Tanggal 1 Masuk Gaji Bagi PNS, Antara Alhamdulillah dan Astaqhfirullah

Tanggal 1 Masuk Gaji Bagi PNS, Antara Alhamdulillah dan Astaqhfirullah

Dalam dunia PNS, ada satu tanggal yang paling dinanti, ditunggu, dan diharapkan kedatangannya. Yap, tepat jawabannya. Itu adalah tanggal 1.

Pada tanggal 1 ada momen sakral, setelah menyalakan sakral lampu agar terang, notifikasi mobile banking masuk dengan suara yang merdu, syahdu, dan bertalu-talu.

“Dana masuk.”

Yap, notifikasi bisa lewat SMS, yang menandakan bahwa gaji tersebut sudah masuk dengan lancar dan tidak terhalangi oleh penutupan Selat Hormuz maupun perang antara Ukraina dengan Rusia.

Kalau gaji sudah masuk, maka yang bahagia bukan cuma si PNS sendiri. Yang bahagia lainnya adalah pihak bank, makhluk berbentuk cicilan, tagihan listrik, tagihan PDAM kalau hari gini masih pakai PDAM, uang sekolah anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Dan, yang seharusnya jangan dilupakan adalah bayar utang ke beberapa teman. Tidak usah berpura-pura lupa, karena yang namanya pura-pura itu memang hewan yang jalannya lambat. Maksudnya, lambat membayar, lambat melunasi.

Saat Gaji Masuk, Namun Langsung Ada yang Lenyap dalam Senyap

Bagi seorang PNS, datangnya gaji secara teratur, rutin, dan pasti itu memang mendatangkan nikmat tersendiri. Betapa banyak orang di luar sana yang tidak mendapatkan gaji seperti itu. Penghasilan mereka tak menentu, bahkan pekerjaan pun tak menentu, apalagi dia sudah juga jadi menantu.

PNS digaji oleh negara. Kewajibannya adalah menjalankan pekerjaan sesuai dengan bidang, jabatan, kompetensi, dan lain sebagainya.

Dalam setiap kantor, pastilah ada pembagian posisi. Beda kalau dengan hubungan suami istri, posisi menentukan penetrasi. Eh, apa ini?

Jam kerja PNS memang sudah ditentukan. Biasanya dimulai pagi sampai dengan sore. Totalnya sih ada 8 jam bekerja setiap hari. Kalau ditambah lembur, jelas lebih lama lagi. Sedangkan pada bulan Ramadan, jam kerja akan dikurangi, jadi lebih cepat pulangnya.

Selain gaji, PNS juga akan mendapatkan dana lain dari negara. Ada yang namanya uang makan, tunjangan jabatan, tunjangan kinerja, dan yang paling menarik adalah perjalanan dinas.

Saat PNS melakukan perjalanan ke luar daerah, maka akan dibiayai negara. Dapat uang saku, transport, dan hotel atau penginapan. Enak? Enak banget, dong!

Namun, tetap semuanya harus dipertanggungjawabkan, bahkan dunia dan akhirat. Apalagi ini uang negara, uangnya masyarakat, uangnya umat juga. Uang saya juga termasuk di situ melalui pajak.

Ada tanggung jawab PNS untuk melayani masyarakat, ada tugas-tugas yang mesti diselesaikan, ada pula gosip-gosip yang mungkin perlu diperbincangkan. Yah, kalau mereka pas menganggur saja, sih.

Sisi Lain yang Sebenarnya Suram

bangun-tidur-buka-HP-gaji-PNS-masuk

Tanggal 1 masuk gaji, meskipun tanggal 1 itu adalah tanggal merah atau hari libur, gaji tetap diterima. Masuknya pun di waktu pagi buta. Bangun tidur, buka HP, ada pemberitahuan lewat SMS bahwa gaji masuk sebesar itu.

Ah, sungguh pagi yang cerah. Pagi yang indah. Apalagi kalau istri kamu bernama Indah, maka jadinya pagi yang indah bertemu dengan Indah. Dobel indah, deh.

Namun, ada hal yang sebenarnya nyesek di pagi itu juga. Gaji yang seharusnya utuh diterima oleh kamu dan istri, ternyata harus disembelih terlebih dahulu. Yap, siapa lagi penyembelihnya kalau bukan pihak bank maupun pembiayaan?

Gaji yang memang masuk itu, kadang memang tidak benar-benar lama mampir, minimal ngopi atau makan kue dulu, kek. Dia harus pergi lagi, menuju ke negeri antah-berantah.

Teman-teman saya yang berprofesi sebagai PNS rata-rata sudah mengambil kredit di bank. Ada yang mengambil seratusan juta, bahkan sampai tiga ratus juta.

Tentu, dari perhitungan uang yang dipinjam itu harus dibayar dengan potongan gaji. Kalau masih kurang, dengan tunjangan lain, misalnya tunjangan kinerja. Jadi, yang didapatkan di bulan itu memang jadi minim. Lho, habis makan, harus minim ‘kan?

Lalu, uang yang dipinjam dari bank itu dipakai untuk apa? Nah, ini tergantung keperluan masing-masing, sih. Ada yang dipakai untuk membuat rumah, membeli tanah, membeli mobil, menikah, maupun ada tujuan lain, yaitu: membantu menutupi kerugian negara yang diakibatkan oleh tanggung jawabnya. Weits!

Saat uangnya cair dari bank, rasanya seperti mendapatkan 74 kilogram emas. Rasanya seperti mendapatkan harta karun alias hartanya Qorun.

Namun, besoknya, mulai mencicil. Bulan berikutnya dan bulan berikutny mencicil lagi. Begitu seterusnya sampai lunas.

Rupanya, hal itu membuat yang mengambil kredit tersebut jadi sadar bahwa harta karun itu ternyata milik bank, lho!

Pada tanggal 1, pas gaji itu masuk, eh, sudah harus berlabuh ke alamat yang baru. Sudah harus pindah ke rekening pihak lain.

Ini ibaratnya seekor ayam potong. Pas baru masuk kandang, walah, langsung disembelih. Namun, bedanya kalau ayam bisa sempat berlari atau bahkan terbang, tetapi gaji tidak sama sekali.

Ketika Utang Riba Sudah Dianggap Biasa

kredit-riba-bagi-PNS

Persepsi di kalangan PNS adalah kalau tidak utang, bagaimana mau mencukupi kebutuhan? Mereka berpikirnya seperti ini:

“Kalau tidak ambil kredit, bagaimana mau bisa punya rumah?”

“Kalau tidak ajukan kredit di bank, kapan bisa punya mobil pribadi?”

“Jika tidak pakai kredit, kapan bisa menikah dengan pesta pernikahan yang wah?”

“Kalau tidak poligami, bagaimana mau menambah istri?” Ini pertanyaan nyelonong saja!

Memang, sih, tidak bisa dipungkiri atau dipungkanan, bahwa yang namanya kebutuhan hidup itu memang butuh biaya. Sementara di sungai banyak buaya. Tidak nyambung memang kalimat barusan.

Namun, persoalannya di sini adalah bukan sekadar punya utang atau tidak punya utang. Yang perlu didalami lebih dalam adalah: ini pakai akad apa?

Tidak semua utang itu memang riba. Jika yang dipinjam dan nantinya dikembalikan jumlahnya sama, maka itu tidak masalah. Tidak masuk riba.

Nah, ketika kredit itu mendatangkan keuntungan, maka dalam pembahasan fikih, bunga atau tambahan uang dalam pinjaman termasuk riba. Ini adalah masalah serius bagi seorang muslim. Bahkan, duarius, hingga tigarius, tidak hanya serius.

Kredit bank maupun pembiayaan memang terhitung sebagai riba. Dilihat dari berbagai dalilnya, riba ini memang termasuk dosa yang gedhe banget. Pelakunya pun diancam diperangi oleh Allah dan rasul-Nya.

Menurut Ustaz Khalid Basalamah, dosa terbesar zina, seperti berzina dengan ibu kandung sendiri, bila disamakan dengan riba, justru menjadi nilai dosa terkecil.

Sebegitu mengerikannya riba, nyatanya banyak kok yang tidak peduli. Banyak kok yang nekat mengambilnya.

Ketika Sudah Tahu Hukumnya Setelah Ikut Kajian

Jika dilihat ke belakang, coba pinjam spion motor tetangga kamu dulu, ada orang yang mengambil kredit di bank karena merasa sudah tidak ada jalan lain. Sudah buntu dan cuma itu satu-satunya cara.

Dia butuh uang. Sementara prosesnya ternyata mudah. Disetujuinya cepat karena itu tadi, dia PNS. Dokumen pun ditandatangani. Akad pun dilakukan.

Uang cair ke rekeningnya dan proses selesai. Dia mendapatkan uangnya dan bank menggenggam SK ASN-nya.

Meskipun pada awalnya karena ada suatu keperluan yang mungkin dikatakan mendesak seperti di atas, ternyata ada juga yang menyesal telah mengambilnya.

Apalagi setelah tahu hukum-hukumnya. Apalagi setelah mengikuti kajian tentang riba, bahwa perbuatan ini dosanya bukan main-main.

Lalu, setelah tahu hukumnya, tetapi sudah terlanjur, solusinya bagaimana? Apakah dengan menikahi salah seorang teller banknya yang masih cantik? Lho, solusi macam apa ini?

Ada orang yang memang sebelumnya tidak tahu. Atau mungkin tahu, tetapi masih belum paham. Atau betul-betul sudah tahu, tetapi karena terdesak, terpepet, apalagi dia memang sedang terjepit lemari. Lah, ngapain di situ?

Ketika orang sudah sadar, yang muncul di dalam hati bukan lagi senang karena dapat duit banyak dari bank, melainkan justru rasa takut.

Dia pun mengucapkan, “Astaqhfirullah.”

Namun, cicilannya masih panjang. Masih bertahun-tahun kemudian. Jika sudah terlanjur seperti itu, bagaimana? Yah, jawabannya sih, jangan menyerah. Atau malah berpikir, “Tanggung, nih, sekalian saja tambah kreditnya!”

Di situlah perlu direm, kalau perlu pinjam rem cakram motor Kang Dadang Bengkel. Solusi terbaiknya memang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian, diupayakan untuk membayar dengan lebih cepat. Bisa dengan bisnis online atau mencari penghasilan tambahan.

Gaji Memang Bukan Sekadar Angka di Rekening Bank

utang-kredit-PNS

Ketika tanggal 1, ting-tong, gaji masuk. Namun, apakah akan berhenti di sini saja? Ketika gaji masuk, kita mengucapkan, “Alhamdulillah”, tetapi setelah uang ini masuk, pertanyaan berikutnya, “Uang ini akan saya bawa ke mana?”

Rezeki dari Allah itu bukan hanya yang kita dapatkan, lho, melainkan juga bagaimana cara kita menggunakannya. Untuk keluarga. Kebutuhan belanja rumah tangga. Untuk pendidikan anak di masa depan. Untuk bersedekah.

Bila sekarang kita, apalagi kamu yang jadi ASN dan ada kreditnya di bank, maka jangan buru-buru putus asa. Anak kamu mungkin sudah putus ASI, tetapi kamu sebagai ayahnya jangan, karena ASI tetap perlu untukmu juga.

Mari jalan pelan-pelan. Evaluasi. Lalu, cari jalan ke luar. Hidup memang butuh uang, tetapi jangan sampai, kita kejar uang menggebu-gebu hingga ketenangan pun jauh lewat berlalu.

Tetap hati perlu terus ditenangkan dengan mengucapkan, “Alhamdulilah”. Allah masih kasih kita umur, kesehatan, kesempatan, dan kekuatan, mari kita lunasi utang-utang ini. Mari lunasi kredit riba tersebut.

Sebab, pada intinya, utang ini bisa membuat tidur tidak enak dan makan tidak nyenyak. Sengaja dibalik memang. Khas ayahngopi.com.

2 Comments

  1. Kalau dulu pas masih kerja, aku juga menunggu2 SMS masuk 😄. Kalau sekarang udah ga kerja, tp tetep nunggu SMS masuk transferan suamik 🤭.

    Tp memang yg namanya gaji, itu kenapa susah bertahan 🤭. Pasti harus melanglang buana dulu bayar segala macam billing..kalau di aku lebih kepada bayar keperluan dapur , kebutuhan para kucing2 ku yang gemoy dan beratnya udah di atas 6 kg semua 😅. Kayaknya keperluan mereka sih yg paling banyak memakan biaya.

    Mau dipotong, tapi ga tega. Namanya juga anak 😂. Belum lagi kalau sakit, ke dokter, pernah rawat inap pula. Mending ada asuransi 😅. Bayar sendiri. Ya sudahlah, anggab aja rezeki mereka … 😁

    Prinsipku, uang bisa dicari, tapi kesehatan anak2 bulu tetap yg utama 🤭😄

    1. Wuih, di atas 6 kilogram? Gemoy semua? Bisa joget nggak, Mbak? Kayak siapa dulu itu yang gemoy joget-joget? Hehe…

      Saya juga pelihara kucing warna oranye dan putih. Sebenarnya sih, kucing dari tetangga itu, tetapi suka nongkrong di depan rumah. Sampai akhirnya sering dikasih makan dan minum, kucing betina itu nempel deh di rumah saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *