Dalam KBBI atau bahasa Indonesia baku, ternyata yang benar adalah salat, bukan sholat. Nah, kalau kata “salat” yang benar, sudah benarkah salat kamu?
Sebagai orang Islam, tentunya salah satu kewajiban syariatnya adalah salat. Sebagaimana diajarkan oleh orang tua atau guru-guru mengaji yang sering dibayar seikhlasnya atau bahkan sebanyak 3M yang kepanjangannya: Makasih Mas Mengajarnya, salat dimulai dari takbiratul ihram sampai dengan salam.
Dari dulu, gerakan salat yang benar memang tidak berubah. Tidak ada dalam salat itu joget-joget, meskipun ada di antara kita yang menjadi penggemar sound horeg atau malah menggemari para penarinya yang memang bikin huek.
Dalam salat, pakaian juga diatur. Meskipun aurat laki-laki itu dari pusar hingga lutut, tetapi masa pas salat tidak pakai baju atas? Mentang-mentang berotot, terus mau memamerkan, begitu?
Kenyataan yang Ada
Bicara tentang kenyataan, memang seringkali pahit dirasakan. Apalagi kenyataan itu berupa makan sayur pare atau paria, ini jelas-jelas rasanya pahit. Eh, apakah paria itu memang pahit dan wanita itu memang manis?
Kalau kenyataan tentang salat dan orang-orang yang melaksanakannya, ternyata malah lebih banyak yang meninggalkannya.
Tentang jumlah orang Islam yang meninggalkan salat tentunya tidak perlu disurvei besar-besaran, apalagi minta bantuan kru kuis Famili 100 untuk melakukan survei. Lihat saja kenyataan di sekitar kita, seberapa penuh sih masjid saat salat berjamaah?
Makanya, dari data yang melas dan menyedihkan tentang orang yang tidak salat, orang yang rajin salat berjamaah lima waktu di masjid, dibilang “pak ustaz”.
Hal itu dianggap simbol kesalehan. Padahal ‘kan itu sebagai dasar seorang muslim laki-laki, yang ditekankan harus salat berjamaah lima waktu di masjid.
Kalau memang dibilang “pak ustaz”, ya, Alhamdulillah, berarti orang yang memanggil itu masih normal. Yang tidak normal, jika kita ini laki-laki, dipanggil “bu ustazah”. Sepertinya mata orang itu kena THT nih, yang kepanjangannya: Telah Hilang Tatapannya.
Baca Juga: Posisi Istirahat di Tempat yang Terbaik itu Seperti Apa sih?
Masih berkaitan dengan orang yang tidak mau salat, apalagi salat berjamaah di masjid, apakah selalu kerugian yang didapatkan? Ternyata, tidak juga. Dalam tulisan ini malah akan dibahas keuntungan bagi orang yang meninggalkan salat, bahkan sampai 3.
Kaget ‘kan? Kok bisa ada 3 keuntungan? Apakah ini berarti keuntungan, keuntungan, keuntungan? Apakah karena saya kenal dengan Pak Untung?
Yap, dia dulunya adalah teman ibu saya. Penjual buku-buku di Jogja. Namanya Pak Untung, pasti untung terus dalam jualan ‘kan? Lha wong pas tidak jualan, pas makan, minum, tidur, juga tetap untung. Ya ‘kan?
3 Keuntungan untuk Orang yang Meninggalkan Salat
Mari tanpa basa-basi, karena ini sedang tidak bahas MBG atau Makanan Basi & Gosong, kita langsung kupas 3 keuntungan bagi orang yang meninggalkan salat. Ternyata, ada juga keuntungannya.
1. Hidupnya Lebih Fokus

Penyakit yang sering muncul dalam keseharian manusia zaman sekarang adalah multitasking. Mencoba untuk melakukan segala sesuatu atau banyak hal dalam satu waktu.
Padahal, jamnya cuma satu, berarti memang dalam satu waktu, masa mau pinjam jam dinding tetangga hanya demi menambah waktu?
Dalam pelajaran-pelajaran seputar motivasi, pengembangan diri, bisnis, dan tetek bengeknya, selalu diajarkan untuk fokus. Dan, ini memang nasihat yang berguna. Fokus yang dilakukan sungguh-sungguh menjadi jalan sukses tiada tara, bukan tere, apalagi Tere Liye.
Orang yang rutin dan selalu meninggalkan salat ternyata hidupnya malah jadi lebih fokus. Maksudnya adalah hidupnya benar-benar difokuskan untuk urusan dunia, materi, uang, pekerjaan, dan semacamnya. Tidak lagi fokus untuk kehidupan akhirat.
Buat apa itu memikirkan akhirat? Kan tidak kelihatan? Kan itu cuma dongeng orang-orang zaman dulu? Hidup itu, ya, di dunia ini. Tidak ada itu kehidupan setelah kematian. Setelah dikubur, ya, selesai. Sama dengan hewan, selesai bukan?
Nah, karena hidupnya lebih fokus ini, pekerjaan benar-benar dilakukan secara fulltime. Saat waktu salat datang, tabrak saja. Tetap kerja. Tetap di depan komputer. Tetap rapat saja. Pekerjaan belum beres, kok malah salat? Ah, ada-ada saja, katanya.
Saat di rumah juga begitu. Panggilan azan masuk lewat sela-sela dinding atau ventilasi, tidak dipedulikan. Kalau perlu, malah rumahnya pindah, menjauh dari panggilan azan yang sering membangunkan tidur di pagi buta itu.
Pindah ke mana di dunia ini yang tidak ada panggilan azan? Mungkin di Mars? Eh, bukankah Mars itu adanya di Indomaret? Itu Marsmellow.
2. Hidupnya Jadi Selalu di Atas
Ibarat pepatah, hidup itu seperti roda pedati. Yap, ada benarnya juga. Seperti roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah, eh, kadang pula menginjak kotoran.
Sebenarnya, hidup manusia itu memang ada gejolaknya. Satu ketika bisa sedih, satu ketika bisa senang. Suatu waktu gelisah, waktu yang lain juga gelisah, tetapi kepanjangannya jadi geli-geli basah. Eits, ini maksudnya ketiaknya digelitikin. Geli-geli, basah karena keringat, bau busuk lagi. Sial betul.
Menurut teman saya yang pernah khutbah Jum’at di atas mimbar masjid, sedih, kecewa, galau, dan seterusnya itu tidak berlangsung selamanya, kok. Yakinlah akan selesai. Yakinlah akan finish juga. Lari maraton yang jauhnya minta ampun itu ‘kan bisa selesai juga toh? Padahal, namanya maraton alias maraseribu kilogram.
Namun, bagi orang yang meninggalkan salat, di sinilah keuntungannya. Hidupnya selalu di atas terus. Pikirannya visioner, meskipun. yah, kadang kala perlu juga ditetes matanya dengan Visine.
Pandangannya tajam bagaikan elang yang siap menerkam semut. Halah, kekecilan sasarannya. Maksudnya elang yang mau menerjang apa, ya, makanan elang apa, sih? Setahu saya, kalau elang, itu ‘kan harus dicari sampai ketemu.
Baca Juga: Bukan Artificial Intelligence, Ini 3 AI yang Paling Berguna untuk Hidupmu
Terus, kok bisa dikatakan orang yang meninggalkan salat hidupnya selalu di atas, termasuk juga pandangan dan pikirannya. Ya, jelas, kan kepalanya tidak pernah dipakai bersujud kepada Allah. Kepala itu yang dikatakannya mulia tidak pernah direndahkan, lebih rendah daripada pantat.
Dahinya tidak pernah menyentuh sajadah. Kalaupun pernah, sekarang sudah tidak lagi, karena tidak mau lagi salat. Alhasil, dia merasa hidupnya selalu di atas, merasa semua pencapaiannya atas usaha dirinya, lupa terhadap Tuhannya, lupa dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Padahal, iblis yang diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam, tetapi tidak mau menyebabkan iblis dicap kafir oleh Allah dan dikeluarkan dari surga, akan dimasukkan ke neraka selama-lamanya. Dia sombong karena merasa lebih mulia daripada Nabi Adam alaihissalam.
Iblis tercipta dari api, sedangkan Nabi Adam alaihissalam dari tanah. Kok bisa, ya, api lebih mulia daripada tanah? Kan tanah itu bisa memadamkan api. Meskipun damkar sampai sekarang tidak pernah menggunakan tanah untuk memadamkan api.
Dan, untuk film Avatar, Aang baru bisa mengendalikan angin, air, dan tanah. Dia belum bisa mengendalikan api. Hem, kalah dengan istri saya yang bisa mengendalikan api, tinggal matikan kompor gas, selesai.
Bagi orang yang meninggalkan salat, semulia apa sih kepalanya? Seberharga berapa sih? Apa mungkin sujud dan rukuk itu dianggap merendahkan hidupnya, ya?
Nyatanya toh, kepala yang dianggap paling mulia dari semua anggota tubuhnya itu juga sering tidak dijaga di jalan, kok. Kalau naik motor, tidak mau pakai helm, apalagi pas naik mobil.
Padahal, ketika jatuh di jalan, kepalanya terluka, helmnya pecah, mana yang lebih bikin rugi? Ya, helmnya, lah. Belinya mahal, kok!
3. Menjunjung Tinggi Toleransi

Pada pelajaran Pancasila atau yang dahulu dikenal dengan PPKn alias Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, kita diajarkan dengan yang namanya toleransi. Ini beda dengan makanan pendamping nasi. Kalau itu namanya telor asin.
Toleransi itu pada dasarnya tidak saling mengganggu. Toleransi beragama berarti tidak mengganggu ritual ibadah agama lain. Jadi, jelas di sini, melakukan teror bom terhadap gereja sama sekali tidak dibenarkan. Kalau mau bom yang legal dan menyenangkan, bisa naik bom-bom car bersama anak-anak kamu!
Baca Juga: Tanggal 1 Masuk Gaji Bagi PNS, Antara Alhamdulillah dan Astaqhfirullah
Poin ketiga ini menjadi keuntungan bagi orang yang meninggalkan salat. Dia menjadi punya toleransi yang tinggi, utamanya terhadap diri sendiri.
Azan dibiarkan lewat begitu saja. Lewat lima menit, sepuluh menit, setengah jam, lima menit, eh, kembali ke lima menit lagi, semua waktu itu tetap toleran.
Maksudnya di sini adalah toleran terhadap rasa malas untuk salat. Toleran terhadap kesibukan yang justru bukan sibuk mempersiapkan diri untuk salat di masjid. Dan, tidak lupa juga, toleran terhadap berbagai alasan yang gampang saja dikemukakan di depan orang lain kenapa tidak salat.
Apakah Ini Benar-benar Keuntungan Bagi Orang yang Meninggalkan Salat?

Ketika kamu membaca tulisan saya sampai di sini, betulkah itu suatu keuntungan untuk orang yang tidak mau salat? Hidupnya jadi lebih fokus, betul-betul berorientasi dunia. Hidupnya selalu di atas.
Dan, yang terakhir, dia menjadi sangat toleran terhadap waktu, toleran pada melepaskan kesempatan untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan jadi mirip penganut agama lain.
Silakan dijawab sendiri. Sebelum menjawab, mungkin perlu dipencet belnya agar tidak didahului peserta yang lain. Hem, untuk urusan meninggalkan salat ini memang termasuk ke dalam urusan pribadi. Ranah pribadi.
Namun, bila di suatu daerah sangat banyak orang yang tidak mau salat, itu jelas keuntungan juga. Artinya keuntungan bagi iblis dan para pengikutnya yang semakin banyak.
Tenang saja, neraka masih luas kok. Betapa “baiknya” iblis dan bala tentaranya mengajak manusia untuk ikut merasakan “musim panas” dan “musim dingin” di sana. Ya ‘kan?





Sebagai guru ngaji, saya bisa jawab kalau lebih banyak kami yg nanya kepada anak didik, sudah solat belum? kenapa tidak solat? Solat apa saja yg tidak dilakukan seharian ini? Daripada orang tua atau wali nya sendiri
Ini membuktikan kalau orang dewasa (mayoritas muslim di kampung saya ini) tidak memperdulikan solat anaknya, bagaimana dengan solat mereka sendiri? Jelas abai…
Dari mana saya tahu fakta itu? Dari anak didik yg kami tanya. Mereka jawab ortu mereka atau kakak atau nenek kakek merek enggak nanya udah solat belum atau nyuruh sebelum makan sepulang sekolah ayo sikat dulu. Enggak …
Kemungkinan memang benar mereka beruntung dan memiliki tiga point itu tadi tidak solat karena hidupnya lebih fokus ke urusan dunia, betul-betul berorientasi dunia. Hidupnya selalu di atas gak pernah kesusahan jadi tidak harus bersandar kepada Sang Pencipta dengan doa (salat) dan ibadah lain. Dan orang demikian memang lebah iman. Islam hanya dalam ktp saja. Kasihan…
Humor recehnya pas buat pembuka, tapi makin ke bawah pesan moralnya dalam. Pengingat halus yang dibungkus santai tanpa kesan menggurui. Fresh dan bikin mikir ulang soal kebiasaan sehari-hari.
fokus dunia dan kepala yang enggan sujud itu dapet banget. Humor recehnya pas buat pembuka, tapi makin ke bawah pesan moralnya dalam. Semoga jadi pengingat buat kita semuaaaa….
Salah satu tulisan ter satire yang aku baca ini…baca sambil introspeksi diri sambil ngelus dada…apakah sholat kita masih bolong2 ato kah sudah rapat??? Berasa dapet pengingat juga sie tapi bener kadang denger suara azan kita masih ntar dl deh masih banyak waktunya padahal salat tuh gak habisin waktu loo paling lama 10 menit juga sudah kelar semuanya …takut ketinggalan apa sie sampai nyediain 10 menit aja masih diundur2 bahkan kadang bablas duhhh 🙁
Kalau hanya membaca judul dan nggak baca artikel sampe tuntas bisa salah paham atau ambil kesimpulan yang kurang pas.
Pembahasan terkait salat ini memang krusial banget. Saya bersyukur tumbuh di keluarga yang selalu menanyakan sudah salat atau belum, bahkan ortu akan membangunkan anak-anaknya buat melaksanakan salat subuh tepat waktu. Sebuah upaya yang berbuah manis. Perlahan kami jadi lebih sadar bahwa salat itu kebutuhan dan kewajiban yang sebaiknya dipenuhi dengan sebaik mungkin. Bahkan saat sadar jarak jauh pun, ada keringanan untuk tetap salat di kursi penumpang.
Sayang sekali semisal lebih memilih meninggalkan salat. Padahal, manusia amat butuh dengan kegiatan berdialog sehari lima kali (yang wajib). Semoga saja selalu diingat, bahwa meninggalkan salat, membuat langkah semakin dekat dengan panas yang menyala di tempat yang kekal. Dan berharap setiap salat yang dilakukan benar-benar diterima oleh Allah SWT.
Judulnya clik bait sekali, bikin penasaran dengan isinya. Tapi bagi yang malas baca dan hanya berfokus pada judul, bisa jadi senang bagi yang tidak atau meninggalkan salat atau mencak-mencak untuk tim salat. Makanya penting untuk dibaca sampai selesai, ya 🙂
Di akhir zaman seperti sekarang bisa melaksanakan salat bahkan melakukannya dengan berjamaah adalah sebuah privilege dari Allah. Sebuah kenikmatan bisa mengatur waktu sampai tak meninggalkan kewajiban ibadah salat.
Semoga bisa terus istiqomah untuk bisa menjalankan salat, walaupun khusu’ itu sulit, tapi tak ada alasan sama sekali untuk meninggalkannya
Itu belum seberapa Kak,
Waktu kerja di perusahaan antah barantah itu, pernah entah dibuat sengaja atau kebetulan malah jelang azan maghrib diadakan rapat, sharing session lah namanya, dan alasan lainnya. Berarti mau kapan coba solat maghribnya? Mau kapan pulang dari kantor?
Kadang suka bingung kok bisa ya begitu?
Mengapa hal begitu kok jadi bikin bingung karena bisa terjadi?
Namun, ga jadi bingung lagi, karena kebetulan juga yang suka mengadakan rapat dadakan orangnya resign dan resign pula lah kebiasaan aneh itu
Keuntungan yang sebenarnya sangat merugikan, karena tidak ada gunanya sama sekali kalau nanti dibawa ke akhirat.
Pastinya takjub dan penuh rasa syukur ya kalau melihat masjid-masjid penuh orang yang salat berjamaah. Tapi di sisi lain, bisa jadi ada juga warga yang nggak ikut berjamaah di masjid bukan karena nggak mau atau berat hati dan kaki, melainkan karena memang sedang menjalankan tugas. Bisa jadi dia masinis kereta, pilot pesawat, atau nahkoda kapal yang sedang bekerja. Masa iya tiba-tiba parkirin kereta, pesawat, atau kapal dulu demi pergi ke masjid. 😀
Salat itu wajib dan jangan ditinggalkan, apa pun kondisinya dan di mana pun kita berada. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi yang sedang dihadapi.
Ini tuh tulisan sindiran….arti sebenarnya adalah kebalikannya. Salat adalah salah satj ibadah utama yanv akan dihisab….meninggalkan salat maka ia dalam keadaan tidak beriman. Semoga kita bisa menjaga salat
Sejak baca judulnya, saya yakin tulisan ini isinya satire. Karena apa? Ya karena meninggalkan salat sudah pasti tidak ada untungnya. Dan ternyata benar saja, isinya sindiran-sindiran halus.
Kerennya, pesan ini disampaikan dengan diselingi humor, sehingga tidak terkesan terlalu menggurui. Padahal sih sebetulnya iya. Ini sebuah ajakan agar kita rajin salat.
Wah, judulnya bikin overthinking duluan, hahaha
Tapi jelas lah, ini tulisan satire
Sebab, nggak ada untungnya klo kita meninggalkan solat ya
Ini adalah tulisan penuh sindiran yang menampar dengan banyak kenyataan sehingga Semoga bisa memberikan awalnya dan juga pengertian serta kesadaran orang untuk tidak meninggalkan salat apapun caranya karena dalam Islam diberikan kemudahan apabila kesulitan
Angle tulisan yang ga pernah disangka2. Aku sampe baca berulang kali judulnya. Kirain salah. Ternyata unik juga penjabarannya. Keuntungan meninggalkan salat bagi org yang ga mau mikirin akhirat, sampe toleransi krn membiarkan azan trs lewat.
Bacaan ringan tapi sangat berbobot nih. Sampe ada yang lucu2 pake Visine atau Boom Boom Car. Bukan bom bom car ya kak. Wkwk. Tp org awam sih emg bacanya Bombom car. Wkwkkw.
Smg kita diberi kemudahan utk selalu ingat akhirat ya kak. Termasuk menjalankan perintah Allah satu ini. Soalnya ini yg akan dihisab pertama kali nanti.
Judulnya yang hampir bikin emak emak ini ngamok wkwkwk… Satir yang bener banget ini mah. jadi mengingatkan kita lagi tentang pentingnya menjaga salat dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaiannya juga ngena dan harusnya mudah dipahami. Semoga kita semua bisa terus memperbaiki diri dan menjaga salat dengan lebih konsisten.
Jujur tulisan ini menarik karena mampu menyampaikan pesan agama dengan gaya yang ringan, dan berbeda dari biasanya, tetapi tetap membawa renungan yang cukup dalam. Penggunaan permainan kata dan analogi sederhana membuat pembahasan tentang salat terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar nasihat yang kaku. dan kadang-kadang satire seperti ini malah lebih efektif daripada petuah agamis pada umumnya.
Salah satu yang membedakan orang Islam dengan orang lain adalah sholatnya, kalau nggak sholat ya apa bedanya dengan orang yang lain yaa.
Pernah mendengar kita hidup di dunia ini sebenarnya menunggu dari satu waktu sholat ke waktu sholat lainnya.
Tugas manusia cuma beribadah, Tuhan yang mengatur hidup ini.
Emang yang namanya sibuk di dunia kalau diturutin ya bakal sibuk ya. Padahal, kalau dipikir2 sholat paling lama cuma 5 menit, paling lama lagi 10 menit. Dari 24 jam hanya butuh total mungkin 1 jam saja buat sholat wajib.
Tapi ya begitulah hidayah Tuhan memanggil sholat emang nggak datang ke sembarang orang hehe.
Membaca judulnya auto mengernyitkan dahi hmm apa ini maksudnya. Hmm tulisannya pelan-pelan menusuk sekaligus mengajak instropeksi, tanpa menggurui tapi membuat orangtersentil
Yang butuh solat kan sebenarnya bukan Alah tapi kitanya, hambanya. Namun, memberikan pemahaman seperti ini tidaklah mudah ke anak-anak, jadi saya sering dialog aja dengan mereka, kalau mengingatkan solat, bukan saya langsung menyuruh mereka solat, tapi saya tanya sudah solat belum? Dan ini langsung membuat mereka bergerak sholat walaupun sholatnya secepat kilat
Pemikiran yang paling mendalam mengenai banyaknya kerugian berbalut keuntungan ketika meninggalkan shalat.
Sungguh merugi.. orang-orang yang meninggalkan shalat dan semoga segera bertaubat untuk kembali ke jalan Allah.
Karena shalat sering ditinggalkan bisa membuat seseorang tersebut jatuhnya menjadi kafir ((keluar dari agama Islam)).
Agak ironi ya memang. Salat itu harusnya jadi bare minimum, bukan standar sebuah kesalehan. Tapi di negeri ini, meninggalkan shalat malah terkesan biasa saja.
(Ini saya ngomongin diri sendiri ya)
makasih loh Pak, ini sarkasnya dapet banget. Masuk ke dalam relung qolbu 🙁
Semoga kita bisa jadi muslim yang terbaik seiring waktu berjalan yaa.
Aamiin, makasih juga udah komen ya.
Aku kok ya mesti ketawa kalau baca ini ya.. hihihi.. Pas bom-bom car itu aku juga suka.. Apalagi waterboom.. 😂
Tapi kalau aku baca tulisan²nya Mas Riz ini, q jadi inget novel Animal Farm. Satirnya bener² bagus. Humor tapi ya nggak ngasal. Which is sama kayak artikel yang kubaca dari blognya Mas Riz.
Anyway, kalau dipikir-pikir ninggalin ibadah kita beneran toleran kok. Toleran sama ketidakpatuhan.. 🥲
Jika baca judulnya saja pasti akan tertipu
Penjelasannya so deep banget
Makanya ini kalau mau ninggalin salat memang banyak terjadi semua dunia diberikan kepadanya
Tapi mereka lupa dunia just the third step of journey to face Allah
Masih panjang perjalanan
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa salat bukan sekadar kewajiban yang dilakukan setiap hari, tetapi juga bagian penting dari menjaga hubungan kita dengan Allah. Saya suka cara pembahasannya yang membuat kita kembali introspeksi diri, terutama tentang apa yang bisa terjadi ketika seseorang mulai meninggalkan salat. Semoga tulisan seperti ini bisa menjadi pengingat untuk kita semua agar tidak menyepelekan salat, sesibuk apa pun aktivitas sehari-hari.