Bukan Artificial Intelligence, Ini 3 AI yang Paling Berguna untuk Hidupmu

Bukan Artificial Intelligence, Ini 3 AI yang Paling Berguna untuk Hidupmu

Rasa-rasanya, bicara atau ngomong tentang Artificial Intelligence memang selalu cocok dengan kondisi sekarang. Sudah eranya sekarang, AI yang dibahasaindonesiakan menjadi Akal Imitasi.

Pertama kali mencoba AI, saya pakai ChatGPT. Kamu tahu kepanjangannya ChatGPT?

Itu adalah kondisi yang harus dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya. Lho, bagaimana itu, Mas?

Yap, tidak salah lagi, ChatGPT berkaitan dengan Whatsapp juga, karena kepanjangannya adalah: Chat Gak Pakai Tunda. Jadi, chat istrimu harus segera dibalas. Kalau tidak, hem dan hem.

Langsung Merespons

ChatGPT ketika pertama kali saya gunakan, memang lumayan cepat merespons. Dan, rasanya amazing! Ada alat yang bisa begitu.

Daya pikirnya yang cepat itu jauh lebih baik daripada orang yang Lola alias Loading Lama dan Lalo alias Lambat Loading. Pilih yang mana? Jelas, keduanya bukanlah pilihan baik.

Makin ke sini, ChatGPT ini malah saya jadikan tempat curhat atau teman diskusi. Terutama, ya, untuk urusan tulis-menulis ini.

Saya pakai ChatGPT untuk mencari bahan tulisan. Kalau sudah selesai, saya lempar lagi untuk mendapatkan responsnya.

Dan, responsnya lebih cair daripada cuci piring pakai spons. Hubungannya apa coba?

Banyak yang sudah memakai AI untuk segala keperluan. Ada yang untuk bikin gambar, desain, video, dan lain sebagainya. Termasuk mungkin untuk perkara mencari jodoh. Maksudnya, mau menikahi ChatGPT?

Meskipun ChatGPT dan AI lainnya itu memang canggih dan sangat berguna bagi kehidupan manusia, ternyata ada AI lain yang jauh lebih berguna. Bahkan, ada 3 AI tersebut.

Penasaran 3 AI itu apa saja? Saya sendiri pun penasaran. Lho?

3 AI Paling Bermanfaat

1. Agama Islam

Tadi ‘kan ditulis 3 AI paling berguna, sekarang di subjudul ini saya ganti menjadi paling bermanfaat. Semoga Mbah Mukidi tidak marah, ya!

AI yang pertama dan paling bermanfaat dalam hidup adalah Agama Islam. Yap, ini memang paling berguna bagi para pemeluknya. Sedangkan yang beragama lain, ya, beda urusannya.

Agama Islam adalah agama mayoritas di negeri dari Wiwi ke Wowo ini. Meskipun mayoritas, tetapi jumlah pemeluk agama Islam atau kaum muslim yang salat tidak sampai 40%, lho!

Tidak usah lihat data atau survei, apalagi survei dari kuis Family 100, lihat saja di masjid-masjid kita.

Dari sekian banyak penduduk, berapa sih yang salat berjamaah di masjid? Apakah karena salat di rumah?

Ya, belum tentu juga, tapi perbandingannya ketika salat Jum’at, masjid bisa penuh, tetapi kalau salat lima waktu, kok tidak begitu? Terlebih Subuh.

Atau ketika acara-acara yang melibatkan banyak orang, berapa orang yang izin ke luar, menuju musholla atau masjid terdekat untuk salat? Sedikit bukan?

Nah, dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa salat memang belum menjadi bagian penting dari diri sebagian besar kaum muslimin.

Terus, kalau bukan salat yang penting, lalu yang penting apa dong? Entahlah, tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Kalau rumput itu pas sedang tidak bergoyang, coba kamu yang bergoyang.

Dalam poin pertama ini, AI atau Agama Islam adalah kunci bahagia dunia dan akhirat. Banyak khatib yang mengatakan begitu.

Kita bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Masih banyak orang di luar sana yang tidak menerima hidayah keduanya. Termasuk yang di luar ini adalah yang belum masuk masjid kali, ya?

Menurut pemahaman agama Islam, sebesar-besarnya dosa seorang muslim, jika dia masih bertauhid, masih meyakini Allah itu ada, maka Insya Allah nanti akan masuk surga juga.

Tapi, ya, kapan? Itu dia pertanyaannya. Coba kamu jawab, pertanyaannya itu mendatar atau menurun, ya?

Intinya, AI yang ini harus dipegang erat-erat, jauh melebihi memegang empat balon setelah meletus balon hijau.

Sebab, kalau tidak dipegang, artinya AI atau Agama Islam bisa lepas dari diri kita. Kan cuma ada dua, kalau bukan Islam, berarti?

2. Ayah Ibu

AI yang kedua setelah Agama Islam dan paling berguna dalam kehidupan kita adalah Ayah Ibu. Fix, ini jelas, setiap kita lahir dari ayah dan ibu.

Kita bukanlah kera sakti yang lahir dari batu. Meskipun mungkin ada di antara kita yang pelihara batu, mungkin batu ginjal maupun empedu, tetapi tetap kita lahir dari rahim ibu.

Berbakti kepada kedua orang tua sangat ditekankan dalam Islam, utamanya dalam Surah Al-Isra.

Coba kita lihat, di situ ada permintaan kepada Allah agar menyayangi kedua orang tua kita, sebagaimana mereka menyayangi kita sejak kecil.

Coba, diresapi betul-betul. Nyess nggak? Orang tua kita menyayangi kita sejak kecil, bahkan sejak kita masih di dalam rahim.

Orang tua saat memberi tidak terlalu banyak berpikir tuh. Sebagaimana kamu sekarang, anak kamu meminta sesuatu, jajan misalnya. Kamu enteng saja ngasih ‘kan?

Kamu tidak sampai berpikir, nanti kembali uangku dari anak kamu kapan, ya? Kalau uangku habis bagaimana, ya?

Tidak hanya uang, tetapi juga duit. Eh, ini sama saja. Tidak hanya uang, tetapi juga banyak yang sudah diberikan kedua orang tua kita.

Mereka mengajari kita berbicara, meskipun ketika dewasa sekarang, mungkin kita jadi jarang bicara dengan mereka.

Mereka mengantar kita kemana pun, walaupun sekarang, saat dewasa, kita sering mengeluh karena sering mengantar orang tua periksa ke rumah sakit dan menunggu rasanya seabad.

Mereka selalu mendoakan kita, meskipun sekarang, doa-doa kita lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan kita, istri, dan anak-anak sendiri.

Dari situ, betapa besarnya peran orang tua. Malah hingga sekarang ini, mereka tetap menyayangi kita.

Memang kadang lucu, ya. Saya sudah dewasa, sudah punya istri, meskipun baru satu, eh, eh, eh, dan anak tiga laki-laki semua.

Suatu kali, saya ada sebuah kegiatan di Solo. Ketika itu saya berada di rumah orang tua di Jogja. Perjalanan dari Jogja ke Solo pastilah jauh, apalagi jika harus melewati Kutub Utara dulu ‘kan?

Rupanya, bapak saya yang mengantar saya. Yap, tidak salah itu. Bapak saya dengan motor NMax mengantar saya, padahal waktu itu hujan deras.

Tantangan berikutnya adalah mencari hotel atau tempat menginap. Dapatnya cuma satu malam, karena waktu itu Solo sedang ada hajatan besar, hampir semua hotel full. Hotel yang tidak full cuma hotel yang belum didirikan!

Sebenarnya, saya sudah memesan tempat menginap lewat online. Sudah pesan pula. Sayangnya, ketika mau dicek, jauh sekali.

Ya, sudah, bapak saya yang membantu mencarikan hotel. Dapat, cukup dekat dengan tempat kegiatan.

Ketika sudah berada di dalam kamar hotel, batin saya terasa berteriak kencang. Bapak saya langsung kembali ke Jogja, dengan cuaca yang kembali hujan deras.

Bagi orang tua, anaknya memang selamanya akan dianggap anak kecil. Jadi,beruntunglah kamu yang masih diperlakukan begitu. Masih dimanja dan mendapatkan perhatian yang tidak berubah dari dulu.

3. Akhwat Ikhwah

Pada poin ketujuh, waduh, salah hitung, jangan sampai seperti sepuluh tambah enam.

Pada poin ketiga ini, AI lebih khusus pada aktivis dakwah. Kita kenal aktivis dakwah itu ada dua, yaitu: akhwat untuk yang perempuan dan ikhwan atau ikhwah untuk yang laki-laki.

Akhwat sering berada pada pakaian jilbab besar, gamis lebar, pakaiannya tidak transparan, pakai kaos kaki, hingga bercadar.

Sedangkan untuk ikhwah lebih sederhana, kadang pakaian biasa, kadang pakai gamis, tetapi seringnya memelihara jenggot dan celananya di atas mata kaki alias cingkrang.

AI di poin ketiga ini senantiasa bahu-membahu dalam pergerakan dakwah. Kalaupun cuma ada kegiatan yang khusus, misalnya hanya untuk muslimah, yang ikhwah tetap harus membantu.

Mungkin mereka membantu untuk setting soundsystem. Menata tempat yang membutuhkan kerja lebih berat, sampai dengan menata lalu lintas parkir.

Sejak sebelum kegiatan atau acara, mereka sudah sering bersama. Hanya, karena ini lembaga dakwah, tetap ada batasannya.

Dalam musyawarah tetap ada hijabnya. Waktu SMA, pernah sih ada kejadian yang cukup menggelikan.

Saya ikut kegiatan ROHIS. Ketika itu, musyawarah membahas sesuatu. Tempatnya di musholla sekolah, di lantai dua. Saya naik lewat tangga, tidak ada eskalator, tidak ada excavator.

Gelinya itu begini. Yang perempuan berada di balik hijab, sedangkan yang laki-laki di depan hijab. Terpisahnya oleh kain yang cukup tebal.

Terlihat musyawarah yang memang khusus akhwat-ikhwah, tetapi setelah musyawarah, eh, bertemu lagi. Kembali bersama dan mengobrol biasa.

Teman saya yang ikut musyawarah merasa lucu saja. Dan, saya pun berpikir, benar juga. Padahal teman saya itu sering salah. Untunglah dia tidak sampai dihukum pancung. Waduh!

Oh, ya, AI di sini, meskipun ada di antara kamu yang bukan aktivis dakwah, tetapi dampak dari program dakwah bisa terasa, lho!

Contohnya, musyawarah bahas tabligh akbar antara akhwat-ikhwah. Kegiatan itu betul-betul jadi dilaksanakan.

Kamu datang di acara tersebut karena mungkin tertarik dengan ustaz yang sudah diundang.

Dari situ, kamu mendapatkan banyak ilmu. Kamu mendapatkan pencerahan dan jadi tahu selama ini yang tidak kamu tahu.

Dari situ juga, kamu dapat relasi baru, mungkin jadi bisnis baru. Berarti AI yang satu ini termasuk paling bermanfaat buat hidup kamu bukan?

Terlebih ilmu syar’i yang memang menjadi bekal dunia dan akhirat. Masa kalah sama anak TK yang selalu bawa bekal ke sekolahnya?

Tidak Ada yang Lebih Bermanfaat

Menjelang penutup dari tulisan ini dan tidak perlu mengundang presiden untuk bikin acara penutupan, 3 AI yang dijelaskan di atas, satu pertanyaan untuk kamu?

Adakah yang lebih penting, bermanfaat, atau berguna dari 3 AI tersebut? Kalau ada, coba tulis di kolom komentar dong!

Kalau memang tidak ada, berarti, tulisan ini sudah sesuai dengan judulnya. Soalnya, judul memang bisa jadi sangat berbahaya. Eh, kalau itu namanya judol!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Ayah Ngopi