“Roti, roti! Roti anget, roti anget!” Begitulah biasa dia tawarkan roti jualannya ke semua orang. Semula ditenteng, sekarang pakai sepeda. Namun, lebih sekarang lagi, dia telah tiada.
Saya baru tahu namanya adalah Mas Muhidin. Penjual roti keliling di daerah ibukota Kabupaten Bombana. Menjual roti dengan aneka macam isi. Ada kacang ijo, coklat, kelapa, dan keju.
Rata-rata rotinya berbentuk bulat. Lembut dan empuk saat dimakan. Ada rasa manis saat menyentuh lidah, tetapi rasa manis itu hilang setelah masuk ke kerongkongan dan masuk ke lambung.
Kamu sendiri merasakan apa kalau makanan sudah sampai di lambung? Apa terlebih dahulu harus pakai umpan lambung?
Pejuang Nafkah Keluarga
Mas Muhidin ini termasuk pekerja keras, berjuang betul demi memenuhi nafkah untuk keluarganya. Saya tidak tahu berapa anaknya, yang jelas istrinya satu, deh. Sangat jarang ada penjual roti begini yang lebih dari satu, kecuali, ya, memang jumlah jualan rotinya toh.
Sejak pagi, beliau sudah mulai berjualan. Kalau dulu tidak salah, rotinya berharga lima ribu empat buah atau tiga buah begitu. Sekarang setahu saya harganya sudah dua ribu rupiah per buah.
Tentengannya yang memakai bambu dan dipanggul di bahu sudah berganti menjadi sepeda onthel. Jaraknya jadi lebih panjang daripada cuma jalan kaki. Tawarannya pun lebih luas lagi.
Namun, begitulah. Tidak semua orang suka dengan rotinya. Pernah dalam suatu kantor instansi pemerintah pusat di Bombana ini, dia sampai masuk ke dalam ruangan-ruangan untuk menawarkan roti.
Pernah pula ada pegawai kantor tersebut yang mencela roti buatannya. Meskipun, yah, tidak di depan Mas Muhidin langsung, sih. Apalagi di depan presiden. Lebih tidak mungkin lagi.
Hal yang membuat rotinya terlihat kurang laku karena sudah banyak penjual roti lain di Bombana ini. Sejak pagi, sudah ada penjual kue di depan Masjid Raya Nurul Iman. Dia bertahan sampai sore karena jualan dari mobil open kap yang sudah dimodifikasi jadi semacam etalase toko.
Tanpa harus berkeliling, dia jualan di situ, sedangkan pembelinya berdatangan. Begitu juga ada toko roti yang letaknya di samping toko ATK besar. Tokonya ada AC-nya dan rasanya lebih nikmat sih, meskipun harganya lebih mahal. Entah, tokonya juga pastinya lebih mahal kalau dijual.
Ternyata Menjadi Penjual Roti Keliling yang Hidup Sendirian di Sini

Baru saya tahu dari teman saya bahwa Mas Muhidin ini di Bombana hidup sendiri. Dia ngekost dekat Bank BRI lama.
Kata teman saya pula, sebelum meninggal, malamnya, dia sudah membuat roti-roti untuk dijual. Nah, ketika hari esok, dia meninggal dunia karena serangan jantung. Jadi, roti-roti itu dihidangkan ke para pelayat.
Kalau melihat perjuangan Mas Muhidin ini memang luar biasa. Tidak mudah menjadi ayah sebatang kara di negeri orang. Terlebih istri dan anaknya berada di tempat lain, katanya sih di Jawa.
Namun, begitulah perjuangan seorang ayah. Jangankan hidup sendiri, saat dia berada di rumah bersama istri dan anak-anaknya, juga terasa sendiri bukan?
Seorang ayah memikirkan ekonomi keluarganya memang cenderung sendiri. Dia mau curhat kepada istrinya, tidak semua permasalahan ekonomi bisa selesai cuma dengan curhat bukan? Lebih nyeseknya ketika di ujung curhat suaminya, si istri bertanya, “Terus uangnya mana?”
Padahal, suaminya ‘kan tidak selalu ada uangnya. Dan, si suaminya juga bukan pabrik pencetak uang. Dia tidak mungkin mencetak uang sendiri, dipasang fotonya sendiri pula. Salah-salah malah ditangkap sebagai pengedar upal, meskipun di hidungnya banyak upil.
Lebih Tertarik Kepada yang Lebih Eksis
Mas Muhidin adalah satu di antara jutaan UMKM di Indonesia ini. Bukan berarti itu UMKM selalu ada uang jutaan, melainkan jumlahnya memang sangat banyak.
Kalau kamu di Jakarta, ada penjual kopi keliling. Mereka seperti Mas Muhidin juga, pakai sepeda roda dua. Namun, jualannya berupa kopi panas dari berbagai macam kopi sachet yang dibawanya.
Mereka juga membawa termos berisi air panas. Gelas plastik dan sendok plastik. Mungkin ada gula pasirnya. Jadi, ketika ada orang yang pesan, akan dibuatkan kopi panas sesuai sachet yang dipilih, diseduh air panas di dalam gelas plastik.
Meskipun yang beli itu orangnya itu pelit dan berusaha untuk menawar harga dari si penjual, misalnya tidak usah pakai gelas plastik agar lebih murah, tidak mungkin bukan kopi panasnya langsung dituang di tangan pembeli?
Pada dasarnya, persoalan UMKM di Indonesia itu rata-rata memang sama. Kekurangan modal dan sering pula kurang pendapatan. Mereka memilih untuk terus bertahan hidup dari hari ke hari, demi sesuap nasi, meskipun kalau nasi cuma sesuap, mana kenyang?
Mereka juga tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Umumnya, orang Indonesia itu memang begitu, kata Ustaz Feliz Siauw. Terbiasa tidak diurus pemerintah, jadi malah tahan banting.
Ketika seseorang berjualan seperti Mas Muhidin itu menandakan bahwa lapangan pekerjaan di negeri ini memang cukup sulit. Jangankan lapangan pekerjaan, lapangan sepakbola di kompleks perumahan mewah saja juga susah.
Menjadi pekerja atau pengusaha kecil macam Mas Muhidin memang tidak terlalu ideal. Gempuran kebutuhan hidup, biaya hidup yang makin meningkat, dan tuntutan lainnya, bisa membuat sosok ayah menjadi tidak sehat jiwa dan raga.
Terlebih lelah pikiran, ini lho yang susah mau diistirahatkan. Badan boleh berbaring di kasur, tetapi pikiran belum tentu bisa berbaring juga. Bahkan, ketika tidur pun, pikiran belum bisa istirahat total. Diperintah istirahat di tempat, dia malah terus gerak jalan.
Oh, ya, biasanya dari kita memang lebih tertarik kepada yang lebih eksis atau yang lebih mapan. Belanja lebih sering ke Indomaret dibandingkan toko kelontong tetangga. Beli roti di toko yang lebih besar dan nyaman, serta tidak mau beli dari penjual keliling macam Mas Muhidin.
Padahal, sosok seperti Mas Muhidin betul-betul memeras keringat. Saya melihatnya sering bawa lap di lehernya. Tiap dia berkeringat, lap itu selalu digunakan. Beda dengan pembalap F1 maupun MotoGP, yang dibawa bukan lap di leher, melainkan lap balapan. Sudah berapa lap, nih?
Mari Hargai Pejuang Nafkah Keluarga yang Masih Tersisa

Dalam banyak keluarga di Indonesia, sosok ayah memang punya tanggung jawab yang sangat besar. Aneka pekerjaan dapat dijalani oleh para ayah. Hasilnya bisa jadi cukup, bisa jadi terus tercukur.
Namun, di balik itu, simbol jihad menyala-nyala dengan mengkilat. Berjuang mencari nafkah juga termasuk jihad, lho! Jihad tidak harus mengangkat senjata di medan perang, justru jalanan adalah medan perang juga, walaupun memang tidak betul-betul berasal dari Medan.
Bagi kamu yang saat ini menjadi ayah atau masih memiliki ayah yang terus berjuang, meskipun sudah tua, hargailah mereka. Mungkin hasil perjuangan kamu dan ayah-ayah lainnya tidak bisa untuk membeli Lambogini. Namun, bila tidak bisa beli Lambogini, ‘kan bisa beli Lambogitu. Ya toh?
Terus berdoa, mantapkan niat mencukupi nafkah sebagai bagian dari ibadah. Semoga Allah memberikan rezeki yang luas kepada para ayah hebat. Mau apapun jualan kamu, semoga makin laris.
Mau apapun profesi kamu, semoga aman-aman saja. Sebab, para ayah menghadapi risiko di jalan, ketika pulang, juga menghadapi risiko mulut istri yang terasa melaju terus di jalan bebas hambatan.
Untuk Mas Muhidin rahimahullah yang dibahas di dalam tulisan ini, selamat jalan. Suaramu menawarkan roti dengan “Roti anget, roti anget” memang tidak akan terdengar lagi.
Namun, suara itu membuat kita sadar bahwa itu bukan cuma suara menawarkan roti, melainkan suara seorang ayah yang berusaha keras untuk membawa sesuatu bagi keluarganya tercinta.
Kita sering menyadari pentingnya kehadiran seseorang justru ketika orang tersebut tidak lagi hadir. Roti jualannya boleh habis, tetapi semangat perjuanganya semoga tidak akan pernah selesai dikenang. Semoga Allah menerima segala amal kebaikannya, amal ibadahnya, dan mengampuni segala kesalahannya.




