2 Hari Ikut Webinar Pengaturan Rezeki, Ternyata 7 Hal Ini Sering Kita Hadapi dalam Rumah Tangga

2 Hari Ikut Webinar Pengaturan Rezeki, Ternyata 7 Hal Ini Sering Kita Hadapi dalam Rumah Tangga

Meskipun sekarang bukan lagi era covid-19, tetapi pertemuan online masih sangat diperlukan. Kalau yang lalu covid-19 di tahun 2019, masa di tahun 2026 ini jadi covid-26?

Kelebihan dari pertemuan online memang lebih fleksibel, baik dalam tempat maupun jumlah peserta. Tempat tidak butuh gedung yang luas untuk menampung ratusan peserta. Ini jelas menghemat sewa gedung dan jauh lebih hemat daripada harus bangun gedung baru untuk membuat satu pertemuan.

Begitu juga dengan pertemuan online yang saya ikuti ini. Yang lalu, saya pernah mengikuti beberapa webinar. Arti dari webinar itu sendiri adalah seminar yang dilakukan melalui web. Biasanya sih lewat Zoom Meeting.

Para peserta yang ikut harus mendaftar terlebih dahulu. Tidak perlu sampai harus mendaftar terlebih dahulu di RT atau RW setempat, cukup di penyelenggara kegiatan. Dalam tulisan yang tidak tahu jumlah tanda bacanya ini, saya mau kupas webinar seputar keayahan, parenting, dan terutama pengaturan rezeki dalam rumah tangga.

Tiga Hari, Tiga Pembicara

Webinar ini punya judul Financial Family: Pengaturan Rezeki dalam Rumah Tangga, Finansial Rumah Tangga, Sebenarnya Harus Diatur Bagaimana? Cukup panjang juga, ya? Pastinya akan susah kalau kita hitung semua huruf dalam judul tersebut. Lebih susah lagi bagi bayi yang baru lahir.

Pertemuan ini dimulai pada tanggal 13 September 2026. Ah, angka 13 bukan angka sial, kok! Buktinya kegiatan ini bisa berlangsung pada tanggal tersebut dan aman-aman saja. Lancar-lancar saja. Setelah pertemuan, mau ke belakang juga lancar-lancar saja. Ya ‘kan?

Pada hari pertama, dimulai pada pukul 20.00 WIB. Berarti karena saya tinggal di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, masuk ke WITA alias Waktu Indonesia Tengah. Apakah karena saya suka di tengah dan tidak mau di pinggir? Ya, tidak juga.

Pembicara pada hari pertama adalah Ustaz Zakaria Amali, pembina pondok pesantren Kasepuhan. Dalam pengantarnya, pondok pesantren itu memang lebih fokus ke para orang tua, karena sepuh itu berarti orang tua dalam bahasa Jawa. Ada juga sepuh yang berarti setelah sakit. Eh, itu mah sembuh.

Beliau, Ustaz Zakaria Amali, mengambil judul “Amankan Finansialmu, Sebagai Penyelamat Setelah Kematian”. Judulnya langsung menusuk, ya! Apalagi membahas “kematian”, ini adalah sesuatu yang biasanya ditakuti manusia. Bagi orang yang sudah meninggal dunia, tentunya sudah tidak takut mati.

Sedangkan untuk hari kedua, alias tadi malam, diisi oleh Ustaz Ahmad Fanani, konsultan keuangan keluarga. Profesinya ini bisa menohok anak muda ketika tidak punya uang, belum berkeluarga sekalian.

Ustaz Ahmad Fanani membawakan materi “Bagaimana Mengatur Uang Kalau Suami Istri Sama-sama Punya Penghasilan?” Topik yang cukup menarik. Biasanya, yang punya penghasilan itu suaminya saja, tetapi bagaimana kalau istrinya juga punya penghasilan?

Waktu webinarnya juga sama, jam 20.00 WIB atau 21.00 WITA. Saat tinggal di daerah WITA ini, memang saya merasa lebih tua satu jam daripada orang-orang di WIB, deh. Namun, saya masih mendingan, karena yang di WIT lebih tua satu jam daripada saya. Apalagi bila orang tersebut sudah 70 tahun memang.

7 Hal yang Sering Dihadapi

Dua materi yang dibawakan berturut-turut ini memang banyak hal yang bisa diambil. Bukan berarti dalam pertemuan ini ada snacknya, terus saya bisa ambil semaunya. Maksudnya di sini adalah ilmu yang didapatkan. Penyegaran wawasan, apalagi terkait dengan kehidupan rumah tangga, beserta pengelolaannya.

Ada 7 jenis masalah yang kerap kali dihadapi atau dialami dalam rumah tangga, baik rumah yang isinya cuma tangga, maupun tangga yang tidak ada rumahnya. Eh. Apa saja 7 jenis atau hal tersebut? Mari ganti subjudul dulu. Tidak perlu Subzero karena ini bukan Mortal Kombat.

1. Punya Harta, Tapi Tidak Pernah Merasa Cukup

punya-harta-tapi-tidak-pernah-merasa-cukup (1)

Orang boleh punya harta banyak sekali. Bahkan, seluruh harta di dunia ini dimiliki kalau perlu, tetapi apakah itu menjamin bahwa hidupnya cukup? Belum tentu bukan?

Ternyata, mempunyai sesuatu yang lebih banyak, belum tentu membuat hati jadi lebih lapang, apalagi rumahnya memang di pinggir lapangan.

Dalam 2 hari webinar yang membahas pengaturan rezeki ini, ada sifat qanaah. Ini bukan berarti pasif-pasif saja karena pasif itu ‘kan sering dipakai bersama semen untuk bangun rumah.

Qanaah yang benar itu adalah seseorang merasa cukup dengan apapun yang Allah berikan. Justru yang sering dihadapi dalam banyak rumah tangga adalah bukan rasa cukup, melainkan daftar barang yang ingin dibeli.

Jika dijlentrehkan, wah, bahasa mana ini dijlentrehkan, maksudnya jika dibuka gulungan tentang rencana membeli barang di kertas itu, bisa jadi panjangnya malah sampai ke kamar mandi tetangga. Mau numpang mandi kah?

2. Terlalu Sibuk Mengejar Dunia Sampai Lupa Untuk Apa Harta Itu Dikumpulkan?

Ketika kita mendapatkan berbagai nikmat dunia, pada dasarnya memang semestinya diarahkan untuk menjadi bekal akhirat. Jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan utama.

Mana ada orang yang hidup abadi di dunia ini? Kecuali memang namanya Pak Abadi, tapi itupun suatu saat akan meninggal dunia juga. Pak Abadi tentu tidak tahu kapan dia akan meninggal dunia, jadi dia belum pesan kain kafannya.

Bagi kamu yang merasakan di poin ini, mungkin saatnya kamu mencoba untuk masuk ke worksheet ini. Ketika kamu masuk di dalamnya, kamu bisa menguji tentang kegelisahan akhiratmu dibandingkan dunia ini.

Tidak ada jawaban yang benar dan betul, eh, maksudnya yang salah. Yang ada adalah sekadar refleksi hidup saja. Kamu bisa masuk di sini, tinggal klik saja: Seberapa Akhirat Dirimu? 

worksheet-pengaturan-rezeki-dalam-rumah-tangga-seberapa-akhirat-dirimu (1)

3. Saat Rezeki Bertambah, Gaya Hidup Ikut Naik

Bagian ketiga ini memang tampak sangat kuat dari materi pada malam kedua. Saat kita berada dalam kondisi lapang, seharusnya peningkatan rezeki tidak tertuju kepada aspek konsumtif semata, tetapi untuk investasi produktif, proteksi, dan dampak sosial.

Contoh yang sangat mudah dirasakan oleh kita sebagai peserta webinar maupun kamu yang bukan peserta adalah ketika gaji naik Rp2 juta, eh, kebutuhan hidup malah ikut naik jadi Rp2,5 juta. Pernah atau sering mengalami? Jawab dalam hati, ya, bukan dalam ginjal.

4. Ketika Rezeki Sempit, Kita Baru Sibuk Mengatur Uang

webinar-pengaturan-rezeki-ketika-sempit-rezeki-baru-mengatur-uang (1)

Tadi, pada poin sebelumnya membahas kondisi saat kita lapang, bagaimana ketika saat rezeki itu sempit? Ini yang dibahas di materi kedua. Solusinya adalah dengan rasionalisasi anggaran, fokus kebutuhan dasar, dan menghindari beban utang konsumtif.

Hal yang bisa dirasakan dalam kehidupan rumah tangga kita adalah selama uang cukup, kita merasa baik-baik saja. Tensi, tekanan darah, tekanan paru-paru, tekanan ginjal dan usus semuanya biasa-biasa saja/

Namun, begitu pemasukan terganggu, ternyata, baru ketahuan mana kebutuhan dan mana sebenarnya cuma keinginan yang kita kasih nama “kebutuhan”. Relate?

5. Harta Suami, Harta Istri, dan Harta Bersama Kadang Masih Campur Aduk

Es campur memang enak. Segar diminum dingin di siang hari yang terik dan panas. Namun, begitu disajikan di warung es campur, harus cepat kita minum. Soalnya, kalau mau lama diminum, nanti keburu dingin!

Selama ini dalam rumah tangga kita, bagaimana tentang harta? Apakah semuanya sudah jelas yang mana harta pribadi suami, harta pribadi istri, aset bersama, dan aset anak?

Kalau di kantor-kantor pemerintah, barang-barangnya diberikan label, namun untuk di rumah kita, mungkin tidak perlu seperti itu.

Yang jelas, mesti ada pencatatan yang jelas, termasuk dalam hal ini adalah aset bersama. Tidak boleh luput dari porsi kepemilikan dan pencatatan yang transparan.

Kalau kamu ingin tahu sejauh mana pengamalan di poin kelima ini atau mau mengetes apakah di rumah kamu sudah dilakukan yang demikian, maka kamu bisa masuk ke worksheet juga yang judulnya dan tinggal klik saja: 🗺️ Peta Rezeki Keluarga Saya. 

webinar-pengaturan-rezeki-peta-rezeki-keluarga-saya (1)

Setelah membaca bagian ini, kamu bisa mulai memetakan kondisi keluarga kamu sendiri, lho! Semoga bisa membantu.

6. Kita Sibuk Mencari Harta, Tetapi Belum Memikirkan Apa yang Akan Terjadi Setelah Kita Tidak Ada

Warisan itu bukanlah obat maag, kalau itu namanya Waisan. Dan, Waisan ini juga bukan untuk harta benda, kalau itu namanya warisan. Ini dibolak-balik saja, ih!

Masuk di poin keenam ini, 2 materi pengaturan rezeki ini juga membahas tentang legacy dan perlindungan ekonomi lintas generasi.

Pada materi malam kedua dikupas tentang bagaimana pengelolaan aset dapat diarahkan untuk pendidikan, modal usaha, dana darurat keturunan, sekaligus manfaat sosial.

Dalam pikiran di kepala kita ini, kita mungkin sering bertanya, “Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan untuk anak?”

Namun, mirisnya, jarang bertanya, “Apa yang akan terjadi pada semua itu ketika saya sudah tidak ada?”

Nah, kira-kira jawabannya apa? Ini bukan soal pilihan ganda, apalagi pilihan janda. Ini adalah pertanyaan yang semestinya juga masuk dalam pikiran-pikiran kita setiap hari.

7. Kita Sudah Memikirkan Masa Depan, Tetapi Belum Menata Harta Hari Ini

pengaturan-rezeki-dalam-rumah-tangga (1)

Semakin ditunda-tunda, justru akan semakin berlarut-larut. Ibarat malam, makin ditunda tidur, malam semakin larut. Tanpa harus melarutkan gula dalam kopi, eh, ternyata malam bisa larut sendiri.

Pada materi malam kedua, narasumber secara jelas mengajak keluarga kita untuk tidak menunda penataan harta. Jangan sampai muncul sengketa atau masalah ekonomi pada generasi berikutnya.

Dan, materi pertama mengingatkan kembali bahwa harta yang kita miliki sekarang, apakah sudah benar-benar diarahkan untuk menjadi bekal akhirat?

Ending dari 2 Hari Webinar Ini

Menikmati webinar secara online ini memang nikmat. Kita bisa mendapatkan ilmu dari 2 ustaz yang memang pakar di bidangnya. Kita juga tidak merasa rugi untuk menyisihkan harta demi ikut webinar ini. Tidak sampai 1 triliun bayarnya ‘kan?

Selama 2 hari ini kita mungkin belajar banyak tentang rezeki. Tentang bagaimana mendapatkannya, bagaimana mengelolanya, bagaimana membaginya, termasuk bagaimana menjadikannya bekal untuk kehidupan setelah dunia.

Namun, ujung-ujungnya, pada akhirnya, semuanya akan kembali pada satu pertanyaan: Setelah mengetahui semua ini, apa yang akan kita lakukan dengan rezeki yang sudah ada di tangan kita?

Masih ada lagi satu worksheet yang merangkum perjalanan selama 3 hari webinar pengaturan rezeki rumah tangga ini dan Insya Allah mulai tersedia besok. Bagi Ayah/Ibu atau siapapun yang ingin memilikinya untuk besok, bisa masuk dulu di sini dan tinggal klik: Info Lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *