-ceramahnya, tetapi justru yang paling berat adalah kita lebih gampang membicarakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam daripada meniru beliau dalam perilaku sehari-hari.

Apakah Cuma Berhenti di Hari Maulid Nabi?

Masjid jadi penuh ketika perayaan maulid nabi, banyak orang datang dari sekitar masjid, bahkan yang lebih jauh jaraknya juga datang. Tentu bukan jauhnya itu Planet Mars, lah.

Namun, coba bandingkan besok malamnya, apakah sama keadaannya? Saya yakin tidak. Contoh saja, saat malam terakhir Ramadan. Shaf-shaf masih lumayan banyak, tetapi pas 1 Syawal, eh, “kembali ke pengaturan pabrik”.

Begitu juga di perayaan maulid nabi ini. Ada berita orang-orang yang merayakan maulid nabi malah ditangkap di Arab Saudi. Sebab, di sana tidak ada perayaan-perayaan begitu.

Ada pula yang menganggap perayaan maulid nabi ini bid’ah karena tidak pernah diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya (muslim.or.id).

Sementara, bagi yang membela perayaan maulid nabi, berdalih bahwa ini juga bagian dari ibadah. Sesuatu yang dianggap baik dan positif itu bisa dilakukan.

Kalau ukuran “semakin banyak semakin baik” dipakai begitu saja dan plek-ketiplek dalam ibadah, maka kita akan punya masalah lain.

Contohnya, salat Subuh. Tidak bisa dong tiba-tiba kita tambah menjadi empat rakaat hanya karena berpikir lebih banyak pasti lebih baik.

Padahal, kaidah dalam ibadah itu, dicari perintahnya. Beda dengan urusan dunia, dicari larangannya. Makan tempe tidak dilarang karena termasuk urusan dunia. Apalagi tempe bikinan istri kamu yang gosong itu, harus kamu makan juga, jika tidak, hem, bisa perang dunia ketiga.

Jadi, kalau hanya berhenti di perayaan maulid nabi, ya, cuma akan begitu-begitu saja. Tidak menerapkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Contoh saja salat berjamaah di masjid.

Pada dasarnya, salat berjamaah di masjid adalah amalan yang sangat ditekankan dan dianjurkan bagi laki-laki Muslim. Hermannya, maksudnya, herannya, kenapa semangat kita untuk memenuhi masjid tidak selalu terlihat pada hari-hari biasa?

Begitu pula perilaku beliau juga tidak dicontoh di rumah-rumah kita. Mengakunya cinta nabi, tetapi malah kasar dengan istri, kasar ke anak, cuek dengan pekerjaan rumah, bahkan tidak memberi nafkah yang layak.

Terlepas dari hukum tentang perayaan maulid nabi itu, dan ada juga positifnya dalam maulid ini, yaitu: ada tanggal merah di bulan yang lalu, usaha apa yang sudah kita lakukan demi benar-benar membuktikan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?

Jika mau dijawab, boleh di kolom komentar. Kalau belum mau dijawab, cukup jawab di hati saja. Tentu, hati kamu sendiri karena ada hati yang perlu dijaga, yaitu: hati-hati dengan hati istri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *